Ibu Sambung

Ibu Sambung
episode 77


__ADS_3

Syifa begitu merasa bahagia sekali karena keluarga nya sekarang sudah utuh, dari kecil Syifa hanya mendapatkan kasih sayang dari ayah dan kakek neneknya saja, ia tak pernah tau bagaimana kasih sayang dari seorang ibu. Bahkan ia tak pernah tahu bagaimana wajah ibu yang sudah melahirkannya, kehadiran Shinta membuat Syifa menjadi anak yang paling beruntung di dunia. Begitu pula dengan Shinta, ia begitu sangat bersyukur memiliki anak seperti Syifa dan suami seperti Revan. Walau kadang Revan suka berubah-ubah sikapnya tapi Shinta percaya bahwa Revan lelaki yang baik dan bertanggung jawab.


"Sudah jangan memikirkan aku terus" Seakan tau apa yang di pikirkan oleh Shinta


"Apa sih! Sok tau woo"


"Tau dong" Jawab Revan dengan PD nya. Shinta memberengi Revan dan berlalu turun dari tempat tidur


"Ayo sayang, kita mandi" Shinta menggendong tubuh mungil Syifa.


"Papa nya gak diajak ni" Ledek Revan.


"Hishhh apaan sih" Shinta menggelengkan kepala dan berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Shinta memakaikan Syifa minyak telon dan bedak my baby sebelum memakaikan pakaian pada Puterinya.


"Wangi banget sih anak mama" Shinta mencium pipi Syifa dengan gemas, Shinta mengambil sisir dan menyisir rambut Syifa dan memakai kan bando ungu berbentuk uniqcron.


"Anak mama sudah cantik" Hebohnya, Shinta pun mengajak puterinya turun untuk sarapan pagi. Seperti biasa Shinta menyuapi Syifa makan terlebih dahulu baru ia akan makan.


*Tringggg......tringggg


.


Ponsel Shinta berbunyi. Ia mengambil ponselnya di dalam saku dan melihat layar ponselnya, Shinta mengerutkan dahi nya saat ia lihat yang menelpon adalah Chyntia mamanya Rayhan. Entah mengapa dada Shinta terasa sesak dan tidak enak. Dengan tangan gemetar Shinta menekan tombol hijau yang ada dilayar hp nya.


"Hallo tan...te" Shinta mendekatkan ponsel itu ketelinga. Shinta menjatuhkan ponselnya dengan lemas dan meneteskan air mata

__ADS_1


"Kau kenapa" Tanya Revan.


"Mama kenapa menangis" timpal Syifa


"Iya sayang, kenapa menangis. Ada apa" Mama lili pun bertanya, Shinta membuang nafasnya dengan perlahan dan menghapus air matanya.


"Ray, Ma" Shinta sudah tak sanggup mengucapkan satu kata pun.


"Aku harus kerumah sakit sekarang"


"Aku ikut" Sambung Revan, Shinta pun mengangguk dan mereka segera berjalan masuk kedalam mobil. Disepanjang jalan Shinta tiada henti-hentinya memanjatkan doa airmata nya terus saja mengenang. Revan melajukan mobil dengan kencang, saat ini menanyakan apa yang terjadi juga sia-sia. Sesampai di parkiran rumah sakit, Shinta berlari menuju ruangan ICU. Namun setelah Shinta masuk keruangan ICU tidak ada siapapun yang ada di ICU. Shinta mondar mandir dan bertanya kepada resepsionis rumah sakit, namun sebelum Shinta sampai di resepsionis ia bertemu dengan cinta


"Dimana Revan" Tanya Shinta kepada cinta. Namun cinta hanya menangis dan memeluk Shinta


"Rayhan sudah gak ada" Ucap cinta terisak. Shinta hanya mematung terdiam dan hanya menangis, rasanya dadanya begitu sesak untuk bernafas. Shinta hanya bisa menangis tanpa suara.


"Rayhan udah tenang disana, sekarang jenazahnya berada di kamar mayat" Ucap Cinta, Shinta pun berlalu pergi meninggalkan cinta dan menuju ruangan mayat. Setiap langkah nya begitu berat, tubuh Shinta gemetar dan menangis tanpa suara.


