
Alan mencoba menenangkan papanya "Sudah pa! Kita semua bersalah di sini. Jangan menyalahkan mama saja, dan pastinya ini bukan lah kesalahan Khanza. Dia hanya anak bayi yang tak berdosa di tinggal oleh keluarganya dan di titipkan ke kita,"
Revan terdiam, begitu juga dengan Shinta
"Nak, kamu lihat kembaran kamu sekarang, dia depresi dan tak ada satu pun kita yang memahaminya," mata Revan memerah, bahkan tak jarang air matanya berlinang.
Ayah mana yang merasa tenang jika anaknya menderita seperti itu? Melihat putrinya yang di ambang oleh kehancuran "Kalian selalu mengatakan jika Alana hanya pengacau, Alana si pembuat masalah. Padahal dia selalu membutuhkan kita! Dan kamu Shinta, kamu selalu mengatakan aku terlalu memanjakannya. Aku perduli dan selalu mengikuti semua keinginannya saja anak ku masih merasa depresi bagaimana jika aku menuruti ucapan mu? Bisa gila anak ku!" Revan kembali berteriak kepada istirnya. Alan tidak tahu harus mengatakan apalagi kepada papanya agar papanya tidak marah. Saat ini hanya kakaknya Syifa yang bisa mengendalikan kemarahan dan kesedihan sang papa. Namun kakaknya tidak ada di sini, Alan juga tidak tahu ponselnya berada di mana
"Papa sudah, tolong jangan marah-marah lagi dengan mama. Ini bukan kesalahan mama, ini kesalahan Alana yang ceroboh. Alana yang sembarangan memakan apapun tanpa mencari tahu apakah itu bahaya atau tidak,"
Suster datang dan menegur mereka yang terlalu berisik "Maaf tuan, nona. Ini rumah sakit, tolong jangan berisik! Kalian mengganggu pasien yang lain!"
"Maaf kan kami, suster!"
Tak lama kemudian, dokter datang untuk mengambil darah Alana yang akan di uji di laboratorium
Dokter pun mengatakan akan membawa Alana untuk melakukan Medical Check up
"Dokter Shinta, saya akan membawa darah anak anda ke lab untuk di lakukan pengecekan, dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Semoga ini tidak akan berdampak buruk,"
Shinta dan Revan hanya bisa berdoa agar kesehatan tubuh anaknya tidak serius. Keduanya takut, jika itu akan berpengaruh kepada ginjal atau orang tubuh anaknya yang lain.
Setelah mengambil darah Alana, dokter dan suster pun keluar. Shinta membelai rambut anaknya yang panjang, terlihat rambut Alana yang sangat kering. Itu karena Shinta kurang memperhatikannya "Mama buruk banget ya nak, bahkan memberikan minyak rambut agar rambut kamu sehat saja mama tidak melakukannya. Lihat sekarang rambut anak mama sangat kering,"
"Kakak selalu memberikan Alana minyak rambut ma,"
Memang benar, Syifa selama ini merawat adik-adiknya dengan baik padahal jadwalnya begitu padat. Baik itu urusan kuliah, mau pun kantor namun ia masih sempat mengurus adik-adiknya dengan baik
"Mungkin itu sebabnya Alana sering pingsan ya nak?" Shinta bertanya kepada anaknya, Alana pun mengangguk. Ia mengatakan jika dirinya sering merasa lemas, mual bahkan gelisah
"Mama, jangan tanyain Alana lagi. Kasian Alana dia merasa sedih mama," Alan meminta mamanya untuk tidak membahas itu lagi. Sedangkan Revan di ujung sana masih diam membeku
Shinta tahu jika suaminya masih marah besar kepadanya. Revan langsung mengambil ponselnya dan menghubungi kedua orang tuanya.
Panggilan Terhubung
"Mama, bagaimana keadaan papa?"
"Sudah membaik nak, bagaimana kabar kamu, Shinta dan dengan cucu-cucu mama?"
"Alana masuk rumah sakit ma! Jika papa sudah membaik, Revan berharap jika mama dan papa bisa segera kembali ke tanah air. Revan dan anak-anak membutuhkan mama," suara Revan terasa berat, ia ingin memeluk mamanya di saat hatinya merasa rapuh
"Van, kenapa kamu meminta mama dan papa untuk pulang?"
