
"Kan enggak lucu, mami yang membuat peraturan tapi mami yang melanggar." Gilang kembali menyentil ibu nya itu.
Saras dan ibu nya Raffa pun pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang makan..
Bukan nya Gilang mau kurang ajar kepada ke ibu nya, namun jika dia tidak bertindak. Ibu dan juga kakak sepupu nya itu akan semena-mena kepada Krystal, kakak ipar nya.
Raffa tau, sikap adik nya adalah bukti pembelaan dan rasa sayang nya Gilang kepada Krystal.
Raffa tersenyum, karena ia sendiri pun tidak mampu melawan ibu nya.
"Kak jangan bengong, ayo di makan!" pinta Gilang kembali. Krystal dan juga Raffa kembali menikmati masakan yang sudah di masak oleh Gilang..
Di ruang keluarga, Saras dan juga ibu nya Raffa terlihat sangat kesal.
"Mami, kenapa sih wanita itu ada di sini?" tanya Saras bete, saras memang dekat dengan ibu nya Raffa
Bahkan, dari kecil ibu nya Raffa yang merawat Saras. Saras sudah di anggap sebagai anak kandung nya sendiri.
"Mami juga enggak tau nak, kakak mu yang membawa nya. Mami juga enggak bisa mengusir nya. Nanti, kakak mu akan marah dengan mami."
"Kenapa dia tidak tau malu ya mi? Berani banget bergabung dengan keluarga kita, apa dia enggak merasa berdosa udah merusak dan merebut suami kakak nya?"
Saras sebenernya wanita baik, dia hanya tidak tau kebenaran saja. Ia menyalahkan Krystal dan menganggap Krystal wanita yang jahat.
"Mami juga tidak mengerti, mami meminta kamu datang. Untuk terus menyakiti nya agar dia tau jika yang kita anggap sebagai menantu hanya lah Queen."
Saras mengangguk ia mengatakan kepada ibu nya Raffa
Akan membuat Krystal tidak tahan, memang benar Krystal sudah tidak tahan di rumah ini..
Namun, Gilang selalu membela nya.
Gilang mengajak kakak ipar nya berjalan-jalan. Raffa tidak mengizinkan.
"Kenapa bang?" tanya Gilang yang kesal.
"Kakak mu itu sedang hamil tua. Lihat perut nya sudah sangat besar, enggak boleh capek. Kasian keponakan kamu yang ada di dalam."
Gilang pun sekarang mengerti, ia meminta maaf kepada Abang nya itu.
"Maafkan aku bang, aku tidak akan mengajak kakak ipar jalan-jalan lagi."
"Bukan nya Abang melarang namun kamu tau sendiri kan, ibu hamil itu mudah lelah. Bagaimana saat kalian berjalan-jalan. Kakak ipar mu merasa sakit perut nya, pasti akan repot. Mending kalau ada Abang di dekat kalian, kalau tidak atau kalian jauh dari rumah bagaimana?"
"Sudah lah, sayang. Kenapa kamu marah sama Gilang, kan niat dia itu baik."
"Aku enggak marah, cuman aku memberitahu dia agar Gilang bisa berfikir lebih baik."
"Iya-iya." Gilang mengaku salah, mereka bertiga pun sudah selesai makan..Krystal ingin membersihkan meja makan yang sangat kotor dan berantakan..
Gilang mau pun Raffa melarang, Gilang meminta kepada Abang nya untuk membawa Krystal sang kakak ipar untuk ke kamar saja.
"Biar Gilang yang membersihkan nya..Lebih baik kakak ke kamar sana, istirahat."
Krystal dan Raffa pun mengikuti ucapan Gilang mereka pergi ke kamar.
Terlihat Saras dan ibu nya Raffa berada di ruang keluarga, Saras mengajak mereka gabung. Namun, Raffa menolak dengan halus.
