
"Aku sedang membayangkan jika nanti anak ku, Caca, dan juga Kay sudah lahir. Betapa akan bertambah ramai nya rumah Ibu. Seperti taman kanak-kanak. Pasti begitu sangat repot namun sangat bahagia rasanya. Di kelilingi oleh malaikat-malaikat kecil seperti mereka." Rasanya Shinta todak sabar untuk segera melahir kan.
"Kau benar, Sayang. Bagaimana jika Taman belakang Ibu kita jadikan taman kanak-kanak saja. Jadi mereka bisa bermain sepuasnya seperti di taman kanak-kanak biasa nya. Kita pun bisa bersantai dan melihat anak-anak kita bermain dengan perasaan riang dan bahagia." sambung Revan
"Itu ide yang bagus, Sayang. Apa Syifa setuju nak?" Shinta menatap Syifa. Setiap keputusan atau tindakan Shinta selalu menanyakan pendapat Puteri sambung nya. Apakah Syifa suka dan nyaman atau tidak. Karena Shinta tidak ingin mengambil keputusan yang membuat Syifa merasa sedih atay tidak nyaman. Bagi nya kenyamanan dan kebahagiaan Syifa dan anak-anak nya itu adalah hal yang utama.
"Sayang?" tanya Shinta kembali. Ia masih menunggu jawaban dari Syifa dengan sabar.
"Sangat setuju mama." jawab Syifa dengan menatap mata sang ibu. Shinta pun tersenyum dan memeluk Syifa dan segera melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Syifa tidur ya, nak. Pasti sangat lelah perjalanan kita." ucap Shinta dengan lembut. Syifa menurut dan segera berbaring serta memejam kan kedua mata nya. Setelah syifa tidur dengan pulas. Shinta pun menumpah kan segala kerinduannya dengan si kembar.
"Mama kangen banget sama kalian." Shinta menggendong Alana lalu mengecup pipi bulat Alana dengan perasaan sayang. Baby Alana terkekeh geli akibat kecupan sang ibu. Mendengar tawa Alana yang cukup kuat di telinga Syifa. Syifa membuka kedua mata nya sedikit. Ia melihat Shinta yang sedang memainkan kedua adik kembar nya. Hati Syifa merasa bahagia dan sedikit sakit. Sejujurnya ia sangat cemburu melihat Shinta bermain dengan si kembar. Bagaimana pun si kembar adalah anak kandung Shinta. Sedangkan ia hanya lah anak sambung.
"Kenapa aku berpikiran seperti itu? tidak. Mama Shinta tidak pernah membeda-bedakan aku dengan adik kembar. Bahkan mama lebih memikirkan perasaan ku. Buktinya mama sangat menjaga perasaanku. Ia tidak pernah melihatkan perhatiannya yang lebih kepada si kembar di hadapanku. Mama sangat menjaga perasaanku. Dan aku juga sangat menyayangi mama dan si kembar." batin Syifa. Syifa berulang kali meyakinkan hati nya. Lalu ia pun memejam kan kedua mata nya dan tertidur dengan lelap.
******
"Sial aku lupa membawa nya." kesal Kay. Ia berusaha menenangkan diri
__ADS_1
"Aaaaa." teriak Kaynara dengan tertahan
*****
Syafa yang ingin kembali ke kamar nya. Mendengar kan suara teriakan seperti menahan sakit. Syafa mendekat ke arah suara tersebut ternyata dari kamar Kaynara. Syafa mengetuk pintu kamar Kaynara namun tidak ada tanggapan.
"Kay? ini Ibu, nak." ucap Syafa memanggil kaynara dengan lembut.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Syafa kembali mengetuk pintu kamar Kaynara.
"Sayang. Kamu baik-baik aja?"