__ADS_1
Revan menatap Shinta dengan dingin, seakan-akan meminta istrinya untuk tidak banyak bicara.
Ia pun mematikan panggilannya, lalu berjalan ke depan mendekati istirnya Shinta berjalan ke belakang dengan gemetar dan rasa takut.
Setelah bertahun-tahun kini Shinta kembali melihat wajah marah suaminya yang begitu menakutkan.
Lalu Revan menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah sang anak dan tersenyum. Alana membalas senyuman papanya
Lalu Revan memeluk istrinya namun bukan sebuah pelukan kasih sayang. Melainkan sebuah peringatan yang begitu menyakitkan bagi Shinta "Jika anak-anak ku tidak ada di sini, aku sudah membunuh mu! Kau yang harus bertanggung jawab atas ini semua. Aku membenci mu!" Revan membisikkan hal itu di kuping istrinya membuat Shinta menangis. Namun tak berani bersuara
"Jangan menangis dan membuat anak ku menangis, aku menahan amarah dan emosi ku hanya karena Alana dan Alan. Jika tidak, aku pastikan kau sudah aku bunuh Shinta!"
Revan yang ia kenal bukan lah pria yang bisa mengatakan hal sadis apalagi kepada seorang wanita. Mungkin suaminya sudah terlalu marah besar kepadanya.
Sejak awal Caca menitipkan Khanza kepada mereka, Revan sudah menolak dan mengatakan kepada Shinta untuk mengembalikan Khanza kepada Caca juga Arvan. Atau mengantarkan Khanza kepada kedua orang tuanya sewaktu Caca dan Arvan di Malaysia namun shinta tidak pernah mau. Ia selalu banyak alasan, karena takut di jauhkan oleh Khanza.
Bahkan Revan sudah memperingatkan Shinta. Walau ia mengurus Khanza namun tidak boleh lalai dengan anak-anaknya yang lain seperti Syifa, Alan dan juga Alana.
Namun yang di lakukan Shinta selama ini adalah selalu tentang Khanza. Ia tidak pernah memikirkan perasaan anak-anak mereka yang lain.
Shinta ingin bicara kepada suaminya namun Revan memilih untuk keluar, Shinta pun mengejar suaminya
"Tunggu aku Van, Kamu marah sama aku?"
Revan berhenti membalikan tubuhnya menatap Shinta "Lalu mau kamu? Aku harus tetap suport kamu? Sedangkan permasalahan ini terjadi karena kamu alasannya! Andai cinta dan kasih sayang mu tidak buta kepada Khanza mungkin ini semua tidak akan terjadi! Kamu mikir dong pakai otak kamu itu! Anak yang masih berumur delapan tahun sudah menggunakan obat itu. Apa pekerjaan kamu selama ini di rumah? Hanya fokus dengan anak orang lain? Jika anak ku, mengkonsumsi itu setahun belakangan ini aku bisa menerimanya. Namun ini sudah beberapa tahun yang lalu! Anak sekecil itu, Shinta! Bisa kamu Bayangi? Aku selama ini kerja mati-matian, bahkan rela lembur itu demi kamu, dan anak-anak. Karena aku enggak mau anak-anak ku mendapatkan hal yang buruk dari segi apapun. Aku mempercayai kamu menjaga anak-anak namun kenyataannya apa? Kamu enggak bisa menjaga anak aku, kamu sibuk dengan anak orang lain dan mengabaikan anak kandung mu!"
"Maaf, maaf, maaf! Hanya kata itu yang bisa kamu katakan, lalu setelah itu kamu mengulangi nya lagi, iya?". Shinta menggeleng, keduanya kembali di tegur oleh pihak rumah sakit karena sudah membuat keributan.
"Nyonya, tuan! Mau berapa kali saya katakan jangan membuat keributan! Ini rumah sakit, jika kalian tidak bisa menjaga sikap kalian bisa pergi dari sini!" Terlihat suster marah karena beberapa pasien yang melapor karena tidak nyaman dengan kebisingan yang di lakukan oleh pasangan suami istri tersebut.
