
"Beri putusan mu sekarang, ceraikan saja aku!" teriak Caca lagi. Bahkan, mengambil nafas perlahan juga sudah tidak sanggup bagi nya.
Sulit sekali untuk bernafas, hati nya teramat hancur.
"Aku muak Van, aku muak! Jika aku tidak bersuara, bukan Berarti aku tidak memiliki hati dan perasaan. Di setiap saat, hati ku hancur. Merasa sesak, karena sudah berpisah dari ke dua Puteri ku! Aku mengabaikan nya, memang Syifa bukan anak mu. Raisa anak mu makanya kau merasakan sakit seperti itu, tapi apa yang kau rasakan. Aku jauh lebih menderita!"
Arvan masih diam tak berkutik, Caca meluapkan segala nya.
"Mami. Mami di sini? Raisa terbangun dan mencari mama kemana-mana."
Caca dan Arvan secara bersamaan menoleh ke belakang menatap anak nya.
"Sa-sayang, kamu dari kapan di sini?"
Caca takut, jika Raisa mendengar ucapan nya tadi. Dia nggak mau membuat Raisa merasakan kesedihan.
"Baru saja mi, Mami menangis? Kenapa mami menangis? Apa Daddy membuat mami sedih?" Raisa menoleh ke arah mami dan Daddy nya secara bergantian.
__ADS_1
Caca tersadar langsung menghapus air mata nya, menggeleng.
"Ti-tidak, Sayang. Mami hanya kemasukkan debu. Sangat perih, jadi nya air mata mami keluar." Caca pun berbohong kepada anak nya
Raisa mendekati ke dua orang tua nya, awal nya dia kurang yakin. Namun, Raisa pun menggandeng ibu nya itu.
Caca mengajak anak nya untuk kembali ke dalam kamar, melanjutkan tidur nya.
Caca dan Raisa pun pergi meninggalkan Arvan, sebelum pergi. Raisa berpamitan kepada Daddy nya untuk tidur.
Caca tak menoleh sedikit pun ke arah Arvan, Arvan hanya memandangi isteri nya yang perlahan menjauh dari diri nya
Raisa mengajak sang mami untuk naik ke atas tempat tidur.
*******
Sedangkan di sisi lain, dua pasangan suami isteri masih bertempur menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
Hingga sampai di puncak nya, Shinta dan Revan pun melepaskan nya dengan perasaan yang lega.
Revan mengecup kening, pipi dan bibir Shinta perlahan, lalu bangkit, menyelimuti tubuh sang isteri yang tak memakai sehelai benang pun. Dengan nafas yang ter engah-engah Revan berbaring di samping isteri nya.
Shinta menoleh Revan sejenak, lalu menatap langit-langit kamar. Mengatur nafas dengan perlahan.
"Apa kau menyukai nya, Sayang?" bisik Revan dengan lembut di kuping Shinta. Dengan lemas, Shinta pun mengangguk dan tersenyum.
Bagaimana bisa dia tidak menyukai setiap sentuhan lembut yang di lakukan oleh sang suami yang begitu dia cinta.
"Terimakasih, karena sudah membuatku jatuh cinta berkali-kali kepada mu." ujar Revan. Malam itu, pria yang di kenal sebagai manusia es itu pun begitu romantis dan puitis.
Membuat Shinta, tidak berhenti nya tersenyum malu. Pipi nya memerah. Shinta mendongak kan kepala nya. Ke dua nya saling menatap satu sama lain, begitu penuh cinta di antara kedua nya.
"Aku juga selalu mencintai mu, jatuh cinta kepada mu berkali-kali." ujar Shinta.
"Iya, tapi terkadang. Kepala ku sedikit sakit karena melihat keras kepala mu itu."
__ADS_1
"Aw." Revan meringis kesakitan karena di pukul oleh Shinta.
Ke dua nya yang sudah kelelahan pun tak membutuhkan waktu lama untuk tertidur, Shinta tidur di pelukan suami nya.