
Revan mengambil ahli menggendong Syifa dari tubuh isterinya, ia sengaja untuk pergi keluar deluan karena Revan sendiripun tak tahu harus apa. Revan sendiri mengakui ikatan batin Shinta dan Syifa lebih kuat
"Aku akan menunggu di mobil" ucap Revan dan berlalu meninggalkan Caca dan juga Shinta, Caca masih memasang wajah sedihnya, Shinta mendekat kepada Caca.
"Syifa hanya belum terbiasa, mungkin nanti ia akan terbiasa jangan bersedih. Aku juga dulu tidak kenal dengan Syifa namun seiring berjalannya waktu aku dan Syifa begitu dekat dan saling menyayangi. Apalagi kau ibu kandungnya pasti akan mudah untuk Syifa menyayangimu. Ia hanya butuh waktu saja" Shinta mencoba menenangkan Caca, Caca pun mengangguk mengerti.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Revan dan Syifa sudah menunggu"
"Ia Shinta, terimakasih ya" Shinta pun tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan rumah Caca, Caca melihat punggung belakang Shinta
"Kau harus merebut yang seharusnya milikmu" ucap Elsa yang tiba-tiba mendekat ke arah Caca, Caca pun menoleh kearah ibunya.
"Apa maksud mama" Tanya Caca dengan bingung.
"Ya, kau harus mengambil kembali Puteri dan suamimu" Ucap Elsa menyakinkan.
"Tidak ma! Revan sudah bukan suamiku dan dia sudah menikah, aku tak ingin merusak kebahagiaan mereka"
"Tapi Syifa puterimu dan selamanya menjadi puterimu, apa kau rela melihat dia lebih sayang dan dekat kepada wanita itu dan jauh dari mu ibu kandungnya sendiri. Pikir kan jika kau kembali dengan Revan kau dan Syifa bisa lebih dekat dan selalu bersama" Caca pun mencerna ucapan mama nya, namun ia berusaha untuk tidak terpengaruh oleh ibunya. Dia tau, walau Elsa sudah bisa menerima Puterinya namun Elsa tetap lah wanita yang begitu egois. Yang hanya memikirkan kebahagiaan nya sendiri walau ia tahu semua yang Elsa lakukan demi kebahagiaan dirinya walau cara ibunya salah.
"Ma sudahlah, aku ingin kekamar dulu"
"Pikir kan yang mama bilang tadi! kau harus mengambil kebahagiaan yang seharusnya milikmu. Apa kau rela terus-terusan menderita dan jauh dari puterimu" Caca pun menghentikan langkahnya, ia terdiam akan ucapan ibunya. Caca langsung berlari didalam kamar. Tak bisa di pungkiri, Caca masih begitu mencintai Revan dan menyayangi anaknya namun Caca juga tak ingin menjadi wanita egois yang merusak kebahagiaan orang lain, lagi pula ini sudah resiko yang harus ia hadapi karena keputusan yang sudah ia ambil dulu.
"Apa yang aku harapkan lagi, sekarang Revan sudah mengizinkan ku bertemu dengan Syifa itu udah lebih dari cukup"
"Jangan menjadi wanita yang egois dan serakah ca!" Caca menyakinkan dirinya sendiri dan tak mau terpengaruh oleh kata-kata ibunya.
***********
Disepanjang jalan, Shinta menciumin pipi Syifa yang sedang tertidur di pangkuannya, ia begitu gemas melihat wajah imut Syifa ketika tidur.
"Jangan pisahkan kami Tuhan" Shinta memeluk Syifa, entah mengapa tiba-tiba hatinya begitu tidak enak dan merasa takut kehilangan Syifa
__ADS_1
"Kau kenapa" Tanya Revan yang menoleh kearah Shinta lalu menuju kedepan karena mengemudi mobil nya.
