Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menangis


__ADS_3

"Wanita bukan hanya disebut seorang ibu saat ia melahirkan anak, namun wanita yang bisa menyayangi dan mengurus anak dengan baik itu adalah ibu yang baik!"


"Berarti Khanza tidak dilahirkan oleh mama?"


Khanza bertanya kepada Syifa, kini menang sudah saatnya Khanza memahami segalanya "Bukan hanya Khanza, kakak juga bukan dilahirkan dari rahim mama Shinta. Namun mama Shinta itu adalah mama kita juga, dia yang membesarkan dan merawat kita dengan penuh cinta!"


"Kak, siapa mama yang melahirkan kita?"


Syifa tersenyum saat Khanza mulai mengerti dan memahami semuanya "Mami Caca sedang ada di Penang, menemani Daddy berobat. Dan mami Caca meninggalkan kita di sini bukan karena jahat! Namun mami Caca terlalu menyayangi kita. Khawatir dengan kita, dan mempercayai kita dengan mama Shinta."


Khanza masih bingung, namun dengan sabar Syifa memberikan penjelasan.

__ADS_1


Shinta pun ikut memberikan penjelasan, jika dahulu Shinta memberikan penjelasan seperti anaknya Syifa. Mungkin, Khanza akan memahami. Shinta terlalu terbawa perasaan "Sayang, maaf kan mama ya? Mama yang bersalah karena tidak pernah memberikan penjelasan kepadamu."


Khanza memeluk Shinta "Walau bagaimana pun, mama adalah mamanya Khanza. Hanya mama yang Khanza kenal, mama sangat menyayangi dan mencintai mama."


Shinta memeluk Khanza, ia pun membalas pelukan mamanya. Syifa tersenyum "Kakak senang karena Khanza dengan dewasa bisa menerima semua ini. Namun saat nanti mami Caca datang, kamu harus menerima mami dan Daddy ya,"


"Iya kak, Khanza akan menyayangi dan menghormati mami."


Walau berulangkali Shinta sudah menjelaskan.


Syifa pun meminta adiknya Khanza untuk makan siang terlebih dahulu. Alana mendekati Khanza dan meminta maaf "Khanza, maafkan kakak ya? Kakak enggak bermaksud membuat kamu terluka. Kakak hanya ingin kamu menerima kenyataan yang ada."

__ADS_1


Alan kembali menarik Alana, "Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu,.lebih baik diam lah! Jangan sampai aku mengadukan mu kepada papa dan papa menghukum mu!"


Alana menepis tangan Alan "Kau selalu saja kasar kepadaku! Aku ini adik mu, saudara kembar mu namun mengapa kau sangat kasar kepada ku?"


"Aku tidak akan kasar jika kau tidak mulai deluan, aku sangat kesal melihat mu yang tidak bisa menjaga ucapan mu! Kau sangat keterlaluan, lihat lah karena mu Khanza menjadi sakit. Apa kau tidak menyayanginya?"


Alana mengangguk "Aku sangat menyayanginya, namun aku kesal saat kalian hanya memikirkan dirinya saja. Kalian tidak mau memikirkan aku! Aku sangat merasa tidak di butuhkan!"


Alana menangis, Alan yang tidak tega melihat saudara kembarnya menangis langsung memeluk Alana.


"Sudah jangan menangis!" Alana memeluk saudara kembarnya dengan erat "Aku menyayangi kalian semua, apa kalian menganggap aku ini egois? Bahkan aku mencintai kalian melebihi mencintai diri ku sendiri. Namun aku tidak bisa melihat kalian mengabaikan aku, aku tidak bisa diabaikan. Kalian seharusnya tahu! Bahwa hidup ku itu kalian, jika kalian mengabaikan aku. Aku bisa gila, kalian hanya melihat kesedihan Khanza. Tidak pernah melihat kesedihan ku!"

__ADS_1


Alan mengelus rambut saudara kembarnya "Sudah jangan menangis! Jangan memikirkan apapun! Dan kau harus fokus sebentar lagi kita akan ada ujian akhir kelulusan. Kau harus fokus!"


__ADS_2