"Maafkan kami, kami tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tolong jangan marah ya?"
Perawat itu pergi meninggalkan Revan dan Shinta. Sebelum pergi suster itu memberikan ancaman jika mereka tidak bisa menjaga sikap maka dengan terpaksa security-nya yang akan mengusir mereka.
Shinta paham dengan itu semua begitu juga dengan Revan. Keduanya kini tidak lagi berdebat, Revan langsung masuk ke dalam ruangan anaknya.
Mereka pun menunggu hasil tes darah Alana. Semoga saja tidak ada berdampak buruk untuk kesehatan Alana
*******
Perasaan Syifa merasa tidak enak "Mengapa perasaan aku tidak tenang? Atau ini karena masalah yang terjadi di sini?"
"Kakak!" Khanza berlari memanggil kakaknya, Syifa pun membuka kedua tangannya lebar-lebar agar Khanza masuk ke dalam pelukannya "Iya sayang?"
__ADS_1
"Kak, Khanza kangen sama mama! Sama kakak Alana juga kakak Alan. Kapan kita akan pulang?" Khanza cemberut sambil memeluk kakaknya
Syifa bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia terus berbohong namun Syifa juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Syifa takut jika adiknya akan merasa sedih.
"Sayang, kita kan baru beberapa hari di sini. Enggak mungkin kita pulang dong, mami akan sedih pastinya!"
"Tapi mami dan kak Raisa enggak suka dengan kita,"
"Siapa yang bilang? Buktinya tadi saat kakak ingin pergi, mami mencegah kakak dan kamu juga enggak mau kakak pergi,"
"Iya kak, Khanza enggak mau kakak pergi sendirian karena Khanza ingin ikut! Khanza enggak suka sama kak Raisa, dia itu manja dan sok cantik. Dan satu lagi, dia selalu saja membuat keributan dengan kakak. Membuat kakak marah, Khanza enggak suka selalu ada keributan!"
"Kak Raisa juga enggak seperti kak Alana. Memang kak Alana suka marah-marah tapi kak Alana sangat sayang dengan Khanza. Beda dengan kak Raisa, ia tidak Sayang dengan Khanza. Dia hanya sayang dengan dirinya sendiri, bahkan kak Raisa suka membuat mami dan Daddy merasa sedih,"
"Adik, enggak boleh ngomong seperti itu ya? Kak Raisa juga sayang kok sama Khanza. Namun karena Khanza baru bertemu dengan kak Raisa sebab itu merasa hal seperti kak Raisa enggak sayang. Padahal kak Raisa itu sayang banget sama mami, Daddy, kakak dan juga kamu. Tapi mungkin, kak Raisa sedang banyak tugas kuliah jadinya ia marah-marah seperti itu!"
"Kak, Khanza enggak suka kita tinggal di sini. Karena semenjak di sini, kakak menjadi pemarah sedangkan di rumah kakak enggak pernah marah-marah. Kakak selalu menjadi kakak aku yang lemah lembut, namun di sini kakak berubah. Khanza engga suka lihat kakak berubah hanya karena mereka, lebih baik kita pulang dan hidup bahagia bersama mama, papa, kak Alan dan juga kak Alana. Enggak apa-apa kalau kak Alana terus marah sama Khanza tapi yang penting kita bahagia. Dan berkumpul seperti dulu, kakak juga enggak harus marah-marah dan sedih karena mereka!"
Syifa memberikan pengertian kepada adiknya secara perlahan. Ia tahu jika ini tidak mudah bagi Khanza, apalagi Raisa yang selalu membuat keributan juga mami mereka yang tidak pernah perduli dengan Khanza membuat Khanza ingin bersama Shinta yang selalu menyayanginya
"Khanza sayang! Di sini adalah rumah kita, rumah Khanza. Di sini adalah keluarga Khanza yang sesungguhnya bukan di sana. Khanza harus terbiasa dengan mami Caca ya?"
Khanza terlihat sedih "Bagaimana bisa Khanza terbiasa dengan mami jika mami saja tidak pernah menyapa Khanza atau sekedar ke kamar Khanza seperti yang selalu mama Shinta lakukan?"
