Ibu Sambung

Ibu Sambung
Memainkan Sandiwara


__ADS_3

Shinta mengatakan jika ia tidak merasa keberatan untuk itu semua.


"Jen, kamu sahabat aku. Aku enggak pernah merasa keberatan untuk apapun, Jenn. Walau kita jarang sekali berkomunikasi atau bertemu setelah menikah tapi aku menyayangi mu tetap seperti dulu. Aku tetap menganggap kamu sebagai sahabat sekaligus saudara aku. Ya mungkin, kehidupan baru kita membuat kita jarang bersama, mungkin kamu juga mengira aku telah melupakan mu. Namun, nyata nya tidak. Kau tetap ada di hati aku, sahabat sekaligus saudara terbaik aku."


Jennika memeluk Shinta sambil menangis, bodoh nya dia karena cinta ia mengikuti ucapan suami nya yang tidak berinteraksi dengan orang-orang terdekat nya.


"Aku menganggap, bahwa larangan nya itu memang baik. Tapi nyata nya tanpa aku sadar, larangan nya membuat ku kehilangan orang-orang yang aku sayangi dan orang-orang yang menyayangi ku."


"Tidak, Jenn! Jangan mengatakan itu! Kau tidak kehilangan kami, bukti nya aku masih ada untuk mu bukan?"


Jennika mengangguk, Shinta berharap agar trauma yang sahabat nya alami segera membaik.


Ia pun mencoba menghubungi dokter Clara, psikiater yang menangani kasus Kaynara kemarin. Agar Clara bisa menangani sahabat nya Jenn.


"Ta," Jennika ketakutan saat mendengar suara motor yang tak asing bagi nya.


Terlihat seluruh tubuh nya bergetar hebat seakan begitu takut. Shinta menenangkan sahabat nya itu.


"Hust! Jangan seperti ini Jen. Kalau kamu merasa takut begini, nanti suami atau satu rumah tau keberadaan mu." bisik Shinta kepada jennika. Jennika menangis ketakutan, memegang tangan Shinta dengan gemetar.


"Jen, tetap di sini..Apapun yang terjadi, jangan keluar oke? Dan jangan pernah mengintip dari sini, tahan hati dan kendalikan diri kamu Jen! Kalau aku enggak keluar, yang ada suami kamu curiga. Aku enggak mau, dan tolong jangan pernah mengintip lagi ya? Jangan berteriak, jangan menangis yang akhirnya membuat suami mu tertuju ke sini. Tolong serahin dan percaya sama aku, kamu aman."

__ADS_1


Jennika masih trauma, sebelum nya ia juga pernah kabur dan suami nya menemukan keberadaan nya..Setelah menemukan Jennika, Jennika di siksa lebih sadis.


Shinta tetap meyakinkan Jennika, ia tahu trauma yang di alami oleh Jennika itu tidak mudah. Namun, Jennika juga harus percaya kepada nya.


Jennika mengangguk, Shinta melepaskan tangan Jennika perlahan untuk turun ke bawah.


Sebelum pergi Shinta mengunci pintu kamar Jennika, takut pelayan masuk ke kamar itu..Shinta juga meminta persetujuan dari Jennika..Jennika hanya bisa mengangguk dan mempercayai semua nya kepada Shinta sahabat nya itu.


Shinta menuruni anak tangga perlahan, terlihat suami nya Revan sedang berbicara kepada seorang pria yang tak asing bagi Shinta. Memang benar, itu adalah suami dari sahabat nya.


Shinta mendekati suami dan pria yang ada di hadapan nya, ia menatap nya dengan penuh kebencian. Namun, Shinta menahan amarah nya dan bersikap tidak mengetahui apapun. Walau sebenarnya ia merasa sangat najis, namun Shinta memaksakan senyuman palsu nya.


"Hey, kamu bukan nya suami Jennika? Di mana Jennika, kenapa aku tidak melihat nya." Shinta melihat ke arah luar seakan mencari keberadaan Jennika..Suami Jennika terdiam, suami Jennika pun mencoba mencairkan suasana.


Shinta dan Revan merasa gemas dan ingin sekali rasanya menjebloskan suami Jennika ke penjara. Namun, ke dua nya menahan emosi.


