Ibu Sambung

Ibu Sambung
Tertawa Bersama


__ADS_3

Alan yang merasa terpojok pun hanya bisa menyengir melihat kan gigi nya yang putih.


"Anak Mama ternyata sering merepotkan bibi ya, Tapi bibi nggak pernah cerita ke Mama."


"Apalagi ke nenek. Pengasuh si kembar yang satu ini memang baik hati."


"Bibi memang baik, dan selalu cabal sama kami nenek. Bibi juga nggak perlnah malah sama kami."


"Sayang, Alan dan Alana sama nenek dulu ya? Mama mau melihat adik kalian, pasti adik udah bangun dan kehausan. Dan satu lagi nak, jangan merepotkan nenek atau pun bibi lagi ya? Kasihan. Alan dan Alana kan sudah mau sekolah, jadi jika ingin pup atau pipis lebih baik bicara. Alan juga ya nak, jangan malu untuk bicara. Daripada Alan mau di ledekin Mulu sama Alana? Mending, masih Alana yang mengejek, bagaimana jika teman-teman Alan yang lain?"


"Iya, Ma. Maaf." Shinta pun berlalu pergi meninggalkan anak dan Mama mertua nya.


Alan menatap kesal ke Alana, Alana semakin senang dan mengejek kakak nya itu.


"Ayo, kita mandi." Mama Lily pun memandikan kedua cucu nya, setelah selesai mandi. Alan pergi meninggalkan nenek dan juga saudara kembar nya. Ia masih sangat malu, Alan pun masuk ke dalam kamar kakak sulung nya. Mengadukan perbuatan Alana kepada sang kakak. Bukannya membela Alan, Syifa malah ikutan tertawa dan meledek adiknya itu.


"Kakak, kenapa kakak sepelti Alana. Alan nggak mau bicala dengan kakak." ketus alan, Syifa pun mendekati sang adik, dan meminta maaf kepada Alan.


"Maafin kakak ya, kakak nggak bermaksud meledek Alan. Alan kan sudah besar, jangan pup dan pipis sembarangan dong anak ganteng."


"Alan malu bicala dengan bibi."


"Kan bisa ngomong dengan kakak, emang nya kakak pernah nggak mendengar kan Alan bicara? Alana yang banyak bicara aja selalu kakak ladenin apalagi adik kakak yang ganteng ini."


"Kak, Alan malu. Bagaimana Alan bisa melihat Mama dan yang lainnya nanti. Alana sungguh menyebalkan."


"Alana seperti itu, pasti Alan yang mengusik nya duluan kan?"


"Iya sih kak, Alan bilang sama mama dan nenek kalau Alana selalu melepotkan bibi. Kan Alan nggak salah. Telus dia bilang kalau Alan juga melepotkan bibi kalena suka pup dan pipis sembalangan di celana." Syifa menahan tawa nya. Ia hanya menggelengkan kepala saja melihat kelakuan adik kembar nya. Syifa juga membayangkan bagaimana jika baby Al dan baby Khanza sudah besar seperti Alan dan Alana. Pasti diri nya akan selalu merasa bahagia dan sedikit di pusing kan oleh kelakuan adik-adik nya.

__ADS_1


"Kak."


"Iya, Alan?"


"Alan malu."


"Udah jangan malu, nanti kakak akan bilang ke Alana untuk tidak mengejek Alan lagi tapi dengan syarat. Alan juga nggak boleh mengganggu Alana, Alan juga nggak boleh menyebalkan buat Alana. Alana itu kan saudara kembar nya Alan. Kalian dari janin udah sama. Jadi, kalian harus nya kompak, bukan seperti anjing dan kucing."


"Dia itu menyebalkan kak."


"Alan juga terkadang menyebalkan buat Alana. Terkadang Alana baik, Alan begitu cuek. Jadi nya, Alana kesal dengan Alan."


"Jadi, Alan bagaimana kak?"


"Alan harus menjadi saudara kembar yang baik untuk Alana, Alan harus melindungi dan menyayangi Alana seperti Alan menyayangi Mama, nenek, kakak dan yang lainnya."


