
Mendengar itu, Syafa dan sang suami pun merasa senang. Syafa meminta kepada menantu nya untuk membawa Syifa juga menginap di sini.
"Jika semua cucu ibu ada, ibu akan lebih bahagia." ujar Syafa. Revan pun mengangguk, ia berencana akan menjemput Syifa malam nanti.
Syafa dan Shinta akan membuat makanan bersama untuk si kembar, sebelum membuat makanan bersama sang ibu, Shinta mengantarkan ke dua baby sister nya ke kamar Syifa yang ada di rumah ke dua orang tua nya.
"Kalian di sini saja, nanti saya akan membawakan makanan kalian ke dalam kamar."
"Baik, Nona."
Setelah mengantar ke dua pengasuh anak nya, Shinta kembali menuju dapur menemui sang ibu. Ia pun memeluk ibu nya dari belakang. Sudah lama sekali, ia tidak ber-manja dengan ibu nya. Syafa menoleh sedikit kepada anak nya.
Walau sudah menjadi ibu dari empat orang anak, Shinta tidak pernah berubah, diri nya akan selalu menjadi anak kecil di mata sang ibu.
"Sayang, sudah jangan seperti ini. Nanti, anak-anak kamu lihat bagaimana? Mereka akan menertawakan ibu nya." ujar Syafa dengan penuh lembut kepada sang anak.
Benar saja ucapan Syafa, ketika si kembar berlari menuju dapur. Kedua nya melihat sang mama yang begitu manja dengan nenek mereka.
Si kembar saling pandang satu sama lain, lalu tertawa geli.
Haha, Mama cepelti anak kecil.
Ledek Alan, dan Alana. Shinta yang mendengar suara tawa anak nya segera melepaskan pelukan nya dari sang ibu. Ia pun sedikit malu.
"Ka-kalian sedang apa di sini? Sana ke kamar bersama suster." pinta Shinta kepada anak-anak nya. Walau Alana dan Alan sedikit nakal, mereka selalu menuruti ucapan mama nya.
Si kembar itu pun mengangguk, lalu membalikan tubuh mereka menuju kamar kakak nya yang ada di rumah sang nenek.
__ADS_1
Walau rumah kedua orang tua Shinta, tak sebesar dan semewah rumah Revan. Namun, rumah kedua orang tua Shinta masih layak dan nyaman untuk di tempati, apalagi suasana nya. Begitu menyejukkan
************
Raisa yang merasa bingung, tidak tahu harus bahagia atau sedih. Sekarang, ia mengetahui siapa diri nya. Namun, begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benak nya.
Jika memang benar ia anak dari keluarga kaya ini, mengapa diri nya berada di dalam panti asuhan? Raisa terdiam, ia tak bergeming sedikit pun. Hati nya merasa begitu terpukul, bingung harus menyikapi segala nya bagaimana.
Arvan ingin menyentuh anak nya, namun Syifa mencegah. Arvan menoleh ke arah Syifa, Syifa hanya menggelengkan kepala saja.
"Dad, biarkan dia berfikir dahulu. Dia masih sangat terkejut dengan ini semua, berikan dia waktu untuk memahami segala nya." bisik Syifa. Arvan pun mengangguk, ia berharap jika anak nya bisa memaafkan diri nya.
Lima menit yang lalu, pria yang ia kenal sebagai ayah tiri nya Syifa mengatakan jika dia adalah ayah kandung nya. Rumah ini, milik nya. Raisa merasa terkejut, ia ingin mengetahui segala nya lebih lanjut. Namun, Raisa takut, jika itu akan semakin menyakiti hati nya.
Raisa meneteskan air mata nya, menoleh ke arah Arvan. Ia pun berjalan perlahan mendekati Arvan, lalu memeluk Arvan dengan erat.
"Daddy." panggil Raisa yang menangis di pelukan ayah nya, Arvan membalas pelukan sang anak dengan erat. Syifa yang melihat itu merasa terharu. Akhirnya, Raisa bisa berkumpul dengan keluarga nya. Bukan hanya itu, Raisa juga adik nya.
