
Raisa menyadari kehadiran Daddy dan mami nya. Begitu juga dengan Syifa, mereka melihat wajah dari ke dua orang tua nya siapapun yang melihat pasti mengetahui jika mereka sudah berdamai.
Syifa merasa sangat senang, karena keinginan dan rencana nya bersama Raisa telah berhasil mempersatukan ke dua orang tua mereka.
"Mami, Daddy." panggil Raisa yang turun dari ranjang, ia pun meminta maaf karena sudah membuat kacau kamar.
Arvan dan Caca tidak marah sama sekali, justru mereka senang melihat ke dua nya akur begitu.
"Tidak masalah, sayang! Bahkan, kalian bisa membuat satu rumah ini berantakan. Daddy tidak akan marah."
"Tidak seperti itu juga, Daddy! Jangan mengajari anak-anak kita seperti itu." gumam Caca kepada suami nya dengan menggeleng kan kepala.
"Kasihan pelayan yang ada di rumah, jika mereka membuat rumah berantakan." sambung Caca lagi, Raisa dan Syifa pun saling tertawa dan memandang satu sama lain.
"Sudah, sebaik nya kalian tidur di kamar Raisa saja. Biar mami menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar kakak Syifa dulu. Tapi, ingat jangan di berantakin lagi ya, sayang?"
"Iya Mami." ujar ke dua anak nya
Setelah ke dua anak nya ke luar, Caca pun berjalan ke luar kamar. Menyuruh pelayan untuk membersihkan kamar Syifa.
Setelah itu, Caca meminta kepada Arvan untuk pergi ke rumah orang tua Shinta sekaligus orang tua angkat nya.
Sudah lama ia tidak ke sana, Caca sangat merindukan ibu Syafa dan ayah Gunawan.
"Sayang, bisakah kita berkunjung ke rumah ibu Syafa dan ayah Gunawan?"
"Tentu saja, lagipula sudah lama kita tidak kesana."
"Baik lah, terimakasih sayang. Aku akan meminta anak-anak untuk bersiap."
Caca menyusul ke dua anak nya, memberitahu Syifa dan Raisa jika mereka akan berkunjung ke rumah nenek nya.
Syifa pun bersorak senang, Raisa masih bingung sebab ia belum mengenal nenek nya itu.
"Sayang, itu adalah orang tua dari mama Shinta. Mereka juga sudah menganggap mami sebagai anak mereka, begitu juga sebalik nya. Jadi, mereka adalah kakek dan nenek nya kamu ya nak?" Caca pun memberikan penjelasan kepada sang anak, sehingga Raisa pun tidak merasa bingung lagi.
Syifa dan Raisa pun bersiap untuk pergi ke rumah kakek dan nenek mereka. Caca mau pun Arvan tidak tahu jika Shinta dan Revan sedang menginap di sana.
******
Shinta merindukan anak nya, padahal belum ada dua hari Syifa meninggalkan diri nya. Namun, Shinta merasa seakan setahun berpisah dari puteri sulung nya itu. Begitu juga dengan si kembar yang merasa kehilangan sang kakak.
"Mama, kapan kakak akan pulang?"
"Mama juga tidak tahu, sayang. Kita doa kan saja semoga kakak cepat pulang dan berkumpul dengan kita ya?"
Dan hubungan mami dan Dady kalian segera membaik, agar kakak Syifa bisa segera bersama dengan kita.
Shinta pun hanya diam, dia tidak bisa berbagi kesedihan nya kepada si kembar karena anak-anak nya masih terlalu kecil.
"Alana lindu kakak hiks." rengek Alana, Shinta yang merasakan kesedihan yang sama pun berusaha untuk kuat dan menghibur anak nya.
"Jangan menangis begitu dong nak, kakak Syifa kan di rumah mami. Jika kalian mau, kita bisa berkunjung ke rumah mami dan bertemu dengan kakak."
"Kenapa kakak tidak pulang aja ma? Itu pasti kalena kak laisa. Alana nggak suka sama kak laisa, dia udah ambil kakak nya Alana hiks."
"Sayang, kamu nggak boleh begitu. Kakak Syifa itu juga kakak nya kak Raisa. Kalian memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk kak Syifa. Anak mama nggak boleh bicara seperti itu ya cantik?"
"Iya, Alana! Kamu jangan bicala sembalangan! Kak laisa juga kakak nya kita. Kenapa kamu sepelti itu, menyebalkan!" bentak Alan kepada Alana, ia tidak suka jika saudara kembar nya bersikap seperti itu apalagi kepada kakak mereka sendiri.
"Dia bukan kakak nya Alana! Kakak nya Alana hanya kakak Syifa!" air mata Alana berlinang begitu deras, ia merasa jika kehadiran Raisa bagaikan tembok penghalang untuk kebersamaan mereka dengan Syifa.
Anak-anak terkadang seringkali berfikiran seperti yang mereka ingin kan, tanpa tahu yang sebenar nya. Apalagi, usia Alana masih sangat kecil. Yang dia tahu hanya lah kakak nya tidak boleh dekat dengan siapapun, Alana begitu menyayangi Syifa.
