
"Dokter bagaimana keadaan anak saya? Apa yang terjadi sebenarnya dok?" Shinta bertanya dengan lemas, dokter itu pun menghela nafas dengan panjang. Terlihat raut wajahnya sangat kecewa "Apakah kalian tahu jika anak kalian mengkonsumsi obat penenang?"
"Obat penenang?" Tanya Shinta dan Revan yang tak percaya, "Tidak! Anak saya tidak mung-mungkin minum pil penenang!" Shinta menoleh ke arah suaminya Revan "Untuk apa anak kita minum obat penenang seperti itu? Enggak mungkin!"
"Mama tenang lah!" Pinta Alan
"Sepertinya anak anda mengalami depresi sehingga ia meminum pil penenang,"
"Dokter tahu, anak saya itu masih sangat kecil. Dia tidak akan paham, dan mengerti pil penenang itu!"
"Tapi itu hasil yang saya dapatkan, dokter Shinta!" Shinta seakan di sambar petir mendengar ucapan dokter
"Lalu bagaimana keadaan anak saya dok?"
"Karena kecanduan obat penenang, membuat tubuh Alana melemah. Dan semoga ini bukan hal yang serius,"
Kini Alana sudah sadarkan diri. Shinta, Revan dan Alan memasuki ruangan yang tempati oleh Alana "Sayang," Shinta memeluk anaknya
Revan mendekati anaknya, menatap mata anaknya yang begitu teduh "Nak, boleh papa bertanya?"
"Iya papa,"
"Bagaimana bisa Alana mendapatkan obat penenang itu nak?" Alana terdiam, terlihat ia yang begitu gugup "Maafin Alana papa!"
"Nak, papa enggak akan marah sama Alana. Tapi Alana harus jujur sama papa, nak! Bagaimana bisa kamu mengkonsumsi obat penenang itu?"
Alana menangis, terlihat dirinya sangat depresi "Semenjak kepergian kakek Gunawan dan juga nenek Syafa membuat Alana sangat sedih. Alana enggak sanggup kehilangan mereka pa, hanya nenek dan kakek yang mengerti Alana. Nenek Lily dan kakek Tommy juga tidak ada di sini. Alana bersalah papa, tapi itu salah satu cara untuk membuat Alana merasa tenang dan melupakan kesedihan Alana. Alana merasa sendiri papa, semenjak kepergian nenek Syafa dan kakek Gunawan. Alana merasa hancur, maafkan Alana papa! Lalu, saat setahun yang lalu Tante Jennika juga tiada. Semua meninggalkan Alana, papa!"
Revan memeluk anaknya yang menangis menyesali perbuatannya "Lalu dari mana Alana mendapat obat penenang itu nak?"
"Alana baru menggunakannya setahun belakangan ini papa. Saat Alana pergi ke kamar tante Jennika! Saat itu, Alana juga murung dengan kepergian Tante Jennika yang bunuh diri. Alana meratapi kepergian orang-orang terdekat Alana. Lalu, Alana menemukan obat di laci Tante Jennika. Alana tahu jika itu sering Tante Jennika minum saat Tante sedih lalu ia merasa tenang dan benar saja. Saat Alana meminumnya Alana merasa tenang, pa"
Shinta semakin hancur mendengar ucapan anaknya, seburuk itu kah ia menjadi seorang ibu? Sampai ia tidak menyadari apa yang anaknya lakukan selama ini
"Sayang, kenapa kamu melakukan itu nak? Itu akan buruk untuk kesehatan kamu,"
"Apalagi yang bisa Alana lakukan ma? Hanya itu salah satu cara agar Alana merasa tenang. Mama tahu itu bukan? Mama tidak pernah mau memahami Alana, karena mama hanya fokus dengan Khanza. Alana hanya bisa mencari ketenangan untuk Alana sendiri,"
Shinta memalingkan wajahnya sendiri, ia keluar dari ruangan. Alan pun sedih ternyata sebegitu dalamnya duka yang di tahan oleh Alana selama ini? Sehingga ia menggunakan obat penenang untuk mengendalikan dirinya dari kesedihan
Alan memeluk Alana dan meminta maaf "Maaf kan aku, seharusnya aku lebih memperhatikan mu,"
"Tidak apa-apa Alan, itu bukan kesalahan kamu. Aku yang enggak bisa mengendalikan diri aku sendiri,"
__ADS_1
Di luar ruangan, Shinta mengutuk dirinya sendiri yang begitu gagal menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya. Revan memegang bahu Shinta "Aku gagal. Aku sudah kehilangan anak aku, dan aku hampir kehilangan anak aku yang lainnya, betapa buruknya aku menjadi seorang ibu,"
"Sudah! Jangan menyalahkan diri mu sendiri seperti itu! Ini bukan lah kesalahan kamu sepenuhnya aku juga bertanggung jawab atas ini semua,"
"Kenapa semua ini terjadi kepada anak kita? Mengapa semuanya terjadi, Van? Aku sudah gagal hiks,"
Revan memeluk Istrinya dengan erat "Sudah lah, semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya terus larut dengan masa lalu, sebaiknya kita memperbaiki diri agar Alana lebih tenang lagi!"
