Ibu Sambung

Ibu Sambung
Marahnya Arvan


__ADS_3

Syifa masuk ke dalam kamarnya, menghela nafas dengan panjang. Kepalanya terasa sangat pusing, ia yakin jika mamanya pasti sangat sedih dengan apa yang terjadi.


Semenjak meninggalnya baby Al, dan perginya Caca dan juga Arvan. Keluarga mereka benar-benar berantakan, selalu ada saja keributan di rumah. Tidak pernah ada ketenangan, dan juga mamanya selalu menangis..


Entah karena merindukan Al, atau karena takut kehilangan Khanza.


Begitu juga dengan keributan yang selalu Alana berikan di keluarga. Syifa pun tak mengerti, mengapa sifat adiknya yang satu itu sangat buruk.


Syifa berharap agar Alana bisa segera memperbaiki dirinya! Kasihan mama mereka jik terus menangis karena tingkah Alana yang buruk.


Syifa merindukan adiknya yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ia memutuskan untuk menghubungi Raisa.


Syifa tersenyum senang saat Raisa mengangkat panggilan teleponnya. Karena Raisa sangat Sulit sekali mengangkat panggilan telepon jika Syifa menghubunginya.


"Raisa bagaimana kabarmu? Kakak sangat merindukan mu!"


"Baik kak, Raisa, Mami, dan Daddy sangat baik di sini. Namun, kondisi Daddy belum memungkinkan untuk kita kembali ke Indonesia. Bagaimana kabar kakak?"


"Kakak baik, Kakak berharap agar kalian segera kembali. Kamu tahu, Khanza sangat membutuhkan mami dan juga Daddy. Bahkan, mereka tidak pernah berbicara sedikit pun selama tujuh tahun belakangan ini!"


"Iy-iya kak, mami ingin sekali berbicara dengan Khanza namun mami fokus ke Daddy. Bahkan Raisa juga jarang berbicara dengan mami,"


Terdengar suara di seberang telepon, wanita itu berbohong dengan keadaan..


Padahal Raisa yang selalu melarang Caca untuk berbicara kepada Khanza. Karena ia tahu jika Caca berbicara dengan adiknya, Caca pasti akan ingin cepat ke Indonesia.


******


Raisa duduk, ditemani oleh sahabatnya Sherly. Sebenarnya ia sangat malas berbicara dengan Syifa, namun jika ia tidak mengangkat Raisa takut jika kakaknya akan menyusul mereka ke Malaysia.


"Kakak jangan khawatir, di sini Raisa akan menjaga mami dan Daddy. Raisa juga merawat Daddy dengan baik!"


Syifa mengatakan jika ia tidak meragukan Raisa. Namun Syifa ingin Rais memberikan kesempatan kepada Khanza untuk bicara dengan ibunya mereka.


"Kak, bukannya Raisa enggak mau. Raisa ingin, lagipula apa untungnya Raisa melarang mami bicara dengan adik kita Khanza? Namun saat bicara dengan Khanza, mami selalu saja menangis. Merindukannya, bahkan sakit. Kak, Raisa harap kakak mengerti! Kalau mami terus bicara dengan kalian, mami akan kepikiran lalu sakit! Biar kan mami sekarang fokus dulu dengan kesembuhan Daddy. Setelah Daddy sembuh, Kita akan kembali ke Indonesia. Dan kita akan berkumpul seperti dulu!"


Raisa pun mencoba merayu kakaknya, agar Syifa tidak terus memaksa ingin bicara dengan mami mereka.


"Baik lah, kakak percayakan semuanya kepada kamu. Dan saat kondisi Daddy sudah baik, kalian harus segera kembali oke?" Syifa memperingati adiknya kembali, Raisa hanya mengiyakan lalu keduanya menutup panggilan itu satu sama lain.


Raisa menghela nafas lega, memegang dadanya yang berdegup kencang "Huft! Akhirnya kakak ku bisa di buat mengerti, jika tidak ia pasti akan menyusul ke sini!"

