
Dari luar pintu, Syifa melihat mama nya yang begitu bahagia. Hatinya pun menjadi tenang, ia juga tersenyum. Syifa sengaja memberikan ruang untuk mama nya agar sang mama bisa berbicara dengan luas dengan sang kakek.
"Nak, kamu ngapain?" suara itu mengejutkan Syifa, ia menoleh ke belakang "Papa, hampir saja Syifa kehilangan detak jantung. Kaget banget,"
Syifa menggelengkan kepala nya, membuang nafas nya dengan teratur, Revan kembali bertanya kepada anak nya sedang apa Syifa berdiri di luar pintu. Revan mengira jika Shinta tak membiarkan anak mereka masuk karena kesal pada diri nya.
"Astaga pa, Papa selalu saja berfikiran yang tidak baik. Bukan begitu, bahkan tadi Syifa dan mama mengobrol. Grandpa menghubungi mama, Syifa nggak mau ganggu pembicaraan Grandpa dengan mama. Makanya Syifa keluar."
Revan mengerutkan dahi nya, ia pun mencubit pipi sang anak "Jika kamu nggak mau mengganggu mama dan kakek mu bicara, lalu untuk apa berdiri di sini. Apakah itu sopan?" ujar Revan yang menegur anak nya, Syifa pun menyengir. Ia segera meminta maaf kepada papa nya.
"Maaf pa, Syifa hanya ingin memastikan saja jika mama tidak bersedih lagi." tuturnya dengan wajah yang menggemaskan.
"Dasar anak nakal! Lebih baik, kita melihat adik-adikmu bermain." ajak Revan kepada sang anak, Syifa pun mengiyakan ucapan sang papa.
Ayah dan Anak itu pun pergi meninggalkan Shinta yang sedang berbicara kepada Gunawan melalui telepon.
Terlihat, Shinta lebih baik dari sebelumnya. Keduanya pun saling mengakhiri panggilan tersebut karena Ayah Gunawan harus menemui Ibu Syafa. Dan menyelesaikan pekerjaan nya.
__ADS_1
Shinta meletakkan ponsel pribadi nya di atas meja.
Lusa, aku akan ke rumah Ayah dan Ibu, Aku yakin. Ibu tidak akan marah lagi. ~Gumam nya.
Shinta yang merasa sedikit mengantuk pun membaringkan tubuh nya, mencoba untuk memejamkan mata.
************
Revan yang tak ingin jauh dari sang isteri pun mencari alasan kepada puteri nya agar kembali ke kamar.
Nggak Boleh!
Revan kaget dengan jawaban si kembar Alan dan Alana.
"Papa di sini aja! Main sama kita, iyakan Alan?" ujar Alana kepada saudara kembarnya, Alan pun mengangguk mengiyakan ucapan Alana.
"Dek, Alan dan Alana main sama kakak aja ya? Papa lelah loh itu, bagaimana jika papa sakit. Alan dan Alana mau jika papa sakit?"
__ADS_1
Dengan kompak si kembar pun menggeleng, Revan membuang nafas dengan santai. Akhirnya, ia bisa terlepas dari anak-anak nya. Bukan nya Revan tak ingin bermain dengan anak-anak nya. Namun saat ini, Revan junior sudah tak sabar bertemu dengan pemilik nya.
Untung saja anak gadis ku sudah dewasa dan mengerti papa nya. Papa menyayangi mu nak ~batin Revan kepada puteri sulung nya.
Dengan wajah cemberut, Alana dan Alan pun mengizinkan papa nya untuk masuk ke dalam kamar. Syifa menghibur ke dua adik kembar nya. Begitu lah menjadi kakak yang memiliki banyak adik, harus bisa sabar menghadapi sifat mereka yang berbagai macam.
Revan pun berpamitan kepada anak-anak nya, dengan penuh semangat empat lima ia segera bergegas menuju kamar.
Bruk!
Akibat tidak sabar junior milik Revan, ia pun menabrak tembok.
Hahahaha
Revan melihat ke dua anak kembarnya yang menertawakan diri nya saat ini. Syifa menahan tawa, tak berani tertawa saat papa nya melihat kearah mereka.
Bisa habis aku di marahi papa jika tertawa ~batin nya.
__ADS_1