
Ponsel Revan berbunyi berulang-ulang. Namun, Revan yang begitu lelap dalam tidur nya pun tak mendengar bunyi ponsel nya itu.
Berulang kali ponsel Revan berbunyi, bahkan seluruh rumah mendengar suara pansel Revan.. Shinta menggelengkan kepala nya, bisa-bisa nya suami nya tidak mendengar suara ponsel itu.
"Sayang, bangun. Itu ponsel mu terus saja berdering, aku tidak bisa tenang mendengar suara ponsel mu. Ayah dan Ibu pasti juga akan terganggu tidur nya. Mengapa bunyi nya sekuat ini seperti memakai toak saja." keluh Shinta, melihat suami nya yang tidak merespon. Shinta mengambil ponsel suami nya itu. Ternyata itu panggilan dari mama Lily, ibu mertua Shinta.
Shinta segera menjawab panggilan itu.
Hallo mama, ini tata. Revan nya sedang tidur ma, tata sudah mencoba membangunkan nya namun dia tidak mau bangun ma. ~Shinta
Iya sayang, mama mau mengatakan jika mama dan papa sudah berangkat ke bandara. Kita harus pergi ke Amerika karena ada saudara papa mu yang sedang sakit. Mama sudah menghubungi kalian dari tadi, namun kalian tidak ada yang menjawab. ~Mama Lily.
Maafkan tata ma, ponsel tata sedang di charger dan Tata di berada di luar kamar. Tata baru saja mengurus ibu yang sedang sakit. Sungguh tata nggak bermaksud membuat Mama susah menghubungi kami.
Shinta merasa sangat bersalah namun ibu mertua nya yang sangat baik pun menenangkan tata dan mengatakan tidak perlu merasa khawatir atau merasa bersalah. Mama Lily pun meminta maaf karena belum sempat menjenguk besan nya itu.
*Mama yang harus nya meminta maaf, sayang. Mama dan papa belum sempat menjenguk besan kami. Kirim kan salam mama kepada ayah dan ibu mu ya nak. Mama sebentar lagi akan berangkat. Mama tutup dulu telepon nya ya? ~Mama Lily.
Iya, ma. Mama dan Papa hati-hati ya? Sungguh tata sangat menyesal karena sudah membuat Mama dan papa menghubungi kami dari tadi. Dan kami tidak bisa mengantar mama dan papa. ~Shinta
Tidak apa sayang, jangan merasa bersalah seperti itu! Mama dan Papa juga tidak marah kepada kalian. Mama hanya ingin memberitahu itu saja. Mama Titip cucu-cucu mama ya. Katakan kepada mereka jika nenek mereka sangat rindu ~Mama Lily
Baik lah, ma. Mama dan Papa hati-hati ya. Kabarin jika sudah sampai sana ~Shinta*
Panggilan Terputus.
Shinta membangunkan suami nya, ia mengatakan kepada Revan mama Lily dan Papa Tommy akan berangkat ke Amerika.
Mendengar itu, Revan langsung terbangun dan bangkit.
"Ada apa? Mengapa mereka harus ke sana, apa ada terjadi sesuatu? Ayo bersiaplah, kita akan mengantarkan mama dan papa ke bandara."
Ujar Revan yang langsung menuju kamar mandi namun Shinta mengatakan jika itu tidak perlu. Revan mengurungkan niat nya, dan membalikan tubuh nya ke arah sang isteri.
"Apa maksud nya tidak perlu?"
"Karena mama dan papa sudah masuk ke dalam pesawat sekarang. Tadi mama menghubungi kita. Kau juga, kenapa tidak menjawab panggilan dari mama dan papa." kesal Shinta kepada suami nya.
Revan pun membela diri dan mengatakan jika dia tidak tahu.
"Aku kan tidur, mana aku tahu jika mama dan papa menghubungi ku. Memang nya kemana ponsel mu? Pasti mama tidak hanya menghubungi aku. Dia pasti menghubungi diri mu."
"Memang, namun aku sedang mencharger ponsel ku. Dan ponsel ku dalam keadaan hening. Jadi, aku tidak tahu jika mama menelpon ku. Tapi kau, ponsel mu berbunyi sangat deras namun mau mengabaikan nya."
"Aku tidak mengabaikan nya, aku memang tidak mendengar nya, sudah lah. Jangan di perpanjang lagi,.lagipula mama dan papa sudah naik ke dalam pesawat."
