
Si kembar Alan, Alana menoleh saling pandang satu sama lain, kedua nya tersenyum, memainkan mata.
"Lencana kita sukses, nanti kita minta makan ice cleam sama papa." bisik Alana kepada saudara kembar nya itu. Alan menggeleng, saudara kembar nya itu hanya memikirkan makan ice cream saja. Namun, karena tak ingin sang adik merasa sedih, Alan mengiyakan ucapan Alana. Alana begitu gembira, ia pun menghampiri mama dan kakek nya, memeluk ke dua nya dengan sangat bahagia.
Syifa menghampiri Alan, ia berbisik di kuping adik nya itu.
"Ternyata, bukan hanya Alana saja yang ratu drama, adik kakak yang satu ini juga raja drama, mulai nakal sekarang." Alan tersenyum malu, ia mengatakan kepada kakak nya jika melakukan hal yang berlebihan untuk kebaikan semua orang itu tidak lah hal yang masalah.
"Demi keluaga kita, Alan akan melakukan apa saja, Kak. Alan nggak mau lihat Mama dan kakek malahan begitu."
"Iya, kalian memang adik-adik kakak yang terbaik. Kakak begitu bangga dengan kalian."
Setelah itu, semua nya makan malam dengan perasaan yang begitu bahagia, tidak ada kekesalan di dalam hati. Shinta memasak makanan kesukaan semua orang. Shinta yang tidak pintar memasak pun perlahan menjadi pintar memasak. Itu semua ia lakukan, untuk kesehatan keluarga nya.
"Mama."
"Iya, Sayang?" Shinta menoleh ke arah Alana, Alana mengatakan jika ia merindukan kakek dan nenek dari ibu nya.
"Kapan, kita akan ke lumah Oma?"
"Nanti ya nak, setelah papa tidak sibuk dan meluangkan waktu nya untuk kita." ucapan Shinta sengaja menyindir suami nya yang belakangan hari ini selalu saja sibuk, Revan menoleh ke arah Shinta. Diri nya pun sadar dengan sindirian dari sang isteri.
"Besok, setelah kakak Syifa pulang sekolah. Kita akan ke rumah Oma ya?"
"Benal, Pa?"
"Iya, Sayang. Apa pernah papa berbohong kepada anak papa?"
"Yeeeee." heboh Alana kembali, Shinta menyuruh anak-anak mereka nya untuk menghabiskan makanan nya lalu tidur. Setelah selesai makan, Syifa meminta izin untuk pergi ke kamar terlebih dahulu. Semua pun mengiyakan, Shinta yang selesai makan juga berpamitan untuk melihat baby Al di kamar nya.
Shinta berjalan, menaiki tangga. Masuk ke dalam kamar sang baby. Terlihat baby Al yang sedang rewel, pengasuh begitu kepayahan mengurus nya. Shinta mendekati anak nya, mengambil baby Al dari gendongan baby sister. Shinta menyuruh baby sister itu untuk tidur terlebih dahulu.
"Tapi, non."
"Tidak apa, tidur lah dulu. Ini juga masih jam tujuh, kamu masih bisa istirahat, jika tengah malam baby Khanza menangis dan rewel. Kamu bisa lebih fit menjaga nya, tapi sebelum tidur. Kamu pergi makan, dan minum susu ya? Saya nggak mau kalau kamu jatuh sakit atau tidak sehat."
"Iya,Non."
"Jangan iya-iya, awas jika kamu nggak makan dulu dan minum susu sebelum tidur. Saya akan memantau dari cctv. Paham?"
"Paham, Non." baby sister itu berlalu pergi dari kamar meninggalkan Shinta dan baby Khanza.
