
"Bagaimana ini, Bu." tanya Caca dengan lemas.
"Tenang lah, ingat kamu tidak boleh banyak pikiran, Sayang." Syafa mengelus pundak Caca. Caca hanya bisa berdoa sambil memeluk Alana dengan penuh kasih sayang seakan Alana memberikan kekuatan pada Sahabat dari Ibu nya tersebut.
"Mengapa ia belum kembali atau pun memberi kan kabar, Bu?"
"Mungkin suami mu sedang mengurus semua nya nak, bersabar lah!" Gunawan pun berusaha untuk menenangkan Caca.
******
Hari sudah mulai malam, namun Arvan pun tak kembali juga atau pun memberi kan kabar. Caca memutus kan untuk menghubungi suami nya namun ponsel Arvan tidak aktip.
"Tidak aktif bu." ucap Caca yang terlihat jelas dari wajah nya sangat khawatir.
__ADS_1
"Ibu akan menidur kan si kembar dahulu ya."
"Caca ikut, bu." Caca pun berdiri membawa Alana mengikuti Syafa yang berjalan menuju kamar. Caca masuk ke dalam kamar Shinta dahulu sebelum berumah tangga dan meletakkan baby Alana di kasur milik Ibu nya semasa gadis dulu. Caca masih memikir kan keadaan Arvan dan perusahaan Arvan. Tidak lama, terdengar suara mobil yang Caca yakini itu adalah mobil Arvan. Caca segera berdiri dan ingin pergi meninggal kan Syafa dan si kembar. Namun langkah nya terhenti sebab ia tak tega meninggal kan Syafa mengurus si kembar sendirian.
"Tidak apa-apa, temui lah suami mu. Ibu bisa menjaga mereka."
"Baik lah bu, Caca izin keluar dulu." dengan langkah yang tergesa-gesa caca keluar kamar untuk menemui suami nya.
"Bagaimana? apa yang terjadi?" tanya Caca namun Arvan terduduk lemas dan membuang nafas perlahan.
"Sudah lah, Sayang. Jangan bersedih, ini hanya cobaan kecil yang Tuhan berikan pada kita ya." ucap Caca sambil mengelus bahu suami nya.
"Tapi aku sudah mempertaruh kan semua nya ke perusahaan itu, Sayang. Semua aset-aset ku termaksud rumah dan juga mobil kita."
__ADS_1
Deg....
Caca sangat terkejut mendengar nya, yang arti nya mereka akan kehilangan semua nya. Namun, Caca berusaha untuk tidak sedih agar Arvan tidak larut dalam kesedihan nya.
"Tenang lah, Sayang! semua akan baik-baik saja."
"Bagaimana aku bisa tenang? segala nya sudah hilang. Bagaimana aku bisa untuk membahagia kan mu dan anak kita? bagaimana? dan tempat tinggal kita?“
" Kalian tidak perlu memikir kan itu, Kalian bisa tinggal di sini bersama Ayah dan Ibu. Lagipula semenjak Tata menikah. Ayah dan Ibu hanya berdua saja, kita merasa sangat kesepian." ucap Gunawan.
"Tidak, Yah. Biar kan ini menjadi urusan kami, kami tidak ingin merepot kan Ayah dan Ibu. Kalian sudah sangat baik kepada kami." ucap Caca
"Iya, benar. Tidak apa-apa. Arvan akan mencari jalan keluar untuk masalah ini, Yah.". Arvan pun kembali termenung dan merasa sangat terpuruk.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja, percaya lah." Caca ingin sekali percaya akan ucapan Syafa, namun kegelisahan nya belum juga berakhir
"Semoga tidak terjadi apa-apa, Tuhan." pinta Caca dalam hati