"Sudah Daddy, jangan menyesali nya. Raisa tidak membenci Daddy."
"Kamu memang anak yang sangat baik sayang ku." Arvan melepaskan pelukan mereka, mencium kening anak nya. Arvan juga menoleh ke arah Syifa. Meminta Syifa untuk mendekat
Mereka bertiga pun berpelukan dengan begitu hangat.
"Kalian malaikat-malaikat nya, Daddy! Daddy sangat menyayangi kalian." gumam Arvan yang tak kuasa menahan kesedihan nya, ia pun menangis.
"Kami juga menyayangi, Daddy!" ujar Raisa dan Syifa secara bersamaan.
__ADS_1
Syifa berharap, jika Daddy nya akan memaafkan sang mama. Agar keluarga mereka kembali utuh seperti biasa nya. Syifa ingin, mama nya terus merasakan kebahagiaan walau dia tidak tinggal bersama sang mama.
Syifa dan Raisa melepaskan pelukan mereka dari sang Daddy, sungguh Raisa anak yang begitu berhati baik. Walau mengetahui setengah kebenaran, ia tidak merasa marah. Karena kedua orang tua nya meninggalkan ia di panti asuhan.
Bahkan Raisa tidak bertanya apa alasan diri nya berada di panti asuhan dari kecil, Raisa tidak mempermasalahkan itu. Bagi nya saat ini, menemukan ke dua orang tua nya sudah begitu membuat nya bahagia.
Arvan mengajak anak-anak nya untuk makan di luar, namun Raisa menolak. Ia tahu, jika sang mama sedang memasak makanan untuk mereka di dapur.
Arvan terdiam, ia pun hanya mengikuti permintaan anak nya saja. Arvan sudah berjanji, akan membahagiakan anak-anak nya, hidup dan cinta nya hanya untuk anak-anak nya saja.
Raisa mengajak Syifa dan Arvan pergi ke ruang makan, untuk makan bersama. Tidak ada penolakan dari Arvan, mereka pun menuruni anak tangga perlahan, menuju ruang makan. Terlihat Caca sedang menghidangkan makanan di atas meja makan.
Caca menoleh ke arah tangga, terlihat suami dan anak-anak nya sedang turun ke bawah. Ia pun tersenyum, namun mengingat surat perjanjian itu. Ia segera menundukan pandangannya ke bawah.
"Mami."
Spontan Caca menatap ke arah Raisa yang memanggil nya dengan sebutan mama, Caca merasa gemetar hati nya begitu sangat bahagia, mata nya berkaca-kaca.
Raisa berlari mendekati Caca, Raisa langsung memeluk Caca. Caca melepaskan pelukan mereka, lalu ia pun berjongkok untuk menyeimbangi tubuh anak nya, Raisa kembali memeluk mami nya. Caca membalas pelukan sang anak, ia pun tak kuasa menahan tangis nya.
Caca menangis tersedu di pelukan sang anak.
"Mami jangan sedih, Daddy sudah mengatakan segala nya jika Raisa adalah anak kandung mami dan Daddy."
"Anak mami. Maafin mami, sayang." Caca menciumi wajah anak nya dengan sangat lembut. Arvan menarik Raisa, membuat pelukan kedua nya terlepas.
"Sayang, tadi Raisa bilang kalau Raisa lapar. Masakan juga sudah selesai, mari kita makan." ujar Arvan. Melihat sikap Daddy nya kepada sang mami. Ia tahu, jika hubungan kedua orang tua nya sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Begitu jauh berbeda dari hari pertama kali mereka bertemu, kedua pasangan ini begitu sangat romantis dan harmonis. Namun, sekarang. Seperti ada kerenggangan di antara mami dan Daddy nya.
Raisa menoleh ke arah Syifa, meminta jawaban namun Syifa pun menggeleng seakan memberikan kode jika diri nya juga tidak tahu.