Ibu Sambung

Ibu Sambung
Sebuah kebenaran


__ADS_3

Setelah memberi tahu kepada baby sister nya apa yang harus ia lakukan, Caca segera menuju mobil untuk berangkat ke panti asuhan.


Sampai di panti asuhan, Caca tercengang. Begitu kaget diri nya, melihat panti ini


"Sayang, ayo masuk!" belum sempat Caca pergi dari sana, Arvan menghampiri diri nya menyuruh mereka untuk masuk ke dalam. Dengan langkah yang begitu berat, Caca mengikuti suami nya masuk ke dalam.


"Nona, tidak di sangka kita bertemu lagi. Anak nona yang nona cari telah kembali," ujar yayasan itu begitu melihat Caca. Arvan menoleh ke arah Caca, ia merasa bingung mengapa yayasan panti berkata seperti itu. Arvan tersenyum, ia mengira jika yayasan itu tahu Caca adalah isteri nya. Lagipula, mereka memang ini meng-apdosi anak.


"Tuan, Nona ini adalah ibu kandung dari Raisa. Dia yang saya ceritakan kemarin,"


Deg!


Betapa runtuh nya dunia Arvan mendengar semua itu, bagaikan samber petir di siang hari. Mata Arvan terbelalak, Arvan mematung seakan tak percaya. Arvan menoleh ke arah Caca yang diam, mata Caca berkaca-kaca. Arvan menoleh ke arah yayasan, mendekati nya untuk meminta jawaban.


"Ibu kandung nya? Maksud nya apa? Dia isteri saya, bagaimana dia bisa menjadi ibu kandung dari Raisa? Kami menikah sudah lama, dan dia tidak pernah memiliki anak sebesar ini."


"Saya tidak mungkin salah, wanita ini yang datang ke sini mencari anak nya setelah lima tahun kejadian itu. Pada waktu itu, hanya Raisa anak yang di buang di depan pintu panti asuhan. Saya masih mengingat jelas wajah nya. Nona ini menangis, meminta anak nya namun waktu itu Raisa sudah di adopsi oleh orang tua lain."


Arvan masih tidak percaya dengan ucapan yayasan panti asuhan tersebut, dia juga tidak mengerti apa yang sebenar nya terjadi sekitar sebelas tahun yang lalu.


Arvan mengingat saat-saat usia pernikanya yang mau memasuki dua tahun, ia harus pergi ke luar negeri untuk pekerjaan selama berbulan-bulan. Saat itu hubungan nya dengan Caca tidak baik, dan dia juga tidak pernah tau jika isteri nya hamil. Arvan menatap Caca dengan penuh kemarahan. Seakan ingin meminta penjelasan, Caca pun masih terdiam.


"Ada apa? Apakah ada yang salah dengan ucapan saya? Benar kan, Nona mencari anak nona dulu?" Caca mengangguk, Arvan semakin terkejut dengan anggukan Caca yang membenarkan ini semua.


"Saya harus pergi dulu, salam." ujar Arvan kepada yayasan dan berlalu pergi meninggalkan Caca di ruangan tersebut, hati Arvan begitu sangat hancur. Dia juga marah, begitu banyak pertanyaan di dalam hati nya.


"Sayang, tunggu." ujar yang yang menangis mengejar suami nya. Arvan tak menghiraukan Caca, ia menyuruh supir pribadi mereka untuk mengantar Caca pulang. Lalu, diri nya menaiki taxi.

__ADS_1


"Arvan." teriak Caca yang menangis, ia tahu suami nya pasti begitu sangat marah dan kecewa pada nya.


"Ak-aku juga ingin memberitahu mu, tapi aku takut. Kenapa, kenapa semua harus seperti ini hiks." ujar Caca yang terduduk di aspal, supir pribadi mereka mencoba menenangkan majikan nya itu tanpa menyentuh.


"Nyonya, jangan menangis. Mari, kita pulang. Tadi Tuan berpesan kepada saya untuk membawa nona pulang, dan menyuruh menunggu Tuan di rumah. Karena ada yang mau di bicarakan. Tolong jangan menangis, nyonya." Caca menghapus air mata nya, bangkit dan masuk ke dalam mobil.


