Ibu Sambung

Ibu Sambung
Merasa Bangga


__ADS_3

Raisa bertanya kepada ibu nya apakah sudah siap. Caca pun mengatakan sudah bersiap.


"Mami, apakah kita bisa pergi sekarang?"


"Bisa nak, di mana kakak Syifa?"


"Kakak sedang memanggil Daddy, mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Kita menunggu di mobil saja mi. Mungkin, Daddy dan kakak sudah berada di dalam mobil."


"Baik lah, Sayang."


Caca dan Raisa pun berjalan menuju mobil, namun tiba-tiba perut Raisa terasa sakit.


"Mami duluan saja masuk mobil, Raisa mau buang air besar sebentar." Raisa memegang perut nya. Caca ingin menemani sang anak, namun Raisa menolak.


"Tidak mi! Raisa kan sudah besar, sebaik nya mami duluan saja di mobil. Kakak pasti jenuh menunggu di mobil."


"Baik lah, Sayang."


Caca pun pergi sendirian menuju mobil. Raisa tersenyum penuh kemenangan, sebenar nya ia tidak sakit perut. Diri nya hanya berpura-pura dan itu salah satu rencana dari ia dan Syifa.


Agar mami dan Daddy mereka memiliki ruang berdua, walau hanya sebentar.


"Rencana kita berhasil, tinggal selangkah lagi." ujar Syifa yang tiba-tiba berada di belakang Raisa. Raisa menoleh ke arah sang kakak, lalu memeluk Syifa dengan begitu senang.


"Benar kak, terimakasih sudah menjadi kakak ku. Raisa berharap, agar Daddy dan Mami bisa kembali bersatu."


"Benar. Kita harus menyatukan Mami dan Daddy." Ke dua nya menatap kepergian sang mama, menyadari mama mereka menoleh ke belakang. Raisa dan Syifa pun segera bersembunyi.


"Aneh sekali, aku merasa seperti Raisa dan Syifa mengobrol. Atau itu hanya perasaan ku saja, Raisa kan sedang berada di toilet. Dan Syifa, pasti sudah di dalam mobil.


Caca segera berjalan menuju mobil, ia pun masuk ke dalam mobil.


Caca kaget, hanya ada Arvan di dalam mobil. Ia mencari Syifa berada di mana. Arvan menjelaskan jika Syifa masih di kamar mandi membuang air besar.


"Syifa masih ada di toilet, perut nya sangat sakit dan ingin membuang air besar kata nya. Mungkin, sebentar lagi dia akan datang.


Caca pun mengangguk, ke dua nya masih sangat canggung. Caca menunduk, Arvan memandangi isteri nya yang diam saja.


Kejadian kemarin, berhasil membuat Arvan bungkam dan melupakan segala amarah nya. Bahkan, saat ini dia merasa sangat bersalah pada Caca tapi dia bingung harus mengatakan apa.


Begitu juga dengan Caca, diri nya merasa sangat tidak enak dengan ucapan nya kemarin yang begitu menyakitkan.. Caca juga tidak paham, mengapa kemarin dia kehilangan kendali seperti itu. Caca ingin meminta maaf, namun hati nya juga sudah terlalu lelah. Belum tentu, Arvan mau memaafkan nya..Caca tidak ingin terjadi Keributan apalagi di depan anak-anak mereka.


Cinta tidak salah, ego lah yang membuat pasangan yang saling jatuh cinta menjadi jauh satu sama lain


Arvan memberanikan diri bertanya kepada Caca, menggunakan alasan anak nya.


"Di mana Raisa?"


"Raisa juga sedang membuang air besar."


"Aneh sekali, mengapa ke dua nya sama-sama membuang air besar?"


"Tidak tahu!" jawab Caca singkat, ia pun menatap luar jendela.


Ada senyuman di wajah Arvan, ia seakan mengerti dengan rencana anak-anak nya.


