
Shinta yang selesai mengurus ayah dan ibu nya pun masuk ke dalam kamar anak-anak untuk melihat keadaan baby Khanza dan Al.
Baby khanza menangis begitu kencang, ia pun mendekati baby Khanza dan menggendong nya dari gendongan baby sister.
"Ada apa? Mengapa baby Khanza menangis?"
"Maaf Nyonya, Nona Khanza menangis karena persediaan ASI nya sudah habis. Seperti nya nona Khanza haus."
Shinta pun menenangkan baby Khanza yang begitu rewel. Shinta coba menghubungi Caca meminta izin kepada Caca untuk memberikan ASI nya kepada baby Khanza.
Shinta tidak mau Caca salah paham atau merasa tersinggung, namun Caca tidak menjawab ponsel nya.
Shinta pun menghubungi Arvan dan Syifa. Namun tidak ada yang menjawab satu pun. Baby Khanza semakin menangis dengan kencang.
Tidak ada pilihan lain, Shinta memberikan ASI nya secara langsung kepada baby Khanza. Ia tidak tega melihat Khanza menangis karena kehausan.
Shinta yakin, jika Caca tidak akan marah pada nya.
Setelah Shinta memberikan ASI nya kepada baby Khanza. Baby Khanza menjadi tenang dan langsung tertidur.
Shinta memberikan baby Khanza kepada baby sister pribadi Caca..
"Terimakasih banyak nyonya, karena nyonya sudah membantu saya."
"Jangan seperti itu, kalian juga keluarga ku. Dan Khanza juga sudah aku anggap seperti anak ku sendiri."
Shinta melihat ke arah anak nya yang masih bayi, ia tersenyum. Jika Kaynara ada di sini, pasti semua akan berkumpul.
Umur anak-anak mereka juga jarak nya tidak terlalu jauh, hanya beberapa bulan saja.
"Nyonya, apakah nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya salah satu baby sister itu.
Shinta menggeleng, ia mengatakan jika dia membutuhkan sesuatu pasti akan mengatakan nya.
Shinta mengajak ke dua baby sister itu untuk bercanda bersama. Awal nya ke dua baby sister tersebut merasa canggung, namun lama-lama mereka terbiasa.
"Nyonya sungguh baik." puji baby sister pribadi Caca.
Caca juga baik, namun Shinta lebih akrab bisa berbaur dengan mereka.
Setiap orang memiliki sifat dan cara nya tersendiri untuk berbaur dengan orang lain.
Shinta memang tipikal orang yang mudah bergaul, sedangkan Caca sangat sulit berbaur dengan orang lain atau bisa di bilang orang yang memiliki kepribadian yang introvert.
Revan masuk ke dalam kamar anak-anak untuk menemui sang isteri. Shinta melihat ke arah suami nya dan bertanya apakah Revan membutuh kan sesuatu.
Revan melirik ke arah ke dua baby sister itu. Shinta mengerti, ia langsung bangkit dan permisi kepada baby sister nya untuk keluar
"Saya harus ke luar dulu, tolong jaga anak-anak ya?" pinta Shinta kepada ke dua baby sister itu.
"Baik nyonya." jawab ke dua nya secara bersamaan.
Shinta ke luar dari kamar mengikuti anak nya, ia pun masuk ke dalam kamar mereka dan bertanya kepada suami nya ingin apa
__ADS_1
""Ada apa?"
Revan mengerutkan satu dahi nya, isteri nya memang sungguh wanita yang begitu tidak peka.
Revan juga ingin di perhatikan, namun Shinta malah mengabaikan nya.
"Anak-anak sebagian pergi bersama Caca dan Arvan. Ibu dan Ayah juga sudah tidur, begitu juga dengan Khanza dan Al. Sekarang, hanya aku yang belum kau urus."
Shinta tidak mengerti dengan suami nya, sekarang ia begitu manja dan bucin.
"Aku harus mengurus mu bagaimana?"
"Entah." jawab Revan yang manja nya, Shinta hanya menggeleng melihat tingkah suami nya itu.
Shinta pun membujuk suami nya yang sedang ngambek, mengelus dada Revan dengan perlahan lalu memeluk nya.
"Maaf kan aku, jangan ngambek lagi ya?" ujar Shinta dengan manja, melihat tingkah manja isteri nya Revan langsung tersenyum senang.
Melihat keromantisan dari ayah Gunawan, seperti nya dia belajar dari ayah mertua nya itu.
Revan ingin memanjakan wanita yang ia cintai sampai menua nanti, kehadiran Shinta mampu merubah sikap dingin Revan.
walau ia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan nya.
Namun sekarang, Revan sudah mulai berani bersikap manja kepada isteri nya itu.
*************
"Kakak, kan yang membelikan ini kak laisa, Alana nggak mau kok."
Syifa membuang nafas nya dengan kasar, mau tidak mau dia pun mengizinkan Alana untuk memakan ice cream.
"Ya sudah, Alana makan saja."
"Hole!"
