Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menyesal


__ADS_3

Kepala pelayan itu tersenyum, tak bisa di bohongi hatinya terluka terlihat jelas dari matanya yang berkaca-kaca.


"Nak Revan, bapak memang hanya seorang pelayan namun tidak ada niat bapak untuk melukai keluarga kalian. Bapak menyayangi kalian seperti anak bapak dan cucu bapak sendiri, walau bapak memang tidak pantas karena status saya hanya pelayan."


"Tolong jangan mengatakan itu pak, saya menyayangi dan menghormati bapak seperti papa saya sendiri."


Revan merasa bersalah karena perbuatan istrinya yang begitu keterlaluan.


Shinta mendekati kepala pelayan itu, memeluknya dengan erat


"Pak, mohon maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu, salah salah." Shinta menangis, ia sadar tidak seharusnya ia melakukan itu.


Kepala pelayan membelai rambut Shinta dengan lembut, ia mengatakan jika dirinya memaafkan semua kesalahan Shinta.


"Nak, bapak mengerti dengan apa yang kamu alami. Karena memang ini juga kesalahan bapak yang lalai dalam mengawasi mereka sehingga adanya penyusup. Jika bukan karena kelalaian bapak, mungkin Tuan Al masih ada."


Pria paru baya itu tak kuasa menahan air matanya, ia pun menyadari kelalaiannya menjaga baby Al.


Shinta melepaskan pelukannya dari kepala pelayan itu, jika dilihat kepala pelayan itu sebaya dengan Gunawan, ayahnya Shinta.

__ADS_1


"Tolong jangan mengatakan hal itu pak! Ini bukan kesalahan bapak, jika saya saja tidak pernah mengetahuinya bagaimana bisa bapak mengetahuinya. Saya yang salah karena menerima Cia. Tolong maafkan saya,"


Shinta menangis, terlihat air mata penyesalannya.


Ia berjanji kepada seluruh pekerja rumahnya agar mempercayai mereka seperti dahulu lagi.


Para pelayan pun memaafkan majikannya, karena mereka juga membutuhkan pekerjaan itu. Jika Shinta tidak meminta maaf mereka juga akan tetap bekerja di rumah Revan.


Setelah meminta maaf, Revan menarik istrinya Shinta ke kamar.


Shinta mengikuti suaminya tanpa mengatakan apapun. Setelah masuk ke kamar Revan segera melepaskan tangan Shinta dengan kasar.


Tatapan kemarahan terlihat jelas dari mata Revan, Shinta pun takut karena ia tau ini kesalahannya


"Puas kamu? Puas melukai hati orang lain? Aku enggak ngerti sama cara berfikir mu!"


Revan menunjuk Shinta dengan kemarahan yang tak terkendali, Shinta hanya bisa diam dan menangis.


"Ta, aku tau. Aku memahami luka dan ketakutan kamu, mau berapa kali aku katakan bukan hanya kamu yang merasa kehilangan Al. Aku juga! Al itu bukan hanya anak kamu, tapi juga anak aku!"

__ADS_1


Revan berteriak, tangan satu ingin melayang di wajah cantik Shinta namun Revan dapat mengendalikannya.


Ia pun menurunkan tangannya ke bawah.


Revan tak kuasa jika harus bermain tangan kepada Shinta. Karena ia lelaki sejati, tidak akan pernah memukul wanitanya.


Revan meninggikan suaranya, Shinta hanya diam air matanya terus berlinang.


"Aku lelah, aku lelah terus memahami sikap kamu yang semakin hari semakin tidak terkendali! Mereka juga manusia!"


Revan yang geram pun mengepalkan tangannya dan memukul dinding dengan keras.


"Sekarang kamu lihat! Karena sikap mu mereka sakit hati! Buka dong pikiran kamu! Bagaimana jika kamu di posisi mereka yang terus di curigai dan disakiti dengan ucapan-ucapan pedas?"


Shinta bangkit, menatap suami nya


"Bukan aku enggak mau, aku juga mau! Mau banget menghilangkan rasa trauma ini. Tapi semakin aku mencoba, rasa ketakutan itu semakin muncul! Aku juga enggak mau menyakiti hati mereka, tapi aku panik. Panik saat Raisa mengatakan jika dia sakit perut setelah minum jus. Dan aku mengingat saat Al kejang-kejang bahkan kehilangannya nyawanya setelah meminum susu."


Shinta mengatakan dengan suara yang lemah dan gemetar, Revan langsung memeluk istrinya. Memberikan kekuatan, Keduanya saling berpelukan memberikan ketenangan satu sama lain

__ADS_1


__ADS_2