"Mungkin, ini salah satu cara anak-anakku untuk membuat kami berdamai. Terimakasih sayang, Daddy sangat mencintai kalian berdua!" batin Arvan.


Raisa dan Syifa pun masuk ke dalam mobil secara bersamaan.


"Mami!" panggil ke dua nya. Caca menoleh, dan bertanya kepada anak nya mengapa berteriak.


"Mama, kenapa mama duduk di belakang? Mama harus duduk di samping Daddy. Kan Syifa dan Raisa yang di belakang."


"Kita kan bisa di belakang bertiga, sayang? Mengapa ini menjadi persoalan?"


"Daddy bukan supir, mami. Dia Daddy kami, suami nya mami."


Caca terdiam, melihat ke arah Arvan, Arvan menatap Caca dari kaca mobil depan.


"Ayo mami pindah! Nanti kita bisa terlambat."


Caca pun mengalah, ia turun dan masuk ke dalam mobil depan, di samping tempat duduk suami nya.


Ke dua nya saling pandang satu sama lain, Caca langsung memalingkan wajah nya.


Saat ini, dia tidak tahu mana yang benar, mana yang salah. Hati nya sudah terlalu hancur karena sikap dari sang suami beberapa hari ini. Caca sudah berada di titik paling terlelah nya. Hampir dua belas tahun pernikahan mereka.

__ADS_1


Tapi, Arvan tidak pernah mengerti diri nya hanya memikirkan kemarahan dan keegoisan nya saja.


Arvan segera melajukan mobil nya, menuju bioskop.


Sesampai di sana, Caca ingin memesan tiket. Namun, Syifa dan Raisa mengatakan ingin menonton film horor.


Caca tidak suka film horor, karena diri nya takut. Raisa dan Syifa pun semakin memiliki ide.


"Mami, please. Raisa sangat ingin nonton horor."


"Tapi, sayang."


"Sudah la mama, atau begini saja. Mama dan Daddy nonton film action sedangkan Syifa dan Raisa nonton film horor bagaimana?"


"Tidak! Mama ngga mau! Bagaimana bisa kami membiarkan kalian nonton berdua saja, dan terpisah begitu. Baik lah, mama akan mengikuti permintaan kalian. Kita akan menonton film horor."


"Yey!" teriak Raisa dan Syifa secara bersamaan, mereka sangat senang


Caca memesan tiket nya, Arvan pun mendekati sang isteri.


"Kau takut dengan film horor, sebaik nya jangan ikuti permintaan anak-anak."


"Tidak apa-apa! Aku akan melakukan apapun untuk kesenangan mereka."


"Tapi kau tidak menyukai itu."


"Banyak hal yang tidak aku sukai tapi sudah aku lakukan, jadi hal seperti ini tidak lah masalah besar." ujar Caca dengan dingin.


Arvan pun terdiam, Caca berjalan meninggalkan suami nya di belakang. Ia memegang empat tiket itu dengan gemetar, Syifa dan Raisa meminta Daddy mereka untuk membeli popcorn.


Arvan pun mengiyakan ucapan anak-anak nya, Arvan memesan empat popcorn ukuran besar.


Perhatian-perhatian. Pintu teater telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater…


Perhatian-perhatian. Pintu teater telah dibuka. Bagi Anda yang telah memiliki karcis dipersilahkan untuk memasuki ruangan teater…


Caca, Arvan, dan ke dua anak mereka pun masuk ke dalam. Caca memberikan karcis tersebut kepada karyawan penjaga pintu. Setelah karcis itu di robek, mereka bisa masuk ke dalam


Raisa dan Syifa memilih untuk duduk di ujung, dan membiarkan ke dua orang tua nya untuk duduk bersebelahan.


"Kak, sebenarnya aku juga takut film hantu." bisik Raisa kepada Syifa, Syifa pun tertawa. Karena diri nya juga takut film horor.


Raisa pun mengangguk setuju, mereka akan melakukan apapun demi ke dua orang tua mereka kembali bersatu.


