
Dengan gemetar Raisa mengangguk, lebih baik ia mengalah daripada dirinya habis menjadi bulan-bulanan kakak dan adiknya.
"Raisa, setelah itu kamu bersihkan meja makan ya. Pakai kain di basahi, lalu di peras. Dan itu, ada semprotan untuk lap mejanya!"
"Apa? Aku harus lap meja?"
"Iya dong, adik ku sayang! Kamu lihat kan Khanza lagi membilas piring, dan kakak akan menyusunnya. Terus kakak juga akan membuang sampah, atau kamu mau buang sampah?" Syifa memberikan sampah itu ke arah adiknya, namun Raisa merasa sangat jijik
"Euyyy! Jijik banget, enggak deh! Aku membilas piring aja!" Raisa memilih untuk membilas piring "Enak aja! Enggak bisa, kakak harus lap meja. Ini kan tugas Khanza, enggak boleh kakak ambil-ambil! Cukup mami dan Daddy saja sudah kakak rebut dari aku. Enggak boleh lagi pekerjaan rumah!"
Raisa menggerutu kesal, namun ia tidak ada pilihan. Yang terpenting pekerjaannya selesai, dan ia bisa terbebas dari dua wanita yang menyiksanya secara halus.
Dengan jijik, Raisa mengambil kain kecil lalu di basah kan
"Huft, lihatlah kak? Memeras kain saja tidak benar!" Khanza merasa gemas, ia pun langsung membantu Raisa memeras kain itu hingga setengah kering, lalu memberikan kain itu kepada Raisa
Raisa mengambilnya "Biasakan untuk mengucapkan terimakasih kepada orang yang sudah membantu kamu!" Syifa memberikan nasehat untuk adiknya Raisa. Raisa menghela nafas panjang, namun tak berani protes "Terimakasih Khanza!"
"Sama-sama kak!"
Syifa, Khanza dan juga Raisa melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing. Dan sesekali, Syifa juga Khanza membantu Raisa jika wanita itu merasa kesulitan
******
Di kamar, Caca merasa tidak tega dengan Raisa yang membersihkan rumah "Sayang, kenapa kamu melarang aku untuk membela Raisa? Kasihan dia!"
Arvan pun diam, namun Caca masih saja mengomel. Lelaki itu pun harus berbicara agar istirnya mengerti "Kenapa? Raisa bukan sendirian, dia bekerja dengan kakak dan juga adiknya. Mereka bekerja bersama-sama, kamu jangan selalu memanjakan anak itu. Kamu enggak malu sama Shinta? Walau anaknya banyak namun ia bisa mengurus dan mendidik anak kita. Khanza masih sekecil itu namun sudah diajarkan untuk disiplin dan bertanggungjawab. Tidak seperti Raisa, umurnya sudah dewasa namun menyapu saja tidak bisa! Sudah, apa yang dikatakan oleh Syifa itu benar. Suatu saat Raisa akan berumah tangga, ia harus belajar sekarang jika tidak dia tidak akan bisa mengurus rumah!"
Caca pun diam, namun hatinya tidak tega. Bagaimana pun, ia merawat Raisa paling lama, dan selalu bersama-sama dengan Raisa. Dia juga tidak pernah melihat anaknya kesulitan seperti itu, karena pelayan yang selalu mengerjakan pekerjaan rumah semuanya. Termaksud mencuci baju Raisa.
"Namun, aku takut Raisa merasa tidak nyaman!"
"Dia harus terbiasa, mau sampai kapan Raisa manja begitu? Kamu dengar sendiri ucapannya tadi bukan? Dia menyalahkan mu dan juga aku, karena kamu sibuk mengurus ku sehingga ia tidak pernah di ajarkan untuk membersihkan rumah. Dan sekarang, kakaknya ada di sini dan biarkan Syifa yang mengajari Raisa!"
"Tapi, kamu lihat betapa bar-bar nya anak kita itu sayang! Bahkan ia memberikan cabai ke mulut adiknya di depan kita! Bagaimana jika tidak ada kita?" Terlihat Caca begitu cemas, seharusnya Arvan yang cemas. Karena Syifa bukan anak kandungnya dan Raisa yang anak kandungnya.
Namun nyatanya, Caca tidak mempercayai Syifa yang juga anak kandung dari Caca sendiri. Mengapa dia begitu berat sebelah? Padahal Raisa dan Syifa sama-sama dari rahimnya?
"Raisa dan ucapannya yang selalu menyakiti hati orang lain pantas mendapat itu, agar ia bisa menjaga sikap dan ucapannya!"
__ADS_1
"Raisa itu anak yang lembut, dia tidak pernah kasar kepada orang lain."
"Iya, kamu benar! Raisa begitu lemah lembut, namun ucapannya sangat menusuk dan dia sangat egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sedangkan Syifa, walau ia bar-bar namun hatinya baik. Dia tidak pernah merasa iri hati, dia sopan dan juga selalu menghormati orang yang lebih tua, jauh berbeda dari Raisa!"
Caca menggeleng "Kenapa kamu lebih membela anakku? Raisa itu anak mu!"
"Mereka berdua adalah anak ku, bahkan. Syifa yang lebih memahami dan mengerti aku. Dia juga menghormati aku sebagai papa sambungnya daripada Raisa yang anak kandung ku sendiri, selama ini yang tinggal dengan kita itu adalah Raisa. Bukan Syifa dan juga Khanza namun mereka jauh lebih menghargai dan menyayangi aku sebagai Daddy-nya!"
