Ibu Sambung

Ibu Sambung
Kesembuhan Alana Jauh Lebih Penting


__ADS_3

Sebagai seorang ibu pasti akan menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya begitu juga dengan Caca dan Arvan. Caca pun sedih melihat anaknya Raisa yang berbuat hal buruk kepada orang lain.



Namun Caca yakin, jika anaknya berubah



"Mami, Daddy!" Panggil Raisa, keduanya menoleh "Raisa mau pamit,"



Arvan dan Caca sudah takut saat anaknya mengatakan ingin pamit. Apakah Raisa benar-benar akan pergi dari Indonesia? Namun keduanya tidak bertanya, Raisa mendekati mami juga Daddy-nya "Sherly akan datang ke Indonesia dan Raisa ingin bertemu dengannya. Mami dan Daddy enggak harus khawatir! Raisa akan kembali lagi kok, Daddy tenang aja begitu juga dengan mami,"



"Kamu udah izin dengan kakak mu?" Tanya Arvan, membuat Raisa tak percaya "Begitu saja harus izin juga sama kakak? Mau makan juga harus izin?"



"Sudah berulangkali Daddy katakan jaga omongan kamu sama orang tua!"



"Apalagi kesalahan Raisa, Daddy? Kenapa Daddy selalu saja mencari-cari kesalahan Raisa? Raisa hanya ingin pergi sebentar dan Daddy mencari keributan. Stop dong Daddy! Aku capek! Lebih baik aku pergi aja kembali ke Malaysia daripada di sini seperti di neraka! Kedua orang tua ku sendiri seperti musuh ku!" Ujar Raisa dengan mata yang berkaca-kaca



"Sudah pergi lah sana, tidak perlu izin dengan kakak mu tapi cepat lah pulang ya?" Caca membelai pipi Raisa, Raisa pun mengangguk ia mencium telapak tangan maminya berulang kali "I love you more mami!"



"I love you too, darling!" Raisa memeluk Caca, lalu ia pergi tanpa memeluk Daddy-nya. Setelah Raisa pergi, Caca menoleh ke arah suaminya "Aku tahu kalau Raisa harus di ajarin lebih baik lagi, tapi bukan berarti kita harus memusuhinya dan dia menganggap kita itu musuh kan? Kasihan dia, Lagipula dia juga baik-baik pamit dengan kita. Sudah dong! Mengapa kamu memperlakukan anak-anak seperti itu? Kasian dia?"



"Maafkan aku, aku hanya ingin dia menjadi lebih baik!" Gumam Arvan. Caca mengerti dan paham betul, namun ia juga ingin suaminya tidak terlalu keras dengan anaknya Raisa



"Aku mengerti sekali perasaan kamu, namun kita enggak boleh seperti itu juga dengan dia. Dia itu anak kandung kita, anak kita bukannya musuh kita!"



\*\*\*\*\*\*\*



"Mau kemana kamu, Raisa?" Syifa bertanya kepada Raisa saat mereka bertemu di ruang keluarga, Raisa menatap kakaknya dengan tatapan jengah



"Kamu enggak dengar kakak ngomong Raisa?"



Raisa pun menoleh ke arah kakaknya "Mentang-mentang rumah ini kakak yang mengatur, jadi bernafas pun aku harus izin dulu? Enggak kan? Intinya aku tidak aneh-aneh dan melanggar aturan yang ada di rumah ini! Kakak liat kan aku sudah rapi artinya aku ingin pergi!"



"Mabuk-mabukan lagi?"



"Haha, Iya! Kenapa? Masalah buat kakak? Puas udah?"



Syifa tidak mengerti mengapa adiknya seperti itu "Kak tolong dong! Aku capek banget harus berdebat setiap saat. Aku capek saat mami dan Daddy selalu salahin aku dan belain kakak. Kasih dong aku waktu buat bernafas, agar aku enggak merasa sesak di rumah ini bisa kan? Aku mohon banget! Aku capek!" Suara Raisa terdengar begitu berat. Syifa mendekati Raisa, Raisa ketakutan



Mati aku! Aku salah bicara! Pasti kakak akan menghukum aku, dasar bodoh Raisa! Bisa-bisanya kau mengatakan itu. Mami tolong Raisa! ~batin Raisa yang memejamkan matanya



Entah apa yang akan di lakukan oleh kakaknya kepada dirinya. Dugaan Raisa salah, Syifa justru merapikan rambut Raisa yang berantakan



"Kalau mau keluar, harus rapih!" Setelah merapikan rambut Raisa, Syifa mengecup kening adiknya "Hati-hati, orang-orang sini enggak semuanya baik kalau ada apa-apa segera hubungi kakak ya?"