Shinta mengangguk, ia merasa sangat bersalah namun ia akan memperbaiki semuanya.
"Ini semua salah aku, dan aku yang akan memperbaikinya,"
"Bukan Kau, tapi kita! Kita berdua yang akan memperbaiki semuanya untuk anak-anak kita."
Shinta mengangguk, Revan mengajak istrinya untuk kembali keruangan anak mereka "Ayo kita masuk, jangan memperlihatkan kesedihan kamu, kasian Alana yang akan semakin sedih!"
******
Di dalam ruangan, Alana termenung. Sebenarnya Alana sudah menggunakan obat penenang saat ia masih kecil.
Saat dirinya merasa sedih, karena mamanya hanya memikirkan Khanza
Delapan tahun yang lalu
Alana tak sengaja melihat jennika yang menangis lalu meminum obat "Tante, Tante ngapain?" Tanya Alana dengan polos, jennika menoleh ke arah Alana
"Sayang, Tante sedang minum obat ini sayang. Kalau Tante sedih, Tante akan meminum obat ini, ini akan membuat Tante lebih tenang," bahkan Alana melihat jennika menyimpan obat itu di lacinya
Sejak saat itu, ketika Alana sedih ia mengingat yang dikatakan oleh jennika. Ia pun ke kamar Jennika dan diam-diam masuk ke kamar teman mamanya tanpa sepengatahuan Jennika ia mengambil pil itu dan meminumnya.
Kejadian itu diketahui oleh Syafa neneknya saat bermain ke rumah mereka. Syafa dan Gunawan mengetahui masalah itu namun tidak memberitahu Shinta, berulang-kali mereka ingin bicara dengan Shinta namun Shinta yang sibuk dengan Khanza tidak pernah memberikan kesempatan kepada kedua orang tuanya untuk berbicara.
Namun kedua orang tua Shinta selalu memerhatikan Alana agar tidak merasa sedih atau mengkonsumsinya lagi. Namun, saat Syafa dan Gunawan meninggal tidak ada lagi yang menjaga Alana.
Jennika juga tidak tahu jika Alana mengambil obatnya hingga ketergantungan itu berlanjut sampai setahun belakangan ini.
Namun saat jennika tiada, tidak banyak persediaan stok pil penenang itu. Bahkan lima bulan belakangan ini Alana tidak menggunakannya sebab itu ia menjadi lemas.
Flashback end!
Lamunan Alana memecah saat Revan memegang bahu anaknya. Di dalam hatinya Alana, ia meminta maaf kepada mama dan papanya. Bukannya ia bermaksud untuk berbohong, namun Alana takut jika kedua orang tuanya semakin sedih.
Dulu, Alana memang tidak memahami obat itu. Namun sekarang ia memahaminya, bahkan saat ia ingin mengkonsumsinya lagi. Ia tidak bisa karena obat itu tidak sembarangan di jual belikan.
__ADS_1
Sebab itu Alana enggak bisa menahan amarah dan kesedihannya, ia tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Nak, Ayo makan?" Shinta pun menyuapi anaknya makan, Alana membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan yang di berikan oleh mamanya "Terimakasih ya ma,".
"Untuk apa, sayang?" Tanya Shinta bingung, matanya juga terlihat sembab sekali "Karena mama sudah mau menyuapi Alana. Hal yang tidak pernah Alana dapatkan lagi setelah kehadiran Khanza,"
Deg!