"Iya." ujar Shinta, ia pun duduk di samping suami nya.
Revan Kembali bertanya kepada sang isteri kemana orang tua nya pergi dan mengapa sangat mendadak?
"Mama bilang, family dari papa sedang sakit keras. Semua di minta untuk berkumpul, mama sebenarnya ingin mengajak kita makanya Mama menghubungi kita. Namun, salah satu di antara kita tidak ada yang menjawab hal itu membuat papa marah besar."
"Kenapa papa harus marah? Kita kan tidak sengaja mengabaikan panggilan dari mereka. Lagipula mama Syafa sedang sakit. Aku tidak bisa membawa mu pergi dari sini saat mama Syafa masi sakit apalagi berpergian sejauh itu. Anak-anak juga kasihan."
Shinta pun setuju dengan ucapan suami nya.
Tidak mungkin, Shinta meninggalkan ibu nya di saat seperti ini.
"Sudah lah, mama dan papa akan mengerti lagipula jika mama marah. Mama akan mengatakan nya dari telepon. Tapi, mama tidak marah kan?"
Shinta menggeleng, ia tahu jika mama mertua nya tidak akan marah namun bagaimana dengan ayah mertua nya yang galak?
Pasti papa Tommy mengomel, hanya saja mama Lily tidak membiarkan papa Tommy yang berbicara, karena mama Lily tahu jika papa Tommy yang berbicara.
Semua nya akan hancur, dengan ucapan papa Tommy yang asal ke luar..
********
"Apa yang dikatakan oleh tata?" tanya papa Tommy, Lily memandangi suami nya itu. Apakah ia harus memberitahu atau tidak. Sebelum nya mama Lily sudah berbohong kepada suami nya dan mengatakan jika sudah berbicara kepada anak dan menantu nya.
"Ibu nya Shinta masih sakit, tidak mungkin mereka bisa ikut. Lagipula jika mereka ikut, bagaimana dengan sekolah anak-anak."
Tommy pun membenarkan ucapan isteri nya itu.
"Ya sudah, kita juga tidak tahu akan sampai kapan di sana." ujar papa Tommy, Lili pun hanya mengiyakan ucapan suami nya itu.
__ADS_1
*****
"Kak Minggu depan kita akan ujian, aku sangat takut."
"Takut kenapa? Jika kita belajar, Kita tidak perlu merasa takut."
"Tapi kak, bagaimana jika aku tidak bisa menjawab soal itu?"
"Itu sebab nya kita harus belajar agar kita bisa menjawab soal yang diberikan nanti."
"Kak?"
"Iya."
"Raisa melihat, beberapa hari ini Tama terus saja mendekati kakak."
Huk! Huk!
Shinta terbatuk mendengar nama Tama, saat ia mengingat Tama ia selalu mengingat tentang Amira. Gadis sombong itu, yang sudah membuat sekolah seperti di neraka.
"Kenapa dengan Tama?"
"Tidak penting kenapa dia, yang terpenting Kenapa Kakak terbatuk setelah Kakak mendengarkan namanya, Apakah kakak menyukai Tama?"
"Bicara apa kamu, mana mungkin kakak menyukai diri nya. Dan kita masih terlalu kecil, mengapa membahas tentang suka sukaan? Tugas kita sekarang adalah belajar yang rajin dan buat lah semua keluarga merasa bangga."
"Kakak jangan berbohong, aku tahu kakak memiliki perasaan dengan Tama. Terlihat jelas dari tatapan kakak kepada nya."
"Tidak! mengapa kamu Berbicara asal seperti itu.?"
"Karena aku melihat dari tatapan kalian."
"Tidak, RAISA! sudah lah, jangan berbicara asal seperti itu. Dan kau tahu, jika Amira tahu ini dia tidak akan diam. Dia akan mengatakan jika aku menyukai kekasih nya."
di
"Lagian kak, Tama lebih cocok dengan kakak daripada Amira."
"Raisa!" tegur Syifa, wajah nya terlihat memerah karena malu.
Raisa pun menahan tawa, ia tahu jika kakak nya itu tersipu malu.
"Itu tidak akan mungkin, karena dia milik nya Amira. Dan kakak tidak memikirkan hal itu, yang Kakak tahu hanya lah bagaimana kakak mendapatkan nilai yang bagus dan membuat keluarga kita menjadi bangga, umur kita masih terlalu kecil untuk memikirkan tentang percintaan. Dan kakak juga berharap jika kamu tidak akan memikirkan tentang percintaan seperti itu, itu bukanlah pemikiran seusia kita saat ini kita hanya perlu belajar belajar dan terus belajar."