Caca terdiam, apa yang suaminya katakan itu memang benar.
*******
Setelah selesai mengerjakan rumah, Syifa mendapatkan panggilan telepon dari mamanya
Panggilan Terhubung
"Hai ma, apa kabar? Kakak kangen banget sama mama"
"Iya, nak. Mama juga kangen banget sama kamu juga Khanza. Bagaimana kabar kalian?"
"Sangat baik, ma!"
"Nak, mama dan papa akan membawa adik kamu liburan. Alan dan Alana, kamu mau ikut?"
Syifa bingung, jika ia ikut. Khanza akan sendirian di sini, apalagi melihat sikap buruk Raisa itu.
"Hem, lain kali aja ya ma? Kakak masih banyak tugas Khanza juga masih butuh waktu berinteraksi dengan mami dan Daddy. Kakak enggak mungkin biarin Khanza sendirian di sini, ia masih menganggap mami, Daddy dan Raisa sebagai orang asing baginya,""
"Iya nak, mama mengerti itu. Khanza baik-baik aja kan? Dia enggak lupa makan juga susunya kan nak? Tolong jaga adik kamu ya sayang, mama merindukan kalian, mama berharap kalian bisa ikut. Namun saat ini, mama ingin menebus semua kesalahan mama kepada Alana. Alana semakin hari semakin jauh dari kita nak, itu semua karena kesalahan mama. Mama ibu yang sangat buruk hiks" terdengar isakan tangis dari seberang telepon.
"Mama, mama adalah ibu terbaik untuk kita semua. Mama jangan mengatakan itu ya ma! Kakak yakin jika Alana akan mengerti dan memahami semuanya. Ini hanya karena waktu, ma! Tolong jangan menangis, mama tahu jika kakak sangat mencintai mama! Kakak enggak bisa melihat atau mendengar tangisan mama!"
"Sayang, terimakasih banyak ya nak. Kamu selalu memahami dan mengerti mama, mama tutup dulu teleponnya ya. Nanti mama kabarin kamu lagi!"
"Iya, mama. Selamat bersenang-senang!"
Panggilan Terputus
Syifa memijat dahinya yang sangat pusing. Di rumah papanya, ada Alana yang sulit di beri pengertian.
__ADS_1
Dan di rumah Daddy-nya, ada Raisa si manja dan keras kepala. Ia harus melakukan apa agar keluarganya tenang dan harmonis?
"Kakak, sedang apa kakak di sini?" Lamunan Syifa memecah saat Khanza memanggil namanya "Hey, adik kakak. Enggak, kakak tadi lagi bicara sama teman kampus kakak. Kamu udah siap mengerjakannya?"
"Sudah kak!"
"Yuk, kita lihat, bagaimana kak Raisa mengerjakan rumah!" Khanza mengangguk, Syifa hampir saja terpeleset, Raisa mengepel rumah dengan begitu basah.
"Astaga, apa yang kamu lakukan? Ini sangat licin sekali!"
Syifa menggeleng tak karuan, ia pun mengambil pel yang kering. Lalu mengeringkan lantai, rumah Caca sangat besar dan Syifa mengerjakannya dengan santai.
"Non, sudah! Biar bibi yang melakukannya!" Pelayan ketakutan, Caca dan Arvan pun datang. Melihat Syifa yang sedang mengepel rumah "Nak, apa yang kamu lakukan? Sudah lah, jangan seperti itu! Mami dan Daddy meminta kalian tinggal dengan kami bukan untuk membersihkan rumah. Lagipula, ada pelayan yang akan membersihkan ini semua!"
Raisa mendekati Mami dan juga Daddy-nya dengan baju yang basah di penuhi keringat "Tidak mami, tidak Daddy! Raisa yang mengepel ini semua. Kakak hanya pencitraan saja!"
"Bohong Daddy! Memang kak Raisa mengepel. Namun sangat licin dan basah, jadi kak Syifa yang mengulanginya lagi. Dasar kakak anak manja!"
"Apa kata mu?" Didepan kedua orang tuanya, kini Raisa berani menjawab.
"Sudah-sudah! Kalian jangan bertengkar! Mami pusing melihat kalian anak-anak mami yang selalu saja bertengkar!"
"Mereka yang memulainya mami, ketenangan Raisa terganggu. Lihatlah! Kuku palsu Raisa lepas!"
Arvan menahan tawanya, Raisa menoleh ke arah Daddy-nya yang seakan mengejek "Daddy kenapa ketawa? Daddy senang melihat Raisa seperti ini?"
Caca meminta anak-anaknya untuk membersihkan diri "Sudah! Syifa, kamu berikan itu kepada pelayan. Biar mereka yang melanjutkan,lalu kalian bertiga bersihkan diri dan tidur siang! Mami sudah pusing karena kalian yang selalu saja bertengkar!"
"Terimakasih banyak mami, Raisa mencintai mami!" Raisa memeluk Caca dengan manja, Khanza yang melihatnya hanya memutar bola matanya dengan jengah. Ia muak melihat kakaknya yang begitu manja dan lebay
"Khanza bersujud karena mama Shinta tidak pernah memanjakan kami!"
Caca yang mendengar itu merasa sedih, seakan Khanza hanya menyayangi Shinta saja.
"Khanza sayang, kamu bersihkan diri ya nak sama kak Syifa. Setelah itu Daddy ingin bicara sama kalian,"
"Iya, Daddy!" Raisa terlebih dahulu pergi meninggalkan semua orang.
"Raisa akan membersihkan diri sekarang! Sudah sangat bauk euyy!"
__ADS_1