Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Merasa beruntung


__ADS_3

Revan kembali ke rumah, Shinta mendekati suami nya dan memberikan segelas air minum.


"Duduk dan minum lah!" Revan pun duduk di sofa, dan meminum segelas air yang di berikan oleh Shinta.


"Apa sebenar nya yang terjadi? dan siapa wanita tadi?"


"Mengapa kau pulang sampai lama sekali?"


"Apa semua nya baik-baik saja?" Shinta terdiam ketika mendapat tatapan yang tajam dari Revan.


"Kau ini, aku baru saja duduk dan minum! tapi pertanyaan mu banyak sekali," kesal nya. Shinta pun menyengir.


"Hehe, maaf kan aku. Aku, a-aku hanya khawatir saja, mengapa kau menjadi galak seperti ini," Shinta memukul bahu suami nya. Mendapat tatapan yang mematikan dari Revan membuat nyali Shinta menciut. Shinta pun menunjukkan gigi nya yang rapih dan putih tersebut.


"E-ee, kau pasti lelah kan, Sayang? sini aku pijat,"


"Tidak usah!" ucap Revan dengan dingin


"Baik lah! boleh kah aku mendengar jawaban mu yang tadi?"


"Jawaban? jawaban yang mana?" Revan menaikkan satu alis nya dengan bingung.

__ADS_1


"Dasar bodoh! jawaban dari pertanyaan ku tadi,"


"Apa katamu?" Revan melotot pada Shinta.


"Ti-tidak suami ku, maksud ku. Kau suami yang tidak bodoh, be-begitu." Shinta gemetar, melihat reaksi Shinta membuat Revan merasa sangat gemas. Ia pun langsung memeluk istri nya dengan penuh sayang dan menceritakan semua kejadian itu. Shinta yang mendengar itu pun merasa terkejut. Ia menjauh kan tubuh nya dari Revan.


"Kasihan sekali wanita itu, lalu bagaimana keadaan nya? pasti ia sangat trauma karena kejadian itu," Walau tak mengenal wanita itu, Shinta merasa sangat kasihan pada nasip wanita yang mengalami perilaku yang tidak adil, semua ini tidak adil bukan untuk wanita itu? ia harus menanggung kesalahan yang di perbuat oleh kakek nya dulu.


"Keadaan nya sangat memilukkan, saat ini Rangga membawa nya ke rumah sakit,"


"Rangga? siapa dia?"


"Kay-kaynara?" Revan pun mengangguk.


"Ah tidak, mungkin nama nya saja yang sama," batin Shinta.


"Kenapa, Sayang?"


"Sayang" Revan menyadar kan Shinta dari lamunan nya.


"Eh, tidak apa-apa."

__ADS_1


"Kau yakin?"


"Dulu, ibu pernah membawa gadis berusia 14 tahun ke rumah dan mengangkat nya menjadi adikku, Kami sangat menyayangi nya. Apalagi, aku anak satu-satu nya. Kaynara anak yang pendiam dan penurut," Shinta memberikan penjelasan.


"Lalu, kemana dia? Mengapa aku tidak pernah tahu?"


"Entah lah, 2 bulan ia tinggal di rumah ia melarikan diri dan kabur dari rumah. Kami sudah berusaha mencari nya namun tidak pernah ketemu,"


"Oh,"


"Sayang,"


"Iya?"


"A-apa mungkin ia Kaynara gadis yang di angkat menjadi anak ibu dulu?" tanya Shinta.


"Sayang, nama Kaynara itu kan banyak. Lagi pula, jika benar dia Kaynara yang kamu maksud, ia pasti mengenali wajah mu. Dan kau juga mengenali wajah nya bukan," Shinta pun membenarkan ucapan suami nya.


"Aku ingin bertemu dengan nya, Sayang. Walaupun ia bukan adik yang ku maksud, dia juga seorang wanita. Aku turut bersedih atas apa yang ia alami. Aku tak bisa membayang kan jika itu terjadi pada ku atau keluarga ku,"


"Itu tidak akan pernah terjadi sayang! Aku akan menjaga mu, kedua orang tua kita, dan ketiga anak-anak kita. Takkan ku biar kan siapapun menyakiti kalian. Bahkan, nyawa ku akan ku korban kan untuk melindungi kalian. Shinta pun merasa sangat terharu dan beruntung memiliki suami seperti Revan.

__ADS_1


__ADS_2