__ADS_1


Sherly bertanya kepada temannya mengapa Raisa begitu sangat egois "Raisa, mengapa kamu sangat egois? Kakak dan adik mu juga membutuhkan mami dan juga Daddy mu?"


"Kau tidak mengerti, Sherly! Mereka tinggal bersama mama shinta. Aku yakin, Khanza juga tidak akan kekurangan kasih sayang di sana! Aku sudah terbiasa menjadi anak satu-satunya di rumah. Aku tidak ingin, kasih sayang dan perhatian mami terbagi lagi. Kak Syifa bukan ancaman bagiku, karena ia sudah memiliki ibu sambung yang sangat baik seperti mama Shinta. Bahkan, jika memilih kakak ku lebih memilih mama Shinta daripada mamiku,"


"Lalu jika begitu, mengapa kau khawatir?"


"Aku khawatir dengan Khanza! Mami ku akan menyayangi dia. Mungkin akan melupakan aku seperti dulu, aku terabaikan! Aku tidak mau itu terjadi!"


"Tapi, belum tentu itu seperti yang kamu pikirkan. Mungkin saja, Khanza akan lebih dekat dan memilih mama Shinta mu. Karena dari kecil, ia yang merawat dan menjaganya."


Raisa terdiam, ia tidak mau memikirkan itu "Sudah lah! Lebih baik kita memikirkan pesta nanti malam!"


"Kau ini, kau tidak ingin kedua orang tua mu membagi kasih sayangnya kepada saudara mu yang lain. Namun setiap hari yang ada di pikiranmu hanya lah berpesta. Kau tidak kasihan melihat mami mu yang repot di rumah sendiri mengurus Daddy mu?"


"Sudah lah biar kan saja! Lagipula, Daddy juga sudah lebih baik. Mami sudah terbiasa dengan itu semua!"


Sherly tertawa dan menggeleng, sungguh baru kali ini ia melihat manusia yang begitu egois seperti Raisa.


Bagaimana ia ingin mendapatkan kasih sayang yang utuh, sedangkan dirinya sendiri masih mengabaikan kedua orang tuanya?


*******


Di kediaman Caca, ia berbicara dengan suaminya "Sayang, padahal aku senang karena kondisi mu sudah membaik. Kita akan bertemu dengan anak kita Khanza, dan Syifa. Namun kita juga enggak bisa egois meninggalkan Raisa sendiri melanjutkan kuliahnya. Hanya beberapa tahun lagi, kita akan kembali ke Indonesia bertemu dengan Khanza. Pasti dia sudah besar dan tumbuh menjadi anak yang pintar."


Senyuman Caca memudar, ia bingung harus mengatakan apa "Kenapa diam? Mana ponsel mu? Aku ingin bicara dengan anak kita!"


"Hem, pon-ponsel ku ada di Raisa!"


"Ada di Raisa? Bagaimana bisa? Bukan kah ia memiliki ponsel sendiri, lalu untuk apa ponsel mu?"


"Raisa takut, aku tidak fokus menjagamu jika ada ponsel. Sebab itu, beberapa tahun belakangan ini, aku tidak memakai ponsel lagi, aku hanya ingin fokus merawat mu saja!"


"Beberapa tahun belakangan ini? Tandanya, kau tidak pernah berbicara dengan anak-anak kita yang lain?"


Caca mengangguk ragu "Astaga! Bagaimana bisa? Apa kamu tidak merindukan mereka?""


Arvan merasa tidak percaya, begitu kasihan sekali Khanza. Jangan kan di kunjungi, bahkan tidak pernah di kabarin oleh kedua orang tua kandungnya..


"Sudah beberapa lama?"


"Tujuh tahun belakangan ini, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan mereka. Bahkan dengan Shinta,"

__ADS_1


Arvan menggeleng, ia tidak percaya jika istrinya bisa melakukan itu.


"Sayang, apa kamu tidak merindukan mereka?"