Raffa tidak mau jika istri nya menjadi bulan-bulanan untuk Saras
"Sebaik nya Krystal istirahat dulu, kami juga baru dari perjalanan. Nanti saja mengobrol nya." ucap Raffa dengan lembut..
Mereka pun berjalan menuju kamar, Saras merasa kesal
Ia menganggap jika Krystal membuat Raffa menjauh dari nya..
Saat bersama Queen dulu, Raffa tetap baik kepada Saras. Bahkan mereka banyak menghabiskan waktu bertiga, namun sekarang semenjak ada Krystal.
Raffa tidak mau bergabung bersama nya. Gilang tertawa dengan keras dari dapur.
Saras semakin kesal dengan tingkah Gilang, ia ingin memberikan pelajaran kepada Gilang. Namun, di cegah oleh mama nya Raffa..
Bagaimana pun, Gilang juga anak kesayangan di rumah ini..Walau seringkali mereka berbeda pendapat, namun mama nya sangat menyayangi Gilang..
Ia tidak pernah memukul anak nya, jadi ia juga tidak rela jika orang lain memukul Gilang..
"Sudah lah Saras. Kenapa kamu kesal,.memang begitu adik kamu..Biarkan saja!"
Saras pun mengurungkan niat nya, dia tau jika mami nya begitu menyayangi Gilang..Ia tidak akan membiarkan Gilang tergores sedikit pun
Walau ke dua orang tua Raffa dan Gilang sangat menyayangi Saras. Namun, ia hanya orang luar. Anak dari adik nya ibu nya Raffa dan Gilang..Tante nya Saras jadi mau gimana pun mami mereka tetap akan membela Gilang.
__ADS_1
"Makanya jangan bersikap sok jadi nyonya di rumah ini!" ketus Gilang yang masih santai mengelap meja..
"Gilang! Kamu enggak boleh berbicara yang tidak sopan kepada kakak mu ya!" tegur mami nya.
Keluarga mereka itu keluarga baik-baik, sopan santun dan etika itu nomer satu bagi ibu nya
Gilang meminta maaf kepada mami nya ia juga meminta kepada mami nya agar mami atau pun Saras tidak mengganggu kakak ipar nya lagi.
Gilang mendekati mami dan juga kakak sepupu nya itu..
"Kak, mi. Gilang enggak suka kalian bersikap buruk dengan kak krystal. Bagaimana pun dia adalah menantu krluarga ini. Gilang juga sayang sama kak Queen, tapi dia hanya masa lalu kak Raffa. Masa depan kak Raffa sekarang adalah kak krystal, jangan pernah membandingkan antara kak Queen dan kak krystal. Mereka pasti berbeda Karena mereka bukan orang yang sama."
*****
Caca mengajak si kembar Alan dan Alana bermain.
Arvan mendekati mereka, Caca bertanya siapa yang menghubungi suami nya..Arvan pun memberitahu jika yang menelpon adalah Revan
"Ada apa? Apakah sesuatu terjadi kepada Shinta?"
Arvan menggeleng, awal nya Revan ingin meminta anak-anak untuk kembali ke rumah namun ia mengatakan jika mereka akan membawa anak-anak berlibur..
"Shinta sudah lebih baik, dia juga sudah pulang ke rumah. Awal nya Revan meminta ku membawa anak-anak pulang namun aku mengatakan jika kita akan membawa mereka berlibur."
Caca pun mengatakan agar anak-anak sebaiknya bersama mereka dulu.
"Sebaiknya mereka juga bersama kita. Apalagi pelaku nya belum ketemu." ujar Caca. Arvan menepis ucapan istri nya ia mengatakan jika pembunuh anak Revan dan Shinta sudah ketemu.
"Pelaku nya sudah ketangkap, dan yang memberikan racun di susu Baby Al adalah sahabat Shinta, yang bernama jennika."
"Jennika? Bukan kah ia juga seorang dokter gigi? Mengapa bisa dia yang melakukan itu?" tanya Caca yang seakan tidak percaya.
