Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 69


__ADS_3

Sesampai dikediaman Revan, Elsa pun hendak turun dari mobil dan mengajak Caca, namun Caca menghentikan langkah sang ibu


"Kenapa?" Tanya Elsa, Caca pun hanya menggelengkan kepalanya. Tangannya begitu dingin


"Ma, Caca mohon jangan ada keributan ya" pintanya kepada sang mama, Elsa pun mengangguk setuju.


"Ayo" mereka turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Revan. Tidak lama kemudian ada seorang anak kecil yang membuka pintunya, tatapannya begitu polos senyumannya menyejukkan hati.


"Nenek sama Tante cari siapa" Syifa pun melihat kearah Caca, ia langsung menjauh memundurkan tubuhnya.


"Anak cantik, kenapa mundur" Tanya Elsa dengan bingung


"Kata papa, Syifa gak boleh dengan Tante jahat ini" Elsa yang merasa geram pun ingin berteriak mencari keberadaan Revan, ingin sekali ia memaki Revan namun Caca menghentikan mama nya.


"Sudahlah ma, tolong" pinta Caca. Elsa pun mencoba untuk tenang dan tidak terbawa emosi lagi


"Tante dan nenek pulang aja" ucap Syifa tegas.


"Syifa gak mau ada orang jahat dirumah ini" Caca begitu sakit mendengar ucapan sang anak, namun ia juga tak menyalahkan siapapun. Lagipula ia yang sudah mengambil keputusan dulu untuk pergi meninggalkan Puterinya jadi inilah konsekuensi yang harus ia terima. Tidak di anggap apalagi tidak di kenal oleh Puterinya. Revan yang mendengar teriakan sang puteri pun langsung menghampiri dan keluar. Didepan pintu ada 2 wanita yang tak asing bagi dirinya. Orang itu adalah Caca dan Elsa ibunya Caca.


"Ada apa kalian kesini" Tanya Revan dengan nada dingin.


"Kami hanya ingin bertemu dengan cucuku"


"Haha, cucu" Revan pun menggendong tubuh mungil Syifa dan menciumnya


"Sayang, kamu masuk kamar dulu ya" perintah Revan kepada Puterinya.


"Mengapa kau menyuruhnya masuk, kami ingin bertemu!" Teriak Elsa.


"Kalian tidak punya hak atas Puteriku!"


"Haha, kau lupa bahwa yang melahirkan dia adalah Caca"

__ADS_1


"Tidak ada seorang ibu yang tega meninggalkan Puterinya, dan anda nyonya Elsa yang terhormat! Anda bilang Syifa adalah cucu anda? apa anda lupa hampir membunuhnya!" Teriak Revan dengan geram, Caca hanya bisa menangis.


"aku mohon, izinkan aku bertemu dengan nya" Kali ini Caca meminta dengan nada yang lemah, kepalanya terasa berat matanya mulai kabur


*Brukkk


Tubuh Caca langsung terjatuh, Revan yang kaget spontan langsung menggendong tubuh Caca, sementara itu Shinta juga baru pulang dari rumah sakit ia melihat suaminya menggendong Caca masuk kedalam rumah, hati Shinta seketika terasa sakit namun ia mencoba untuk menyembunyikan rasa sakitnya, ia pun masuk kedalam rumah.


"Kenapa ini"


"Gak tahu, tiba-tiba ia pingsan tolong hubungi dokter" Perintah revan kepada Shinta, Shinta pun mengangguk dan menghubungi dokter keluarga mereka. Shinta melihat Revan yang begitu khawatir dengan kondisi mantan isterinya apalagi saat Revan menggenggam tangan Caca hatinya begitu teriris, tak kuat melihat pemandangan seperti itu Shinta pun pamit untuk kekamar. Revan melihat perubahan di raut wajah isterinya tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa keadaan Caca


"Bagaimana keadaan Puteri saya dok"


"Ibu Caca hanya banyak pikiran saja, tolong jaga kesehatannya karena ini bisa mempengaruhi psikis nya, sebaiknya Nyonya bisa menghubungi psikiater agar lebih tau keadaan anak nyonya"


"Apa maksudmu, anak saya tidak gila! jangan lancang anda!" Teriak Elsa dengan geram


"Kalau begitu saya pamit dulu Tuan" Revan pun mengangguk dan memperhatikan wajah Caca yang terlihat begitu pucat.