Setelah mengatakan itu, Syifa pergi meninggalkan Raisa. Raisa tercengang, bahkan merasa terharu dengan sikap kakaknya "Kakak ku?" Matanya berbinar memanggil Syifa, bahkan ia memeluk Syifa dari belakang "Aku rindu banget kakak aku yang seperti ini!"



Bagaimana pun Raisa sangat menyayangi kakaknya, namun ia tidak bisa memahami kasih sayang yang Syifa berikan kepadanya.



Syifa membalikan badannya, membalas pelukan Raisa "Kakak juga sayang banget sama kamu, kakak mau kamu menjadi adik kakak yang dulu! Yang selalu baik dan lembut kepada semua orang,"



Keduanya berpelukan dengan erat, lalu saling melepaskan pelukan nya "Hari ini, teman aku yang bernama Sherly akan datang ke Indonesia, jadi kami akan berkumpul dengannya kak!"



"Hati-hati ya?"



Raisa mengangguk. Ia langsung pergi, Syifa memandangi punggung belakang adiknya yang semakin jauh dari pandangan.


__ADS_1


Di balik dinding, ada sepasang suami istri yang melihat dari jauh anak-anak mereka "Aku senang melihat anak-anak seperti dahulu lagi!" Ujar Arvan begitu juga dengan Raisa, ia merasa sangat senang sekali "Aku tahu jika mereka masih saling menyayangi begitu juga dengan Raisa. Ia hanya butuh waktu saja, dan lihat lah saat Syifa tidak bertanya apapun lagi. Raisa langsung menjelaskan kemana ia akan pergi kepada kakaknya,"



Arvan mengangguk kan kepalanya perlahan, memang benar apa yang di katakan oleh istrinya. Kedua anaknya itu memang masih saling menyayangi dan kompak.



\*\*\*\*\*\*\*



Syifa pun kembali memutuskan ke kamar, pacarnya yang bernama Arash mengajaknya untuk ketemuan. Syifa awalnya menolak namun pacar terus memohon agar ketemu. Akhirnya Syifa pun memutuskan untuk bertemu dengan pacarnya itu



Namun sebelum pergi, Syifa berpamitan kepada mami juga Daddy-nya



Arash dan Syifa ketemuan di sebuah taman "Sayang, aku sangat merindukan kamu!"



Syifa pun tersenyum "Aku juga merindukan kamu sayang,"



"Sayang, kapan kita akan menikah? Aku ingin kita segera menikah dan aku bertemu dengan keluarga kamu,"



Syifa terdiam ia bingung harus bagaimana. Bukannya ia tidak mau menikah dengan kekasih yang selama ini ia cintai namun saat ini kedua keluarganya memiliki problem yang belum juga selesai "Arash, maafkan aku. Namun aku belum bisa,"



"Kenapa Syifa? Bukan kah kau mencintai aku? Dan aku juga mencintai mu?"



"Arash, saat ini keluarga ku lebih membutuhkan aku. Mereka lagi mengalami keadaan yang begitu jatuh banget. Aku harus selesaikan problem di rumah aku. Dan kamu tahu, kuliah aku juga belum selesai Arash!"



"Kita bisa selesaikan pelajaran kita sama-sama sayang! Kita sudah lama berpacaran namun mengapa kamu tidak pernah mau menikah dengan aku?"



Syifa memberikan penjelasan kepada pacarnya "Maafkan aku Arash! Aku mencintai mu, namun aku lebih mencintai keluarga ku. Saat ini keluarga ku lebih membutuh kan aku! Aku enggak bisa menikah sekarang, jika aku menikah. Aku akan memiliki kehidupan yang baru, sementara adik-adik membutuhkan aku!"



"Syifa, ada mama, papa, Daddy juga mami mu. Kenapa harus kamu yang mengurus masalah adik-adik kamu!"