Syifa diam, ia tidak tahu harus mengatakan apalagi karena memang maminya tidak ada tindakan untuk lebih dekat dengan Khanza "Khanza ingin mami bisa menemani Khanza. Seperti yang selalu mama Shinta lakukan kak!"
Syifa memeluk adiknya, di depan pintu Raisa mendengarkan pembicaraan kakak dan adiknya "Enggak akan aku biarin mami dekat sama kamu, Khanza! Karena kamu aku merasa kebahagiaan dan kasih sayang mami dan Daddy terbagi. Bahkan, mami yang tidak pernah marah pada ku sebelumnya kini justru menampar aku! Aku tidak terima dengan itu semua, dan aku tahu ini semua karena mu Khanza. Jika tidak ada kau, kakak Syifa tidak akan memilih tinggal di sini, ia pasti lebih memilih tinggal bersama mama Shinta. Bukan mami Caca!"
Terlihat Raisa menyimpan begitu juta kebencian untuk adiknya "Dan karena kau yang setuju, kak Syifa menjadi kepala keluarga di rumah ini. Semua keputusan tentang rumah ini ada di tangannya, aku benci kau Khanza. Aku bersumpah Kau tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang dari mami mau pun Daddy,"
Raisa bergumam dengan volume yang sangat kecil agar kakak dan adiknya tidak mendengar lalu Raisa pergi menjauh dari kamar Syifa juga Khanza
Arvan melihat putrinya yang menjauh dari kamar Syifa, Arvan mengerutkan satu dahinya "Tumben sekali Raisa ke kamar Syifa dan Khanza. Apakah dia memikirkan sesuatu? Semoga saja, Raisa tidak pernah Memiliki niat jahat kepada saudara-saudaranya!"
Arvan sangat menyayangi anak-anaknya apalagi Raisa. Namun ia tidak bisa membiarkan Raisa tumbuh menjadi anak yang nakal, Arvan takut jika Raisa akan menjelma seperti ibu mertuanya yang begitu egois dan kejam. Yang selalu menghalalkan segala cara agar keinginannya tercapai, Arvan berdoa agar anaknya tidak menjadi anak yang seperti itu.
Arvan berharap agar Raisa kembali menjadi anak yang baik, lembut, bijaksana seperti Raisa saat kecil. Entah di mana sosok Raisa saat kecil kini sudah tidak terlihat' lagi di Raisa yang tumbuh dewasa.
"Entah apa yang ada dipikiran kamu, nak! Namun Daddy berharap kamu bisa menyadari segalanya dan berubah. Jadilah anak Daddy yang dahulu begitu imut, baik dan lucu sayang. Jadi lah Putri kecil kesayangan Daddy dulu,"
Arvan sangat berharap "Aku yakin anak kita akan berubah!" Arvan kaget dengan suara Caca yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya
"Sayang, jangan khawatir. Itu adalah anak ku, anak kamu. Anak kita, dia tidak akan menjadi jahat seperti yang kamu takutkan, Raisa akan menjadi anak yang bijaksana juga baik kamu jangan terus-terusan berpikiran buruk tentang anak kita, sayang! Aku yakin, Raisa ku akan kembali seperti dahulu! Saat pertama kali kita kenal, Raisa yang lembut, Raisa yang penuh cinta. Mungkin, ia sedang terpengaruh oleh lingkungan buruk di sana. Dan kamu juga yakin ,kalau Syifa akan mendidik Raisa menjadi baik. Jadi jangan khawatir lagi! Aku takut kesehatan mu akan memburuk jika memikirkan hal yang lain-lain!"
__ADS_1
Arvan masih diam, ia ingin percaya dengan ucapan istrinya namun entah mengapa hati kecilnya ragu "Semoga saja doa-doa kami terkabul untuk anak-anakku Syifa, Raisa dan juga Khanza. Tetap lah menjadi putri-putri ayah yang baik, cantik, sopan, dan tetap rendah hati,"
"Amin!" Sambung Caca kembali, ia pun berharap jika anak-anaknya menjadi anak-anak yang baik.