
"Mana yang sakit nak, bilang sama mama."
Shinta menatap mata teduh anak nya, Syifa pun meletakkan tangan nya di dada.
"Sakit, apa ini terbentur?" tanya Shinta dengan lembut kembali, Syifa menggeleng.
"Bukan terbentur, namun sakit karena kemarin mama cuek sama Syifa, sakit banget."
Dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang gemetar Syifa mengutarakan kesedihan nya, Shinta kembali memeluk anak nya. Ia menangis dan meminta maaf kepada Syifa, tidak seharusnya ia bersikap seperti itu kemarin.
"Maafin mama ya, Sayang. Mama sudah salah."
Shinta melepaskan pelukan mereka, mengecup ke dua tangan Syifa berulang-ulang. Ia tau pasti Syifa sangat merasakan kesedihan dan sakit yang dalam.
"Mama memang egois, hanya memikirkan perasaan mama tanpa memikirkan perasaan anak kesayangan mama ini."
Syifa kembali memeluk mama nya, ia tidak perduli dengan kejadian kemarin. Dan sudah memaafkan mama nya yang terpenting saat ini mama nya sudah kembali seperti dulu lagi.
Shinta tiada henti nya meminta maaf kepada Syifa. Syifa mengatakan jika ia sudah memaafkan mama nya sebelum Shinta meminta maaf.
"Sebelum mama meminta maaf, Syifa sudah memaafkan mama. Jangan meminta maaf lagi ma. Tidak ada ibu yang meminta maaf kepada anak nya. Seharusnya Syifa yang meminta maaf karena sudah membuat mama merasa sedih kemarin."
Shinta menggeleng, ia mengatakan jika anak nya itu tidak pernah membuat nya sedih. Kemarin Shinta memang terlalu berlebihan, marah kepada orang tanpa sebab.
Revan, Lily dan Tommy tersenyum melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka.
Ibu dan anak itu memang begitu romantis, kasih sayang dan ikatan ke dua nya pasti membuat siapa pun yang melihat nya merasa cemburu.
Termaksud Caca, namun Caca menepis rasa itu. Memang pantas hubungan Syifa dan Shinta begitu kuat karena Shinta yang sudah memberikan kasih sayang yang tidak bisa Caca berikan kepada anak nya, Syifa waktu itu.
Shinta pun melirik ke arah Caca, ia mendekati Caca dan juga Raisa.
Terlihat luka di kening Caca dan Raisa.
Shinta bertanya apakah keadaan mereka sudah membaik. Ke dua nya mengangguk, hanya Syifa yang tidak mengalami luka sedikit pun
"Lalu bagaimana dengan keadaan Arvan? Dan baby Khanza?" tanya Shinta. Ia panik, Caca menjelaskan jika baby Khanza tidak ikut berlibur.
"Khanza tidak ikut, entah mengapa kemarin aku rasanya tidak ingin membawa dia. Dan Arvan, saat ini belum sadarkan diri." ucap nya dengan nada yang sedih.
Shinta pun memeluk Caca, ia meminta maaf kepada Caca karena sikap nya kemarin.
Dan Shinta meminta Caca untuk kuat, ia yakin Arvan akan segera sadar.
"Ca, yang kuat ya. Aku tau kok Arvan itu orang yang kuat dia bisa melewati semua nya."
Caca mengangguk, Shinta memeluk Caca dan dibalas pelukan itu oleh Caca.
"Ta, maafin aku ya. Karena kakak ku kamu harus kehilangan Al."
Mendengar ucapan caca, kemarahan Shinta kembali hadir.
Namun ia mengingat ucapan ayah nya, Shinta boleh marah namun jangan salah sasaran.
Orang yang tidak bersalah tidak pantas mendapatkan Amarah dari Shinta.
Shinta melepaskan pelukan nya, ia berusaha untuk mengendalikan kemarahan nya.
Jika di lihat, wajah Caca dan kakak nya Cia sangat mirip. Namun ia tau, jika Caca adalah Caca. Bukan Cia, Caca wanita yang begitu baik dan lembut.
