
"Terimakasih, Tuhan. Kau sudah memberikan ku suami terhebat di dunia ini. Bersama nya aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Aku mencintai nya, Tuhan. Tolong jangan hapus dan renggut kebahagiaan ku bersama keluarga kecil ku." Harapan Shinta dalam hati. Begitu juga dengan Caca, ia bersyukur memiliki suami yang penuh lembut dan sangat sabar seperti Arvan.
Orang-orang pun pada berdatangan dan melihat Revan menari menggunakan kostum badut. Banyak anak-anak yang tertawa bahagia. Shinta pun ikut menari dengan bahagia nya
"Kau jangan menari di tempat umum!“ Revan memperingati isteri nya, ia tak ingin Shinta menjadi pusat perhatian orang-orang. Namun, Shinta yang sudah menikmati suasana pun menari layak nya anak kecil.
" Mungkin ini bawaan bayi nya." ucap Caca agar Revan tak memarahi Shinta. Hujan pun tiba-tiba turun, Shinta sangat menyukai hujan. Arvan memegang lengan Caca dan membawa Caca masuk ke dalam mobil. Revan juga ingin membawa Shinta ke dalam mobil.
"Masuk lah ke mobil, aku akan mengganti pakaian dulu dan akan menyusul."
__ADS_1
"Tidak! aku ingin menari di bawah hujan, ini sangat menyenangkan, Sayang."
"Nanti kau sakit, Sayang!"
"Tidak! izin kan aku ya mandi hujan dan menari bersama mu di sini. Aku mohon!" Shinta memasang wajah imut nya dan memohon pada Revan.
"Baik lah, tapi jangan lama-lama. Nanti kau bisa sakit."
*******
__ADS_1
Di dalam mobil Caca dan Arvan pun memandangi tingkah laku Revan dan Shinta. Mereka tertawa dan ikut bahagia
"Semoga kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang ya, Sayang."
"Iya, Sayang." Caca dan Arvan pun saling pandang, Arvan mendekati Caca dan memberikan kecupan di kening Caca.
"Aku mencintai mu."
"Aku jugajuga mencintai mu, Terimakasih sudah mau membuka hati mu dan mencintai ku," Ucap Revan dan memberikan kecupan di bibir Caca. Caca terseyum haru.
__ADS_1
Dulu, Arvan mengira bahwa Caca tidak akan pernah mau menerima diri nya atas kesalahan di masalalu yang di lakukan oleh diri nya, ia mengira bahwa Caca hanya mencintai Revan saja. Tidak ada diri nya sedikit pun di hati Caca, begitu juga dengan Caca. Wanita itu berfikir bahwa ia tak akan bisa bahagia, Arvan akan terus terusan bersikap kasar dan tak pernah menghargai diri nya. Caca berfikir ia harus hidup dengan pernikahan yang tidak sehat. Namun, hari ini takdir membukti kan bahwa mereka ber dua pun bisa bahagia dan saling mencintai satu sama lain, apalagi kebahagiaan mereka di tambah dengan kehadiran janin yang ada di kandungan Caca. Sebelum nya mereka pernah kehilangan anak yang belum sempat di lahir nya. Namun, kali ini mereka berjanji akan menjaga janin yang ada di kandungan Caca dengan lebih hati-hati. Mereka juga berjanji tidak akan membuat syifa merasa kekurangan kasih sayang walau nanti akan ada kehadiran adik nya kelak. Kasih sayang Arvan dan Caca kepada Syifa tidak jauh beda dengan kasih sayang Shinta, Revan. Mereka ingin Syifa tumbuh besar dengan penuh perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua nya.