"Mama, Alana mau kakak! Suluh kakak pulang mama!" Alana terus saja merengek, Shinta bingung harus mengatakan apa. Ia sudah berusaha membujuk anak nya namun Alana yang keras kepala tidak mau mendengar kan nya.
"Sudah ya cantik nya mama, jangan menangis lagi! Jika papa mendengar nya, papa akan marah Lo. Alana mau lihat papa marah?"
"Bialin! Alana akan bilang sama papa untuk memalahi kak laisa kalena sudah mengambil kakak nya Alana hiks." Alana meninggikan suara nya, hal itu tentu saja membuat Alan kesal dan mengangkat tangan nya kepada saudara kembar nya yang manja itu.
Shinta pun segera melarang Alan untuk memukul Alana.
__ADS_1
"Alan, sayang. Kamu mau apa nak?"
"Mau memukul nenek sihil ini! Dia begitu sangat menyebalkan ma!"
"Lihat lah mama! Alan sepelti itu kenapa Alana huaaa." Alana semakin mengencangkan suara tangisan nya.
Revan yang mendengar sang anak menangis langsung menghampiri isteri dan anak nya. Ia menggendong tubuh mungil Alana, dan bertanya apa yang terjadi.
"Papa, Alan mau memukul Alana huaaa."
Revan menoleh ke arah anak lelaki nya, lalu memarahi nya.
"Alan! Jangan kamu lancang memukul adik mu! Atau papa tidak akan segan menghukum kamu!" bentak Revan kepada Alan. Alan hanya terdiam dan menunduk, sedangkan Alana tertawa melihat saudara kembar nya di marahi oleh sang papa.
"Nggak gitu cerita nya, kamu nggak tanya dulu kenapa Alan mau memukul Alana? Lagipula, aku ada di sini. Nggak mungkin Alan memukul adik nya sendiri." ucap Shinta yang membela anak lelaki nya.
Terlihat, Alan yang memalingkan muka melihat kesembarang arah sedang menahan air mata dan kesedihan nya.
"Kamu di sini, tapi kamu biarin dia mau mukul Alana. Jika dari sekarang kita biarin, Alan bisa semakin kurang ajar dan kasar kepada Alana. Apa kamu tetap biarin?"
Shinta membuang nafas nya dengan kasar, percuma juga menjelaskan kepada suami nya yang pemarah.
"Terserah apa yang mau kamu bilang, toh nyata nya itu nggak bener. Aku tahu anakku Alan, dia nggak akan nyakiti orang lain apalagi saudara kembar nya sendiri." Shinta pun menggendong Alan, dan membawa Alan ke pangkuan nya.
"Sudah ya nak? Anggap saja papa mu itu tidak waras, marah tanpa alasan." ujar Shinta yang mencoba menghibur Alan.
Revan tidak terima, dan merasa geram dengan perkataan isteri nya.
"Sayang, kamu lihat Mama mu. Dia mengatakan papa tidak waras!"
"Alan, sayang. Tutup telinga kamu ya nak, kita yang waras mengalah saja. Biarkan papa mu yang tidak waras itu mengomel sesuka nya. oke?" Alan yang menatap mata sang mama pun tersenyum, Shinta memeluk Alan tanpa memperdulikan ucapan Revan.
Dia sangat lelah untuk berdebat dengan suami nya yang menyebalkan itu.
Revan terus saja mendumel, Shinta yang malam mendengar kan ocehan sang suami pun mengajak Alan untuk ke luar dari kamar.
"Ma, kenapa papa selalu saja membela Alana padahal Alana yang salah."
"Tapi, ma. Alana sangat menyebalkan!"
"Iya, sayang. Mama tahu, bahkan mama juga sering menyebalkan. Apakah Alan mau memukul mama atau papa memukul mama?"
Dengan cepat Alan menggeleng, ia tidak mau melihat mama nya terluka sedikit pun.
"Tidak mama! Alan tidak mau mama di sakiti oleh siapapun! Alan sangat menyayangi mama." Alan mengalungkan tangan nya di leher sang ibu.
Shinta pun tersenyum, mencium pipi anak nya.
"Nah, jadi Alan nggak boleh ya sayang menyakiti atau membiarkan wanita lain di sakiti oleh seorang pria. Karena pria sejati ialah tidak menyakiti seorang wanita, dan orang yang lemah. Kamu mengerti sayang?"
"Terkadang Alan juga melakukan kesalahan. Tapi mama dan papa tidak pernah memukul Alan kan nak?"
"Iya, ma. Maafin Alan yang mama kalena Alan sudah belsikap tidak baik kepada Alana."
"Tidak apa-apa, sayang. Lain kali, jika Alana melakukan kesalahan. Alan harus sabar dan memberitahu nya dengan tenang ya sayang bukan nya ikut emosi atau seperti tadi. Alan mengerti kan nak maksud mama?"
"Iya, mama. Alan mengelti."
"Anak mama memang pintar."
Shinta pun merasa senang, karena anak-anak nya bisa di beritahu dengan lembut, ia percaya jika mendidik anak dengan kemarahan itu bukan membuat anak menjadi menurut melainkan ia akan menjadi pembangkang atau penakut.
