
"Sudah jangan bertengkar!" Syifa meminta kepada kedua adiknya untuk tidak bertengkar, ia pun meminta kepada Alana untuk mengerti "Sayang, mama sangat terpuruk dengan kepergian Al. Dan saat Khanza ada di hidup mama wajar saja mama menyayanginya, lagipula mama sudah berjanji kepada mami untuk menjaga dan merawat Khanza, jangan salahkan mama. Kita juga tahu, kalau Khanza masih sangat kecil saat mami meninggalkannya, dia hanya menganggap mama Shinta lah ibunya. Alana jangan begitu dong, Sayang!"
Alana terdiam, memalingkan wajahnya, air matanya menetes. Bukannya ia memiliki sifat yang buruk, namun ia merasa jika kehadiran Khanza membuat perhatian mamanya hanya kepada Khanza. Bahkan, seringkali mamanya mengabaikan ia.
Jika Khanza membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu, apakah Alana tidak butuh?
Revan membuang nafas dengan kasar, ia tahu jika ini akan terjadi. Namun mau bagaimana lagi? Caca sudah mengamanahkan Khanza kepada keluarga mereka. Dan mereka harus menjaga dan menyayangi Khanza, Revan tahu jika kasih sayang istrinya terlalu berlebihan. Namun itu bukan kesalahan dari Shinta, memang sudah begitu sifatnya. Ia memiliki hati yang begitu murni dan lembut
"Alana, Sayang. Kamu harus ingat, bagaimana pun Khanza itu adik kamu. Dan jangan pernah mengatakan kepadanya hal yang akan menyakitinya. Papa tahu anak papa yang satu ini sangat baik dan berhati besar, saat mami Caca kembali. Khanza juga akan kembali dengan ibunya, sayang."
Revan mengatakan itu sambil fokus matanya ke arah jalanan, "Kalian selalu menganggap aku cemburu dan egois namun apa kalian memikirkan perasaanku?"
"Sudah hentikan drama mu itu! Dasar manja!"
Revan menegur putranya saat Alan membentak Alana "Alan, kamu jangan seperti itu kepada Alana. Sebagai kakak dan saudara kembarnya, kamu harus bisa menenangkan Alana. Bukannya membuat Alana semakin sedih!"
Alana hanya diam, Revan ingin Alana menyadari jika dirinya sangat menyayangi putrinya itu.
Revan mengantarkan si kembar terlebih dahulu, lalu ia mengantar Syifa ke kampus "Nak, kamu sudah bicara dengan Mami dan Daddy?" Syifa menggeleng, ia sudah mencoba menghubungi Caca namun yang mengangkat adalah Raisa.
"Belum, Pa. Seperti biasa Raisa yang selalu mengangkat panggilan Syifa. Raisa mengatakan jika kondisi Daddy belum cukup baik untuk kembali ke Indonesia. Syifa berharap agar mami dan Daddy bisa segera berkumpul dengan kita."
Revan mengelus rambut anaknya, ia meminta kepada Syifa untuk rajin belajar. "Nak, giat lah belajar, dan ambil gelar S2 mu!" Syifa tersenyum, ia mengatakan akan memberikan yang terbaik untuk papanya.
"Syifa akan memberikan yang terbaik untuk keluarga, papa juga hati-hati ya? Syifa menyayangi papa!"
Syifa pun turun dari mobil, Revan kembali melajukan mobilnya.
*******
"Mama, Khanza sedih kenapa kakak seperti itu kepada Khanza? Sepertinya kak Alana tidak menyayangi Khanza, apa Khanza punya salah kepada kak Alana?" Pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan Khanza kepada Shinta membuat wanita itu kebingungan, bagaimana ia bisa menjawab dan menyakinkan Khanza?
Sebenarnya, Shinta juga tahu kalau Alana merasa tidak nyaman dengan kehadiran Khanza. Namun Shinta tidak bisa berbuat apapun, bagaimana pun Shinta harus menepati janji dan amanahnya kepada Caca.
