Ibu Sambung

Ibu Sambung
Membutuhkan Waktu


__ADS_3

Dengan penuh semangat Caca membuka amplop yang berisi surat tersebut, ketika membaca surat itu. Caca lemas dan terjatuh ke lantai. Shinta dan Revan segera mendekati Caca, Shinta memegang sahabat nya mencoba membangunkan Caca.


"Ca, ada apa? Tenang lah!" pinta Shinta, ia menatap Arvan dengan penuh kesal. Walau melihat isteri nya yang sedang terjatuh, Arvan tetap diam dan tak bergeming. Shinta begitu geram, namun ia mengingat ucapan suami nya agar tidak untuk ikut campur masalah keluarga Caca.


Caca menatap Arvan dengan tatapan sendu nya. Ia tak sanggup mengungkap kan kata-kata lagi. Shinta mengambil sekertas surat itu dan membaca nya. Shinta yang tak tahan lagi pun bangkit dan melempar kertas itu di wajah Arvan.


"Surat semacam apa ini? Apa kau tidak waras? Dia ibu dari anak-anak mu, bagaimana bisa kau melakukan ini semua?" Arvan menoleh ke arah Shinta, sorotan mata nya begitu tajam namun Shinta tidak takut sedikit pun.


"Jika dia ibu dari anak-anakku, dia tidak akan seperti ini."


"Omong kosong! Aku tidak pernah melihat orang seegois diri mu, jika kau memang ayah dan suami yang baik kau tidak akan melakukan ini. Kau lihat! Wanita yang dulu kau paksa untuk menikah dengan mu, wanita yang begitu sangat menderita karena perbuatan mu, sikap kasar mu, kau lihat dia! Dulu, kau melakukan banyak kesalahan padanya, kau memperlakukan dia tidak layak nya seperti manusia tapi dia selalu memaafkan mu. Mencoba menerima mu, dan sekarang hanya karena kesalahan. Kau tega melakukan ini semua padanya, di mata hati mu!" teriak Shinta. Caca pun menghentikan ucapan Shinta, ia tak ingin ada keributan lagi.


"Aku bersedia." ujar Caca yang sudah pasrah. Shinta menoleh ke arah Caca, ia tak habis fikir kenapa Caca bersedia, Caca menjelaskan jika ia rela melakukan apapun agar dekat dengan anak-anak nya.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini kesalahan ku menebus dosa ku pada Raisa." ujar Caca. Shinta tak habis pikir dengan pikiran Caca.

__ADS_1


Revan pun menyuruh Shinta untuk diam, ia menarik tangan isteri nya itu


"Sudah aku katakan padamu, jangan ikut campur dalam masalah mereka! Dan itu sudah keputusan Caca, biarkan dia menjalani nya. Lagipula, Arvan tidak memaksa di sini, jika Caca tidak ingin dia bisa memilih untuk berpisah dari Arvan." ujar Revan dengan singkat. Shinta hanya bisa diam, ia begitu marah namun juga tidak berdaya. Caca bangkit, menghapus air mata lalu tersenyum.


"Aku akan melakukan apapun, ayo kita pulang." pinta Caca kepada Arvan.


"Sebelum kau kembali ke rumah, tanda tangan suray perjanjian itu!" ujar nya. Arvan pun berlalu pergi, meninggalkan Caca yang berjalan sendirian. Sebelum pergi, Caca berpamitan kepada Shinta dan Revan. Dia mengucapkan banyak terimakasih kepada Shinta dan keluarga nya karena mau menampung ia di rumah mereka.


"Aku pamit dulu, Aku mengucapkan banyak terimakasih padamu, Jangan khawatir, Tata! Percayalah, aku bisa melewati ini dan aku akan memenangkan kembali hati suami ku." Caca mencoba meyakinkan Shinta, Shinta hanya bisa menangis. Caca menghapus air mata Shinta lalu memeluk nya, kedua nya saling memeluk begitu erat lalu saling melepaskan satu sama lain. Sebelum pergi, Caca menandatangani surat perjanjian itu. Lalu memberikan nya kepada orang suruhan Arvan yang sedari tadi di samping Arvan. Caca berjalan mendekati suami nya ke dalam mobil.


"Apa aku menyuruh mu untuk duduk di sini?"


Caca menggeleng dan meminta maaf "Maafkan aku, aku akan duduk di depan saja." Caca pun keluar dari mobil untuk pindah ke depan. Belum sempat Caca duduk di kursi depan samping supir. Arvan menghentikan nya.