Shinta mencoba untuk relax, ia pun tersenyum kepada Caca.
"Aku memang marah, aku benci dan dendam. Tapi kepada orang yang sudah membunuh anak ku, bukan kepada mu ca. Aku tau, kau wanita yang baik, dan apapun yang sudah di lakukan kakak mu itu bukan kesalahan mu lagipula kau juga tidak tau keberadaan nya selama ini."
Caca terdiam, ia melihat tatapan dari Shinta yang sangat berbeda.
Ia tau jika di hati Shinta masih ada dendam dan kemarahan walau ibu bukan kepada nya.
"Aku hanya berusaha ikhlas. Dan aku tau, kau, Revan, Arvan apalagi Syifa tidak bersalah. Yang bersalah itu Cia. Jika pun aku harus membalas kematian anak ku, itu kepada nya bukan kepada kalian."
Caca, Revan, Lily dan juga Tommy terlihat kaget dengan nada bicara Shinta. Apalagi Syifa, seakan Shinta kehilangan diri nya yang dulu.
Walau ia berusaha bersikap seperti biasa kepada orang-orang terdekat nya namun Shinta yang ini terlihat begitu berbeda.
Terdapat aura yang begitu berambisi untuk membalas dendam, mereka tidak ingin jika Shinta memiliki perasaan dan hati yang penuh dendam.
Syifa juga tidak rela jika ibu peri nya yang berhati malaikat dan baik menjadi wanita yang penuh marah dan dendam.
Shinta kembali berjalan mendekati anak nya Syifa, ia membelai lembut rambut Syifa.
__ADS_1
Meminta anak nya untuk istirahat, perawat masuk dan memberikan makanan untuk Syifa.
Shinta mengambil makanan itu terlebih dahulu, seperti sikap nya dengan Alan dan Alana.
Shinta juga memperlakukan Syifa dengan sama, sebelum anak nya menikmati makanan itu Shinta terlebih dahulu menyicipi makanan tersebut apakah aman atau tidak untuk Syifa.
Setelah memastikan aman, baru lah Shinta menyuapi anak nya makan
Revan pun menegur istri nya "Sayang ini rumah sakit, mereka tidak mungkin memberikan racun kepada anak kita."
Shinta mengatakan jika di rumah saja mereka bisa kecolongan apalagi di tempat umum seperti ini..
"Di dalam rumah saja kita bisa kecolongan, apalagi di tempat umum seperti ini..Ini rumah sakit, banyak orang yang berlalu lalang di sini. Apakah bisa menjamin? Bisa saja seorang menyusup dan menyamar. Lalu memberikan racun di makanan anak ku."
Lily meminta anak nya untuk mengalah, ini di rumah sakit lebih baik Revan tidak membuat keributan.
Lagipula apa yang di lakukan oleh Shinta juga demi kebaikan anak-anak nya.
Shinta mengatakan kepada mereka semua lebih baik ia yang harus mati keracunan daripada melihat anak-anak nya yang keracunan.
Mereka tertampar dengan ucapan Shinta, mereka tau semua ini Shinta lakukan untuk melindungi anak-anak nya.
Cukup sekali bagi Shinta kecolongan dalam menjaga anak-anak hingga membuat nya harus kehilangan Al.
Ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, dan kali ini Shinta akan lebih ekstra dalam menjaga ketiga anak nya.
Raisa melihat Shinta yang begitu tulus menyayangi Syifa, ia pun merasa iri.
Syifa sangat beruntung memiliki ibu sambung seperti Shinta. Selain cantik, baik, muda dan kasih sayang yang begitu luar biasa untuk Syifa.
Jarang sekali ada ibu sambung yang menyayangi anak tiri nya seperti anak kandung nya sendiri.
Namun Shinta membuat persepsi buruk tentang ibu tiri itu sangat salah.
Tidak semua ibu sambung itu jahat, masih banyak ibu sambung yang begitu tulus menyayangi dan mencintai anak sambung nya.
