Ibu Sambung

Ibu Sambung
Sikap dingin Alan


__ADS_3

"Tapi, mereka sangat keterlaluan nak padamu."


"Mama benar, apa yang mereka lakukan itu tidak baik, tapi Syifa mempunyai cara lain untuk menghadapi mereka."


"Tidak, Sayang! Anak mama yang cantik ini, kamu nggak boleh berbuat jahat pada orang atau menyakiti orang dengan tangan suci kamu. Jangan kotor kan tangan kamu, sayang." larang Shinta, ia selalu mengajarkan anak-anak nya untuk tidak menggunakan kekerasan, karena Shinta sejak kecil tidak di ajarkan untuk main fisik oleh kedua orang tua nya. Walau diri nya barbar.


"Tidak, Ma. Syifa tidak akan menyakiti siapapun dengan tangan Syifa. Syifa tidak akan melakukan kekerasan tapi Syifa tak akan membiarkan siapapun menyakiti Syifa, Ma. Seperti yang mama ajar kan pada Syifa, untuk tidak menggunakan otot melainkan akal,"


Shinta merasa bangga pada anaknya. Ternyata, ajaran nya selama ini tidak sia-sia. Shinta juga begitu sangat mempercayai anak nya.


"Ya sudah, mama percaya kan segala nya pada kamu. Namun, jika mereka melakukan hal yang keterlaluan. Kamu harus cerita ke mama dan papa biar mama melapor pada sekolah. Ingat ya sayang, jangan sampai Syifa diam saja jika orang menyakiti Syifa, atau melihat orang sekitar Syifa di sakiti."


"Iya, Ma."


"Kamu ganti baju, mama akan menyiapkan makanan buat mu."


"Iya, Ma." Syifa naik ke atas tangga menuju kamar nya, di dalam kamar. Syifa merasa sedih, karena pria yang ia suka sudah memiliki pacar. Apalagi, pacar nya adalah orang yang selalu mengganggu diri nya. Syifa pun menghibur diri nya.


"Masih kecil, nggak boleh suka-suka atau berpacaran. Waktu nya belajar dengan giat, harus membuat Mama, Papa, Daddy, dan yang lain nya bangga. Jika, aku besar. Aku yakin, kalau aku akan seberuntung mama Shinta dan mama Caca. Memiliki suami yang baik seperti papa dan Daddy. Sekarang, tugas ku hanya lah belajar yang giat. Iya, belajar, belajar dan belajar. Semangat Syifa." Syifa mencoba menghibur diri nya sendiri. Dan melupakan teman sekolah nya. Syifa segera berganti baju dan turun ke bawah untuk makan.

__ADS_1


Shinta sudah menyiapkan makanan untuk Syifa, Syifa duduk di kursi yang sudah di hidang kan makanan.


"Ini, mama sendiri yang masak. Mama tahu, jika Syifa sangat suka dengan sayur asam. Jadi, mama memasak sayur asam untuk kamu, nak."


"Wah, ini pasti enak sekali mah. Pas banget cuaca di luar begitu panas, makan sayur asam. Jadi seger deh." ujar Syifa yang tak sabar lagi melahap masakan sang mama. Syifa memakan nya dengan lahap tanpa tersisa sedikit pun. Shinta pun begitu bahagia melihat anaknya makan dengan begitu lahap. Sudah lama, ia tak melihat Syifa makan dengan penuh semangat.


"Masakan mama memang enak."


"Terimakasih, nak."


Dulu, Shinta tidak pintar masak. Bahkan, ia tidak pernah menyentuh dapur sekali pun. Segala nya selalu di siap kan oleh Mama Syafa. Namun, seiring dengan berjalan nya waktu. Shinta belajar memasak untuk suami dan anak-anak nya. Ia tak ingin, suami yang ia cinta tergoda dengan wanita lain karena terlalu sering makan di luar.


"Sayang, sudah nak. Biar mama saja, Kakak lebih baik Istirahat atau belajar. Besok kan ujian."


