Ibu Sambung

Ibu Sambung
Season 2 - Memanggil


__ADS_3

"Tenang lah, Sayang. Papa mu nggak akan kenapa-kenapa." kali ini sikap sang mama begitu sangat jauh berbeda, jika dengan Krystal penuh dengan kebencian. Kini, dengan Queen penuh dengan kelembutan layak nya seorang ibu yang begitu penuh cinta dan kasih sayang.


"Ma, papa."


"Sudah, Sayang. Sudah!" bahkan Queen tak sanggup berkata apa-apa lagi, ia sangat kecewa dengan adik nya. Adik yang selalu ia sayangi dan ia lindungi bisa berbuat sejahat ini kepada mama dan papa nya.


Queen masih berada di pelukkan mama nya. Namun, jemari nya menggenggam tangan sang papa dengan erat. Queen tiada henti berdoa untuk papa nya.


"Jangan sakit, Pa! jangan tinggalin Queen."


"Papa tidak akan meninggal kan kita, Sayang. Papa akan berkumpul kembali pada kita. Jika perlu, kita akan berlibur pada papa." Queen pun mengangguk dengan penuh harap


******


Sesampai nya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa keadaan papa nya. Queen yang melihat adik nya pun mendekati sang adik.


Plak...!


Satu tamparan lagi melayang di pipi Krystal, Krystal pun tak banyak bicara. Ia hanya bisa terdiam dan menahan tangis nya.


"Puas kamu? puas, Krys?"


"Ak-ak."


"Diam!" bentakan Queen membuat Krystal tersentak kaget.


"Jangan bicara apapun lagi! kau sudah terlalu banyak bicara dari kemarin! sudah cukup! cukup kau sakiti papa!" Krystal mendongak kan wajah nya, ia menatap mata sang kakak yang begitu penuh dengan kebencian terhadap diri nya. Tak ada lagi keteduhan dari mata sang kakak untuk diri nya.


Bahkan sekarang, kakak sangat benci padaku ~batin Krystal.


Queen menghapus air mata nya, tatapan nya begitu sangat tajam menatap Krystal.


"Pergi!"


"En-enggak kak! aku ingin bersama papa. Tolong, jangan usir aku, kak!" kini, Krystal berlutut di hadapan kakak nya. Namun, Queen yang sudah terlanjut kecewa menjauh dari adik nya.


"Kak, aku mohon!" suara Krystal melemah.


"Sikap mu ini tidak bisa di maafin, Krys! kau sudah sangat keterlaluan, kemarin kau ingin membunuh ku masih bisa ku maaf kan tapi ini. Kau membuat papa tidak sadar kan diri."


"Apa? ingin membunuh?" tanya mama dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Apa kau ingin membunuh anak ku? kurang ajar!" krsytal mendapat kan pukulan berkali kali dari mama nya. Queen hanya memejam kan mata menahan sakit mendengar adik nya di pukuli, dulu ketika mama memukuli Krystal, Queen selalu marah dan melindungi adik nya. Tetapi, kali ini bagi nya Krystal sudah sangat keterlaluan, walau ia tak tega namun Queen merasa itu pantas di dapat kan oleh adik nya.


Tiba-tiba semua menjadi hening, Queen melihat pria yang saat ini melindungi tubuh kecil Krystal. Pria itu adalah calon suami Krystal yang bernama Raffa.


"Cukup Tante! dia ini anak Tante, bukan binatang." jawab nya santai.


"Raffa?" panggil Queen. Raffa pun menatap tajam pada Queen.


"Apa ini, Queen? apakah kau benar Queen kakak dari calon isteri ku atau orang lain?" pertanyaan Raffa membuat Queen membungkam.


"Kalian nggak layak giniin dia!"


"Jangan campuri urusan keluarga kami!"


"Wajar aku ikut campur, Krystal adalah calon isteri ku. Aku nggak akan terima jika orang lain menyakiti nya."


