Ibu Sambung

Ibu Sambung
Menangis


__ADS_3

Alana yang manis berjalan-jalan pagi menikmati, keindahan pemandangan di sekelilingnya. Tertawa, dan bernyanyi sesuka hati nya dengan perasaan gembira.


"Lihat kupu-kupu itu, indah sekali. Alana mau ambil ah." ucapnya yang begitu menggemaskan.


Alana mengejar kupu-kupu tanpa ia sadari, diri nya masuk ke sebuah hutan yang begitu sunyi. Alana belum menyadari di mana ia berada. Mata gadis cantik itu masih fokus dengan kupu-kupu yang begitu indah di hadapannya. Kupu-kupu itu pun terbang jauh meninggalkan Alana seorang diri. Alana melihat sekelilingnya, Ia baru menyadari jika diri nya tidak berada di tempat ramai.


"Alana ada di mana? Mama, Papa." teriak nya dengan suara yang begitu menggemaskan. Alana melihat ke arah kanan dan kiri, mencari keberadaan keluarga nya namun tidak ada siapapun. Alana terus berteriak sambil menangis, berjalan terus hingga semakin dalam masuk ke hutan.


"Mama, Papa hiks."


"Alan, tolong Alana. Kakak, nenek, Kakek, tolongin Alana."


"Mami hiks." Alana memanggil seluruh keluarga nya satu persatu, namun tak ada yang mendatangi diri nya. Alana semakin takut, seorang diri berada di dalam hutan.


"Tolong, Alana mau pulang hiks. Mama Alana mau pulang."


Hari semakin larut, membuat hutan itu menjadi gelap dan sunyi. Suara-suara sepi yang membuat diri nya semakin ketakutan.


"Mama, Papa. Alana mau pulang huaaaaaa." nangis nya histeris, hujan pun turun dengan lebat membuat Alana semakin ketakutan.


"Mama di mana, Alana takut hiks." Alana jongkok di bawah pohon yang begitu besar, dia menutup mata dengan menggunakan ke dua tangannya.


"Mama, Tolong Alana. Alana mau pulang aja hiks." Alana semakin takut dan histeris. Dia bingung harus bagaimana, apalagi hari yang semakin gelap. Tiba-tiba Alana di kejut kan oleh suara raungan harimau. Tubuh Alana bergetar hebat, ia semakin takut. Ingin rasanya Alana berlari sejauh mungkin meninggalkan tempat itu. Alana pun memberanikan diri untuk berdiri dan melangkah jauh dengan kaki yang bergemetar. Dahi nya di penuhi dengan keringat.


Suara harimau itu semakin terdengar jelas di kuping Alana.

__ADS_1


"Mama tolongin Alana. Alana mau pulang, Alana nggak mau di makan sama halimau hiks, Alan tolongin saudala kembal mu ini. Alana janji nggak akan menjadi saudala kembal yang menyebalkan. Alana mau sama Alan aja, tolongin Alana." gumam nya dengan penuh rasa takut.


Tidak lama, Alana berhenti. Memundurkan langkah kaki nya dengan gemetar dan rasa takut yang tak dapat ia bendung lagi. Ternyata, seekor harimau tepat di hadapannya. Alana mencoba berlari sekuat tenaga menghindari kejaran harimau tersebut.


"Tidak!" teriak Alana.


Alan yang mendengar jeritan dari saudara kembar nya itu pun terbangun, mendekati sang adik yang mengigau dengan keringat penuh. Alan mencoba membangun kan Alana namun Alana tidak bangun dan masih saja mengigau histeris. Alan memegang bahu Alana, Alana yang terbangun melihat saudara kembar nya berdiri di sebelah. Alana langsung menangis dan memeluk Alan.


"Alan, Hiks." Alan pun membalas pelukan dari sang adik kembar nya, mencoba untuk menenangkan Alana.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Shinta yang panik mendengar teriakan anak nya. Shinta masuk, dan mendekati Puteri nya. Alana melepaskan pelukan nya dari sang saudara kembar dan memeluk tubuh mama nya.