"Iya, Ma. Nanti, Syifa akan istirahat, tapi sekarang Syifa bantu mama dulu."


"Anak mama dari dulu begitu keras kepala." Shinta dan Syifa pun bercanda gurau di dapur sambil mencuci piring. Setelah selesai, Shinta menyuruh Puteri sulung nya itu untuk masuk ke dalam kamar dan istirahat dulu. Ia pun mengecek Baby Al. Ternyata baby Al baru saja terlelap setelah minum ASI cadangan yang udah di siapkan oleh Shinta. Bukan nya Shinta tidak mau memberikan ASI kepada baby Al secara langsung. Namun, ia harus mondar mandir mengecek anak yang lain nya. Sedang kan baby Al begitu kuat minum ASI.


"Kamu juga bisa istirahat dulu, selagi anak-anak tidur."

__ADS_1


"Baik non, terimakasih. Tapi, saya rasa tidak perlu. Saya takut jika nanti anak-anak bangun."


"Kan ada saya, sudah tidur lah. Saya masih bisa kok menjaga mereka. Kamu pasti kurang tidur, kan tadi malam saya menjaga Alana. Kamu menjaga baby Al, sedangkan baby Al sulit sekali tidur jika malam. Lebih baik kamu istirahat sekarang, saya nggak mau kamu sakit karena terlalu letih."


"Iya, Non." pengasuh itu meletakkan tubuh baby Al ke dalam keranjang tidur baby dengan perlahan, ia pun berpamitan pada majikan nya untuk ke luar dari kamar. Shinta memilih menemani baby Al, takut jika nanti baby Al terbangun jika tidak ada yang menemani anak nya. Memang, mengurus empat anak sekaligus bukan lah hal yang mudah. Apalagi, mereka masih sangat butuh perhatian kasih sayang dan pengawasan yang sangat ketat. Namun, Shinta begitu sangat bersyukur karena Tuhan mempercayakan diri nya untuk menjaga empat malaikat sekaligus.


Baru saja Shinta ingin merebahkan diri nya di atas kasur milik sang anak. Baby Al merengek, shinta segera bangkit dan menggendong anak nya.


"Sayang, Nak. Kenapa sayang? Haus anak mama iya?" Shinta pun memainkan sang buah hati, mengajak anak nya berbicara. Baby Al menatap Shinta dan tersenyum kecil, Shinta ikut tersenyum merasa bahagia. Shinta membawa bayi nya naik ke atas tempat tidur, dan memberikan ASI secara langsung kepada baby Al.


******


Alana melihat ke arah Alan yang tak bergeming, Alan pun merasa biasa saja dan bersikap sangat cuek kepada Alana, saudara kembar nya. Alana yang bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Ia ingin mendekati Alan dan meminta maaf, namun melihat sikap dingin Alan. Alana yang manis merasa ragu


"Bagaimana jika Alan memukul Alana? Alan pasti sangat kesal dengan Alana." ujar Alana dengan pelan. Ia tidak bisa melihat saudara kembar nya nya itu mendiamkan nya. Alana memberanikan diri untuk mendekati Alan.


"Hai Alan?" Alana melambaikan tangan kepada Alan, ia berdiri tepat di hadapan Alan. Ketika Alan menoleh ke arah nya dengan tatapan sinis, Alana tersenyum melihat kan gigi nya yang putih dan beberapa gigi yang ompong. Alana melihat sikap Alan yang tak berubah, masih saja dingin. Alana pun memikirkan cara untuk membujuk saudara kembar nya, Alan.


Ayo Alana, belpikil lah dengan baik. Kau halus membuat Alan memaafkan mu dan bicala pada mu apapun yang teljadi. Semangat Alana, pasti bisa. Bisa, pasti bisa ~ batin Alana.

__ADS_1


"Jika kau tidak membutuhkan sesuatu, kau bisa pelgi Dali hadapanku!" ucap Alan dengan ketus nya.


__ADS_2