
Di meja makan, Syifa meminta maaf kepada Daddy-nya "Daddy, maafin Syifa kalau Syifa sudah membuat kekacauan dan mungkin Daddy tidak terima karena anak Daddy Syifa perlakuan seperti itu,"
"Tidak nak! Kamu kakaknya, kamu berhak memberikan pelajaran untuk adik-adik kamu jika mereka bersalah. Sebab, Daddy sekarang sangat lemah dan juga mami kalian selalu memanjakannya. Hanya kamu harapan, agar bisa mendidik adik mu,"
Syifa tersenyum, mereka pun melanjutkan makan mereka.
*****
"Mami kenapa sih membela kakak? Kalau di depan mereka mami membela ku, mami sayang siapa sih Huaaa...! Huaaaa...."
Raisa masih kepedasan, Caca menggelengkan kepalanya "Mami menyayangi kalian, mami tidak akan membela siapapun yang salah. Dan mami ingat kan kamu untuk menjaga sikap, kamu lihat bagaimana kakak mu bukan? Dia tidak akan segan-segan menghukum dan memberi kamu pelajaran lagi!"
"Seharusnya mami memarahinya, kenapa memarahi aku?"
"Mami tidak memarahi kamu, mami hanya menasehati kamu agar kamu bisa menjaga sikap dan ucapan kamu, nak! Sudah ayo kita kembali ke meja makan!"
Raisa menuruti maminya, melihat kehadiran Raisa. Syifa hanya menoleh sedikit lalu ia tak menghiraukan adiknya itu, Raisa pun diam. Melanjutkan makannya tanpa mengatakan apapun lagi, ia merasa kapok berbicara sembarang di depan sang kakak
Setelah selesai makan, Syifa dan Khanza yang sudah terbiasa di rumah membantu mamanya setelah makan membersihkan meja makan pun mengambil piring kotor untuk di bersihkan
"Syifa, Khanza kalian mau apa?"
"Cuci piring!" Jawab mereka serentak, Caca dan Arvan kebingungan dengan keduanya "Nak, kamu tidak harus melakukan itu. Ada pelayan yang akan membersihkan ini semua,"
"Daddy, di rumah mama dan papa pun juga ada pelayan. Namun, mama dan papa selalu membiasakan kami untuk mandiri, memang ada pelayan tapi meringankan pekerjaan pelayan itu tidak akan membuat harga diri kita turun," Khanza mengatakan itu dengan bijak
"Iya nak, mama Shinta kalian selalu memberikan pelajaran yang baik sehingga kalian tumbuh menjadi anak yang baik dan bijaksana!"
"Iya, kalau Raisa kan enggak pernah diajarin! Mami hanya fokus dengan Daddy! Sebab itu aku tidak mengerti," Raisa menyahut, ternyata wanita itu tidak kapok diberikan cabai oleh Syifa.
Syifa menatapnya seakan ingin menerkam, membuat Raisa merasa ketakutan "Kan aku hanya mengatakan yang sebenarnya, aku enggak maksud apa-apa kok! Hanya ingin memberitahu saja, kakak jangan melihat ku seperti ingin mencengkram aku dong!"
Rupanya Raisa ketakutan, Syifa tak menghiraukan
__ADS_1
Raisa ingin pergi, namun dicegah oleh Syifa "Hey, kamu mau kemana Raisa?"
"Iya, aku mau ke kamar. Kan sudah selesai makan!"
Syifa dan Khanza saling bertatapan satu sama lain, tersirat senyuman yang penuh arti dari keduanya "Raisa, kan kamu bilang kemarin di sana mami fokus sama kesehatan Daddy, dan sekarang. Ada kakak, kakak akan mengajarkan kamu bagaimana bersih-bersih,"
"Apa? Kakak sudah gila ya? Kan sudah ada pelayan, untuk apa?"
"Agar kamu tahu bagaimana disiplin!"
Raisa menoleh ke arah maminya, seakan meminta perlindungan. Caca ingin protes kepada Syifa, namun ia melihat suaminya yang menggeleng seakan memberikan kode untuk tidak ikut campur.
"Raisa, yang kakak mu katakan itu benar. Dan kamu harus menuruti semua ucapan kakak mu, lagipula menurut mami itu hal yang baik dan positif, suatu saat kamu akan menikah. Kamu harus tahu bagaimana cara bersih-bersih rumah,"
"Untuk apa? Memangnya Raisa akan menikah dengan orang miskin? Nanti Raisa saat menikah juga memakai pelayan!"
"Kakak, roda itu berputar. Bagaimana jika kehidupan selanjutnya kakak kesusahan? Saat tidak ada pelayan, kakak ada bekal untuk membersihkan rumah!"
Raisa membentak Khanza yang menurutnya sangat menyebalkan!
"Raisa, kenapa kamu membentak adik mu seperti itu? Kamu jangan kasar dong sama adik mu!"