Syifa begitu senang dan bahagia. Mungkin kecelakaan ini membuat mama nya kembali seperti dulu lagi.
Syifa tidak mengharapkan kecelakaan ini terjadi namun ada hal baik di balik kecelakaan itu.
Dokter masuk untuk memeriksa keadaan Syifa.
Dokter melihat Caca dan Raisa yang keluar dari ruangan mereka. Dokter pun memarahi mereka karena takut di kepala mereka mengalami pendarahan lagi.
Dokter menyarankan untuk Caca dan Raisa beristirahat dengan total dulu dan jangan terlalu banyak gerak.
Caca pun meminta maaf kepada dokter, ia mengajak Raisa untuk kembali ke ruangan.
Tadi nya Caca hanya ingin melihat keadaan Syifa, ia panik saat sudah sadarkan diri. Melihat Raisa di samping nya namun tidak dengan Syifa.
Dokter memang menyatukan ruangan Caca dan Raisa. Karena kondisi mereka sama, sedangkan Arvan di bawa ke ruangan ICU karena tidak sadarkan diri.
Caca sedih melihat keadaan suami nya, ini memang kesalahan nya.
Andai saja ia tidak mengajak suami nya mengobrol di dalam mobil mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Shinta menemani Syifa untuk bersiap ke rumah sedangkan mama Lily menemani Caca dan juga Raisa.
Caca sudah tidak memiliki keluarga lain keluarga Shinta dan juga ke dua orang tua Shinta.
Mama Lily menenangkan Caca, dan mengatakan jika Arvan akan kembali sadar dari koma nya.
"Ma, Caca takut."
"Jangan takut nak, mama ada di sini untuk menemani kamu, sudah ya. Jangan menangis! Cucu nenek juga jangan sedih ya nak?"
Lily menghibur Raisa, walau Raisa bukan darah kandung nya namun Lily menyayangi Raisa dan Khanza seperti ia menyayangi cucu kandung nya.
Rasa sayang tidak harus meluluh karena ikatan darah.
Caca pun yang melewati ruangan ICU menatap suami nya dari luar.
Ia berdoa untuk suami nya agar cepat sadar, Caca juga meminta tolong kepada Lily untuk menjaga bayi nya Khanza.
Karena Caca juga belum bisa pulang ke rumah, Lily berjanji kepada Caca akan menjaga anak Caca yang bayi.
"Jangan khawatir nak. Mama akan menjemput Khanza, mama akan menjaga nya. Kamu di sini jangan banyak pikiran, kamu harus menjaga kesehatan mu dan juga Raisa."
Caca mengangguk, mereka masuk ke dalam ruangan Caca dan Raisa
__ADS_1
Lily meminta Caca untuk makan, sedangkan ia menguapi Raisa.
Awal nya Caca tidak mau makan, namun Lily memaksa.
"Nak, kamu harus makan. Kalau kamu enggak makan, kesembuhan mu bisa lama. Bagaimana bisa kamu ingin kesembuhan untuk anak dan suami mu sedangkan kamu sendiri seperti ini. Untuk bisa merawat mereka, kamu harus sembuh terlebih dahulu."
Akhir nya Caca pun makan, setelah selesai makan mama Lily meminta Caca dan Raisa untuk minum obat.
Lily mengurus Caca dan juga Raisa dengan sangat baik.
"Sekarang, kalian istirahat ya?"
"Iya nek." ucap Raisa. Raisa langsung membaringkan tubuh nya, memejamkan mata nya segera tak butuh waktu lama ia pun tertidur.
Lily mengecup kening dan ke dua pipi Raisa.
"Cucu nenek memang pintar." membelai rambut Raisa dengan penuh kasih sayang.
Caca pun mengucapkan terimakasih banyak kepada mantan ibu mertua nya itu, walau Caca sudah berpisah dengan Revan namun Lily masih memperlakukan nya dengan baik dan lembut.
"Terimakasih banyak ma,"
"Sama-sama, sayang. Jangan sungkan mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung mama sendiri."