Caca sudah menitipkan Khanza kepada dirinya, usia Khanza dan anaknya Al juga tidak beda jauh. Shinta menganggap Khanza seperti anaknya sendiri
"Kakak Alana begitu menyayangi Khanza seperti kak Syifa dan kak Alan. Namun mungkin kak Alana sedang mengalami masalah dengan pelajarannya. Kak Alana tidak bermaksud menyakiti hati Khanza, Kita semua tahu bagaimana sifat kakak kamu yang satu itu."
Khanza memeluk Shinta, "Khanza sangat menyayangi mama, jangan tinggalin Khanza!" Shinta menangis mendengar ucapan Khanza. Sebenarnya ia yang tidak siap kehilangan anaknya, Khanza. Dirinya tahu, cepat atau lambat Khanza akan kembali kedalam pelukan Caca.
Shinta memeluk Khanza, menangis dengan terisak. Namun Shinta tidak memiliki hak atas Khanza, Khanza mendongakkan kepalanya menatap Shinta "Mama kenapa menangis?" Khanza bertanya kepada Shinta dengan lembut, Shinta hanya menggeleng.
Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Khanza jika dirinya saja tidak sanggup mengatakan jika Khanza bukan anak kandungnya. Dahulu, Shinta seringkali memberikan pengertian kepada Khanza, namun Khanza tidak mau memahami dan mengatakan jika Shinta dan hanya Shinta ibunya. Bahkan di setiap Shinta memberikan penjelasan, Khanza selalu histeris dan sakit.
Shinta juga pernah hampir kehilangan Khanza, Khanza tidak bisa menerima semua kenyataan yang ada.
"Mama jangan menangis lagi!" Khanza menghapus air mata Shinta dengan kedua tangannya yang lembut, melihat Khanza mengingatkannya dengan kenangannya dengan Syifa dahulu.
__ADS_1
Khanza sama seperti Syifa, begitu pengertian kepada dirinya. Mengapa Alana yang anak kandungnya sendiri tidak pernah memahami perasaannya.
Shinta melihat Alana dan Alan yang berjalan, Alan tersenyum kepada Shinta namun Alana hanya melewati mamanya "Mama sudah sampai? Kenapa mama menggunakan motor tadi. Alan takut mama dan Khanza kenapa-kenapa,"
Shinta memegang pipi anaknya dengan lembut, "Mama tidak apa-apa sayang! Dulu saat muda, mama sering mengendarai motor,"
"Mama masih muda dulu, sebelum menikah dengan papa. Dan sekarang, umur Alan juga sudah lima belas tahun. Sudah lah mama, mama nanti naik mobil saja. Biar Alan yang naik motor,"
"Iya, Sayang!" Shinta tidak mau membantah atau membuat anaknya cemas.
Bel sekolah berbunyi, Alan mengajak Khanza untuk masuk kedalam kelas.
"Ayo!"
Alan menggandeng tangan Khanza dengan lembut, Khanza senang karena Alan menyayanginya. "Kamu gadis manis, belajar yang rajin ya? Jangan kecewain mama dan papa. Dan ingat, kalau ada yang jahat sama kamu, bilang sama kakak! Oke?"
Khanza tersenyum, ia langsung masuk kedalam kelasnya.
Alan pun langsung masuk ke kelas, melihat Alana yang masih cemberut, Alan duduk. Meminta maaf kepada kembarannya "Maafin aku ya? Enggak seharunya aku mengatakan itu sama kamu!" Alan memegang kedua telinganya. Alana menatap saudara kembarnya dengan mata berkaca-kaca "Apa kamu tahu apa yang aku rasain? Kamu hanya menganggap aku itu egois! Tapi aku sakit, aku sedih! Bukannya aku enggak sayang sama Khanza. Namun kehadiran dia membuat mama mengabaikan kita!"