"Oh begitu, sayang sekali. Bagaimana kabar nya? Apakah Jennika masih di luar negeri?" tanya Shinta seolah-olah dia tidak mengetahui apapun. Ke dua nya pun pandai memainkan sandiwara satu sama lain.


"Dia belum bisa kembali, karena sedang liburan bersama keluarga ku di sana. Baik lah, saya harus pergi karena ada pasien di rumah sakit. Nanti, saya akan mengantarkan hadiah yang Jennika titip kan untuk keluarga anda." ujar suami Jennika yang langsung berpamitan.


Shinta dan Revan mempersilahkan nya dengan sangat baik, lagipula jika suami Jennika berlama-lama di rumah nya Shinta takut jika jennika kehilangan kendali nya. Berteriak dan membuat suami nya Jennika mengetahui keberadaan Jennika.

__ADS_1


Setelah memastikan kepulangan suami Jennika. Shinta pun bernafas dengan lega. Bagaimana ia tidak lega, akhir nya pria tidak punya hati itu segera pergi.


"Sayang, di mana keberadaan teman mu?" tanya Revan kepada istri nya, Shinta mengatakan jika jennika berada di kamar tamu atas. Lebih tepat nya itu kamar tamu khusus keluarga.


"Oh, bagus lah. Aku begitu kesal melihat wajah suami nya itu. Kita harus segera melaporkan suami nya ke kantor polisi. Karena, jika suami nya masih berkeliaran di luar dengan bebas. Jennika pasti akan terancam, bukan nya aku tidak suka dia di rumah kita. Namun, ia harus melanjutkan kehidupan nya. Dia tidak bisa terus-terusan bersembunyi dan merasa ketakutan."


Shinta mengerti dan tau jika apa yang suami nya katakan itu benar, namun bagaimana lagi. Jennika memohon sambil menangis kepada Shinta agar tidak melaporkan suami nya Jennika ke kantor polisi. Dan polisi tidak akan menangani jika yang bersangkutan saja menolak.


"Tapi Jennika harus di lindungi." tegas Revan, Shinta mengerti ia juga mengatakan kepada Revan akan membicarakan hal ini dengan pelan dan tak terburu-buru kepada jennika.


"Aku akan membicarakan dan memberikan pengertian kepada nya secara perlahan. Tapi, sabar. Butuh waktu, di saat kondisi nya seperti itu. Jennika tidak bisa berfikir dengan jernih, dia hanya ingin segera berpisah dari suami nya, Sayang."


Revan pun hanya mempercayakan segala nya kepada sang istri, ia juga memberikan jaminan jika suami Jennika tidak akan bisa mengganggu dan mengusik Jennika juga keluarga mereka.


"Jika teman mu sudah membaik, kabarin aku, Sayang. Aku akan segera melaporkan suami nya."


"Iya, aku juga diam-diam akan mengambil bukti jika suami nya melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Saat Jennika nanti tertidur, diam-diam aku akan mengambil potret diri nya sebagai bukti di pengadilan nanti. Aku takut, jika suami nya tidak mengakui perbuatan nya itu."


"Iya, aku percaya kan semua nya kepada mu. Jika kamu butuh bantuan, jangan segan untuk memberitahu suami mu ini. Dan ingat, jangan pernah mencoba untuk sok pintar! Karena ini hal yang sangat berbahaya. Bisa berbahaya untuk keluarga kita, aku enggak mau karena menolong orang luar. Keluarga kita menjadi terancam."


"Sayang, dia bukan orang luar tau! Dia itu sahabat ku, rekan kerja ku sebagai dokter gigi. Aku juga menganggap nya sebagai saudara ku."

__ADS_1


"Sebab itu aku minta kepada mu, untuk tidak melakukan hal yang ceroboh yang bisa membahayakan diri mu dan juga anak-anak. Lihat lah pria itu, dia begitu pintar memainkan peran nya. Mengatakan jika jennika berada di luar negeri, padahal ia kesini ingin mencari tau keberadaan Jennika."


Revan begitu sangat geram, jika bukan karena istri nya yang sudah memberikan kode dan menenangkan nya. Mungkin, Revan sudah menghajar nya dengan babak belur.


__ADS_2