"Alan, apa yang terjadi pada adik mu?" tanya Shinta kepada Alan, sebab Alana tidak menjawab dan hanya terus menangis ketakutan.


"Alan juga tidak tahu, mama! Tadi, Alan tidul, telus Alan mendengal sua-suala Dali Alana. Alan tel-telbangun, telnyata Alana tidul. Tapi, Alana telus telus menangis. Alan juga bingung. Ketika Alana bangun, dia langsung memeluk Alan dengan ketakutan." jawab Alan yang juga tidak tahu, ada apa. Syifa masuk kedalam kamar adik-adik nya. Melihat Alana yang menangis ketakutan, memeluk sang ibu.


"Tidak kakak! Kita tidak beltengkal! Tanya saja sama mama, iya kan ma?"


"Iya, Sayang. Adik-adik mu tidak bertengkar. Seperti nya, Alana mimpi buruk. Benar nak?"


"Ti-tidak tahu ma, tapi Alana sangat takut huaaaa....." tangis Alana semakin memuncak, Shinta mencoba menenangkan anak nya. Revan mengambil segelas air untuk di berikan kepada Alana. Agar anaknya menjadi tenang setelah minum. Alana menolak untuk meminum air itu. Rasa takut nya masih sangat menyelimuti malam ini. Alana terus memeluk mama nya dengan begitu erat.


"Alan dan Kakak Syifa sebaiknya kembali istirahat, biar mama di sini yang menemani Alana. Alan, sayang. Kamu tidur sama kakak Syifa dulu ya?"


"Iya, Ma."

__ADS_1


"Terimakasih, Sayang. Sebaik nya kalian kembali tidur, ini juga udah larut malam. Besok Syifa juga harus sekolah bukan?"


"Iya, Ma."


Syifa membawa Alan pergi dari kamar si kembar untuk menuju kamar nya.


"Kak?"


"Iya, dek?"


"Apakah Alana akan baik-baik aja? Alan nggak tega melihat Alana yang ketakutan sepelti itu lagi." untuk pertama kali nya Syifa melihat wajah khawatir dari sang adik. Alan juga meneteskan air mata, yang Syifa tahu. Adik nya yang satu ini begitu cuek dan sangat sulit menunjukkan rasa emosi nya. Tapi, malam ini ia melihat adik nya yang begitu dingin menangis mengkhawatirkan Alana.


"Jangan khawatir, dek. Alana akan baik-baik aja. Mungkin, Alana mengalami mimpi buruk yang sangat buruk, sehingga Alana seperti itu."


"Kenapa Alan nggak bisa membantu Alana di mimpi itu kak? Bial Alana nggak melasa takut."


"Sayang, itu hanya lah dunia mimpi. Kita tidak bisa masuk, kedalam mimpi seseorang. Bukan tidak bisa, tetapi itu hal yang tidak mudah."


"Alan akan belajal kakak, agal Alana tidak akan melasa kan ketakutan lagi walau hanya di mimpi dan dunia nyata. Alan akan menjaga adik Alan. Saudala kembal Alan."


"Sudah, jangan khawatir. Kamu lihat saja besok pagi, Alana pasti akan kembali ceria seperti biasa nya. Sudah ya? Sekarang, waktu nya kita tidur. Oke?"


"Tapi Alan tidak bisa tidul kak, bagaimana jika nanti teljadi sesuatu pada Alana?"


"Sayang, adik nya kakak. Kan ada mama dan papa yang menjaga Alana di sana, dia akan baik-baik saja selama mama menjaga nya."

__ADS_1


Malam ini Alan begitu sangat cerewet, tidak seperti biasanya. Dia sangat begitu mengkhawatirkan keadaan Alana. Walau kakak nya sudah terlelap, Alan masih terjaga dari tidur nya. Ia ingin melihat keadaan saudara kembar nya bagaimana. Alan juga berdoa sambil menangis agar saudara kembar nya itu tidak mendapat kan hal-hal buruk.


Syifa terbangun melihat sisi sudut, ia melihat Alan yang sedang duduk di ujung seperti menangis. Syifa mendekati adik nya itu.


__ADS_2