
Caca terjatuh di lantai, Arvan berlalu pergi meninggalkan istrinya seorang diri di dalam ruang tamu, Caca semakin menangis histeris dirinya tidak tahu harus melakukan apa lagi, Caca berharap semoga suaminya mampu memaafkan dirinya lagi dan bersikap seperti dulu.
Baby sister yang melihat Caca menangis mendekati Caca Baby sister itu pun menangis sedih melihat majikannya terpuruk.
"Nona, tolong jangan menangis lagi, Saya tidak sanggup melihat nona seperti ini," Baby sister itu memeluk majikan dengan erat Caca yang merasa hatinya begitu hancur membalas pelukan Baby sister yang menjaga anaknya dengan erat, Caca yang tak sanggup lagi berkata apapun meminta tolong kepada Baby sister nya untuk menghubungi Shinta, Baby sister itu pun menuruti permintaan Shinta dan ia segera menghubungi teman dari majikannya itu
Shinta yang sedang terlelap dalam tidurnya pun tak mendengar ada panggilan yang masuk. Baby sister Caca berusaha menghubungi teman dari majikannya itu namun tidak ada jawaban sama sekali. Baby sister yang merasa sedih meminta kepada majikannya untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, Caca pun bangkit dan masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Baby sister itu mengambil segelas air minum untuk Caca.
Arvan yang merasa sedih dan kecewa dengan sang istri memilih untuk menghabiskan waktunya meminum minuman alkohol di bar, pikirannya begitu kacau begitu juga dengan hatinya yang terlalu kecewa.
"Mengapa kau lakukan itu semua padaku, apa kesalahanku? apa segitu bencinya kah kau kepadaku sehingga kau tega membuang anaknya kita,tanda cinta kita berdua." walau sudah menghabiskan beberapa botol minuman, Arvan masih meminta pelayan bar untuk menuangkan minuman ke dalam gelas nya.
"Apa kau sudah gila? kau sudah menghabiskan beberapa botol minuman, mau berapa banyak lagi yang harus kau minum? tolong sudahi kegilaan ini!"
__ADS_1
"Diam kau! Jangan pernah mencampuri kehidupanku, Kau hanya orang luar dan kau bukan siapa-siapa aku jadi jangan mencampuri apa yang aku lakukan dan apa yang tidak aku lakukan. Jika kamu memahami apa yang aku rasakan saat ini, di situlah kau baru akan mengerti. aku hanyalah pria bodoh yang hanya mencintai seseorang namun cintaku dibalas dengan penghianatan sekarang ak-aku dan kepercayaanku telah hancur. Semua nya telah mati!" ujar Arvan yang begitu sangat terluka.
"Aku tahu kau sangat terluka, tetapi kau juga harus memikirkan keadaan anakmu yang masih bayi. Masalah di dalam rumah tangga itu hal yang sangat wajar bukan berarti ketika kau memiliki masalah bersama istrimu kamu lupakan anak-anak mu, anak-anakmu akan merasa sedih jika melihat papanya seperti ini Apa kau ingin anak-anakmu merasa sedih seperti itu? coba pikirkan dengan hati yang tenang tanpa adanya emosi."
ujar teman Revan yang ada di pasar tersebut
"Aku akan mengantarkan kau pulang, kasihan kepada anakmu dan istrimu juga pasti akan menunggumu di rumah ini sudah hampir subuh kau tidak pulang dan menghabiskan waktumu di bar ini."
"Aku tidak ingin pulang! sudah kukatakan padamu jangan terlalu mencampuri urusanku, Aku tidak pernah mencampuri urusan mu jadi tolong jangan pernah ikut campur dalam masalah pribadiku." Arvan membentak teman nya itu, teman nya mencoba untuk tenang tidak membalas perkataan Arvan yang menyakitkan.
Caca membuka pintu untuk suami nya, ia melihat keadaan Arvan yang mabuk berat dalam keadaan sangat berantakan. Caca meminta tolong kepada teman suami nya itu untuk meletakkan Arvan ke sofa. Setelah selesai mengantar Arvan. Teman nya berpamitan pulang kepada Caca. Caca mengucapkan banyak terimakasih karena sudah membawa suami nya pulang ke rumah.
"Terimakasih, maaf jika aku sudah membuat mu repot mengantar suami ku pulang." ujar nya dengan tak enak hati, teman nya itu menyangkal.
__ADS_1
"Santai saja, itu tidak merepotkan sama sekali. Lagi pula, dia teman ku. Seorang teman akan menolong teman nya bukan?"
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih padamu." Caca tersenyum kepada teman suami nya itu. Setelah teman dari suaminya itu berpamitan, Caca segera menutup pintu rumahnya ia pun mendekati sang suami yang sudah tergeletak tak berdaya di sofa.
"Apa yang kau lakukan sayang? Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri hanya karena kesalahanku aku tahu tapi aku mohon jangan sakiti diri mu seperti ini." gajah menangis tersedu-sedu memeluk sang suami namun Arvan menolak tubuh Caca dengan begitu kasarnya
"Kau tidak mencintaiku, bahkan kau juga tidak pernah memikirkan tentang aku ataupun anak-anak! Yang kau pikirkan hanyalah sebuah keegoisannya saja sama seperti dengan ibumu melakukan segala berbagai macam cara untuk mendapatkan ambisinya sekarang kau telah merasa puas, kau sudah menelantarkan anakku, bahkan dia juga anakmu sendiri. Apakah hatimu tidak pernah sedikitpun berfikir dengan jernih Apa yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan dan yang tak kan pernah bisa dimaafkan sampai kapanpun! aku terlalu mempercayaimu namun kepercayaanku kau hancurkan begitu saja, bertahun-tahun kau menipuku dengan wajah polos mu itu aku berfikir Kau sangat berbeda dari ibumu namanya tanya kau tahu lebih kejam dari ibu mu sendiri titik lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang aku begitu muak dengan dirimu."
"Ti-tidak seperti itu, Sayang. Aku mohon percayalah padaku, sungguh Aku menyesali segala apa yang telah aku perbuat pada saat itu aku berfikir jika kau tidak pernah menganggapku ada dan aku,"
"Diam!" belum sempat Caca melanjutkan ucapannya Arvan dengan marah membentak sang istri dan menyuruh istrinya untuk diam, dan tidak berkata satu katapun lagi
"Lebih baik kau diam dan jangan pernah berbicara lagi padaku! Aku tahu yang Kau Sayang itu hanyalah suami pertamamu dan juga anak mu. Kami ini hanya lah sebatas figuran bagi mu. Apa artinya kami bagimu? Tidak! Bahkan kau tidak pernah menganggap kami! kami tidak pernah berarti sedikit untukmu kan?" Arvan yang terlanjur kecewa pun menangis dalam keadaan yang begitu sangat kacau, Caca yang tak tahan melihat keadaan suaminya pun menangis sejadi-jadinya dan memeluk suami dengan erat walau suami nya menolak untuk dia dekati Caca tidak perduli Ia tetap memeluk sang suaminya dengan begitu erat dan begitu penuh dengan penyesalan.
__ADS_1
"Maaf kan aku," hanya itu yang bisa Caca katakan saat ini, hanya lah permintaan maaf. Jika waktu dapat di putar kembali, ia tidak akan pernah melakukan hal seburuk itu pada anak kandung nya sendiri.