
"Alan?" panggil nya dengan pelan, Alan menoleh ke arah Syifa. Terlihat matanya begitu sembab akibat kebanyakan menangis.
Syifa segera menggendong, dan menghapus air mata adik nya. Syifa memeluk nya dengan penuh sayang. Syifa tahu, jika Alan membutuh kan pelukan saat ini. Syifa memutuskan membawa Alan kembali ke kamar nya untuk melihat keadaan Alana. Terlihat Alana yang sudah terlelap di pelukan sang mama. Shinta kaget melihat ke dua anak nya yang belum tidur.
"Sayang, kenapa kalian belum tidur?"
"Syifa udah tidur ma, tadi Syifa terbangun melihat Alan yang menangis di pojokan. Sepertinya, Alan mengkhawatirkan keadaan Alana."
Shinta menyuruh Syifa mendekati mereka. Shinta meletakkan Alana dengan lembut, lalu beranjak dari ranjang dan mengambil Alan dari gendongan Syifa.
"Sayang, Alana nggak apa-apa kok nak. Tadi, Alana hanya mimpi buruk saja. Yaudah, Alan bobok di sini ya bersama mama. Biar papa yang mama suruh pindah." Alan mengangguk, Shinta menghapus air mata sang anak. Memeluk untuk menenangkan anaknya.
"Sudah, ya sayang? Jangan khawatir, ada mama di sini."
Revan pun mencoba menenangkan anak nya itu, menyakinkan sang anak jika Alana baik-baik saja.
"Syifa kembali ke kamar dulu ya ma, pa ?" izin Syifa kepada kedua orang tua nya. Shinta pun tersenyum manis kepada Syifa.
"Terimakasih ya nak, udah menjaga adik Syifa. Bahkan, ketika Syifa udah tidur, Syifa masih saja terjaga menjaga Alan."
"Itu udah tugas Syifa ma sebagai kakak untuk menjaga dan melindungi adik-adik Syifa."
Setelah Syifa ke luar dari kamar, Revan juga pergi meninggalkan isteri dan ke dua anak kembar nya. Alan tidur di sebelah Alana yang sudah tidur dengan nyenyak. Melihat Alana yang sudah baik-baik aja. Alan pun merasa lega dan tak butuh waktu lama diri nya sudah tidur dengan nyenyak. Shinta yang melihat kedua anak nya sudah terlelap pun ikut memejamkan mata nya.
__ADS_1
********
Keesokan hari nya, Alana sudah seperti biasa. Begitu ceria dan lasak. Alana yang sudah mandi pun bersiap-siap memilih baju yang cantik. Agar diri nya terlihat cantik setiap saat. Setelah selesai memakai baju, Alana turun untuk sarapan di ruang makan.
"Sayang, udah bangun?"
"Udah dong, mama. Alana udah segal banget."
"Dek, kenapa tadi malam Alana menangis?" tanya Syifa yang masih penasaran. Awalnya Syifa sudah bertanya kepada sang mama, namun Shinta juga mengatakan tidak tahu mengapa Alana menangis histeris. Alana tidak mau menjawab, hanya terus menangis ketakutan.
"Menangis?" Alana mengerutkan kening nya dengan bingung, Alan yang melihat tingkah saudara kembar nya itu pun merasa geram. Diri nya tak bisa tidur mengkhawatirkan Alana, sedang kan Alana justru bersikap seakan tidak ada kejadian.
"Iya! Kau tadi malam membuat satu lumah heboh! Dasal pengacau!" Alana menatap Alan dengan tatapan jengkel, begitu juga dengan Alan yang begitu kesal dengan saudara kembar nya itu.
"Sayang, yang di kata kan saudara kembar mu tidak sepenuh nya salah. Kami semua begitu khawatir dengan Alana tadi malam yang menjerit histeris ketakutan. Membuat kita juga merasa sangat takut." Alana berfikir sejenak, lalu ia mengingat mimpi nya tadi malam. Alana langsung menceritakan mimpi nya itu kepada semua orang. Mengingat nya pun membuat Alana merasa sangat takut.