"Apa anda tidak waras, setelah pengkhianatan yang ia lakukan kepadaku dan juga Puteriku. Kini, kau menyuruh aku kembali padanya" Revan begitu kesal melihat Elsa yang begitu tidak tahu malunya.


"Ibu dan anak sama saja cih" Revan pun ingin pergi dari ruangan itu namun Elsa menghentikannya.


"Tunggu"


"Ada apalagi, jika kau ingin membahas hal yang tidak penting aku tidak punya waktu untuk itu"


"Caca tak seburuk yang kau pikirkan"


"Haha, seperti nya kau yang harus dibawa ke psikiater" ledek Revan.


"Aku memang tak menyukaimu, namun kau harus tau semua kebenarannya. Setidaknya kau jangan menyesal karena sudah salah duga terhadap puteriku. Pengorbanan nya padamu begitu besar namun kau malah membencinya"

__ADS_1


"Pengorbanan seperti apa? Wanita yang tega meninggalkan suami yang lagi sekarat dan anaknya yang masih begitu kecil apa itu pengorbanan?" Kini Revan sudah tak bisa mengendalikan emosinya


"Setelah anakmu sadar, kalian bisa pergi!"


"Apa kau tak ingin mengetahui semua kebenarannya?" langkah Revan pun langsung terhenti.


"Apa yang ingin kau katakan"


"Caca tak seburuk yang kau kira"


"Karena dia puterimu"


"Bukan, tolong dengarkan aku sebentar saja"


"Baiklah!" Elsa pun menceritakan semuanya kepada Revan, Revan pun begitu terkejut dengan kenyataan yang ada.


"Apa kau ingin mempermainkan ku?" tanya Revan.


"Tidak, itulah kenyataannya. Aku yang terlalu egois menjadi seorang ibu, yang terlalu memikirkan obsesi ku saja tanpa memikirkan Puteriku. sekarang puteriku menjadi korban atas keserakahanku. Aku kira, harta akan membuatnya bahagia namun malah sebaliknya" Elsa berkata sambil meneteskan air mata. Revan pun menatap wajah lugu Caca yang begitu pucat.


"Apakah ini semua benar"


"Permainan takdir apalagi ini" Gumamnya dalam hati, belum lama ia mengetahui alasan Rayhan meninggalkan Shinta, kini ia harus mendapatkan kenyataan bahwa mantan isterinya begitu banyak berkorban demi dia dan juga anak mereka namun ia malah membenci Caca dengan begitu keji bahkan sering kali menghinanya.


"Tolong tinggalkan aku berdua dengan Caca" Elsa pun mengangguk dan pergi meninggalkan Revan dan Caca berdua di ruangan itu tanpa Revan sadari Shinta memantau mereka dari atas. Shinta pun meneteskan air matanya.


"Setelah mengetahui semuanya, Revan akan kembali kepada mantan isterinya dan meninggalkan aku" Shinta merasa begitu takut dengan keadaan ini, ia berlari masuk kedalam kamar


"Mengapa takdir mempermainkan ku begitu kejam hiks"


"Apa aku tak boleh bahagia?" Shinta menangis senggugukkan di bawah selimut, hatinya begitu sakit. Kenyataan Rayhan saja sudah membuatnya begitu hancur kini datang lagi masalah baru. Apalagi Revan masih begitu mencintai mantan istrinya.


*******

__ADS_1


Revan memandangi wajah Caca yang belum juga sadar dari pingsan nya, ucapan Elsa terus saja mengganggu pikirannya.


"Mengapa kau merasakan sakit itu sendirian ca" Revan membelai pipi Caca dengan lembut, Caca pun membuka matanya dengan perlahan. Ia melihat sekeliling seperti bukan rumahnya lalu ia melihat wajah Revan di depannya walau samar samar. Caca pun mencoba untuk duduk walau kepalanya masih terasa berat.


__ADS_2