
"Kau bisa sebisa mu melarang ku bertemu dengan Papa. Tetapi, jika itu di rumah! ada mama yang selalu membela mu. Kau tidak bisa mencegah ku bertemu papa jika di luar rumah! kau nggak ber hak mengatur kehidupan aku. Di mana aku ingin tinggal!"
"Aku berhak karena aku kakak mu! Jika kau tidak keterlaluan, aku tak mungkin bersikap seperti ini pada mu, Krys! bahkan aku sudah memohon pada mu demi keselamatan papa, bahkan kau tidak perduli. Mama dan papa begitu menyayangi mu, tapi itu balasan mu pada mereka. Aku begitu kecewa."
"Henti kan, Queen! aku bosan dengan ucapan mu yang terus-terus an mengulang hal yang sama! aku sudah tahu, kau akan berkata aku tega, tidak tahu diri. Kau kecewa begitu kan? terserah kau saja! aku tidak perduli, tapi yang pasti. Kau nggak mempunyai hak untuk mengatur kehidupan aku."
"Dan apa kata mu? Mama dan papa menyayangi ku? iya, memang benar. Papa selalu menyayangi dan memanja an ku. Tapi, tidak dengan mama! Mama tidak pernah menganggap ku ada, bahkan mama selalu memarahi dan memukul ku sejak kecil. Berbeda dengan perlakuannya pada mu! Bahkan, aku sakit. Mama tidak perduli, bukan nya merawat ku sakit, mama semakin menghina dan memaki ku dengan kata-kata nya yang manis namun menyakit kan itu. Mama hanya menyayangi mu, Queen! bukan aku! apa yang aku lakukan selalu salah di mata nya. Yang dia tahu, aku hanyalah anak yang selalu membuat masalah. Anak yang tidak tahu untung! sekarang, kau pergi lah. Jika kau tidak ingin aku pulang kerumah, baik lah! aku tak akan pulang kerumah dan aku tak akan menerima hotel yang sudah kau siap kan! aku bisa hidup mandiri!" tegas Krystal. Air mata nya sudah membanjiri pipi manis Krystal.
Queen, juga menangis. Ia bukan membenci adik nya, ia hanya kecewa. Queen melarang Krystal menemui sang ayah karena tak ingin sang ayah terkena serangan jantung kembali. Queen tak akan sanggup jika harus kehilangan ayah nya.
"Kapan kau bisa mengerti kasih sayang kami, Krys? kapan kau bisa memahami nya." teriak Queen, sedang kan Krystal memilih untuk berbaring dan memejam kan mata nya.
Raffa masuk ke dalam kamar inap Krystal. Melihat Queen yang menangis, Raffa tahu jika di antara adik dan kakak ini sedang berdebat.
"Queen, sedang apa kau di sini?"
"Tidak, aku hanya memberitahu jika papa sudah baik-baik saja. Aku akan keluar." Queen pun memilih keluar ketimbang harus berdebat lagi dengan mantan suami sekaligus calon adik ipar nya.
"Apa dia membuat keribuatan lagi?"
__ADS_1
"Enggak! dia cuman bilang, aku harus jauhi papa."
"Apa maksud nya?"
"Aku harus menjauh dari papa."
"Apa dia sudah gila?" kesal Raffa.
"Tidak! kakak hanya menginginkan yang terbaik untuk kesehatan papa, papa tadi terkena serangan jantung. Raffa, sebaik nya kau pulang Saja. Beberapa hari lagi pernikahan kita, kau harus istirahat."
"Aku akan menemani mu di sini. Kau harus sehat dulu, Krys! aku nggak mau kamu terus-terus an sakit dan menangis. Aku mau kamu bahagia, Krys!"
"Kita sudah membicara kan hal itu sebelum nya, Krys. Aku nggak mau bahas lagi."
"Iya, kak. Aku nggak akan bahas atau bantah kamu lagi, bagaimana pun kamu itu adalah calon suami ku. Sebentar lagi akan menjadi suami ku."
"Gitu, dong. Aku senang lihat kamu tersenyum begini."
"Kamu bisa aja." tatapan teduh Krystal membuat Raffa semakin menyayangi nya.
__ADS_1
Aku nggak salah mencintai wanita sebaik kamu, Krys! bahkan kamu rela di pandang buruk demi kebahagiaan dan melindungi orang-orang yang kamu sayangi. Aku bangga memiliki wanita seperti mu. Andai mereka tahu, sebaik apa kau. Pasti mereka akan menyesal karena sudah memandang mu buruk.
***********
Shinta masuk ke dalam kamar, pikiran nya begitu sangat kacau. Revan menghampiri diri nya
"Ada apa? mengapa kau menangis?" tanya Revan yang memeluk isteri nya dengan lembut. Shinta memangis di dalam peluk kan suami nya.
"Maafin, papa ku. Aku tahu, perkataan nya membuat mu terluka." ujar Revan yang menyesal, ia mengerat kan pelukkan nya. Mengecup pucuk kepala Shinta dengan penuh cinta.
"Aku nggak apa-apa kok. Papa nggak salah, mungkin aja aku yang terlalu berlebihan."
Drt....drt.....
Ponsel Revan berbunyi
"Sebentar aku harus mengangkat telepon dahulu. Ini dari Arvan." Shinta melepas kan peluk kan nya dan mengangguk
"Angkat lah, siapa tahu itu penting."
__ADS_1
********