Dengan semangat Alana memakan ice cream tersebut. Kini, ia sudah menghabiskan dua cup besar dan satu cup kecil ice cream.
Alan hanya menggeleng melihat tingkah saudara kembar nya itu.
Setelah selesai makan ice cream, Caca mengajak anak-anak untuk pulang ke rumah.
Alana pun mengucapkan terimakasih kepada Raisa Karena sudah membela nya..
"Kakak, telimakasih."
"Untuk apa?"
Tanya Raisa yang tersenyum kepada Alana, Alana pun menjawab karena sudah memberikan nya nya ice cream.
"Sama-sama, tapi lain kali Alana nggak boleh sering-sering makan ice cream ya?"
"Iya kak, mama dan papa juga nggak kasih Alana."
__ADS_1
Mereka pun menuju mobil untuk naik ke dalam mobil, Syifa diam Saja. Raisa tahu jika kakak nya itu marah pada nya. Raisa pun hanya diam saja, ia akan meminta maaf kepada kakak nya jika sudah sampai di rumah saja.
Caca dan yang lain nya pun sudah sampai di rumah, Syifa meminta kepada Alan dan Alana untuk masuk ke dalam kamar, ke dua kembar itu pun menuruti permintaan adik-adik nya.
Raisa memanggil Syifa, Syifa menghentikan langkah nya.
"Kak, Raisa tahu jika kakak marah pada ku, maafkan Raisa kak. Raisa hanya ingin membuat hati Alana senang saja."
Syifa menoleh ke arah Raisa. Ia pun ingin adik-adik nya bahagia, namun tidak dengan memanjakan nya terutama kepada Alana.
"Kakak juga ingin melihat kamu, Alana, Alan, baby khanza dan Al bahagia. Tapi, tidak seperti ini. Alana begitu manja dan kita tidak bisa terus memanja kan nya. Dia akan begitu terus sampai dewasa nanti, kakak nggak mau karena sifat manja nya itu membuat mama dan papa kakak menjadi repot."
"Kak, kakak jangan khawatir! Alana masih anak-anak, mungkin kakak seperti itu karena menganggap aku tidak memiliki hak atas Alan dan Alana. Maaf kan Raisa kak, tapi sejak kecil Raisa hanya sendirian. Raisa tidak bisa mendapatkan apa yang Raisa inginkan walau itu hanya hal yang kecil. Raisa nggak mau, hal itu terjadi kepada Alana, Alan, Khanza atau Al. Jika kakak menganggap Raisa bersalah. Raisa minta maaf."
Syifa membuang nafas nya dengan kasar, ternyata Raisa tidak memahami maksud dari Syifa.
"Kamu memiliki hak atas mereka, kamu juga kakak nya Alan dan Alana. Tapi, kakak nggak mau kamu terlalu memanjakan mereka. Bagaimana jika nanti nya, Setiap apa yang di larang oleh kami. Ia langsung datang pada mu, memanfaat kan kasih sayang dan ketidak tegaan mu."
"Maaf kan Raisa kak."
Syifa pun memeluk Raisa dengan erat, dia tidak marah kepada Raisa. Dia hanya sedikit kesal, Syifa berharap jika Raisa tidak melakukan ini lagi.
Syifa harus bersikap tegas kepada adik-adik nya agar mereka tahu aturan dan tidak bersikap dengan seenak nya.
Raisa menangis di pelukan Syifa, Syifa menenangkan adik nya itu.
Caca yang baru keluar dari mobil bersama suami nya pun mendekati anak-anak nya.
"Sayang, ada apa? Mengapa Raisa menangis?" tanya Caca kepada Syifa.
Raisa melepaskan pelukan nya dari Syifa, ia pun mengatakan jika diri nya merasa bahagia memiliki kakak seperti Syifa.
"Raisa hanya terharu ma, memiliki kakak sebaik kak Syifa."
Caca dan Arvan pun tersenyum, mereka senang melihat anak-anak nya kompak seperti itu.
"Mami berfikir jika kalian bertengkar. Mami senang melihat kalian begitu kompak, tetap seperti ini anak-anakku."
Syifa dan Raisa mengangguk. Caca memeluk ke dua Puteri nya.
"Kalian boleh bertengkar, karena setiap saudara pasti akan selalu bertengkar dan memiliki perbedaan. Namun, jangan alasan perbedaan pendapat kalian sebagai permusuhan. Kalian harus bisa menghadapi perbedaan yang ada." ujar Arvan.
Caca mengajak anak nya untuk masuk ke dalam rumah.
Rumah begitu sepi, Caca langsung masuk ke kamar ayah dan ibu angkat nya. Namun, pintu kamar nya tertutup.
Caca tidak enak jika harus masuk, ia pun mengurungkan niat nya.
"Lebih baik aku melihat keadaan ibu nanti saja."
Caca mencari keberadaan Shinta yang tidak kelihatan ia sengaja menghindari suami nya.
Caca tidak tahu harus bagaimana, ia pun tak bisa membohongi diri nya jika hati nya merasa sakit mengetahui kebenaran yang menyakitkan itu.
__ADS_1