"Coba tanyakan pada isteri mu! apa yang sudah ia lakukan! tanya pada nya!" teriak Queen pada Raffa.


"Shttt! kecil kan nada suara mu calon kakak ipar! atau satu rumah sakit ini akan merasa terganggu!"


"Bawa lah dia pergi bersamamu! kami tak ingin melihat wajah nya." usir Queen pada Raffa.


******


"Kenapa lama sekali?" dengan manja wanita hamil itu memeluk suami nya.


"Aku sudah menyelamat kan kedua orang tua, Queen."


"Benar kah? syukur lah kalau begitu, akhir nya kita tak perlu khawatir. Kau memang suami ku yang sangat hebat." Shinta mengecup pipi Revan berkali-kali.


"Aku sangat bangga pada mu, Suami ku." puji nya kembali, Revan pun tersenyum melihat tingkah isteri nya. Namun, ada satu hal yang membuat nya merasa janggal. Shinta mendongak kan wajah nya melihat wajah suami nya.


"Apa apa? mengapa kau tak merasa senang? bukan kah kedua orang tua Queen sudah kembali dengan selamat?"


"Iya, tetapi ada hal yang aku tak mengerti."


"Apa?"


"Tadi, ketika aku sampai. Anak buah Elsa sudah tergeletak di lantai dengan lumuran darah. Siapa yang telah menyerang tempat itu dan menghabisi semua anak buah nya."


"Lumuran darah.?"

__ADS_1


"Iya, aku juga tak mengerti. Elsa juga tidak ada di situ.


"Sudah lah, tidak usah di fikir kan! musuh nya kan memang banyak, kita juga tidak bisa menjangkau sangkin banyak nya. Yang ada akan pusing karena memikir kan nya, yang terpenting. Kedua orang tua Queen sudah di temu kan. Tak akan ada lagi masalah, kita hanya perlu fokus pada keluarga kita." ucap Shinta. Revan pun merasa setuju.


"Mandi lah, Kau pasti sangat lelah. Aku akan membuat kan teh dan membawa kan nya kesini untuk mu." Shinta melepas kan pelukkan nya. Namun, Revan menahan isteri nya.


"Nanti saja, aku masih ingin di peluk oleh mu." goda Revan.


"Kau masih sangat bau, aku juga akan mual jika mencium bau badan mu begini. Mandi lah dulu!" Shinta melepas kan peluk kan itu dan menarik suami nya ke kamar mandi.


"Mandi lah, agar tubuh mu segar."


"Jika aku mandi, kau juga harus mandi." Revan pun menarik isteri nya ke dalam.


"Jangan!" teriak Shinta.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah mandi!"


"Ya mandi lagi, tidak ada yang ngelarang juga."


"Nanti aku masuk angin."


"Kau juga sudah masuk angin selama 9 bulan." ledek Revan.


"Aku serius, Sayang!" ucap Shinta.


"Kau tak akan masuk angin, jika suami mu ini menghangat kan mu." goda Revan kembali membuat Shinta merasa sangat merinding.


"Sayang, sudah! aku ingin menemui anak-anak." Shinta mencoba melepas kan diri.


"Aku juga ingin menjenguk anak kita yang ada di dalam, dia juga butuh perhatian dari papa nya." dengusan suara Revan membuat Shinta semakin merinding memejam kan ke dua mata nya. Namun, ia berusaha untuk tetap sadar.


"Sudah! lepas kan aku!"


"Nanti aku lepas kan, jika aku sudah mengunjungi anak ku di dalam." kini Revan sudah memain kan kuping Shinta mengguna kan lidah nya. Tangan nya membelai rambut Shinta dengan lembut.


"Sayang, Alan dan Alana memanggil ku." Shinta masih berusaha untuk kabur.


"Anak ku yang di dalam juga memanggil ku, bagaimana aku bisa mengabai kan nya?" Shinta pun membuang nafas dengan kasar, ia sadar jika diri nya tak akan bisa menang jika menghadapi kelaparan suami nya.

__ADS_1


__ADS_2