"Ayo, pak. Kita harus segera pulang ke rumah. Saya ingin bicara dengan suami saya." ujar Caca dengan lembut kepada supir nya. Supir itu pun melajukan mobil nya, pulang menuju ke rumah.


Di dalam mobil, Caca terus saja menangis. Ia ingin menjelaskan segala nya kepada sang suami.


************


Shinta dan suami yang sudah menghabiskan waktu siang ini bersama pun merasa kelelahan.


Ingin sekali rasanya aku tidur, namun jika aku tidur. Bagaimana aku bisa menjaga anak-anak. ~ Batin nya.


"Tidak, aku hanya merasa lelah sedikit. Namun, jika aku tertidur. Bagaimana dengan anak-anak, aku takut baby Al menangis meminta ASI. Belum lagi memberikan susu siang ini untuk anak-anak."


"Sudah, tidur lah jika ingin tidur. Aku yang akan bergantian mengurus anak-anak,"


"Apa kau yakin?"


"Iya, Sayang. Tidur lah, jangan khawatirkan anak-anak. Aku akan menjaga mereka."


"Baik lah." Shinta pun memejamkan mata nya walau untuk sebentar, sungguh badan nya begitu sangat letih. Mengurus anak-anak serta suami nya hari ini.


Revan melepaskan pelukan nya dari isteri, beranjak turun dari tempat tidur. Sebelum menemui anak-anak nya. Ia memutuskan untuk membersihkan tubuh nya terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan tubuh nya, Revan menuju kamar si kembar. Terlihat anak-anak nya masih tertidur lelap. Ia pergi ke dapur, meminta tolong kepada pelayan di rumah untuk membuat kan susu kepada anak-anak nya ketika mereka sudah bangun.


"Tolong, buatkan susu untuk anak-anak jika mereka bangun. Dan panas kan ASI cadangan yang ada di kulkas untuk baby Al. Biar saya nanti yang akan memberikan nya kepada mereka."


"Baik, Tuan." ujar salah satu pelayan. Revan pun meninggalkan dapur menuju kamar Syifa.


Terlihat Syifa sedang duduk melamun, hati nya begitu sangat gelisah memikirkan sesuatu. Walau dia sendiri tidak tahu, apa yang ia rasakan.


"Sayang, kenapa? Kok anak papa yang cantik ini melamun aja?" Revan mendekati anak nya, memegang pundak Syifa.


"Papa, kaget kakak." ujar Syifa yang menoleh ke arah papa nya. Wajah nya begitu cemberut. Revan duduk di samping anak nya.


"Ada apa, nak? Kenapa Syifa melamun aja papa lihat dari tadi."


"Nggak tahu pa, dari tadi detak jantung Syifa begitu kencang, seakan merasa kan sesuatu namun Syifa bingung entah apa yang Syifa rasakan ini pa. Syifa juga nggak bisa tidur,"


"Mungkin, Syifa memikirkan tugas sekolah nak. Sudah ya? Jangan di pikirkan. Papa tidak ingin, anak papa yang cantik ini merasa bingung seperti ini,"


"Iya, Pa."


"Sebentar, papa akan menyuruh pelayan membuat susu dulu. Kamu, minum susu lalu coba lah untuk tidur ya? Papa nggak mau Syifa kurang tidur begini," Revan pun keluar dari kamar anak nya menunju dapur, mengambil segelas susu untuk anak sulung nya itu.


"Bi, tolong buat kan segelas susu untuk Syifa terlebih dahulu ya?" pinta Revan dengan sopan, walau ia majikan tapi Revan dan keluarga nya selalu memperlakukan pelayan dengan begitu baik.


"Baik, Tuan." pelayan itu memberikan segelas susu yang sudah ia buat di berikan kepada Revan. Setelah menerima segelas susu dari pelayan itu, Revan segera kembali ke kamar anak nya.


Revan menyuruh Syifa untuk meminum susu terlebih dahulu sebelum tidur, Syifa pun tidak membantah omongan sang papa dan langsung meneguk segelas susu tersebut.

__ADS_1


"Anak pintar," Revan mengecup kening anak nya. Syifa tersenyum lalu naik ke atas ranjang, memejamkan mata nya.


__ADS_2