"Aku sangat merindukan mereka semua, namun yang aku pikirkan saat ini adalah kesembuhan kamu. Setelah kamu sembuh kita juga akan kembali bersama mereka di sana,"


Arvan mengangguk "Iya kamu benar, setelah kita kembali. Kita akan berkumpul dengan mereka namun kita kehilangan momen tumbuh kembang mereka, waktu memang gratis. Namun kita enggak bisa kembali ke waktu itu, dan bagaimana dengan Khanza? Apakah dia tidak merindukan kedua orang tuanya?"


Caca menggeleng "Tidak! Yang dia tahu mamanya adalah Shinta, dulu Shinta pernah memberitahukan kepadanya. Jika Shinta bukan orang tua kandungnya, namun Khanza tidak bisa menerima itu. Ia jatuh sakit, dan aku meminta tolong kepada Shinta untuk jangan memaksa Khanza. Biarkan Khanza mengira jika ibu kandungnya adalah Shinta, hingga kita kembali dan akan menjelaskan semuanya kepada Khanza."


"Lalu, apa kamu mengira jika Khanza bisa menerima semuanya saat ia semakin besar? Lalu apa yang kita katakan jika Khanza bertanya. Di mana mami dan Daddy nya selama ini? Mengapa ia tinggal bersama orang asing? Mengapa dia tidak tinggal bersama kedua orang tua nya? Mengapa ke dua orang tuanya tidak pernah mencoba menghubunginya dan menanyakan kabarnya? Kamu udah siap dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang akan di lontarkan oleh anak kita?"


Caca terdiam, ia tahu jika nanti dirinya akan kesulitan membuat Khanza mengerti. Namun ia akan berusaha untuk membuat anaknya mengerti


"Setelah Raisa kembali, kamu minta ponsel mu dan kita akan berbicara dengan anak-anak kita!"


Caca mengangguk, selama ini ia memang hanya fokus dengan kesembuhan Arvan tanpa memikirkan bagaimana perasaan Khanza dan juga Syifa tanpa kabarnya selama bertahun-tahun.


Semua ini bukan sepenuhnya kesalahan Caca, Raisa lah yang selalu mencuci otak Caca. Agar Caca fokus dengan kesembuhan Daddy-nya saja!


Arvan memeluk istrinya, ia juga tidak lupa mengucapkan terimakasih karena Caca sudah sabar merawat dan menjaganya selama sepuluh tahun ini "Terimakasih kamu udah setia menjaga dan merawat aku dengan sabar, bahkan tidak pernah mengeluh dengan keadaan ini. Terimakasih sayang, aku mencintaimu!"


"Aku juga mencintaimu, aku ingin keluarga kita kembali utuh seperti dulu lagi, aku sangat tidak berdaya dan tak sanggup melihatmu sakit seperti kemarin!"


"Sudah lah, saat ini aku sudah kembali pulih! Semuanya akan baik-baik saja, kita juga akan segera kembali ke Indonesia, bertemu dengan yang lainnya di sana."


Caca memeluk suaminya dengan erat, begitu juga dengan Arvan


Sudah larut malam, dan Raisa belum juga kembali.


"Sudah semalam ini, kenapa dia belum kembali?"


"Tadi Raisa mengatakan kepada ku, jika ia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya. Mungkin, sebentar lagi akan pulang!"


Benar saja, Raisa masuk ke dalam apartemen dengan langkah yang sempoyongan.


"Raisa dari mana kamu?" Arvan bertanya kepada anaknya, ia tahu jika anaknya habis minum alkohol


"Daddy, Raisa sedang berpesta sangat meriah. Daddy mau ikut?" Raisa menjawab dengan tidak sadar, membuat Arvan marah dan kesal!


"Apa yang kamu lakukan, kamu sangat keterlaluan!"

__ADS_1


Caca membuat suaminya untuk tenang "Sayang, sudah lah! kita akan membahas ini besok, sekarang kamu istirahat lah!"


__ADS_2