
Setelah Shinta membawa Kaynara kepada Dokter Clara. Clara pun memeriksa keadaan Kay. Clara pun kembali duduk di tempat nya.
"Apa yang terjadi pada adik saya?"
"Adik anda mengalami PTSD atau yang di sebut Post-Traumatic Stress PascaTrauma. Gangguan ini muncul akibat pasien mengalami atau menyaksi kan peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan membuat kecemasan korban akibat mengingat kejadian tersebut. Dan pasien juga menggunakan dan kecanduan obat-obatan dengan dosis tinggi untuk melupakan segala kecemasan dan melupakan kejadian tersebut. Jika ia tidak meminum obat itu. Tubuh nya akan gemetar dan pasien akan sangat agresif bahkan bisa membahayakan nyawa orang lain dengan tidak sadar. Pasien sudah sangat bergantung pada obat itu. Ia berfikir dengan menggunakan obat dengan dosis yang berlebih akan membuat diri nya tenang. Padahal justru membuat dirinya semakin terjebak dalam PTSD tersebut."
"Orang yang menderita PTSD biasanya akan sulit melupakan pikiran atau peristiwa yang tidak menyenangkan tersebut"
"Lalu bagiamana cara agar menyembuhkan adik saya?" tanya Shinta
"Tidak ada obat kimia yang tepat untuk penyembuhan kondisi ini. Namun, Anda dapat melakukan terapi sebagai tahap perawatan penyembuhan PTSD. Apa pun jenisnya, macam-macam gangguan jiwa yang dialami oleh seseorang perlu diobati oleh psikolog atau psikiater. Apabila tidak ditangani dengan baik, gangguan jiwa yang dialami bisa semakin parah dan berpotensi membuat mereka menyakiti dirinya sendiri atau orang lain."
Penjelasan dokter Clara bagaikan di samber petir di siang hari bagi Shinta. Shinta pun sadar, begitu banyak yang di alami oleh Kay. Dan itu tidak lah mudah bagi Kay melupakan segala nya. Dari kecil Kay menyaksikan sendiri bagaimana Kakek, Mama dan Papa nya di siksa dan di bunuh dengan Brutal bahkan Kaynara menjadi korban pemerkosaan dan itu semua ulah dari Elsa keluarga Kaynara sendiri. Yang seharusnya Elsa bisa melindungi Kaynara malah justru merusak mental dan masa depan Kaynara.
__ADS_1
"Kita obatin satu-satu dulu ya."
"Maksud nya dok?"
"Iya, sebaiknya kita obatin Kaynara agar tidak bergantung pada obat tersebut lalu secara perlahan saya dan teman psikolog saya akan menyembuh kan trauma yang di alamin pasien. Ini membutuh kan waktu yang tidak sebentar. Butuh kesabaran dan dukungan serta kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya."
"Baiklah dok."
"Untuk sementara biar kan pasien di sini dulu dan saya akan menangani nya." ucap Clara. Shinta sudah tidak tau harus bagaimana. Ia merasa sangat sedih melihat takdir buruk yang menimpa Kaynara
********
Arvan dan Revan menunggu di luar ruangan. Dokter masih memeriksa keadaan Caca.
__ADS_1
Arvan merasa sangat gelisah, ia tidak sanggup jika harus kehilangan janinnya untuk kesekian kali. Arvan segera bangkit dan mendekat ke arah dokter yang baru keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan isteri dan anak saya dok?"
"Isteri bapak baik-baik saja. Kandungannya juga tidak apa-apa." Arvan bernafas lega dengan penjelasan dokter.
"Apakah saya bisa menemui isteri saya.?"
"Sebaiknya biar kan pasien ber-istirahat terlebih dahulu. Dan jangan biarkan pasien mengalami stres yang berlebih. Karena itu sangat tidak baik untuk kandungannya."
"Baiklah dok, terimakasih." Dokter pun pergi meninggalkan Arvan dan Revan.
"Apakah aku sudah bisa pergi sekarang? karena tadi kita meninggalkan rumah Ibu dan Ayah dalam keadaan yang kacau. Aku ingin melihat situasi di rumah." ucap Revan.
__ADS_1
"Sudah. Maaf sudah merepotkan mu, dan terimakasih sudah membantu ku." ucap Arvan