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan Syifa saja"
"Baru beberapa jam pisah dari Syifa kau sudah begitu, bagaimana jika kau tak bisa bertemu lagi dengannya" Revan pun terkekeh namun ia tak menyadari ucapannya membuat Shinta semakin takut dan menoleh kearahnya dengan tatapan sinis
"Apa maksudmu!" nada suaranya terdengar tidak ramah
"Aku hanya bercanda sayang" Revan ingin memegang pipi Shinta namun Shinta menjauhkan wajahnya dari jangkauan tangan Revan, Revan pun menoleh kearah Shinta dan melihat cairan bening sudah jatuh membasahi pipi isterinya yang sedang memeluk Puteri nya
"Hey, aku hanya bercanda" Namun Shinta memeluk erat Syifa begitu erat, ada suara isakan tangis yang membuat Syifa terbangun
"Mama, kenapa menangis" Syifa mengucek kedua matanya dan langsung menghapus airmata Shinta dengan kedua ibu jarinya yang mungil
"Pa, mama kenapa" Revan tak menjawab pertanyaan dari Puterinya, ia tak menyangka ucapannya membuat Shinta menjadi sedih
"Apa papa jahat sama mama" Tanya nya lagi, namun tak ada yang menjawab, Syifa pun mengalungkan tangan mungilnya keleher Shinta dan mencium pipi Shinta.
"Mama jangan menangis" Syifa memeluk Shinta begitu erat
"Ta" Revan mencoba memanggil isterinya namun Shinta tak memperdulikan dan masuk kedalam rumah.
"Sayang, mama tidur dikamar Syifa malam ini ya"
"Iya mama" Shinta dan Syifa pun masuk kedalam kamar Syifa, ia menurunkan Syifa di tempat tidur lalu menyusun barang barang Syifa kembali yang sempat ia kemas.
"Sekarang kamu gak boleh jauh jauh dari mama ya"
"Kalau kemana-mana sama mama"
"Jangan menginap lagi"
"Pokoknya Syifa gak boleh jauh dari mama ngerti!" Syifa kaget dengan nada Shinta yang meninggi, membuatnya menangis
__ADS_1
"Ma" Ucap Syifa yang ketakutan karena sikap Shinta, Shinta yang sadar Puterinya ketakutan pun mendekati tubuh Syifa namun Syifa mundur kebelakang
"Sayang, maafin mama ya. Mama gak maksud marahin Syifa" ucapnya mencoba mendekat namun Syifa yang ketakutan pun hanya menangis dan menjauh dari Shinta. Karena Syifa menangis dengan kencang Revan dan juga Lili masuk kedalam kamar Syifa.
"Ada apa ini" Syifa langsung mendekat kearah neneknya dan memeluk lili dengan erat, Syifa begitu ketakutan melihat Shinta yang tiba-tiba menjadi kasar dan membentaknya.
"Sayang, kenapa. Sudah jangan takut" lili mencoba menenangkan cucunya
"Sayang maafin mama" Shinta mau mendekat kearah Syifa namun Syifa menyembunyikan wajahnya di pelukkan sang nenek, ia pun menangis.
"Nek Syifa gak mau dekat mama, mama jahat hiks" Shinta pun semakin menangis dan merasa bersalah karena sudah membentak dan membuat Puterinya menangis, Revan yang merasa geram pun langsung menarik tangan Shinta dengan kuat dan membawa Shinta keluar dari kamar anaknya ke kamar mereka
"Katakan apa yang terjadi!" Revan menghempaskan tangan Shinta dengan kasar, ia begitu kesal melihat Puterinya yang begitu ketakutan
"katakan, apa yang lakukan kepada Puteri ku sampai ia ketakutan begitu" Revan memegang bahu Shinta dengan kuat, Shinta hanya menangis.
"Maaf, aku tak sengaja membentak nya. Aku menyuruhnya untuk tidak jauh dariku"
"Setelah mendengar ucapanmu tadi aku takut jika harus kehilangannya dan jauh dari dirinya. aku tau aku salah, maaf kan aku" Kini pipi Shinta sudah basah karena air matanya.
********
*Hallo kakak-kakak. Bagi yang nanya kapan sih cerita nya tamat kok gak tamat tamat. sabar ya sayang sayangku. sanggrainily lagi mau selesain ceritanya sesuai alur yang udah di pikirkan. Kalau di paksai tamat takut ga nyambung ceritanya
Dan banyak yang bilang, kok makin banyak drama. Kalau gak ada drama bukan kehidupan namanya sayang hehe.
kok cerita nya sedih Mulu. Karena dari awal sanggrainily udah kasih tau, di cerita ini banyakan sedihnya tapi bukan berarti sedih melulu.
Masalah ending nya happy ending atau sad ending itu belum bisa di pastikan. Lihat saja entar gimana ya kakak kakak.
salam sayang dari sangrainily untuk kalian semua💕
jangan lupa like, coment dan berikan vote nya ya kakak-kakak💕
__ADS_1
selamat hari raya Idhul Fitri juga untuk yang merayakan, mohon maaf lahir dan batin💕*