
Harus nya mandi tak perlu selama ini namun karena bersama suami yang sangat agresif. Shinta menghabis kan waktu ber jam-jam. Membuat diri nya begitu sangat lelah. Berjalan pun sudah tak sanggup, Revan menggendong isteri nya dengan tubuh yang tak memiliki balutan sebenang pun keluar kamar mandi.
"Sudah lepas kan aku!" dengan segera Shinta turun dari gendongan sang suami. Ia segera memakai baju, Shinta sadar jika ber lama-lama seperti ini. Suami nya bisa saja memakan nya lagi. Revan hanya tertawa dan memakai celana boxer saja. Revan membawa isteri nya ke ranjang. Membaring kan tubuh Shinta dengan lembut, Revan pun membaring kan tubuh nya di sebelah sang isteri. Menatap Shinta dengan dekat.
"Apa kau tahu? rasa nya jika ada ribuan wanita yang mendekat, aku akan tetap memilih bersama wanita gila seperti mu."
"Sembarangan! yang ada kau yang gila!"
"Haha." Revan hanya tertawa gemas melihat wajah Shinta yang cemberut.
"Jika seperti ini, kau semakin gemas saja."
"Iya, iya! aku memang sangat menggemas kan."
"Sudah, ayo tidur! Ini sudah larut malam." ajak Revan kepada isteri nya. Shinta pun segera memejam kan kedua mata nya. Revan menyelimuti tubuh Shinta dan ikut tertidur pulas di samping isteri nya.
********
Ke esokan pagi, ketika mereka sarapan. Syifa memilih untuk tidak sarapan. Ia masih sangat kecewa dengan sang papa.
"Kemana Syifa, Ma? Pa? kenapa tidak ikut sarapan."
"Kata nya ia ingin sarapan di kamar saja." ucap Mama Lili. Revan segera bangkit dari tempat duduk nya dan ingin menemui Syifa. Namun, Shinta melarang nya.
"Jangan!"
"Dia harus mengerti, jangan seenak nya dalam bersikap." ujar Revan dengan kesal.
"Kau juga seenak nya bukan dalam bertindak? seenak nya berkata kasar pada anak mu." jawab papa Tommy dengan ketus.
"Dengar! sebelum ada isteri kesayangan mu ini. Aku dan mama mu yang merawat dan memberi nya kasih sayang. Kau tidak ada! kau hanya sibuk dengan pekerjaan mu. Jadi, jika sekarang kau sudah memiliki isteri. Bukan berarti kau bisa seenak nya pada cucu ku. Aku lebih memiliki hak dari pada mu. Saat Syifa masih menjadi bayi merah. Aku yang sudah mengurus nya, jadi aku tak akan menerima jika kau tidak berprilaku baik pada nya!" teguran papa Tommy membuat Revan terdiam dan kembali duduk.
"Sudah, sebaik nya kita sarapan dahulu, jangan ribut. Tidak baik, jika bertengkar di meja makan apalagi di depan si kembar." tegur mama Lili kepada anak dan suami nya.
__ADS_1
"Alana juga mau calapan di Kamal. Pasti sangat celu, sambil belmain." cetuk Alana dengan polos nya.
"Sayang, tidak ada yang boleh makan di dalam kamar. Semua orang harus berkumpul dan malam bersama." Shinta mencoba memberi kan pengertian kepada anak nya.
"Tapi, kenapa kakak boleh? Alana juga mau mama." rengek Alana.
"Lihat lah! karena sikap tidak baik nya, membuat adik nya pun mengikuti langkah salah nya."
"Sudah! kau jangan terus-terus an menyalah kan cucu ku!"
"Aku tak menyalah kan nya, Pa!" Shinta memegang tangan Revan untuk memenang kan suami nya. Dan berharap untuk Revan tidak bicara lagi.
"Sayang, sebaik nya kita makan saja dahulu. Aku akan menemui Syifa dan memberi kan ia makanan."
"Iya, Nak. Sudah lah!" ujar mama Lili kembali.