"Iya Kak, aku setuju dengan kakak namun."
Syifa langsung menghentikan ucapan sang adik
"Cukup Raisa! Kakak tidak mau mendengar ucapan mu yang aneh itu lagi. Jangan membuat kakak pusing, jika orang tua kita tahu. Mereka juga tidak akan menyukai ini, lagipula sejak kapan kau memikirkan tentang percintaan seperti ini?" kesal Syifa kepada adik nya, Raisa tertawa dan memeluk Syifa.
Ia hanya ingin memancing kakak nya saja, Raisa ingin tahu bagaimana perasaan kakak nya kepada Tama.
Raisa khawatir jika kakak nya memiliki perasaan kepada Tama, kakak nya akan di sakiti. Mereka akan mempermainkan perasaan Syifa dan memanfaatkan Syifa.
Namun kini, Raisa tidak perlu merasa cemas lagi.
Raisa mengajak kakak nya untuk belajar bersama, ia juga bertanya kepada Syifa tentang soal pelajaran yang ia tidak terlalu pahami.
Syifa pun mengajari Raisa dengan sabar sampai Raisa benar-benar paham begitu juga dengan Syifa.
Jika ada yang ia kurang mengerti, dan Raisa menguasai mata pelajaran itu Raisa pun akan mengajari kakak nya.
Ke dua kakak beradik ini saling membantu satu sama lain, Si kembar Alan dan Alana pun masuk ke dalam.
Kini, Alana mulai menerima Raisa sebagai kakak nya namun tetap saja, ia tidak rela jika kakak nya Syifa lebih dekat dan memperhatikan Raisa.
"Kakak sedang apa?" tanya Alana yang mendekati Syifa, Syifa tersenyum kepada Alan dan Alana. Ia mengatakan jika mereka sedang belajar untuk persiapan ujian nanti.
Alan dan Alana pun mengerti, bahkan mereka menyemangati Raisa dan juga Syifa.
"Semoga ujian nanti, kakak Syifa dan kak laisa mendapatkan nilai yang sangat bagus." ujar Alan, Alana pun mengiyakan ucapan saudara kembar nya itu.
"Kakak-kakak halus belajal yang lajin agal mendapatkan nilai yang bagus. Mama, papa, Daddy, mami pasti akan suka dan bangga."
"Bagaimana kakak-kakak nya bisa fokus belajar jika kalian seperti ini, kalian mengganggu konsentrasi belajar kakak-kakak kalian." ujar Shinta yang membawa makanan untuk Syifa dan Raisa.
__ADS_1
Si kembar melihat kebelakang, Shinta berjalan mendekati anak-anak nya.
"Kami tidak mengganggu kakak mama, Alan dan Alana hanya melihat Kakak saja."
"Iya, Sayang. Tapi, jika kalian di sini pasti akan membuat kakak-kakak kalian tidak fokus apalagi dengan pertanyaan-pertanyaan Alana."
Alana pun cemberut, mama Shinta tersenyum gemas melihat wajah anak nya yang begitu menggemaskan.
"Alan dan Alana ayo ikut mama saja ke luar, jangan mengganggu kakak Raisa dan kakak Syifa. Biarkan kakak-kakak kalian belajar dengan konsentrasi. Agar nilai mereka bisa bagus nanti nya." Shinta mengajak anak-anak nya untuk ke luar meninggalkan Syifa dan Raisa.
"Mama shinta sungguh pengertian sekali Kak, mama Shinta membawakan kita makanan. Mungkin, mama tahu jika kita sedang akan menghadapi ujian."
Kepala Syifa terasa sangat berat, ia merasa begitu pusing. Pandangan nya mulai kabur, Raisa pun bertanya kepada kakak nya apa yang terjadi.
Shinta yang beru keluar dari pintu kamar anak nya pun mendengar teriakan Raisa..
Shinta langsung membalikkan badan nya, untuk melihat apa yang terjadi.
Wajah Syifa terlihat sangat pucat, namun Syifa masih dalam keadaan sadar.
"Alan, Alana sayang. Kalian panggil Mami, Daddy, dan papa Revan. Tapi ingat sayang, jangan sampai Oma dan opa tahu dulu. Mama nggak mau membuat Oma dan opa merasa khawatir kalian anak-anak kami sangat pintar Mama yakin kalian akan memahami apa yang mama katakan oke sayangku."