"Sayang, kenapa menangis nak? Mau bobok sama mama iya? Sini, Sayang." Shinta menimang anak nya dengan penuh kasih sayang. Tidak lama, terdengar suara pintu terbuka, langkah kaki si kembar masuk. Shinta memberikan kode kepada kedua anak nya untuk tidak berisik. Walau, Alana dan Alan terkadang nakal. Mereka, tidak pernah mengganggu waktu istirahat adik nya. Si kembar Alan, Alana pun dengan langkah perlahan menuju tempat tidur mereka, naik ke atas tempat tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, kedua nya sudah terlelap. Melihat baby Al juga sudah terlelap, Shinta meletakkan tubuh anak nya di keranjang baby. Shinta memandangi ke tiga wajah anak-anak nya saat itu.
Baby Al kembali rewel, seperti nya baby Al haus. Shinta mengambil baby Al dari keranjang bayi dan memberikan baby Al ASI. Anak nya itu pun meminum ASI nya dengan cepat seperti orang yang kehausan. Shinta tersenyum melihat tingkah baby Al yang begitu menggemaskan.
********
Ketika, Syifa menaiki tempat tidur dan ingin memejamkan mata. Suara ponsel nya berbunyi.
"Siapa ini? Mama dan Papa pasti akan marah, jika ada yang menghubungi ku malam-malam begini. Papa juga mengizinkan ku memakai ponsel hanya untuk kepentingan sekolah saja. Sebaik nya, aku tidak perlu mengangkat nya." ujar Syifa, Syifa pun mengabaikan panggilan tersebut.
Ponsel itu terus saja berbunyi, membuat Syifa begitu penasaran namun juga tidak berani melanggar janji nya kepada papa nya.
__ADS_1
"Mungkin saja, ini berhubungan dengan sekolah."
"Namun, jika tentang sekolah. Tidak akan menghubungi di luar jam sekolah apalagi sudah malam begini." ujar Syifa sendirian, ia merasa begitu bingung, harus mengangkat nya atau tidak. Syifa pun mengambil ponsel nya di laci, mematikan ponsel itu lalu memilih untuk tidur.
Keesokan pagi nya, rutinitas seperti biasa. Keluarga nya yang melakukan sarapan pagi sebelum melakukan aktifitas dan papa Revan yang mengantar Syifa ke sekolah.
Di sekolah, Tama menghalangi tubuh Syifa yang ingin masuk ke dalam kelas. Syifa menatap nya dengan penuh kesal.
"Aku mau masuk, apa kau tidak puas mengganggu ku kemarin bersama kekasih mu?"
"Tolong, jangan bicara seperti itu. Kemarin, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Maaf, aku harus masuk. Dan tidak ada yang perlu di bicarakan."
"Dua menit saja, aku mohon."
"Oke! Hanya dua menit, nggak lebih!" ketus Syifa kepada Tama.
"Aku suka sama kamu."
"Udah itu aja? Aku nggak ada waktu buat bicara yang nggak penting, sebentar lagi bel sekolah masuk, jadi minggir!"
"Aku serius, Syifa."
"Syifa." panggil Raisa kepada Syifa, Syifa menoleh ke arah Raisa. Terlihat Raisa bersama teman nya, Syifa tidak mengenali diri nya. Raisa dan teman nya itu mendekati Syifa.
"Syifa, kenalin. Ini teman sekamar ku, kami juga berasal dari panti yang sama, nama nya Lala." Syifa melirik sekilas kepada Lala, tersenyum mengenal kan diri nya, namun Syifa bersikap biasa aja kepada teman Raisa itu.
"Uda tau, tadi Raisa kan udah bilang. Sa, masuk kelas yuk, bentar lagi bel berbunyi." ajak Syifa kepada Raisa, Raisa berpamitan kepada Lala. Lala begitu sebal, tidak menjawab ucapan Raisa. Raisa dan Syifa pun masuk ke kelas, melewati Tama.
Sombong sekali gadis kaya itu, jika bukan karena untuk kepentingan pribadi ku. Aku juga malas mendekati orang sombong seperti mu, memang nya siapa kau. Awas saja, aku akan membalas mu nanti, ketika aku berhasil mendekati mu dan keluarga mu ~ Lala
Lala menatap kesal punggung Syifa dan Raisa dari belakang yang semakin jauh dari nya.
