
Shinta memeluk erat Caca, begitu berat baginya kehilangan seseorang yang begitu dia sayang. Shinta sudah menganggap Caca sebagai seorang kakak. Namun, ia juga harus menghargai keputusan Caca. Caca pun membalas pelukkan Shinta dengan erat. Perasaan nya saat ini begitu sangat terluka dan kehilangan, Arvan sebagai suami Caca hanya bisa melakukan hal yang membuat isteri nya tenang dan bahagia. Shinta melepas kan pelukkan mereka
"Apa kau tidak ingin berpamitan kepada Ayah dan Ibu? Juga kepada Syifa? Mereka pasti akan mencari mu."
__ADS_1
Caca pun mengingin kan pertemuan dengan Orang tua Shinta yang sudah ia anggap seperti kedua orang tua nya. Namun, Caca takut jika berpamitan dengan mereka akan membuat diri nya semakin bersedih. Saat ini Caca hanya ingin menenangkan hati dan fikiran nya. Caca menolak dan mengatakan kepada Shinta dengan halus, Jika ini semua hanya sementara. Caca juga berjanji pada Shinta, jika dia akan kembali jika hati nya sudah membaik dan bisa menerima keadaan. Shinta pun hanya bisa menghargai keputusan Caca. Caca segera berpamitan pada Shinta dan Revan. Lalu, masuk ke dalam mobil yang di susul oleh Arvan.
Mobil Arvan pun melaju, menjauh dari mereka. Revan memeluk isteri nya yang menangis. Hancur sudah harapan Shinta agar terus bersama-sama dengan Caca juga Kaynara di saat kehamilan. Shinta kehilangan Caca dan juga Kaynara. Revan berusaha menenang kan dan meyakin kan isteri nya. Badai Pasti Berlalu, Revan juga berkata pada Shinta. Bahwa Shinta harus bangkit, fokus untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka. Syifa, si kembar dan janin yang ada di kandungan nya.
__ADS_1
Shinta dan Revan mengantar mama Queen sampai di parkiran saja, Revan juga mengucapkan terimakasih pada mama nya Queen. Karena sudah mau memberikan kesaksian dan menjelas kan segala nya kepada Caca. Setelah mama Queen turun dan masuk ke dalam rumah sakit. Revan melajukan pedal gas nya untuk pulang kerumah.
******
__ADS_1
Syifa yang melihat kepulangan Mama dan Papa nya, segera menghampiri mereka. Syifa bertanya kepada Ibu Sambung nya bagaimana keadaan sang mama. Shinta tak sanggup jika harus berbohong, ia pun mengatakan jika Caca butuh waktu untuk menenangkan diri. Awal nya, Syifa merasa sangat kecewa dan kesal. Namun, Shinta meyakinkan anak nya. Saat ini, tidak mudah menjadi mama Caca, Mama nya saat ini sedang terluka. Shinta juga yakin, jika anak nya adalah anak yang baik dan pengertian. Akhir nya, Syifa menerima segala nya. Ia memeluk Shinta dengan begitu erat. Syifa selalu merasa damai jika berada di pelukkan Ibu Sambung nya. Ia pun menyadari jika Shinta jauh lebih menyayangi dan perhatian pada nya daripada Ibu Kandung nya sendiri. Syifa menangis tersedu di pelukkan Shinta. Shinta mengeratkan pelukan nya. Ia membelai rambut Syifa dengan penuh kasih sayang.