
Shinta dan Syifa pergi ke warung ice cream ternama dia kota A diantar oleh Revan dengan mobilnya. Revan tak pernah membiarkan anaknya pergi sendiri bersama orang lain meskipun adik kelasnya di bangku SMU. Mobil Revan berhenti di sebuah warung ice cream dan mereka masuk kedalam warung ice cream tersebut.
"Papa Syifa mau ice cream vanilla" Pintanya dengan heboh.
"Aku juga rasa Vanilla ya" Belum sempat Revan berbicara kepada anaknya. Shinta sudah memotong pembicaraan nya.
"Apa kau mau makan ice cream juga? seperti anak kecil saja!" Berlalu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Hey! Apa kau pikir hanya anak kecil saja yang makan ice cream?Dasar pria menyebalkan!" Teriak sesukanya karena terlanjur kesal dengan Revan.
"Cih... wanita ini berteriak semaunya seperti orang hutan saja,dasar wanita gila" Gumam Revan dan dia berlalu meninggalkan Shinta dan Syifa . Memesankan 2 cup ice cream vanilla dan membawakannya untuk kedua wanita tersebut. Tanpa banyak bicara Revan meletakkan 2 cup tersebut dan mengambil Hp dari kantung jas nya, mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda melalui seluler genggam nya.
"Enak sekali" Hebo Shinta dan Syifa secara bersamaan.
"Apa dokter tau? ini ice cream kesukaan aku" fokus dengan ice cream yang dipegangnya
__ADS_1
"Benarkah? dokter juga sangat suka ini" tak kalah hebohnya dengan Syifa.
"Kau ini seperti anak kecil saja" kesal Revan karena Shinta sangat berisik dan menggangu konsentrasi nya untuk bekerja.
"Ya terserah aku dong! kalau kau yang sudah tua ya kau saja, jangan memaksa ku untuk bersikap sudah tua seperti mu!" Tak kalah nyolotnya dengan Revan
"Apa kau bilang?!" sudah geram karena tingkah Shinta yang seperti anak kecil padahal umur sudah dewasa.
"Apa!!" melototkan matanya kepada Revan.
"Dasar wanita aneh" menggeleng
"Haha ..hahaha ..haha..." Tawa Syifa menyadarkan mereka dari perang kata dari tadi...
"Kenapa kau tertawa sayang?" Tanya Shinta dan Revan secara bersamaan.
__ADS_1
"Hahaha...hahaha...hahaha" lagi lagi Syifa tertawa dengan memegang perutnya yang geli melihat kedua orang tua itu itu selalu saja bertengkar.
"Papa dan Dokter cantik lucu sekali, seperti anjing dan kucing saja yang selalu bertengkar hahaha" Berkata dengan polosnya, Syifa bangkit dari kursinya dan mencium kedua pipi Shinta dan Revan secara bergantian. Hal itu sudah biasa bagi Revan karena Syifa adalah Puterinya. Setiap hari Syifa mencium dan memeluk Revan. Tapi, berbeda dengan Shinta seperti kesambar petir saat Syifa mencium dan memeluk Shinta.
"Andai aku bisa punya anak, mungkin aku sudah berbahagia menikah dengan Rayhan dan lagi hamil sekarang. Mungkin mempunyai anak yang selucu ini seperti Syifa" Gumamnya dalam hati. Tak terasa air mata Shinta mengenang tiba tiba. Dia langsung berlari keluar dari warung ice cream dan meninggalkan Syifa dan Revan di dalam warung ice cream tersebut.
"Papa mengapa Dokter cantik menangis dan berlari meninggalkan kita?" Tanyanya heran dengan wajah polosnya.
"Apa dokter cantik marah kalau Syifa mencium pipinya?" Syifa terus saja bertanya namun Revan hanya bisa diam dan memandang punggung Shinta dari belakang hingga tak nampak bayangannya sedikit pun.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Aku tau ketidak warasannya dari masa SMU tapi aku tak pernah melihat dia menangis seperti itu"
"Bahkan dia tak pernah sesedih itu walau aku membentaknya
__ADS_1
"Apa dia marah karena Syifa mencium nya? tapi mengapa? " begitu banyak pertanyaan pertanyaan di dalam pikiran Revan tentang gadis yang selama ini dia kenal Bar bar pada masa SMU tiba tiba saja menangis hanya karena dicium oleh anak kecil saja.