"Terserah kau saja! Aku malas terus berdebat dengan mu! Kau wanita yang tidak tahu di cintai Syifa! Padahal aku ingin menikah dengan anak broken home seperti mu! Aku menerima latar belakang keluarga mu yang berantakan. Memiliki dua ibu dan ayah namun kau tidak tahu diri!"



Syifa terkejut dengan ucapan kekasihnya yang begitu kasar "Arash!"



Plak!



Satu tamparan mendarat di pipi pria tampan itu "Jangan karena keluarga mu harmonis dan utuh kau bisa mengatakan hal buruk tentang keluarga aku!"



"Sayang, tolong maafkan aku sayang! Aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu!"



"Sudah lah! Aku yang memiliki latar belakang broken home tidak pantas dengan keluarga mu yang sempurna! Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini Arash karena keluarga ku lebih penting!" setelah mengatakan itu Syifa langsung pergi meninggalkan pria yang sudah tidak menjadi kekasihnya lagi.



"Bisa-bisanya ia mengatakan hal seperti itu kepada keluarga ku. Ternyata aku salah memilih pasangan selama ini, tapi jangan sedih Syifa! Karena sekarang sudah tahu bagaimana sikap buruknya bukan saat sudah menikah nanti. Jadi semuanya belum terlambat!"



Walau hatinya masih sedih, namun ia harus tetap melanjutkan hidupnya demi adik-adiknya dan juga orang tuanya.



\*\*\*\*\*\*\*\*



"Sherly, aku kangen banget sama kamu!" Raisa memeluk temannya, Sherly pun membalas pelukan itu "Aku juga merindukan kamu, Raisa! Bagaimana kabar kamu? Baik tak?"



"Baik, aku kangen banget tau! Dan kamu tau? Dea juga datang ke Indonesia dan kami party kemarin."



"Dea? Kamu party dengannya?" Raisa mengangguk, Sherly pun menggeleng kepalanya. Mengapa Raisa tidak berubah dan masih dengan kebiasaan buruknya yang suka party "Haduh kamu itu, mami and Daddy mu membawa mu kesini agar kamu tidak party lagi namun kamu tetap melakukannya di sini!"



"Mau bagaimana lagi? Aku bosan di rumah, dan aku juga menyesal, kasihan mami dan Daddy. Tapi aku juga merasa tertekan sekali dengan keadaan di rumah!"

__ADS_1



Sherly menasehati temannya agar berubah "Raisa, sekarang kamu sudah besar. Berubah lah perlahan!"



"Iya, aku akan berubah perlahan. Sudah lah! Kau jangan seperti kakak ku yang selalu menasehati!"



"Karena dia sayang kepadamu!"



Raisa dan temannya pun bergurau sambil menikmati makanan yang ada dihadapan mereka



"Apakah kau akan menetap di Indonesia?" Raisa bertanya kepada temannya namun Sherly menggeleng "Tidak! Aku akan melanjutkan pendidikan aku di Amerika!"



"Amerika? Wah keren banget, andai mami dan Daddy mengizinkan aku ke sana. Bahkan kau tau? Saat aku ingin kembali ke Malaysia saja mereka mengatakan aku harus mandiri dan mencari uang sendiri, menyebalkan sekali bukan?"



"Haha, mereka seperti itu karena sangat menyayangi mu! Mereka tidak ingin kamu sendirian di negeri orang. Kamu tahu jika mami mu sangat menyayangi mu, tidak seperti kedua orang tua ku. Yang selalu saja sibuk bahkan mereka selalu okein permintaan aku agar mereka tidak di ganggu huft!"



Mengingat itu membuat Sherly merasa kesal, namun ia tidak mau membuang waktunya untuk bersedih "Sebentar lagi kakak sepupu aku akan datang. Dia tampan sekali, aku akan mengenal kan mu dengannya,"



Raisa begitu antusias mendengar ucapan temannya "Benar kah?"



Sherly mengangguk "Aku tidak sabar melihat kakak mu itu!"



\*\*\*\*\*\*\*\*



Shinta bahkan tidak berani menatap dirinya di cermin, Alan mendekati mamanya "Mama, jangan sedih terus!" Alan berusaha untuk menenangkan mamanya yang masih saja menangis.



