Ibu Sambung

Ibu Sambung
Mendukung


__ADS_3

"Nak, apa yang kau katakan? Bagaimana mungkin bisa Revan ingin membunuh mu. Jangan mengatakan hal yang mengada-ada!"


"Ayah, Tata nggak bohong. Tanya saja sama menantu kesayangan kalian." Shinta memonyongkan mulutnya ke depan.


"Nak Revan, mengapa Tata berbicara seperti itu."


"Tidak tahu, Ma. Revan mengatakan jika kami akan memiliki anak yang banyak seperti Alan dan Alana namun tata nggak mau dan berkata jika Revan ingin membunuh nya."


Mereka pun tertawa mendengar ucapan Revan, dan ikut-ikutan meledek Shinta.


"Sayang, benar apa yang di kata kan oleh suami mu. Memiliki anak yang banyak seperti Alan dan Alana itu pasti akan menyenangkan. Rumah kalian akan ramai, tidak akan pernah ada kesepian."


"Ayah, kenapa ayah ikut membela nya? Badanku bisa sangat kurus jika mengurus anak yang banyak. Melahirkan juga tidak mudah, apalagi mengandung selama sembilan bulan."


"Enam anak lagi tidak akan menjadi masalah kok, benar kan Ma, Yah? Bahkan Arvan juga ingin memiliki anak yang banyak, iyakan bro?" tanya Revan kepada Arvan, Arvan ingin mengangguk namun melihat Caca yang melotot ia hanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Lihat lah, Ca. Para suami-suami kita, mereka memang tidak punya hati. Ingin enak nya saja." kesal Shinta kembali, Revan bukan benar-benar ingin memiliki anak yang banyak. Namun, melihat wajah kesal isteri nya, dia ingin mengerjai sang isteri sampai puas.


"Nanti malam kita akan membuat Alan dan Alana junior lagi ya?" bisik Revan yang menggoda isteri nya, bulu kuduk Shinta berdiri semua, merasa ngeri.


"Tidak mau!" jawab Shinta dengan kuat, semua menoleh padanya.


"Sayang, kenapa kau berteriak?" tanya Ibu Syafa. Shinta pun menggeleng kepala dan tersenyum kejut


"Ti-tidak apa-apa Bu." ujar Shinta yang malu jika harus memberitahu kepada orang tua nya apa yang suami nya barusan katakan. Revan menahan tawa melihat keluguan dari sang isteri. Lagi pula, tidak mungkin Revan tega melihat isterinya menderita. Baru menghadapi rasa sakit dan melawan kematian untuk melahirkan anaknya. Ia tak mungkin tega, melihat Shinta menderita lagi. Apalagi, mengurus anak-anak yang banyak. Dirinya tak sejahat itu.


...Bagaimana jika benar dia melakukan itu nanti malam? ~batin Shinta. ...

__ADS_1


Revan menoleh kearah sang isteri, terlihat senyuman licik di wajah nya. Ia pun mengerti apa yang di pikirkan oleh isteri nya. Revan membantu Shinta untuk berjalan ke dalam mobil. Sesekali, Revan memegang area sensitif Shinta. Shinta pun menahan geli.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika yang lainnya melihat kita!"


"Biar kan saja, kita kan suami isteri." bisik Revan yang kembali menggoda isteri nya. Di balik sifat dingin Revan, ada sifat jail nya yang tidak di ketahui oleh orang lain. Termaksud isterinya sendiri.


*******


Sesampai rumah, segera Syifa dan ke dua kembar Alan, Alana mendekati shinta.


"Mama, kami Lindu." ujar Alana dengan manja.


"Mama juga rindu dengan kalian, sayang." Shinta memeluk dan menciumi ketiga anak-anaknya bergantian.


"Apakah mama baik-baik aja?" tanya Alana kembali, Shinta tersenyum haru dan mengangguk.


"Tidak ma, Alana nggak melepot kan siapa-siapa. Iyakan kak?" Alana menatap kakaknya meminta pembelaan.


"Iya, Ma. Alan dan Alana adalah adik-adik Syifa yang paling baik. Bahkan mereka membantu Syifa, nenek dan pengasuh untuk menjaga baby Khanza juga bayi Al."