Raisa terdiam, tak ada pilihan. Ia pun mengikuti ucapan Syifa
Raisa tahu, jika Syifa sengaja melakukan itu. Saat anak-anak melakukan bersih-bersih, Arvan mengajak istrinya Caca untuk ke kamar, kini Raisa tidak ada lagi yang membela. Ia harus mengikuti ucapan Syifa.
Setelah kedua orang tua mereka pergi, Syifa dan Khanza memindahkan piring kotor ke dalam wastafel.
"Raisa, sini! Kamu kenapa melihat saja?"
Raisa pun datang menghampiri kakaknya, ia masih sedikit takut dengan Syifa. Jika di depan kedua orangtuanya saja Syifa bisa bersikap bar-bar, apalagi tidak ada mami dan Daddy mereka? Habis lah riwayatnya
"Iya kak, apa yang harus aku lakukan?"
__ADS_1
"Kakak akan memisahkan sisa-sisa makanan, dan tugas kamu mensabuni piring ini hingga bersih. Nanti Khanza yang akan membilasnya, dan kakak yang akan menyusunnya!"
"Non Syifa, non Raisa, non Khanza. Sedang apa? Sini biar bibi saja yang mencucinya!" Raisa kegirangan, akhirnya ada pelindung batinnya "Tidak perlu bi, biar kami saja! Bibi bisa mengerjakan yang lain," ujar Syifa dengan lembut dan ramah
Pelayan itu menuruti ucapan majikannya, membuat Raisa cemberut!
Raisa pun terpaksa menuruti ucapan kakaknya, ia mencuci piring namun karena tidak terbiasa. Kuku palsu yang indah milik Raisa lepas
"Huaa, kuku ku!" Raisa panik, tangannya terasa panas "Diam kau berisik sekali! Mau aku pukul pakai sendok?" Syifa yang geram pun mengancam adiknya membuat Raisa bungkam.
Bersama dengan kakaknya tidak se-asyik waktu sepuluh tahun yang lalu. Kini, didekat Syifa berada seperti di neraka! Raisa tak berani berkutik, melainkan hanya bisa melanjutkan semuanya hingga selesai.
"Baru kerja sedikit sudah manja!" Kini gantian Syifa yang nyinyir, Raisa tak menjawab karena ia takut apalagi tidak ada maminya, jika ada maminya pasti Raisa sudah menantang kakaknya itu.
Khanza terkekeh, Raisa menatap galak Khanza. Namun adiknya tak tinggal diam, ternyata ia lebih bar-bar dari kakaknya. Khanza memijak kaki Raisa membuat wanita cantik itu meringis
"Kakak, maafin Khanza! Khanza sengaja ehh maksudnya tidak sengaja! Soalnya mata kakak seram sih, seperti mau krluar begitu. Kan takut! Tapi bohong!" Khanza terkekeh lagi, bahkan ia menantang Raisa.
Raisa yang kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa "Mengapa kalian jahat kepada ku?" Kini Raisa meneteskan air mata, dirinya merasa tertekan. Memiliki saudara sangat buruk, langkahnya selama ini sudah benar menurutnya.
"Kita enggak jahat, kalau enggak kakak yang mulai! Kakak dan kak Syifa jauh lebih cantik kakak ku Syifa, tapi kak Raisa sangat sok cantik sekali. Muka seperti badut sangat dempul! Sudah tidak cantik, tapi manja sekali. Lihat lah kakak ku, dia cantik alami dan tidak pernah takut mengerjakan pekerjaan rumah!"
Raisa merasa terhina, ia segera menyelesaikan tugasnya dan berlalu pergi. Namun Khanza tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja, ia pun menjegal kaki sehingga Raisa terjatuh.
"Ha-Ha-Ha! Kakak maaf, Khanza sangat sengaja membuat kakak jatuh,"
Syifa langsung membantu Raisa untuk bangkit, ia pun tidak tega melihat adiknya di perlakukan seperti itu. Namun Raisa harus di berikan pelajaran agar bisa menghargai orang lain
"Bangun, ayo!"
"Lepasin! Kakak senang kan melihat aku jatuh seperti ini? Lihat lah adik kesayangan mu itu! Sikapnya sangat buruk kepada ku!" Raisa dengan manja mengadu kepada Syifa
"Itu sedikit pelajaran untuk mu. Lain kali, jangan pernah mengatakan hal buruk yang akan menyakiti hati orang lain. Apalagi selalu mengungkit Daddy yang sakit, dan kamu tidak diperdulikan. Ya mungkin selama ini, kamu menang karena tidak ada kami. Namun sekarang, ada aku dan Khanza. Kamu tidak akan membiarkan anak manja seperti mu membuat mami dan Daddy sedih lagi! Mengerti adik ku, sayang?"
__ADS_1