
"Kamu enggak bisa menuduh orang tanpa bukti nak!" ujar Mama Lily yang tak habis pikir dengan nya itu.
Jika Revan merasa kehilangan anak nya, itu hal yang wajar. Namun, mengapa harus menuduh orang tanpa bukti?
Revan menunjukkan satu botol di hadapan semua orang.
"Ini bukti nya, aku menemukan ini di kamar wanita gila ini!" teriak Revan dengan wajah yang murka, jika kesalahan lain mungkin dia akan menerima dan memaafkan namun menurut nya ini sudah tindak kejahatan.
Shinta melepaskan pelukan nya dari jennika, ia menatap jennika dengan mata yang sendu. Jennika menangis, menggeleng.
"Sumpah, aku enggak tau apa-apa. Bukan aku." ucap jennika dengan nada yang gemetar, Shinta mendekati suami nya. Hati nya menolak, berharap jika ini salah paham.
Shinta mengambil botol itu dari tangan suami nya. Shinta terkejut mengetahui ternyata itu adalah racun bukan obat.
"Kalian bertanya-tanya bukan apa penyebab baby Al meninggal? Benar yang Shinta katakan, baby Al tidak apa-apa sebelum nya. Namun, seseorang menaruh racun di susu nya dan membuat aku dan Shinta kehilangan anak bungsu kami. Dan orang jahat yang tega meracuni anak kami adalah jennika! Aku menemukan botol ini di kamar jennika, dulu keluarga kita aman saat ibu nya Caca sudah tiada. Bahkan tenang dan damai, setelah kehadiran nya beberapa hari saja kita langsung kehilangan anak kita!" teriak Revan yang masih menatap jennika dengan tatapan tajam.
Shinta menatap jennika dengan tidak percaya.
"Kenapa Jen?" tanya nya dengan nada yang berat. Jennika masih membela diri nya dan mengatakan jika bukan ia pelaku nya.
Shinta ingin mempercayai sahabat nya namun bukti sudah ada di depan mata. Bahkan, suami nya Revan menemui botol itu di kamar jennika.
Shinta masih mencoba berfikir baik, mungkin seseorang sudah menaruh botol itu di kamar sahabat nya untuk menjadikan jennika sebagai kambing hitam.
"Mu-mungkin saja, orang lain yang menaruh botol itu di kamar nya. Dan menjadikan jennika kambing hitam,"
"Jika seseorang, mengapa menaruh itu di kolong tempat tidur? Dan rumah kita terpantau cctv. Ayo, kita lihat apakah ada orang yang masuk ke kamar nya."
Revan memanggil kepala pelayan, untuk menyuruh membuka rekaman cctv, namun di rekaman itu tidak ada yang menunjukkan jika ada orang lain yang masuk ke kamar jennika.
__ADS_1
Shinta histeris, ia tidak percaya sahabat yang begitu ia sayang dan percaya tega melakukan itu kepada nya.
"Apa kesalahan aku Jen? Kesalahan anak aku?" tanya Shinta kembali kepada jennika, Revan menarik tangan jennika untuk di bawa ke kantor polisi.
Jennika menatap Shinta dengan penuh harap meminta tolong, namun Shinta memalingkan pandangan nya.
Hati nya sangat hancur, belum ia melupakan sepenuh nya luka kehilangan bayi nya. Justru mendapatkan luka baru, sahabat yang selama ini ia percaya malah tega membunuh bayi nya yang tidak berdosa.
"Ta, percaya sama aku. Bukan aku." jennika terus berteriak, Shinta hanya menangis senggugukan. Dia tidak mengerti mengapa semua terjadi secepat ini.
Mama Lily menghampiri menantu nya, ia memeluk Shinta.
"Nak, kamu yang kuat. Tuhan sudah menunjukkan semua nya, Mama tau ini berat buat kamu apalagi pelaku nya adalah sahabat kamu sendiri. Namun, jika tidak sekarang. Kita mungkin akan mendapatkan resiko yang lebih besar lagi."
Shinta pun terisak di pelukan ibu mertua nya, ini semua begitu berat bagi nya. Orang yang ia percaya tega seperti itu kepada nya, Shinta sekuat hati melindungi jennika namun jennika membalas nya dengan sejahat itu.
Lily, meminta segelas air minum kepada pelayan di rumah nya. Orang di rumah sebanyak ini, namun mereka bisa kecolongan dengan pembunuh seperti jennika.
Tommy juga menenangkan menantu nya itu, sekarang ia sudah banyak berubah dan begitu menyayangi Shinta.
Bahkan, Tommy yang selalu menyalahkan segala hal pada menantu nya kini mendukung menantu nya itu.
Gunawan datang, ia melihat anak nya menangis di pelukan sang besan. Ia pun menyalami ke dua besan lah, lalu menghampiri anak nya.
"Sayang, ada apa? Apa yang terjadi nak?" tanya Gunawan kepada anak nya yang menangis seperti ini.
Tommy pun menceritakan segala nya kepada sang besan, sama seperti Shinta. Gunawan juga tidak menyangka jika jennika tega melakukan itu kepada bayi yang tidak berdosa.
Gunawan tau, bagaimana hancur nya hati Shinta karena ke dua nya begitu dekat.
__ADS_1
Bahkan, Gunawan dan Syafa sudah menganggap jennika sebagai anak mereka.
Shinta melihat ayah nya datang sendirian, walau sudah beberapa hari kepergian anak nya ibu nya Syafa tidak hadir dan ada di sisinya.
Kekecewaan Shinta semakin meningkat, awal nya ia mulai pulih namun kejadian-kejadian ini membuat nya tak kuat.
"Lalu di mana sekarang jennika?" tanya Gunawan kepada besan nya.
"Sudah di bawa Revan ke kantor polisi."
Gunawan pun mengangguk, ia sedikit lega. Walau Gunawan juga menyayangi jennika namun ia harus membayar perbuatan nya. Biarlah hukum yang bertindak.
Shinta jadi menyesal karena membawa sahabat nya itu ke rumah, andai ia tidak menolong jennika. Mungkin, mereka tidak harus kehilangan baby Al.
"Ini semua salah aku, andai jennika enggak aku bawa ke rumah. Ini enggak akan terjadi."
"Tidak, Sayang! Ini bukan kesalahan kamu, andai Mama di posisi kamu mama juga akan melakukan hal yang sama. Mama pasti akan membantu sahabat mama dari kesusahan. Hati kamu baik, jadi kamu enggak pernah berfikir jika orang sekitar kamu itu tidak baik. Sebab itu lah ada pepatah, rambut sama hitam hati enggak ada yang tau. Jangan salahkan diri mu nak, sudah."
"Iya, ini bukan kesalahan mu.. Tapi kejadian ini, menjadikan pelajaran untuk kita. Agar tidak terlalu percaya kepada orang walau itu teman terdekat kita sendiri." ujar Tommy
*******
Kini, Revan membawa jennika ke kantor polisi.
Di mobil, jennika tidak menyatakan apapun lagi, dia hanya bisa pasrah dan diam.
Walau bukan dia pelaku nya, percuma ia menjelaskan apapun..Tidak ada yang mempercayai nya.
Jennika berharap, jika keadilan bisa segera terungkap dan pelaku yang sebenarnya bisa ketemu. Ia khawatir, jika Shinta dan keluarga nya masih di dalam bahaya karena pelaku nya masih berkeliaran di dalam rumah itu.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Revan menghabisi wanita yang ada di samping nya ini, namun Revan masih berfikir jernih. Ia menahan segala emosi nya lebih baik polisi yang segera memberi tindakan kepada jennika.