"Awal nya aku juga tidak percaya, Sayang. Namun, Revan menemukan bukti itu di kamar nya jennika."
"Bagaimana bisa Revan ke kamar jennika?" Caca masih tidak mengerti apa yang terjadi, Caca tidak mengetahui jika jennika berada di rumah Shinta.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi. Tapi, siang ini aku akan bertemu dengan Revan di kantor polisi."
"Hati-hati."
Caca tidak menyangka jika sahabat Shinta tega melakukan itu kepada Shinta.
Namun, apa motif dari pembunuhan itu? Caca tau jika Shinta dan jennika begitu dekat dan saling menyayangi satu sama lain.
Arvan memegang lembut pipi istri nya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini..
Ibu nya Caca saja tega melakukan kejahatan kepada anak kandung nya sendiri. Apalagi yang hanya orang lain..
Arvan juga meminta Caca untuk berhati-hati menjaga anak-anak. Jangan terlalu mempercayai pengasuh dan para pelayan..
Bukan nya ingin menuduh pekerja mereka, namun berhati-hati dan menjaga itu lebih baik.
Caca pun mengangguk..
"Mami." panggil Alana, Caca memangku tubuh mungil Alana. Walau Alan dan Alana bukan anak kandung Caca dan Arvan..Namun ke dua nya sudah menganggap si kembar seperti anak mereka sendiri..
Caca dan Arvan juga tidak pernah membeda-bedakan anak-anak nya..
"Iya, sayang. Ada apa?" tanya Caca. Alana memajukan mulut nya ke depan, wajah nya cemberut, ia mengalungkan tangan nya di leher Caca.
"Lihat lah kak, adik kakak akan membuat dlama!" bisik Alan kepada Syifa dan juga Raisa.
Ke dua nya tertawa, mereka pun hanya memperhatikan Alana dari jauh.
"Anak mami yang satu ini kenapa cemberut sayang? Hilang dong nanti cantik nya."
Alana semakin memonyongkan mulut nya, memeluk Caca..
"Alana Lindu mama."
Semua terdiam, bukan nya Caca tidak mau membawa Alana bertemu dengan Shinta namun keadaan tidak memungkinkan.
"Bersabar lah sedikit sayang. Setelah kita pulang liburan nanti, mami akan mengantarkan Alana pulang kok. Tapi tadi mama Shinta menitipkan pesan agar Alan dan Alana menikmati liburan nya."
"Oke." Alana mengecup pipi Caca sejenak, lalu ia menurunkan tubuh nya yang mungil dari pangkuan Caca.
Alana kembali bersama Alan dan ke dua kakak nya. Caca hanya tersenyum melihat tingkah Alana, ia begitu gemas.
Caca berharap, jika besar nanti anak-anak mereka menjadi anak yang baik dan tetap kompak, menyayangi satu sama lain.
Syifa merindukan mama sambung nya itu, tapi saat ini tugas nya menjaga adik-adik sampai mama nya benar-benar pulih.
__ADS_1
Syifa tau, jika Caca membuat liburan itu sengaja agar ia dan si kembar tidak merasa sedih.
Syifa tidak mau mengecewakan ibu kandung nya.
******
Shinta ke luar dari kamar anak nya, ia kaget melihat Revan yang berdiri di depan pintu sang anak.
Dahi Shinta bercucuran keringat, tangan nya dingin. Ia berusaha menyembunyikan bukti itu.
Bukan Shinta ingin menutupi nya dari Revan namun ia ingin memastikan nya terlebih dahulu.
Setelah bukti itu kuat, Shinta akan menceritakan segala nya kepada Revan
"Sayang, kenapa kamu kaget?"
Shinta menggeleng, ia mengatakan jika diri nya akan kembali ke kamar. Revan memandangi belakang tubuh istri nya yang pergi menjauh dari nya.
"Aku tau, pasti kamu merindukan anak kita sebab itu kamu ke sini."
Shinta bernafas lega, karena suami nya tidak curiga.