Caca yang begitu berdebar. Ia sangat takut film hantu, tangan nya ber-gemetar walau film itu belum di mulai.


********


Shinta berhasil menghindar dari sarapan pagi dengan beralasan tidak enak badan.. Namun, siang ini dia tidak bisa menghindar lagi untuk makan bersama.


Shinta memilih memakai baju yang berleher. Jadi, menutupi bekas yang telah di lakukan oleh suami nya.


Baju nya begitu ketat, memperlihatkan tubuh Shinta lebih sexy


"Bagaimana tidak ketat, ini kan baju ku masih gadis. Dan sekarang, aku sudah melahirkan tiga anak. Sesak sekali rasanya." Shinta mengumel sendirian, ia tidak nyaman lagi memakai baju lama nya.


Bukan karena baju itu lama, namun karena baju itu sangat ketat dan memperlihatkan lekukan tubuh nya.


Untung saja, tubuh nya itu tidak memiliki lemak di mana-mana, Revan yang melihat isteri nya itu pun terbelalak takjub.


"Sayang, kau terlihat sangat sexy dari biasa nya." goda Revan yang memeluk sang isteri dari belakang.


"Tolong, sudah lah. Aku tidak ingin bercanda."


"Siapa yang bercanda, kau memang sangat cantik sekali memakai baju ini." Tangan Revan berada di dada isteri nya, sesekali meremas dengan lembut.


Shinta melepaskan tangan Revan, menjauhkan diri nya dari sang suami yang begitu sangat ganas.


Lebih baik pergi dan mencari aman saja! Itu lah yang pikirkan oleh Shinta. Ia pun ke luar dari kamar, menuju ruang makan untuk makan siang bersama.


Ibu Syafa dan ayah Gunawan saling pandang satu sama lain, mereka bingung mengapa anank nya memakai baju lama yang kelihatan nya sudah sangat sempit.


"Sayang, apa kamu tidak membawa baju?" tanya ibu Syafa dengan lembut.


"Bawa kok Bu, Shinta sedang rindu aja memakai baju ini. Boleh kan Bu?"


"Bo-boleh, sayang. Tapi, itu apa tidak terlalu sesak sama kamu? Seperti nya sangat ketat."

__ADS_1


"Tidak sesak kok Bu, nyaman malahan." ucap nya berbohong, apalagi yang bisa ia katakan.


Tidak mungkin dia mengatakan kepada ayah dan ibu nya jika diri nya memakai baju ini terpaksa, untuk menutupi leher nya.


Alan dan Alana berlari, menuju ruang makan.


"Mama, itu baju siapa?" tanya Alana yang bingung, Shinta menjelaskan jika itu baju nya saat masih gadis.


"Ini baju mama, sayang. Saat mama masih muda."


"Sepelti nya itu lebih cocok di pakai oleh kakak Syifa." ujar Alana.


Shinta pun terdiam, dengan polos Alana bertanya apakah mama nya memakai baju itu untuk menutupi bekas gigitan serangga nakal. Shinta pun terdiam.


Mati lah aku! Anakku memang sangat polos.


Shinta pun tersenyum, malu.


"Sayang, serangga apa?"


"Iya, nenek. Tadi pagi, mama ke Kamal kami. Alan dan Alana melihat lehel mama memelah, kata mama di Kamal ada selangga. Selangga nya sangat nakal, membuat Mama sakit. Iya kan Alan?"


Alan pun mengangguk, kini ibu dan ayah Gunawan sudah mengerti, apa maksud dari ke dua cucu nya..


Shinta semakin malu, wajah nya memerah.


"Sudah, mari kita makan." ajak ibu Syafa. Ia tidak ingin anak nya merasa malu seperti itu, Shinta pun duduk. Tidak lama kemudian, Revan datang dan duduk di samping isteri nya.


"Papa, apakah selangga nakal itu menggigit papa juga?"


"Serangga apa sayang?"


"Selangga yang menggigit lehel mama, papa bagaimana sih!"