Caca tersenyum haru, Lily meminta Caca untuk istirahat karena Raisa juga tertidur.
Caca pun menuruti permintaan dari Lily, Lily merasa kasihan kepada Caca dan keluarga nya.
Karena di saat seperti ini, tidak ada keluarga yang menjaga mereka. Arvan pun hanya hidup sebatang kara tidak memiliki keluarga.
Lily kembali ke kamar Syifa, terlihat Shinta sedang mengurus segala sesuatu untuk kepulangan Syifa.
"Ma, gimana Caca?" tanya Shinta.
"Tadi mama sudah menyuruh mereka untuk makan dan minum obat. Mereka pun menuruti ucapan mama, dan sekarang sedang tidur. Mama akan menjemput Khanza di rumah Caca..Kasian juga bayi nya Caca karena ke dua orang tua nya sedang berada di rumah sakit. Tapi, mama juga kasihan karena tidak ada yang menjaga mereka di sini."
"Biar Shinta yang menjaga mereka di sini ma." Shinta memberikan penawaran, namun Lily menolak. Ia ingin menantu nya merawat Syifa.
"Tidak nak, Syifa dan si kembar juga butuh kamu."
"Kalau tidak begini saja, mama dan papa tetap di sini menunggu Caca dan suami beserta anak nya. Kalian pulang, dan jemput lah Khanza. Shinta, tolong lah jaga Khanza ya nak? Kasihan dia, bagaimana?" tanya Tommy.
Shinta pun tidak merasa keberatan dengan itu semua begitu juga dengan Revan.
Mereka pun berbagi tugas, Shinta dan Revan akan menjaga Khanza dan Syifa.
Sedangkan Lily dan suami nya menjaga Caca, Arvan dan juga Raisa di rumah sakit.
Shinta, Syifa dan Revan pun berpamitan untuk pulang kepada ke dua orang tua nya.
Lily meminta kepada anak nya Revan untuk berhati-hati membawa mobil, Revan pun mengangguk. Ia mengatakan kepada mama nya akan berhati-hati menyetir demi keselamatan anak dan istri nya.
Mereka pun meninggalkan rumah sakit sedangkan Lily beserta suami kembali menuju ruangan Caca.
"Saat ini Caca sedang istirahat, lebih baik kita menunggu di luar saja. Kalau kita masuk akan mengganggu waktu tidur mereka." ujar Tommy kepada istri nya. Lily pun mengangguk setuju, ke dua nya kita menunggu di luar ruangan.
Tommy juga mempersiapkan keperluan untuk administrasi yang di butuhkan di rumah sakit, Revan juga akan kembali ke rumah sakit setelah mengantarkan anak dan istri nya pulang ke rumah.
Revan tidak akan lepas tangan, apalagi Arvan dan Caca sudah banyak membantu keluarga mereka di saat kesulitan..
Sebelum kembali ke rumah, Revan dan Shinta menjemput baby Khanza di rumah Caca..
Hanya ada pelayan dan pengasuh di rumah itu, Shinta menggendong baby Khanza.
Ia menatap Khanza melihat bayi Caca mengingatkan nya dengan Al.
Revan mengelus bahu istri nya, ia tau apa yang di pikir kan oleh Shinta.
Apalagi Shinta dan Caca hamil dan melahirkan di waktu yang berdekatan.
Mereka melalui semua nya bersama, di masa-masa mengidam ke dua nya begitu sangat dekat dan kompak.
Revan menghapus air mata istri nya, Shinta tersenyum. Ia memeluk dan mengecup baby Khanza.
Pengasuh ingin ikut, namun Shinta sudah tidak percaya dengan yang namanya pengasuh. Ia pun tidak mengizinkan pengasuh Khanza ikut.
"Kamu di rumah saja, biar Khanza bersama kami."
Pengasuh itu tidak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa menuruti ucapan Shinta. Apalagi pengasuh itu tau bagaimana kedekatan majikan nya dengan keluarga Shinta tidak ada alasan nya untuk khawatir melepaskan Khanza bersama Shinta dan Revan.
__ADS_1