
Syifa tak menghiraukan ucapan Raisa, ia hanya memikirkan tentang hubungan Mama dan Daddy nya saja.
"Kak, mengapa kau melamun?" tanya Raisa kembali. Syifa pun menoleh ke arah Raisa dan tersenyum, mengatakan ia hanya memikirkan kedua adik kembar nya saja.
"Tidak, Aku hanya merindukan adik kembar ku, biasa nya kami selalu bermain setelah aku pulang sekolah. Namun, sekarang."
"Kakak begitu dekat dengan mereka ya? Bahkan, walau hanya beberapa menit tidak main sama mereka, kakak seperti ini."
"Sangat dekat, mereka semua bagian dari hidup ku. Si kembar, baby Al, baby Khanza." ujar Syifa. Ia memang menyayangi adik-adiknya.
"Kak, kau sangat beruntung sekali. Memiliki keluarga yang sangat utuh."
Di luar kamar, Arvan mendengarkan ucapan anak-anak nya. Hati nya begitu sangat sakit, seharusnya Raisa juga mendapatkan hal yang sama. Namun, ia tidak mendapatkan nya. Arvan semakin terluka dengan ucapan Raisa. Ingin sekali rasanya ia memeluk Raisa. Dan mengatakan jika Raisa adalah anak nya.
Sial! Arvan tak berdaya sekarang, ia menjadi emosional dan mengusap wajah nya dengan kasar. Ketidakberdayaan apa ini? Bisa saja Arvan mengatakan segala nya, namun ia takut jika Raisa tidak bisa menerima nya dan malah membenci diri nya.
Raisa menoleh ke arah luar pintu, terlihat Arvan yang sedang berdiri di luar kamar. Raisa memberikan kode kepada Syifa, Syifa langsung menoleh ke arah pintu.
"Daddy?"
Syifa berfikir apa yang di lakukan oleh Daddy nya dengan berdiri di depan pintu, apakah Daddy nya sedang memantau mereka. Namun, kenapa? Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam kepala Syifa. Tiba-tiba saja mama nya terluka, tiba-tiba saja sikap Daddy nya berubah kepada mama Caca.
__ADS_1
Hal itu sungguh membuat Syifa pusing. Syifa melihat Daddy nya menangis, lalu berlalu pergi. Syifa keluar dari kamar, ia pun sebelum nya berpamitan kepada Raisa. Raisa mengangguk, menunggu di dalam kamar.
"Daddy," lirih Syifa, yang mendekati sang Daddy menangis di ruangan kerja nya, Syifa mendekati Arvan perlahan. Menghapus air mata sang Daddy, Arvan yang tak kuasa langsung memeluk Syifa.
"Dad," Arvan terisak di dalam pelukan Syifa. Syifa semakin bingung dengan apa yang terjadi. Ia melepaskan pelukan mereka.
"Daddy, ada apa? Mengapa Daddy menangis?" Syifa yang melihat Ayah Sambung nya menangis pun, tak tahan. Ia juga ikut menangis,"
"Daddy, Sudah! Jangan menangis." ujar Syifa yang menangis.
"Sayang, terimakasih. Kamu sudah mau menjadi tempat Daddy saat Daddy bersedih."
"Dad, katakan! Ada apa?" tanya nya kembali.
Syifa merasa terkejut, sekujur tubuh nya merasa dingin dan gemetar. Seakan tak percaya dengan ini semua, tapi diri nya merasa begitu bahagia mendengar penjelasan sang Daddy. Syifa sangat menyayangi Raisa. Ia juga berharap, jika mereka bisa memiliki hubungan lebih dari seorang sahabat. Namun, senyuman Syifa memudar. Satu hal yang ia tak mengerti, jika Raisa adalah anak Mama dan Daddy nya namun mengapa Raisa berada di panti.
