
Caca berlari keluar daerah rumah sakit, ia menangis senggugukkan. Dia berjalan kearah jalan besar dan mendatangi rumah teman temannya untuk meminjam uang tetapi hasilnya nihil, bukannya memberi pinjaman. Teman-teman Caca malah menertawakan kebodohannya karena cinta Caca menjadi sengsara padahal dulu ia bagaikan seorang Puteri raja. Semua fasilitas sangat lengkap dan mewah, lupakan masalah itu haha.
"Awshhhh, hiks sakit sekali" ia memegang perutnya yang terasa sangat kram dan sakit. Air matanya meleleh sangat deras menahan sakit di perutnya yang sangat luar biasa, apalagi suaminya sedang sekarat di rumah sakit dan membutuhkan banyak biaya untuk perawatannya. Caca terduduk di pinggir jalan rasanya ia sangat lemah untuk berjalan ataupun berdiri.
"Bertahan lah nak" Mengelus perutnya yang besar. Tampak sebuah mobil mewah berhenti di hadapan Caca orang itu adalah Elsa ibu Caca.
"Caca, kau kenapa!" Tanya Elsa dengan panik, ia memanggil supirnya dengan berteriak agar membantu Caca bangkit dan masuk kedalam mobil, Caca tak membantah sedikitpun karena keadaannya yang sangat lemah, apalagi menahan sakit di perutnya.
"Sakit ma hiks...." Keluhnya memegang tangan mamanya, Elsa menyenderkan kepala anaknya di paha Elsa. Airmata Caca terus saja mengenang, bibirnya sudah sangat pucat dan tangannya gemetar lemah. Elsa membawa Caca kerumah sakit ternama, sesampai dirumah sakit Caca di periksa.
__ADS_1
"Ibu Caca hanya mengalami kontraksi biasa yang terjadi umumnya pada ibu hamil, jangan terlalu stres atau itu akan berdampak buruk pada janin yang ada di kandungannya" Ucap dokter. Elsa hanya mengepalkan tangganya geram, dia semakin membenci Revan karena pria itu anaknya menjadi sengsara seperti ini.
"Ma, Revan hiks....." Caca menangis, Elsa tak menjawab ucapan anaknya. Ia mendekati Caca dan memeluk Puteri semata wayangnya. Walaupun Elsa terlihat sangat sombong dan dingin dia sangat menyayangi anaknya, walau ia tak bisa menunjukkan kasih sayang itu kepada anaknya
"Sayang" Ucap pria paruh baya yang masuk kedalam ruangan tersebut orang itu adalah Brian, Ayah Caca.
"Papa" Caca melepaskan pelukkanya dari Elsa, Brian mendekati anaknya yang sedang menangis kesakitan dan segera memeluk Puteri kecilnya, sedewasa apapun Caca dimata Brian, Caca tetaplah Puteri kecilnya yang selalu manja padanya.
"Mengapa dia sayang?" Tanya Brian mengecup kepala Caca. Sedari kecil Caca hanya dekat dengan papa nya, bukan karena ia tak sayang Elsa. Namun sikap tegas dan dingin Elsa membuat Caca lebih nyaman dengan papa nya yang sangat lembut dan penyayang. Elsa sangat menyayangi Puterinya namun ia tak pandai menunjukkan bagaimana kasih sayang dia, Caca terus saja menangis di pelukkan Brian.
__ADS_1
"Ada apa dengan lelaki pembawa sial itu"
"Cukup ma! Revan lelaki yang sangat berarti bagi aku, awww sakit hiks" berteriak memegang perutnya yang kembali kontraksi
"Sudah tenang lah sayang, kasihan anakmu di dalam" Brian mencoba menenangkan Puterinya kembali. Elsa hanya membuang muka ke sembarang arah, rasanya ia sangat muak dengan Revan. Caca memeluk papa nya sangat kuat dan menangis sejadi-jadinya. Ia masih memikirkan keadaan Revan yang lemah di rumah sakit
"Bagaimana ini, apa mungkin mama mau membantu biaya pengobatan Revan hiks" gumamnya dalam hati.
"Pa" mendongakkan kepala nya menghadap papanya.
__ADS_1
"Ia sayang, kenapa?" menghapus air mata yang meleleh di pipi anaknya sangat deras. Mata Caca sudah menyipit akibat terlalu banyak menangis.