"Wajar, sayang. Kalian kan masih anak-anak, nggak mungkin kan Alana yang berusia lima tahun bersikap seperti umur lima puluh tahun." Alan yang mendengar ucapan kakaknya tertawa geli. Dia membayangkan bagaimana saudara kembar nya berumur lima puluh tahun pasti sudah sangat tua, dan memiliki rambut yang putih semua.


Hahaha


Tawa Alan yang begitu keras membuat Syifa bingung, ia menanyakan hal apa yang membuat Alan tertawa dengan keras nya.


"Tidak ada kak."


"Ayo, bicara! Kenapa Alan kok tertawa?"


"Alan membayangkan bagaimana wajah Alana yang sudah tua pasti sangat menyebalkan dan lucu." Syifa pun berpikir keras, lalu ikut tertawa.


"Jika Alana tua, Alan juga tua dong kan kalian sama haha."

__ADS_1


"Dan kakak juga lebih tua." kedua nya tertawa terbahak-bahak membayangkan itu semua.


"Kalian teltawa kenapa?" tanya Alana yang penasaran, Alan memanggil saudara kembar nya. Untuk pertama kali nya, Alan bersikap lembut kepada saudara kembar nya. Alana terkejut melihat perubahan sikap Alan, mengerut kan dahi nya dengan penuh selidik. Maju perlahan, Alana berfikir jika saudara kembar nya itu mau membuat diri nya terluka atau menjebak diri nya.


"Sini, Alana!" Alan mendekati Alana, menggandeng tangan Alana mendekati sang kakak.


"Kakak, kenapa kalian teltawa begitu kencang?" Syifa pun menceritakan khayalan kedua nya. Alana yang mendengar penjelasan dari kakak nya juga berfikir keras, membayangkan apa yang kakak nya katakan. Lalu, ikut tertawa. Kakak beradik itu pun tertawa lepas penuh bahagia. Hal yang sangat sederhana, namun mampu membuat kakak beradik ini tertawa lepas tanpa memikir kan apapun. Suara tawa mereka yang kencang membuat keributan. Hingga akhirnya, Shinta dan Revan masuk ke dalam kamar anak-anak nya.


"Sayang, kenapa kalian berisik sekali?" tanya Revan. Syifa berhenti tertawa. Seakan takut sang ayah memarahi nya, Alana dengan berani menceritakan segalanya kepada kedua orang tua mereka. Shinta tersenyum mendengar penjelasan Alana yang tidak jelas namun mudah di pahami.


"Kalian ini, papa pikir ada apa."


"Ih papa! Ini lucu tau! Papa aja yang nggak Kelen!" ledek Alana, memang benar. Hanya Alana saja yang berani meledek papa nya. Alan dan Syifa tidak mempunyai keberanian seperti yang di miliki oleh Alana. Revan hanya terdiam, lagipula ia berfikir jika kelakuan Alana tidak lah di luar batasan.


"Papa kenapa kesini?"


"Papa sama Mama mau pergi sebentar."


"Kemana pa?"


"Mau mencari pengasuh untuk kalian."


"Bukan kah kita udah ada pengasuh pa?" tanya Syifa yang mendekati Mama dan papa nya. Syifa membelai lembut pipi adik kecil nya yang tertidur di gendongan sang mama. Syifa juga mencium nya dengan lembut agar adik kecil nya tidak terganggu dan menangis.


"Tidak, Sayang. Itu tidak cukup, pengasuh akan mudah letih jika mengurus kalian berempat sekaligus. Jadi, Mama dan papa memutuskan untuk mencari dua pengasuh lagi untuk menjaga kalian."


"Apakah itu perlu Ma?" tanya Syifa kepada Mama nya, Syifa tahu. jika dia bertanya kepada papa nya, Revan pasti akan marah.


"Mama juga udah bilang ke papa, tapi papa kalian sangat keras kepala dan tak mau mendengar kan Mama. Jadi, Mama mengikuti saja permintaan papa. Lagipula, kasihan bibi jika menjaga kalian berempat secara bersamaan. Syifa memang anak yang sangat baik, tapi kedua adik mu ini. Belum juga adik kecil yang begitu butuh perhatian."

__ADS_1


__ADS_2