Alan memeluk Alana, bahkan mengelus kepala Alana dengan lembut "Mama sangat menyayangi kita, mama enggak mengabaikan kita. Perasaan cemburu kamu membuat kamu buta dengan semua hal, kamu hanya perlu percaya jika kasih sayang mama kepada kita itu adil dan juga rata. Jika kamu lebih dewasa, kamu akan memahami segalanya. Hati mama kita begitu lembut dan tulus, seharusnya kita bersyukur memiliki ibu seperti mama!"
Alan terlihat begitu dewasa menyikapi semua hal, ia tahu jika mamanya tidak pernah mengabaikan mereka. Namun Alana sendiri yang menjauh dari sang mama.
"Besok ulang tahun kita, mama dan papa sudah mengatakan akan mengajak kita liburan. Kamu jangan seperti itu lagi ya?"
"Mau sampai kapan kamu begitu? Khanza itu juga adik kita, dan kamu ingat mami Caca juga menyayangi kita. Tidak pernah membeda-bedakan antara anak kandungnya dengan kita!"
******
Di sisi lain, Raisa yang tumbuh menjadi gadis yang begitu cantik. Ia pun sarapan dengan Mami dan Daddy-nya.
Raisa tumbuh menjadi anak yang manja, dan juga sangat lembut "Mi, hari ini sepertinya Raisa akan pulang lebih larut."
"Kenapa sayang?" Caca bertanya kepada anaknya, Raisa mengatakan jika temannya sedang ber-ulang tahun dan akan mengadakan party. Caca pun tersenyum, ia meminta kepada Raisa untuk menjaga dirinya.
"Iya, nak. Namun kamu harus tetap menjaga dirimu ya?"
Saat ini usia Raisa memasuki 21 tahun, dia dua tahun di bawah Syifa. Sebelum pergi, Raisa memeluk daddy-nya.
Kini, perkembangan Arvan sudah membaik. Namun belum bisa kembali ke Indonesia. "Sudah lama kita pergi meninggalkan Syifa dan juga Khanza. Daddy sangat merindukannya!" Raisa mengendur kan pelukannya, sejak sepuluh tahun belakangan ini. Raisa merasa menjadi anak tunggal dan begitu dia sayang, ia merasa tidak rela jika perhatian dan kasih sayang orang tuanya harus di bagi untuk Raisa dan juga kakaknya Syifa.
"Daddy jangan memikirkan itu! Daddy harus sembuh total!"
"Tapi Daddy merasa sudah lebih baik, sayang!"
Raisa terdiam, Caca yang mendengar ucapan suaminya pun merasa senang dan ingin memesan tiket pesawat. "Jika kita kembali sekarang, bagaimana dengan kuliah ku? Setidaknya menunggu sampai Raisa wisuda dong, mi! Apa kalian mau meninggalkan Raisa sendirian di sini? Khanza di sana ada mama Shinta, sedangkan Raisa? Raisa sama siapa di sini?" Caca dan Arvan terdiam, mereka sangat menyayangi dan merindukan Khanza dan Syifa.
__ADS_1
Namun apa yang Raisa katakan juga ada benarnya, mereka pun memutuskan untuk menunggu Raisa sampai wisuda dan menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu.
Raisa merasa lega, akhirnya maminya Caca membatalkan niatnya untuk kembali ke Indonesia.
Bukannya Raisa tidak menyayangi Khanza dan juga Syifa, namun ia sudah terbiasa menjadi anak satu-satunya dari mami dan Daddy-nya.
Raisa tidak bisa melihat kasih sayang orang tuanya di bagi untuk kakak dan juga adiknya itu, terdengar suara klakson mobil. Itu pasti temannya Raisa yang menjemput, Raisa mencium dan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.
"Raisa pergi dulu Mami, Daddy. Raisa sayang kalian, muach!"