Huk! Huk!


Revan yang minum pun tersedak mendengar ucapan anak nya.


Haha! Sekarang, kau merasakan apa yang ku rasakan. Ayo, jawab lah pertanyaan anak kita, sayang!


Shinta tertawa puas di dalam hati nya, ia pun menoleh ke arah Revan memberikan kode. Revan merasa kesal melihat isteri nya yang meledek seperti itu.


"Alan, Alana. Sebaiknya kita makan ya nak? Serangga nya sudah pergi, jadi jangan membahas nya lagi ya, sayang?"


"Iya, Oma." jawab Alan dan Alana secara bersamaan.


Mereka pun menghabiskan makanan dengan tenang, setelah selesai makan. Alan dan Alana bertanya kapan kakak mereka akan pulang, Si kembar sangat merindukan kakak nya itu.


"Sayang, kakak sedang menginap di rumah mami bersama kak Raisa."


"Kak laisa? Dia bukan nya teman kakak waktu itu ma?"


"Iya, sayang. Bener. Dan dia juga kakak nya kalian, anak nya mami Caca dan Daddy Arvan."


"Anak? Maksud nya bagaimana?" tanya ibu Syafa yang merasa bingung, Shinta pun meminta kepada anak-anak nya untuk bermain di kamar.


"Sayang, kalian sudah makan nya kan nak? Main di kamar dulu ya? Mama mau bicara dengan Oma dan opa."


"Iya ma," Alan dan Alana pun pergi dari ruang makan.


Shinta menceritakan segala nya kepada ke dua orang tua nya.


Ibu Syafa masih tidak menyangka.


"Sebenernya, Tata nggak berhak memberitahu ibu dan ayah. Namun, karena kalian ingin tahu dan tata rasa ibu dan ayah juga berhak tau. Kalian juga orang tua nya Caca, makanya tata memberitahu kalian."


"Ibu nggak sabar ketemu sama cucu ibu yang lain nya. Pasti dia sangat cantik seperti Caca dan Syifa."


"Benar Bu, Raisa sangat cantik. Dan dia juga memiliki hati yang baik seperti mama nya. Syifa dan Raisa saat ini sedang berjuang agar Arvan dan Caca bisa berbaikan lagi. Makanya, Syifa meminta izin untuk menginap di sana Sampai keadaan membaik."


"Apa? Jadi itu sebab nya, tapi mengapa kau atau Syifa tidak memberitahu ku?" Shinta menoleh ke arah suami nya, menggenggam tangan Revan.


"Kami ingin memberitahu mu, tapi tunggu waktu yang pas. Aku nggak mau, kamu marah sama Syifa dan malah membuat keadaan semakin kacau. Emosi nya sangat sulit di padamkan, sebaik nya menyelesaikan masalah satu-satu dulu."


"Sudah lah, Revan. Kamu jangan marah kepada anak mu, seharusnya kamu dan kita semua bangga kepada Syifa. Walau usia nya masih sangat kecil, namun dia memiliki pikiran yang sangat bijak. Dan tujuan nya itu sangat baik, memperbaiki keretakan di antara Caca dan Arvan." ucap ayah Gunawan. Ayah Gunawan, jarang mau ikut campur dalam rumah tangga anak-anak nya.


Namun, saat ini menurut nya apa yang dilakukan oleh Shinta dan Syifa itu tidak salah.

__ADS_1


"Emosi mu sama seperti ayah, tidak stabil. Kita pria berfikir hanya menggunakan logika, sedang kan wanita menggunakan hati. Biarkan Syifa melanjutkan niat baik nya. Lagipula, ayah yakin kalian juga ingin yang terbaik untuk Caca dan Arvan."


"Benar nak Revan, Caca sudah banyak sekali mengalami masalah. Ibu ingin, kalian semua bahagia, rumah tangga kalian Adem. Kami sebagai orang tua, selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anak, para menantu, dan cucu-cucu kami."


__ADS_2