"Oke mama." Alan dan Alana pun berlari memanggil semua orang kecuali Oma dan opa nya.
"Kamu kenapa nak? Katakan saja, apa yang sakit. Sayangku. Jangan membuat Mama khawatir." ujar Shinta yang terlihat sangat panik melihat anak nya sakit seperti ini."
"Kakak tidak tahu ma, kepala kakak terasa sangat pusing."
Hasyim!
Melihat anak nya yang bersin, Shinta pun segera memeriksa anak nya dahulu. Tubuh Syifa tidak lah demam, seperti nya Syifa mengalami flu biasa.
Revan, Caca dan Arvan pun masuk untuk melihat keadaan Syifa.
"Sayang, ada apa?" tanya Caca yang mendekati anak nya, Caca memegang tubuh anak nya namun seperti nya Syifa tidak demam.
"Syifa hanya flu, aku akan memberikan nya obat flu. Sayang, kamu jangan minum es lagi ya sebentar lagi kalian kan ujian. Mama nggak mau kamu sakit dan tidak bisa mengikuti ujian tersebut."
Syifa mengangguk, ia juga tidak mengerti mengapa diri nya tiba-tiba seperti ini.
Syifa mengatakan kepada Shinta jika diri nya begitu pusing.
Shinta meminta kepada anak nya untuk istirahat saja "Sayang, kamu lebih baik istirahat saja, mama tidak ingin kamu sakit seperti ini, nak."
"Iya Mama, mungkin Syifa seperti ini karena kemarin terlalu banyak meminum ice cream."
Shinta menatap ke arah Caca, ia pun begitu kesal mengapa Caca tidak mencegah anak nya untuk makan ice cream yang banyak.
"Kenapa kau tidak melarang nya? Kau kan tahu sendiri, jika Syifa tidak bisa terlalu banyak memakan ice cream."
tanpa sadar, Shinta mengatakan hal yang sedikit kasar kepada Caca, mungkin ke khawatiran Shinta membuat diri nya tidak menyadari apa yang telah ia ucapkan.
Caca yang bersedih dengan ucapan Shinta pun meminta maaf, ia merasa jika diri nya memang bukan ibu yang baik.
"Maafkan aku," setelah itu Caca berlalu pergi meninggalkan yang lain nya, Arvan pun mengejar isteri nya tersebut.
Shinta meminta kepada yang lain nya untuk ke luar kamar, ia akan menjaga Syifa sendiri.
"Raisa sayang, jika Raisa ingin belajar lebih baik di luar saja nak, atau di kamar si kembar. Kalian jangan di sini, mama nggak mau kalian juga sakit seperti kakak."
"Iya ma." jawab Raisa dan si kembar secara bersamaan.
Arvan mengejar sang isteri, ia pun memeluk Caca dari belakang agar Caca tidak bisa kemana-mana.
Caca langsung menghapus air mata nya yang berlinang membasahi pipi manis nya itu.
"Sayang, tolong jangan sakit hati dengan ucapan tata. Dia hanya panik melihat Syifa sakit."
Caca membalikkan tubuh nya menatap Arvan, ia mengatakan jika diri nya tidak merasa sakit hati dengan ucapan shinta. Namun, ia membenarkan ucapan Shinta jika diri nya bukan lah ibu yang baik.
"Sayang, jangan mengatakan itu. Kamu tahu sendiri, jika tata juga tidak akan senang melihat kamu menyalahkan diri sendiri seperti ini." Arvan menghapus air mata sang isteri.
"Sungguh sayang, aku tidak tersinggung sedikit pun oleh ucapan Tata. Namun, apa yang di ucapkan oleh tata itu benar. Harusnya aku bisa menjaga anakku. Tapi tidak, aku tidak bisa menjaga nya atau melindungi anak-anak."
"Sayang, jangan mengatakan hal seperti itu."
__ADS_1
"Syifa sakit karena aku," Caca memeluk suami dengan erat. Ia pun menangis di pelukan arvan.
Caca menangis bukan karena ucapan Shinta, namun ia merasa sedih melihat anak nya sakit seperti itu, bahkan Caca tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Andai saja Caca marAh dan melarang Syifa untuk banyak minum ice cream mungkin Syifa tidak akan sakit seperti ini.