"Ini gak nyatakan"


"Iya ini pasti gak nyata" Gumamnya dalam hati, setelah sampai di depan kamar jenazah Shinta terdiam lututnya terasa tidak bertenaga lagi, Shinta memegang pintu jenazah untuk menyeimbangkan tubuhnya. Ia melihat Chintya yang menangis memeluk jenazah Rayhan. Kepala Shinta terasa begitu berat untung saja Revan segera menyusul dan memegang tubuh Shinta ketika ingin terjatuh.


"Kamu harus kuat, kamu harus relain dia Ta" Revan memeluk Shinta seakan memberikan kekuatan untuk isterinya, Shinta pun mengangguk. Ia berjalan perlahan mendekati jenazah Rayhan dan tangan gemetar nya menyentuh tubuh Rayhan yang sudah terbujur kaku dan dingin. Chyntia menangis dan memeluk tubuh Shinta


"Ray udah gak ada Ta" Shinta dan Chyntia pun menangis terisak


"Mama yang sabar yaa" Ya Shinta dan Chyntia dulu begitu dekat sehingga Shinta memanggil Chyntia dengan sebutan mama

__ADS_1


"Ray udah gak nahan sakit sekarang, mama yang kuat" Shinta mencoba menenangkan mama Rayhan. Tubuh chyntia begitu lemah tak bertenaga


"Sebaiknya mama duduk dulu" ajak Shinta namun Chyntia menggeleng


"Mama mau disini" Pandangan Chyntia begitu kosong. Para perawat pun masuk untuk memandikan jenazah Rayhan agar bisa segera di makamkan. Shinta memapah Chyntia yang begitu lemah untuk duduk dikursi tunggu.


"Biarkan aku mengurus semua administrasi nya" Pamit Revan.


"Makasih Van" ucap Shinta.


"Sama-sama, aku pergi dulu ya" Revan mencium kening Shinta dan berlalu pergi meninggalkan Shinta dan mama Revan.


"Tante" Teriak cinta yang menangis dan langsung memeluk mama Revan, Chyntia pun membalas pelukan itu


"Ray udah gak ada cin" ucap mamanya dengan tatapan yang kosong. Shinta pun menyenderkan kepalanya di dinding rumah sakit, ia memijit dahinya yang begitu terasa berat. Kepergian Rayhan membuat Shinta begitu terpukul. Jenazah Rayhan akan diantar menggunakan mobil ambulance. Shinta dan Revan pun mengikuti dengan mobil mereka, sedangkan cinta dan Chyntia ikut dengan mobil ambulance. Revan memberhentikan mobilnya di depan supermarket terlebih dahulu.


"Sebentar, aku ingin beli minum" Shinta pun hanya mengangguk, Revan keluar dari mobil dan membeli beberapa minum dan roti. Revan masuk kembali kedalam mobil


"Ini makan lah dulu, kamu belum sarapan dari pagi" Revan membuka kan roti untuk Shinta.


"Aku gak laper Van"


"Setidaknya makanlah sedikit!" bujuk Revan. Revan menyuapi roti kedalam mulut Shinta, walau Shinta tak selera sedikit pun ia tetap memakan roti itu. Shinta tak ingin membuat Revan salah paham dan marah padanya, bagaimana pun Rayhan hanyalah masa lalu


"Kamu boleh sedih ta, tapi bukan berarti kamu gak mikirin kesehatan kamu. Aku gak mau kamu sakit"


"Ta, Rayhan udah bahagia disana. Kalau kamu gini dia pasti akan sedih ta, lagi pula sebelum Rayhan meninggal ia sengaja tinggalin kamu dan biarin kamu nikah sama aku kamu pikir itu buat apa? Rayhan hanya mau kamu bahagia dan gak sakit kalau dia pergi begini, tapi kalau kamu begini pengorbanan dia akan sia sia ta" Shinta pun menangis dan memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Kalau gitu, kamu makan lagi ya. Ingat Ta, masih ada aku dan Syifa yang butuh kamu. Kamu gak sayang sama kami?" Akhirnya Shinta pun mendengarkan ucapan Revan dan memakan roti yang Revan belikan tadi. Setelah Shinta sudah selesai memakan makanan yang Revan beli mereka melanjutkan perjalanan menuju ke pemakaman Rayhan.


__ADS_2