Shinta memeluk putranya dengan erat "Mama sangat buruk kepada kalian, mama gagal menjadi ibu yang baik untuk kalian nak! Dan mama tahu, bukan hanya Alana yang terluka dengan ini semua namun kamu juga!"



Alan menjauhkan diri dari mamanya "Iya mama, Alan juga sedih tapi Alan tahu jika mama selalu ingin adil kepada kami, mama tidak pernah ingin kamu di bandingkan atau di asing kan antara satu sama lain. Mungkin karena Alan ini lelaki, Alan selalu menggunakan logika daripada perasaan Alan. Alan menyayangi Khanza, dan Alan juga bersalah di sini mama! Alan enggak bisa memahami saudara kembar Alan sendiri!"



Revan memberikan makanan untuk Alan "Alan, ini papa membelikan makanan untuk kamu. Kamu pasti lapar karena belum makan,"



Alan melihat hanya satu makanan dan satu minuman saja "Papa, mama juga belum makan. Dan papa?"



"Mama dan papa sudah kenyang. Papa juga tahu Mama mu tidak akan mau makan, sudah lah nak! Kamu saja yang makan,"



Alan mengangguk, Revan memang sengaja tidak memberikan istrinya makanan karena itu percuma baginya. Shinta tidak akan mau makan! Dan Revan tidak mau semakin kesal dengan penolakan istrinya nanti



"makan lah Alan! Mama sudah kenyang, jangan memikirkan mama nak. Alan mau mama suapin?"



Alan menggeleng "Tidak perlu ma! Alan sudah besar. Alan sudah terbiasa makan sendiri,"



Shinta pun tak memaksakan anaknya. Karena memang ia sudah membiasakan si kembar untuk mandiri sejak sepuluh tahun belakangan ini



Alan makan dengan lahap, namun seketika ia mengingat kembarannya "Ma, pa. Apakah Alana boleh makan ini?"



Revan mendekati anaknya "Alan, saat ini Alana sedang sakit dan dia tidak boleh makan sembarangan. Saat ini biarkan Alana memakan makanan rumah sakit setelah Alana sehat, kita akan mengajaknya makan bersama,"


"Iya papa!" Alan pun kembali memakan makanannya hingga habis "Mama enggak lapar?" Tanya Alan kembali Shinta pun menggeleng "Tidak sayang! Melihat kamu dan Alana kenyang sudah membuat mama kenyang,"


Alan membuang bungkus makanan itu, terlihat ke dua orang tuanya masih canggung. Alan bingung harus bagaimana, ia tidak bisa mengungkap isi hatinya seperti Alana atau kakaknya Syifa.


Alan ingin menghubungi kakaknya namun Revan melarang "Nak, jangan beritahu kakak mu. Biar kakak fokus dengan Khanza. Kasihan kakak kalau di beritahu. Ia pasti akan sedih,"


"Maafin Alan pa, namun saat kakak enggak tahu. Kakak pasti tidak akan menjenguk Alana di sana dan itu akan membuat Alana sedih. Ia akan semakin merasa jika kak Syifa juga tidak menyayanginya dan hanya menyayangi kak Raisa dan Khanza. Papa tahu kalau saat ini Alana sedang rapuh, dia sangat sensitif sekali."


Revan memikirkan ucapan anaknya yang menurutnya itu memang benar "Baik lah nak, hubungi kakak mu dan minta ia kesini. Tapi jangan membawa Khanza ya? Papa enggak mau kalau Alana sedih melihat Khanza."


"Iya pa,"


Revan tahu jika Khanza tidak bersalah, namun untuk membuat suasana membaik sebaiknya tidak ada yang membahas Khanza di hadapan Alana. Revan ingin Alana menyadari sendiri cintanya kepada Khanza karena Revan tahu, Alana sangat menyayangi dan mencintai Khanza. Hanya saja ia merasa cemburu dan terasingkan jika ada Khanza di keluarga mereka.


Shinta sedih, namun ia tidak bisa berbuat apapun. Saat ini kesembuhan Alana yang paling penting. Alana yang terpenting dan di atas segalanya, Shinta tidak mau anaknya merasa depresi yang akan membuat anaknya semakin kehilangan kendali!

__ADS_1


__ADS_2