Syifa ingin bertanya kepada Daddy nya, melihat Arvan yang masih dalam keadaan terluka membuat Syifa mengurungkan niat nya. Ia tak mau membuat luka dan kesedihan lagi untuk Daddy nya, ia percaya jika mama Caca dan Daddy nya sudah siap untuk cerita. Mereka akan menceritakan segala nya, bukan hanya kepada diri nya namun juga kepada Raisa.
"Daddy, sudah jangan menangis. Bukan kah ini hal yang sangat baik? Raisa anak yang sangat baik, dan dia adalah anak kalian. Adik nya Syifa,"
Syifa pun mencoba menghibur Daddy nya itu, walau ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Syifa pun sempat terfikir apakah perdebatan atau kerenggangan antara mama dan Daddy nya ada hubungan nya dengan Raisa? Entah lah, Syifa begitu pusing memikirkan itu semua. Ia berharap agar masalah kedua orang tua nya segera selesai.
Caca dengan semangat, memasak masakan untuk Syifa dan Raisa. Pelayan sudah meminta agar Caca tidak perlu turun ke dapur, namun Caca tak mau mendengar ucapan pelayan nya. Ia ingin memasak sendiri untuk Syifa dan Raisa. Ia memasak dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Syifa menenangkan Daddy nya, ia pun mengajak Daddy nya untuk bertemu dengan Raisa. Bagaimana pun Raisa berhak mengetahui ini semua, namun Arvan rasanya belum siap. Ia takut, Raisa membenci diri nya karena berfikir telah mencampakkan Raisa dan membiarkan diri nya menderita di dalam panti.
"Daddy, jangan begitu. Raisa juga berhak mengetahui segala nya. Daddy harus mengatakan segala nya kepada dia, jangan sampai dia mengetahui nya dari orang lain. Itu akan membuat diri nya semakin terluka Daddy, orang di luar sana memiliki ribuan macam omongan. Jangan sampai, pengaruh jahat di luar sana membuat Raisa membenci atau salah paham kepada kalian."
Arvan mencerna ucapan anak nya, ia juga mengerti jika bukan ia atau Caca yang mengatakan semua nya. Orang lain memiliki segala macam cara untuk mengembangkan segala kebencian.
Arvan memutuskan, untuk memberitahu Raisa. Arvan mengajak Syifa untuk menemui Raisa.
Syifa tersenyum senang, ia menggandeng tangan Daddy nya untuk menemui Raisa di dalam kamar. Terlihat Raisa sedang senang menikmati mainan Syifa di dalam kamar.
"Raisa." panggil Arvan, Raisa segera menoleh ke arah Arvan yang memanggil diri nya. Raisa bangkit, dan mendekati Arvan dan Syifa yang sedang berdiri di luar pintu kamar. Ke dua nya pun masuk.
"Iya, om?" ujar Raisa. Arvan segera memeluk Raisa dengan erat, Raisa begitu kaget dan bingung. Namun, ikatan batin kedua nya sangat dekat. Raisa seakan merasakan ada sesuatu yang begitu hangat, seakan kedua nya kenal begitu lama. Syifa tersenyum haru. Ia berharap agar Raisa bisa mengerti keadaan yang ada dan menerima nya dengan lapang dada.
"Om, a-ada apa?"
"Anakku! maafkan Daddy, sayang!" gumam Arvan yang menangis di pelukan Raisa. Raisa terkejut dengan panggilan Arvan
__ADS_1
Anak? Apa maksud dari itu semua? Raisa pun belum memahami hal yang ada. Diri nya begitu bingung, mata nya menoleh ke arah Syifa seakan meminta penjelasan. Namun, Syifa hanya tersenyum bahagia dan menggeleng. Bukan mendapatkan jawaban.
Raisa semakin di bingung kan oleh keluarga Syifa. Raisa melepas kan pelukan kedua nya. Bertanya kepada Daddy Syifa apa yang sebenar nya terjadi. Arvan masih diam, ia bingung harus mengatakan nya dari mana. Memulai nya dari mana, Arvan menoleh ke arah Syifa. Sekali lagi, Syifa mengode Daddy nya dan memberikan semangat untuk berani berkata sejujur nya.