Raisa pergi meninggalkan Caca dan Arvan. "Apa yang Raisa katakan juga benar, jika kita berangkat sekarang. Kuliah Raisa akan berantakan, tidak mungkin kita meninggalkannya sendirian. Sebaiknya kita menunggu hingga Raisa menyelesaikan kuliahnya," ujar Caca. Arvan hanya mengangguk, sejak sepuluh tahun belakangan ini. Caca lah yang mengambil keputusan untuk keluarga, apalagi semenjak kondisi Arvan yang melemah. "Apakah Khanza sudah mengetahui siapa dirinya?" Arvan bertanya kepada istrinya, namun Caca menggeleng.
"Saat kemarin Shinta memberitahu tentang siapa dirinya, ia tidak bisa menerima kenyataan. Bahkan jatuh sakit, aku meminta Shinta untuk tidak memaksakan itu. Biarlah Khanza tahu, jika dirinya sudah merasa siap. Dia masih sangat kecil, dan kita meninggalkannya saat ia masih bayi,"
Arvan mengangguk, Khanza pasti menganggap jika Shinta dan Revan orang tua aslinya.
"Aku berharap, agar saat kita kembali Khanza bisa menerima kita!" Caca yang menetes kan air mata pun mengangguk, ia yakin jika Shinta dan Syifa anaknya akan memberikan pengertian kepada Khanza.
Caca percaya itu.
"Gimana, orang tua kamu masih ingin kembali ke Indonesia?" Sherly bertanya kepada Raisa. Raisa mengangguk, "Bagus dong, kamu bisa ketemu dengan adik dan juga kakakmu. Kalian sudah sangat lama tidak bertemu, dan saya tahu jika kamu sangat merindukan mereka. Saat dahulu, pertama kali kamu datang. Kamu menangis setiap hari merindukan mereka. Dan mengapa sekarang kamu tidak ingin kembali?"
Sherly adalah sahabat Raisa, ia teman pertama Raisa di Penang "Saya merindukan mereka namun saya tidak siap jika perhatian dan kasih sayang mami dan Daddy terbagi untuk mereka,"
"Kamu tidak boleh egois, Raisa. Bagaimana pun, mereka juga anak dari mami dan Daddy mu. Mereka juga berhak atas kasih sayang kedua orang tua kalian."
Raisa terdiam, ia bukannya jahat. Namun apakah salah jika Raisa hanya ingin dirinya yang lebih di prioritaskan?
"Sudah lah, saya tidak mau membahas ini!"
"Kamu harus memiliki hati dan perasaan. Kasihan adik kamu, Khanza. Apalagi mami dan Daddy meninggalkannya saat ia belum genap enam bulan, ia yang lebih membutuhkan kasih sayang kedua orang tua kamu!"
"Sudah lah, Sherly! Jangan mencoba menceramahi diriku! Aku tahu mana yang terbaik untuk keluargaku!"
Sherly menggeleng, ia mengatakan jika itu hanya terbaik untuk kepentingan Raisa saja. "Kau sangat egois Raisa!"
Raisa hanya terdiam dan menghindar dari perdebatan, Sherly mengatakan itu hanya karena ia tidak merasakan apa yang dirinya rasakan.
Ponselnya berbunyi, notif dari kekasihnya Albert.
Ia mengangkat panggilan itu dan mengatakan kepada kekasihnya jika dirinya akan segera sampai ke kampus.
Raisa langsung mematikan panggilan itu, terlihat senyuman indah terukir di wajahnya "Kamu jangan terlalu percaya dengannya. Banyak yang mengatakan jika dirinya itu buaya, saya tidak ingin kamu terluka!"
Raisa mengatakan kepada Sherly jika dirinya tidak perlu khawatir! "Kamu jangan risau! Aku baik-baik saja dan bisa menjaga diri. Lagipula, saya yakin jika Albert tidak akan melakukan hal seperti itu, saya percaya kepadanya!"
"Terserah kamu saja! Saya hanya mengingatkan!"
__ADS_1