"Kau boleh pulang ke rumah ku, tapi aku tidak menyuruh mu untuk satu mobil dengan ku. Kau bisa pergi naik angkutan umum atau jalan sekalipun, tapi jangan pernah berada di dekat ku!" ketus Arvan, Caca terdiam dan meminta maaf lagi kepada suami nya.

__ADS_1


"Maafkan aku ya? Tolong jangan marah lagi, aku akan pergi naik angkutan umum saja." ujar Caca namun Arvan tidak membalas ucapan Arvan. Setelah Caca turun dari mobil, orang suruhan Arvan masuk lalu menutup pintu mobil, mobil itu melaju dengan cepat. Caca berdiri, memandangi mobil suami nya yang semakin jauh dari hadapan nya. Caca menyemangati diri nya sendiri untuk tidak bersedih, ia pun tak memasukan ke dalam hati sikap suami nya itu.


Shinta yang melihat Caca dari jendela rumah nya pun merasa sedih, ia ingin keluar dan menemui Caca namun Revan melarang.


"Tidak, lebih baik kau tetap di sini. Mau sampai kapan kau terus-terusan membuat Caca bergantung padamu? Dia sudah dewasa, biarkan dia menyelesaikan masalah nya sendiri. Dan, ini juga keputusan Caca, dia bisa memilih pilihan lain bukan? Sudah lah, biarkan Caca bangkit dengan sendiri nya." ujar Revan yang memberikan pengertian kepada isteri nya, bukan Revan tak peduli dengan Caca. Namun, Revan tidak ingin dia atau pun Shinta terlalu mencampuri masalah Caca, ia ingin Caca menghadapi masalah ini dengan sendiri nya. Revan pun berdoa agar masalah rumit yang di hadapi keluarga Caca bisa terselesai kan.


Revan mengajak isteri nya untuk masuk ke dalam kamar, Shinta pun menolak. Ia ingin sekali menemui Caca.


"Apa sebaik nya kita minta tolong supir untuk mengantar Caca? Atau kau saja yang mengantar nya pulang. Kasihan dia jika harus pulang sendirian."


"Jangan! Aku tidak ingin Arvan salah paham pada kita, mungkin Arvan selalu diam setiap kau memarahi nya, karena dia menyayangi mu sebagai adik. Namun, jika aku turun tangan, Arvan akan kembali salah paham dengan ku atau Caca. Dia tidak akan menerima itu semua, alasan Caca membuang anak mereka juga karena aku dan Syifa. Karena dulu Caca selalu memikirkan kami. Jadi, untuk saat ini Arvan masih begitu sinis padaku. Kau tidak lihat, bagaimana cara ia tadi menatap ku? Penuh dengan kemarahan, jika aku mengantar nya pasti Arvan akan semakin marah pada Caca. Itu akan memperburuk hidup Caca, saat ini biarkan kedua nya tenang dan menyelesaikan masalah mereka. Kau tahu, jika Arvan tidak mencintai Caca, dia pasti akan menceraikan Caca suka atau tidak. Caca pasti akan menerima gugatan dari Arvan, namun Arvan tidak melakukan itu. Ia menyuruh Caca untuk memilih, tanda nya apa? Tanda nya Arvan masih mencintai Caca, ia pun tak sanggup jika harus berpisah dari Caca wanita yang ia cinta. Namun, saat ini Arvan hanya butuh waktu. Ini tidak mudah untuk nya, hati nya masih rapuh. Kami para pria juga bisa merasakan sakit dan kecewa. Ini semua hanya tentang waktu."


Shinta pun memikirkan ucapan suami nya, kedua pasangan itu menatap luar jendela. Memperhatikan Caca dari kejauhan.


"Bagaimana jika Arvan menyakiti Caca kembali?"

__ADS_1


"Tidak, aku yakin. Arvan tidak akan melakukan itu, dia tidak akan melakukan kekasaran fisik. Mungkin, kemarin dia begitu kecewa. Lagipula, kemarin Arvan juga tidak sadar memukul Caca. Aku masih mempunyai harapan dengan hubungan mereka. Sayang, aku seorang lelaki. Jadi aku tahu, apa yang Arvan pikirkan saat ini. Dia masih mencintai Caca namun ego nya yang begitu besar membuat nya melakukan ini semua. Arvan malu jika harus meminta maaf dan membujuk Caca pulang ke rumah, sebab itu dia melakukan hal ini." ujar Revan kembali


__ADS_2