Ia mengambil sebelah anting yang tadi ia temukan itu, ia menatap dan mencoba mengingat siapa pemilik anting itu.
"Aku yakin, pemilik anting ini pasti pelaku nya. Aku harus segera menemukan pemilik anting ini."
Shinta memikirkan cara, ia melirik di setiap ruangan rumah nya.
Cctv penyadap ada di rumah nya, siapa yang mematai keluarga mereka?
Shinta menjadi merinding, ia tau jika keluarga nya berada di dalam bahaya.
Ini pelaku sangat cerdas, dan aku tau. Permainan orang dalam, aku harus berhati-hati dalam bergerak. Atau jika tidak, mereka mengetahui rencana ku.
Batin Shinta di dalam hati, ia bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Ia pun menangis, merasa sangat tidak aman.
Keluarga ku dalam pengintaian, ini sangat tidak aman.
Shinta harus melakukan sesuatu, ia harus meminta bantuan kepada Arvan dan juga Caca.
Namun, ia mengurungkan niat nya..Jika ia meminta bantuan kepada mereka, anak-anak pasti akan terabaikan. Bisa saja, pelaku itu mengincar anak-anak.
Dia pun harus menyelesaikan nya ini sendiri.
Revan masuk ke dalam kamar, mendekati Shinta.
Shinta sudah menyimpan sebelah anting tadi di tempat yang aman. Dan tidak ada seorang pun yang tau termasuk para pelayan yang membersihkan kamar nya.
"Kamu sedang apa?" tanya Revan yang mendekat kepada Shinta. Shinta duduk di tepi ranjang.
Ia menggelengkan kepala nya, ia tau jika rumah ini sudah di pasang penyadap. Tidak mungkin Shinta mengatakan apapun kepada suami nya..
"Tidak ada, hanya bersantai."
"Sayang, aku tau. Kamu masih sedih karena meninggal nya anak kita."
"Tidak ada ibu yang senang melihat anak nya meninggal Van."
Revan terdiam, ucapan nya mungkin salah dan membuat hati istri nya tersinggung. Ia pun meminta maaf, Revan mengerti apa yang di rasakan istri nya. Karena ia juga kehilangan anak mereka.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud membuat kamu kesal atau apapun."
Revan memeluk Shinta, Shinta menangis di pelukan suami nya.
Berat sekali pasti nya untuk keluarga mereka, terutama untuk ke dua nya.
"Aku seneng jennika udah di tangkap, di pantas mendapatkan hukuman atas apa yang sudah dia lakukan." ucap Shinta dengan wajah yang datar..
Dalam hati, ia meminta maaf sebanyak-banyaknya kepada jennika..Ia harus mengatakan itu, agar pelaku yang sebenarnya merasa puas dan menang.
Jika pelaku sebenarnya lalai, akan semakin mudah untuk Shinta menemukan siapa pembunuh anak nya dan semakin cepat jennika di bebaskan..
Revan terkejut dengan ucapan istri nya, namun ia belum mengerti apa-apa..
Ia hanya beranggapan jika Shinta sudah menerima kenyataan jika memang sahabat nya jennika pelaku sebenarnya.
"Aku tau ini berat buat kamu, buat kita. Tapi, kita juga harus membuka mata.. memang jennika pelaku nya, dan kita jangan kasian kepada nya."
"Iya, Van..Kamu bener, dia memang harus menerima akibat yang sudah dia perbuat. Dia harus di hukum seberat-beratnya."
Jen maafkan aku, padahal aku tau bukan salah mu..Namun, aku terus-terusan mengutuk mu. Maafkan aku Jen, maafkan aku. Aku berjanji akan segera melepaskan mu.
__ADS_1
Shinta ngebatin, ia berharap agar jennika baik-baik saja di penjara. Shinta berharap agar jennika bisa kuat apalagi mental nya sedang tidak baik-baik..
Shinta ingin semua nya segera berakhir, ia ingin keluarga nya hidup tenang seperti dahulu lagi.