"Itu sangat menyelam kan Mama, Alana sangat takut. Alana juga ingat, jika Alana memanggil dan meminta tolong pada Alan. Namun, Alan nggak datang buat selamatin Alana! Alana kesal dengan Alan!"
"Sayang, bagaimana Alan bisa datang? Itu kan hanya mimpi." tanya Shinta lagi yang tak habis pikir dengan anak nya. Revan pun membenar kan ucapan isteri nya.
"Yang di kata kan oleh Mama itu benar, Sayang. Itu kan hanya lah dunia mimpi. Alan, mama, kakak, papa dan yang lainnya nggak bisa masuk ke dunia mimpi Alana. Lain kali, Alana sebelum tidur harus baca doa ya? Ini juga berlaku untuk Alan dan kakak Syifa."
"Iya, Pa." jawab Alan dan Syifa secara bersamaan.
__ADS_1
"Iya, Pa. Alana udah beldoa kok, tapi mau bagaimana lagi? Mimpi itu mau datang, ini salah Alan yang nggak mau membantu Alana. Coba aja kalau Alan datang, pasti Alana nggak akan takut."
"Sayang, papa kan udah bilang. Alan, mama, papa atau yang lain nya nggak bisa masuk ke dalam mimpi Alana. Mengemas kan banget sih anak papa yang satu ini."
"Dia kan saudala kembal Alana, kami sudah selalu belsama dali masih di dalam pelut mama. Halusnya Alan juga ada di mimpi Alana." Shinta yang lain nya pun hanya menggeleng saja, tak tahu harus menjawab apalagi. Alana memang anak yang sangat keras kepala.
"Iya, Alana. Kau tenang saja, aku akan belajal masuk ke dalam mimpi mu. Hingga, walau hanya di dalam mimpi kau tak akan pelu melasa takut lagi oke?" jawab Alan. Alana ter senyum lebar. Matanya membulat, merasa begitu takjub dengan ucapan saudara kembar nya.
"Benal kah?"
"Iya, benal. Aku janji akan selalu menjaga mu. Aku juga nggak mau kalau Alana sakit atau sedih. Kalena cukup aku saja yang membuat Alana menangis, Olang-olang nggak boleh." Alan menaikkan salah satu alis nya menggoda Alana, Alana merasa kesal dengan ucapan Alan dan mau memukul nya.
"Kau ini! Aku mengila kau mau menjaga ku, telnyata kalena kau ingin menyakiti ku, dan kau sangat tidak adil. Kau boleh menyakiti ku, tapi tidak boleh yang lain."
"Iya dong, kan kamu saudala kembal aku. Merela nggak boleh menyakiti mu. Hanya aku yang boleh mrnggangu dan membuat mu menangis. Jika yang lain belani membuat Alana ku menangis, aku akan memukul meleka "
"Mengapa begitu?"
"Jika aku yang mengganggu mu, aku tidak akan membuat mu tel luka Alana!"
"Benal juga ya, Alan." Alana pun tertawa dengan senang. Yang lain pun tertawa di meja makan, merasa lucu dengan tingkah konyol saudara kembar itu.
"Bicara nya nanti saja ya, sekarang kita makan dulu. Cacing di perut Kakek udah bunyi ini demo minta makan." ucap Tommy kepada ke dua cucu nya. Mereka pun sarapan dengan tenang, setelah selesai sarapan. Shinta berpamitan kepada yang lain nya untuk melihat baby nya. Shinta ingin memberikan ASI secara langsung kepada sang anak. Shinta masuk ke dalam kamar, melihat pengasuh yang begitu sabar menjaga baby Al.
__ADS_1
Shinta mendekat dan mengambil anak nya. Shinta menyuruh perawat dan para pelayan untuk sarapan dahulu sebelum melakukan tugas-tugas mereka. Pengasuh itu pun mengangguk, menuruti permintaan majikannya. Shinta menggendong baby Al dan memberikan ASI kepada anak nya.