"Baby Al?" tanya Shinta bingung


"Hehe, maaf ma. Syifa nggak tahu siapa nama adik Syifa yang kecil ini. Nenek juga berkata, jika belum ada nama untuk nya. Jadi."


"Jadi Kami memanggilnya baby Al." sambung Alana dengan heboh.


"Memang nya siapa namanya kok di panggil Al?"

__ADS_1


"Alfeloolo ma."


"Alfeloolo?" tanya Shinta bingung, Syifa pun membenar kan jika bukan alfeloolo tapi Alvero.


"Nama nya indah, siapa yang memberi nama nya Alvero?"


"Kita dong mama." sambung Alana lagi dengan heboh nya.


"Baik lah kita akan memberikan nya nama Alvero. Jadi, di panggil baby Al. Bagaimana?"


"Setuju." jawab Alan, Alana secara bersamaan.


"Tapi, bukan kah baby Al itu panggilan Alan sewaktu kecil?" Caca mencela ucapan mereka. Shinta pun terdiam dan merenung sebentar.


"Iya, benar sekali. Aku sampai lupa." ujar Shinta.


"Jadi, kita tidak akan memanggilnya baby Al. Tapi, nanti kita akan mencari nama yang lain untuk baby Al ya?" tanya Shinta kepada ketiga anak-anak nya. Mereka pun mengangguk.


"Sebaiknya mama pergilah ke kamar dan istirahat. Jangan terlalu lelah lagi, Syifa akan mengurus adik-adik."


"Tidak, sayang! Tugas Syifa hanya lah belajar yang baik. Jangan pikir kan tentang adik-adikmu. Karena, ini bukan lah tugas Syifa. Tugas Syifa adalah belajar lah yang baik. Menjadi anak yang baik, dan kebanggan untuk kita semua." ucap Shinta. Shinta tak ingin, karena menjaga adik-adik nya. Syifa tertinggal dan tak fokus dengan pelajarannya.


"Yang di katakan oleh mama Shinta itu benar, Sayang. Syifa harus belajar yang baik. Agar dewasa menjadi kebanggaan kita semua, tidak harus menjadi pintar. Tapi, jadilah anak yang memiliki sopan santun dan belajar dengan benar. Kita tidak akan menuntun Syifa untuk menjadi pintar dan juara. Namun, tidak membuat keluarga kecewa dan memiliki sopan santun yang baik itu adalah kebanggaan untuk kita semua" ujar Arvan. Syifa pun mengangguk mengerti dengan ucapan Ayah tiri nya.


"Iya, Daddy. Terimakasih banyak, udah mau mendukung Syifa."


"Apapun bakat yang Syifa sukai, lakukan lah nak. Jika itu hal yang positif, Daddy yang keluarga lainnya di sini akan mendukung kamu."

__ADS_1


"Terimakasih Daddy." Syifa memeluk Arvan dengan erat, dia merasa bahagia walau memiliki Ibu dan Ayah sambung. Namun, orang tua sambung nya begitu menyayangi diri nya dan tak pernah membeda-bedakan antara satu dengan yang lainnya. Arvan pun membalas pelukkan dari anak sambung nya itu. Caca merasa senang sekali melihat kedekatan suami kedua nya dengan anak pertama nya. Walau baby Khanza sudah lahir, kasih sayang Arvan untuk Syifa tidak pernah berubah atau berkurang sedikit pun. Walau mereka tidak tinggal bersama Syifa. Tetapi, Arvan selalu memperhatikan kebutuhan dan tumbuh kembang Syifa. Dulu, Caca berfikir jika suami nya tidak menyayangi Syifa dan lelaki yang sangat buruk. Tak jarang Caca mendapatkan perlakuan kasar dari sang suami dulu Tapi, sekarang diri nya tersadar. Sikap kasar Arvan dulu itu semua karena pengaruh dari mama nya Elsa dan juga kesalahannya sendiri yang tak pernah mau menganggap dan menerima keberadaan Arvan. Bahkan Caca tidak pernah melakukan tugas nya sebagai seorang isteri


__ADS_2