Bel berbunyi, Lala segera masuk ke dalam kelas.
Syifa dan Raisa duduk dengan di kursi mereka masing-masing
"Sorry ya, tadi aku udah lancang memperkenalkan mu kepada teman mu. Sebenarnya, aku tidak ingin namun ia selalu memaksa dari kemarin."
"Kenapa? Kenapa dia memaksa? Dan kenapa dia ingin berkenalan dengan ku?"
"Aku mengatakan jika kau dan keluarga mu begitu baik. Aku menceritakan segala nya yang terjadi di rumah mu, dia begitu sangat penasaran." kini Syifa mengerti, Syifa pun mengatakan kepada Raisa jika itu bukan kesalahan Raisa. Syifa juga menyadari niat buruk dari teman nya Raisa itu.
"Syifa, apa kau tahu. Semalam aku terlambat ke asrama, namun Daddy mu begitu baik, Daddy mu berbicara kepada kepala sekolah agar aku tidak di berikan hukuman. Kepala sekolah juga seperti nya sangat takut dan begitu menghargai keluarga mu."
"Terlambat? Bukan kah, kau kembali dari rumah ku dua jam lebih cepat dari jam yang di tentukan oleh pihak sekolah?" tanya Syifa dengan bingung.
"Iya, tapi mama mu mengajak ku singgah di toko ice cream ternama di kota ini. Awal nya aku menolak, namun mama dan Daddy mu memaksa. Akhirnya kami pergi makan ice cream."
"Mama dan Daddy ku memang baik, jika nanti mereka mengajak mu pergi. Jangan pernah menolak ya? Anggap saja keluarga ku seperti keluarga mu juga." ujar Syifa kepada Raisa. Raisa semakin kagum dengan sifat yang di miliki oleh Syifa. Anak lain, pasti akan marah jika teman mereka dekat dengan orang tua nya. Namun, Syifa bukan nya marah, ia justru mendukung Raisa untuk dekat kepada keluarga nya.
"Ap-apa kau tidak marah?"
__ADS_1
"Marah? Untuk apa? Keluarga ku melakukan hal yang sangat mulia, lalu kenapa aku marah?" Raisa menangis dan memeluk Syifa dengan erat.
"Ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Tidak, aku hanya ingin menangis saja."
Syifa melepaskan pelukan mereka, menghapus air mata Raisa yang membasahi pipi imut Raisa.
"Jangan menangis, hari-hari buruk mu telah berlalu. Kini, hidup lah dengan bahagia. Aku akan bersama mu, bukan hanya aku, tapi seluruh keluarga ku akan selalu mendukung mu."
"Terimakasih," ujar Raisa yang merasa terharu, Syifa tersenyum ramah kepada sahabat nya itu. Tama memandangi Syifa dari kejauhan, ia semakin kagum dengan sifat Syifa yang begitu baik. Berbeda jauh, dari sifat Amira. Yang begitu sombong dan selalu mengandalkan harta kedua orang tua nya, entah mengapa Tama bisa menjalani hubungan dengan Amira. Padahal, usia mereka masih sangat kecil. Mungkin, karena Amira teman dari kedua orang tua nya, mereka juga selalu bermain bersama sedari kecil.
"Walau kita sekelas, usia ku lebih muda dari mu. Apakah aku bisa memanggil mu dengan sebutan kakak? Itu pun, jika kau bersedia."
"Kau boleh memanggil ku apa yang kau ingin, kakak boleh, manggil nama juga boleh. Kau bebas memanggil ku apa saja."
"Terimakasih banyak, Kak. Kau sungguh sangat baik, andai aku memiliki kakak sebaik mu. Pasti, aku akan sangat bahagia."
"Mulai sekarang, kau adalah adik ku juga. Kita bukan hanya sekedar sahabat, namun kau juga adik ku. Aku akan melindungi mu dari mereka yang akan mencoba menyakiti mu." ujar Syifa yang memeluk Raisa.