Shinta dan Alan mendengar suara mobil, mereka pun ke luar untuk melihat siapa yang datang..
Shinta tersenyum, melihat mobil Arvan yang mendekat masuk ke halaman rumah ke dua orang tua nya. Ia pun berdiri di depan pintu dengan menggendong Alan, menyambut kedatangan Caca, Arvan, Raisa, Syifa dan baby Khanza.
Mereka turun dari mobil, Alan meminta turun kepada sang mama untuk mengejar mendekati Syifa, ia sangat merindukan Syifa.
"Kakak."
"Alan." Syifa berjongkok dan langsung memeluk adik nya itu. Melihat raut wajah Caca, Arvan, Raisa dan Syifa. Kini, Shinta paham jika Caca dan Arvan sudah berbaikan. Ia pun merasa lega dan bahagia.
__ADS_1
Caca mendekati Shinta, memeluk Shinta dengan erat
"Bagaimana kabar mu?"
"Lebih baik dari hari kemarin."
"Aku sudah tahu itu, terlihat dari wajah mu dan anak-anak." bisik Shinta di telinga Caca, Caca pun hanya tersenyum malu.
"Di mana ibu dan ayah?"
"Ada di dalam."
Shinta mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam. Shinta pun menegur Raisa, Raisa tersenyum, menyalami Shinta dan yang lainnya di dalam.
"Yang cantik ini pasti cucu nya Oma."
"Iya Bu, ini anak nya Caca dan Arvan. Cucu nya ibu dengan ayah. Ayo sayang, perkenalkan diri kamu."
"Oma, perkenalin aku anak nya mami Caca. Raisa."
"Kamu cantik seperti mami mu." Syafa memeluk Raisa dengan hangat. Begitu juga dengan Gunawan.
Kini, Raisa merasakan memiliki keluarga yang utuh.
Ada Daddy, mami, Kakak, Adik, Oma, Opa, dan mama dan papa nya Syifa. Hidup nya terasa sangat lengkap, ia merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh dan harmonis
Shinta membuatkan minuman untuk mereka semua, Caca pun Ingin membantu namun Shinta menolak. Akhirnya, Syifa yang bangkit untuk membantu sang mama.
"Kakak, Raisa ikut ya?"
"Jangan, kamu di sini aja. Alan di mana Alana?"
"Alana ada di kamal kak belsama papa."
"Sayang, sebaik nya kamu ke kamar dulu ya? Alana udah kangen banget tuh sama kamu. Sana, ajak Raisa bersama mu menemui Alana dan papa." pinta Shinta kepada anak nya, Syifa pun menuruti ucapan Mama nya. Ia pun mengajak Raisa, dengan senang hati Raisa mengikuti kakak nya.
"Sayang, kamu ajak juga baby sister ke kamar baby Al ya? Biar mbak nya nggak bosen juga di sini."
"Iya, ma."
Syifa pun mengajak baby sister yang menjaga baby Khanza ikut ke dalam kamar. Baby sister itu hanya mengangguk dan menurut saja.
Setelah kepergian Raisa dan Syifa. Caca pun ikut ke dapur, kali ini dia tidak perduli dengan larangan Shinta.
"Diam kau! Aku tidak mau mendengar alasan mu lagi. Ayo!"
"Wuih, udah pinter galak nih sekarang." ledek Shinta kepada Caca, mereka pun tertawa yang ada di ruang keluarga. Tinggal Revan yang Belum ada, karena ia juga tidak tahu kedatangan Caca dan Arvan.
Di dapur, Caca dan Shinta menyiapkan teh dan beberapa cemilan ringan untuk mereka nanti.
"Ca." panggil Shinta perlahan, Caca menoleh ke arah Shinta sebentar lalu fokus dengan teh yang ia buat.
"Iya?"
"Apakah semua nya sudah membaik? Maksud ku, apakah Raisa sudah mengetahui segala nya?"
"Sudah, Arvan yang memberitahu nya."
Caca pun menceritakan bagaimana Raisa bisa tahu semua itu, dan bagaimana Raisa dan Syifa berjuang untuk menyatukan hubungan nya dengan Arvan. Bahkan Caca juga menceritakan bagaimana kondisi saat di bioskop.
"Syifa memilih film horor? Dia kan sangat takut dengan yang berbau-bau kehantuan." ujar Shinta yang masih bingung..
Caca tidak tahu, jika anak nya sangat penakut sama seperti diri nya.
"Sungguh aku juga tidak tahu jika dia sama seperti ku, tapi waktu itu. Dia begitu maksa menonton film horor."
Shinta terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana. Diri nya tahu, jika nanti malam anak nya itu tidak akan bisa tidur dan menangis ketakutan mengingat film horor.
Shinta juga tidak habis fikir, demi kebahagiaan Caca dan Arvan. Syifa mengorbankan diri nya sendiri.
"Maaf kan aku, Tata. Sungguh, aku tidak tahu. Aku memang ibu yang buruk, apa yang anak ku suka atau tidak saja aku tidak tahu." ujar Caca yang merasa bersalah.
__ADS_1