Revan pun memilih diam dan makan dengan sangat tidak selera.
Alana masuk ke dalam kamar Syifa, terlihat Syifa sedang menikmati musik di ponsel nya mengguna kan headphone. Shinta pun mengikuti anak nya.
"Kakak." Alana menggoyang kan tubuh Syifa, Syifa membuka headphone milik nya.
"Iya, kenapa adik?" Syifa melihat jam di ponsel nya.
"Ini masih pagi, jam sarapan. Kenapa ke sini?"
"Alana Ndak mau makan." Syifa mengerut kan kening nya.
"Kenapa?"
"Kalena kakak nggak mau makan. Alana mau sama kakak." Shinta pun duduk di samping Syifa dan Alana.
"Sayang, kenapa nggak mau sarapan bersama?" Shinta membelai rambut Syifa dengan lembut.
__ADS_1
"Mama, Alana juga mau di gitui." Alana yang tak mau kalah pun membuat mama dan kakak nya tertawa dan hanya bisa menggeleng kan kepala saja.
"Iya, sini mama belai rambut kamu" Shinta membelai rambut Alana dengan penuh kasih sayang dan rasa gemas.
"Adik, sebaik nya kamu makan la bersama yang lain nya."
"Ndak mau! Alana mau cama kakak aja."
"Sayang, kakak itu adalah contoh bagi adik nya. Jika kakak menangis, adik pun akan ikut menangis. Jika kakak berlari, adik pasti akan berlari."
"Maksud mama, aku pengaruh buruk bagi adik-adik?" ucapan sang mama membuat nya tersinggung.
"Tidak begitu nak, bukan seperti itu."
"Sudah la, ma. Syifa sedang tak enak badan. Syifa ingin istirahat saja. Tolong, tinggal kan Syifa sendiri." Syifa pun kembali memakai headphone nya. Shinta begitu sangat sedih, bukan maksud nya menyakiti hati Syifa.
"Maafin mama, Sayang." Shinta pun menggendong Alana untuk keluar kamar. Syifa memandang punggung sang mama yang semakin menjauh keluar kamar. Ia menetes kan air mata.
"Kenapa sekarang mama dan papa berubah. Aku tidak menyangka jika mama pun akan seperti papa. Ma, Syifa anak mama juga kan?" gumam nya dalam hati. Air mata nya menetes. Syifa semakin merasa terasing kan.
Di sisi lain, Shinta pun bersedih melihat sikap dan ucapan anak nya. Ia tahu, proses pubertasi setiap anak akan berbeda. Ini ujian bagi diri nya untuk menjadi seorang ibu. Itu tidak lah hal yang mudah, namun Shinta akan berusaha tetap sabar dan membuat anak nya mengerti. Shinta berharap jika suatu saat anak nya akan kembali seperti dahulu, peri kecil kesayangan nya. Shinta sadar, ini juga tidak sepenuh nya kesalahan Syifa.
"Mama, apa yang kakak kata kan? papa pe-pe apa tadi yaa? pe-pengaaluh bulluk untuk adik?" tanyak Alana kepada sang mama.
"Tidak, Sayang. Itu semua tidak benar. Kakak bukan lah pengaruh buruk bagi kalian. Kakak adalah kakak terbaik untuk Alana juga Alan. Kakak sangat menyayangi kalian
"
"Alana juga sayang banget sama kakak. Alana nggak mau kakak malah malah. Alana, kangen main sama kakak. Tapi, Alana ndak cuka lihat kakak ngomong Ndak baik sama mama. Alana akan aduin kakak ke papa! Ma-mama tenang aja ya? ma-ma jangan nangis lagi." Alana menghapus air mata dan mengecup kening, juga kedua pipi sang mama.
"Tidak, Sayang. Kakak nggak pernah jahat sama mama. Ini mama tidak menangis, jangan aduin kakak kepada papa. Alana mau melihat kakak menangis di marahi sama papa?" Alana dengan cepat menggeleng.
"Ti-tidak mama, Alana sangat sayang dengan kakak."
__ADS_1