Lonceng berbunyi, menandakan guru akan masuk ke dalam kelas, Syifa dan Raisa saling melepaskan pelukan satu sama lain. Mereka belajar dengan sangat tekun, mereka dua juga bisa membedakan waktu saat belajar dan bermain. Walau kedua nya dekat, namun saat pelajaran di mulai, mereka tidak akan membuang-buang waktu untuk bercerita atau bermain. Syifa dan Raisa anak-anak yang sangat pintar.
****
"Kan saya udah bilang, kamu harus istirahat yang cukup. Sekarang, kamu sakit. Saya merasa sangat bersalah karena tidak bisa menjaga mu." omel Shinta kepada baby sister nya. Shinta juga mengurus baby sister nya yang sedang sakit dengan baik
"Maaf non, tadi malam. Saya ingin tidur, namun saya mendengar tangisan baby Al."
"Kan ada saya di kamar, saya juga akan bangun kok. Kamu mengambil baby Al diam-diam dan menjaga nya sepanjang malam tanpa istirahat. Tubuh mu juga butuh istirahat yang cukup, nggak bisa kamu seperti itu! Ingat ya, kamu memang pengasuh anak-anak tapi bukan berarti kamu nggak mikirin diri kamu sendiri. Saya senang, jika kamu begitu telaten mengurusi anak-anak saya, tapi saya juga nggak mau lihat kamu sakit begini." Shinta mengompres dahi baby sister nya sambil mengomel.
"Bagaimana saya harus menjelaskan nya kepada kamu agar kamu mengerti, pusing saja."
"Sayang, sudah lah. Dia sedang sakit, kamu jangan memarahi nya lagi." ujar Revan yang menenangkan Shinta.
"Bagaimana aku nggak marah. Aku udah bilang sama dia untuk istirahat aja, kan aku yang akan menjaga baby Al dulu. Jika, aku merasa tidak kuat pasti aku memanggil nya. Dia selalu saja bergadang, lihat lah kondisi nya jadi seperti ini."
"Mungkin, dia mengingat tugas dan tanggungjawab nya. Dia tidak bisa membiarkan baby Al menangis."
"Kan ada aku di kamar anak-anak, nggak mungkin aku diem aja kan. Jika aku nggak langsung terbangun, bukan berarti aku tidak bangun-bangun mengurus baby Al jika hanya sebentar memberikan ASI."
"Ma-maaf nona, saya tidak enak hati membangunkan nona."
"Pusing saya, saya nggak mau kamu begini loh jatuh sakit karena telalu menjaga anak-anak."
"Makanya, cari pengasuh lagi. Kamu lihat sendiri, dia nggak sanggup badan nya mengurus anak kita sekali empat. Iya, Syifa anak yang manis. Tidak akan nakal, tapi si kembar? Kelakuan Alana, dan rewel nya baby Al. Mana sanggup dia mengurus anak-anak secara bersamaan." ujar Revan kepada isteri nya, Shinta pun mengerti.
"Ya sudah, cari lah. Dari kemarin kita sudah mencari namun belum ketemu."
"Banyak! Tapi kamu nya yang terlalu cemburuan, nggak boleh yang lebih muda dari kamu. Takut segala macam, padahal kan buat anak-anak kita." Shinta menghentikan aktivitas nya sejenak, menoleh ke arah sang suami dengan tatapan sinis.
"Itu namanya bukan mencari baby sister, namun mencari kekasih simpanan. Begitu bening dan muda nya mereka, pasti kau akan menggoda atau Tergoda."
"Sayang, anak kita sudah empat. Mana mungkin, mereka cantik itu hanya rezeky mata ku saja yang akan melihat kecantikan kecantikan mereka setiap hari. Apa salah nya, itukan sebuah anugerah." ujar Revan yang mulai menganggu isteri nya, ia tak habis pikir. Sudah memiliki anak banyak, Shinta masih saja sangat cemburuan dengan diri nya. Padahal, hanya Shinta lah satu-satu nya yang Revan inginkan sebagai pendamping hidup dan ibu dari anak-anak nya sampai mereka menua dan rambut mereka memutih.
__ADS_1