Hati Shinta hancur mendengarnya, namun itu lah kenyataannya. Hal yang ia anggap sepele ternyata berdampak buruk untuk anaknya Alana
"Sayang, maafin mama. Mama janji, mama akan fokus dengan kamu. Kini, mama mengerti mengapa kakek dan nenek Syafa meminta mama untuk lebih memperhatikan kamu. Mungkin ini alasannya, tapi." Shinta terdiam, kedua orang tuanya meninggal lima tahun yang lalu, sedangkan pengakuan Alana ia menggunakan pil penenang itu setahun belakangan ini. Lalu apa maksud dari kedua orang tuanya?
Alana pun tampak gugup, Shinta menatap mata anaknya "Sayang, tolong jujur sama mama nak. Apakah Kakek Gunawan dan nenek Syafa tahu ini semua nak?"
Awalnya Alana masih bungkam, dan menunduk kan kepalanya "Apa yang kamu katakan? Jangan memaksa anak kita, mana mungkin mama dan papa Gunawan tahu sedangkan mereka sudah meninggal lima tahun belakangan ini? Mungkin karena Alana sering sedih,".Revan mencoba membela anaknya.
Namun hati seorang ibu tahu, jika ada yang di tutupi oleh anaknya "Alana, sayang. Tolong jawab mama nak!"
Alana mengangguk, membuat piring yang ada di tangannya jatuh ke lantai.
"Be-berarti," Alana mengangguk "Iya ma, Alana sudah mengkonsumsi pil itu jauh sebelum nenek dan kakek Gunawan tiada. Kakek dan nenek sudah melarang bahkan terus mengawasi Alana. Namun saat mereka tiada, Alana kembali meminumnya. Karena saat itu Alana masih sangat kecil ma, dan Alana lihat kalau Tante Jennika merasa tenang dan bahagia setelah meminumnya. Alana juga merasakan hal yang sama, Alana merupakan rasa sakit dan kesedihan Alana melihat mama lebih menyayangi Khanza!"
Revan memukul dinding rumah sakit, membuat Alana kaget, Alana kembali meminta maaf. Revan tidak marah kepada anaknya, namun ia marah kepada dirinya sendiri.
"Demi menjaga dan menjadi orang tua yang baik untuk anak orang lain. Aku mengorbankan anak ku!" Revan merasa hancur, mereka terlalu memikirkan dan menjaga Khanza. Namun abai dengan anak kandung mereka sendiri, Shinta menatap suaminya dengan mata yang sendu namun Revan menatapnya dengan penuh marah
Masa kecil anaknya sudah direnggut oleh obat yang akan menghancurkan masa depan anaknya kelak. Berulangkali Revan memukul dinding, Alana turun dari tempat tidur "Papa, maaf kan Alana. Alana bersalah papa! Alana membuat papa bersedih. Ampuni Alana papa! Sungguh Alana menyesal hiks!" Alana memeluk papanya. Bahkan tangannya yang di infus pun berdarah Karena Alana terlalu banyak bergerak.
Revan menangis, ia merasa hancur dan tak berdaya. Betapa buruknya dia menjadi seorang papa, ia sudah gagal menjadi papa untuk Alana
Revan menatap mata anaknya yang sembab, ia memohon ampun kepada anaknya
"Nak, maafkan papa. Papa sangat bodoh! Papa adalah papa terburuk di dunia!'" Revan memukuli dirinya sendiri, Alana teriak histeris bahkan Shinta dan Alan menghentikan Revan. Namun pria itu tetap memukuli dirinya sendiri
"Papa, tolong jangan!" Alana meminta dengan nada yang berat, Revan menghentikan kegiatannya. Hidungnya berdarah karena pukulan yang ia buat sendiri. Revan memeluk anaknya, melepaskan pelukan itu perlahan
Lalu ia memegang kedua pipi anaknya "Nak, jika waktu bisa papa putar. Mungkin papa lebih memilih papa tiada daripada harus melihat hari ini nak! Sumpah, papa tidak menyalahkan kamu, namun papa menyalahkan diri papa sendiri yang sudah gagal menjaga kamu. Bodoh sekali papa!" Revan kembali memukul kepalanya, ruangan menjadi pilu.
"Papa, tolong maafkan Alana! Jangan sakiti diri papa lagi, Alana berjanji tidak akan meminum obat itu lagi! Maafkan Alana pa!"
"Walau kamu tidak meminumnya lagi nak. Namun papa sudah gagal, papa gagal!" Suara Revan sangat berat, Shinta mendekati suaminya dengan tangan gemetar
"Jangan sentuh aku!" Teriak Revan kepada Shinta, Shinta kaget dengan teriakan suaminya. Namun ini memang kesalahannya dan ia akan menerima semuanya.
__ADS_1