
Revan pun mengambil ponsel nya, menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan sang anak.
Caca yang baru datang bersama anak dan suami pun merasa bingung dengan keadaan di rumah. Caca menoleh ke arah suami nya. Arvan yang tidak mengetahui pun mengangkat bahu nya. Caca yang menggendong sang anak mendekati keluarga Revan.
"Ada apa? Mengapa kalian berkumpul? Astaga." Caca terkejut melihat luka di dahi Alana. Caca mendekati anak sahabat nya itu. Shinta dengan cepat menggendong baby Khanza dari tangan Caca.
"Sayang, apa yang terjadi?" Caca membelai rambut Alana, Alana menyengir kepada Caca. Caca mengangkat satu alis nya merasa bingung melihat Alana yang masih saja tertawa walau diri nya terluka.
"Mami, bial kan saja anak manja itu! Dia begitu nakal."
"Nakal?" Caca menoleh ke arah Alan.
"Dia membohongi kami semua."
"Tidak, Mami! Ini benelan luka kok, Alana nggak bohong kalau jatuh Dali tangga."
"Jatuh? Astaga, kenapa kalian tidak membawa nya ke rumah sakit? Bagaimana keadaan nya? Mengapa kalian malah berkumpul di sini tanpa melakukan sesuatu." ujar Caca dengan khawatir. Caca menoleh ke arah seluruh keluarga Revan dengan penuh kecewa.
"Alana tidak apa-apa mami."
"Tidak apa-apa bagaimana nak? Dahi mu terluka." Caca menangis, memeluk Alana dengan erat. Dia begitu menyayangi Alana.
"Ca, dia tidak apa-apa. Bukti nya dia masih bisa memainkan drama." ujar Revan, Caca melepaskan pelukan nya dari Alana. Menoleh ke arah Revan dengan tatapan yang tidak bersahabat.
"Maksud mu apa? Dia terluka dan kau bilang dia drama?!" kali ini Caca sedikit meninggi kan suara nya, mama Lily mendekati Caca, memegang bahu Caca. Menenangkan dan menjelas kan apa yang terjadi.
Caca terkejut mendengar penjelasan dari mama Lily, ia menoleh ke arah Alana dan menanyakan hal yang sebenernya apakah itu semua benar atau tidak. Alana pun dengan polos mengangguk, membenarkan segala nya.
__ADS_1
Caca mencubit hidung Alana dengan gemas, dan menegur Alana dengan lembut.
"Nak, lain kali Alana nggak boleh seperti itu lagi ya? Mami dan kami semua begitu menyayangi Alana. Mami nggak bisa membayangkan bagaimana mami jika terjadi sesuatu pada ratu kesayangan mami ini."
"Maaf, Mami. Alana cuman ingin tahu, Alan benal-benal pelduli atau tidak pada Alana. Dia begitu menyebalkan mami, nggak pelnah peduli pada saudala kembal nya ini."
Caca pun memeluk kembali Alana, meyakinkan Alana jika semua orang sangat menyayangi diri nya.
"Alana, harus berjanji pada mami. Apapun alasan nya, Alana nggak boleh seperti ini lagi. Mami, yang tidak melihat dan hanya mendengar saja jantung mami sangat sakit. Apalagi, mama, papa, nenek, kakek, kakak Syifa, Alan dan yang lain nya menyaksikan tadi. Sungguh nak, berjanji lah pada mami." Alana pun berjanji pada Caca untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.
Tidak lama, dokter datang untuk memeriksa keadaan Alana. Dokter memberikan resep obat untuk Revan tebus. Dokter juga memberikan saran agar Alana untuk beberapa hari ini jangan melakukan aktivitas yang melelahkan.
Setelah kepulangan dokter, Alana mengajak papa dan mama nya untuk pergi ke toko ice cream. Revan menolak dan membatalkan acara makan ice cream, hal itu tentu saja membuat Alana merasa sangat kecewa dan bersedih hati. Alana yang tidak ingin bicara dengan siapapun memutuskan untuk pergi ke kamar.
"Sebaik nya Alan pergi ke kamar, jaga lah saudara kembar mu." pinta Revan, Alan pun menurut dan menyusul Alana pergi ke kamar.
"Kenapa kau menatap ku sepelti itu?"
"Ini semua kalena kau Alan! Makanya kita tidak jadi pelgi! Aku tidak ingin bicala padamu!"
"Kenapa aku? Kau yang membuat masalah, dan mengacau kan segala nya. Kenapa aku?" ucap Alan yang tak terima di salahkan oleh Alana. Alana bangkit, mendekati saudara kembar nya itu.
"Memang! Jika saja kau tidak mengejal ku, aku tidak akan jatuh!"
"Kau yang menganggu tidul ku, ini kesalahan mu. Dan siapa yang menyuluh mu belali? Hingga kening mu bebala? Siapa? Dan siapa yang menyuluh kau belpula-pula tidak dadal kan Dili?" sentak Alan. Alana pun terdiam, membenar kan ucapan Alan, sang saudara kembar nya itu.
"Sudah diam! Alana nggak mau ngomong sama Alan! Alan kelual!"
__ADS_1
"Ini juga Kamal ku, tidak ada yang bisa melalang ku!"
"Ini semua kalena kau, andai saja kau tidak tidul. Dan cepat belsiap, aku tidak akan menganggu mu!"
"Apa ada yang bilang padaku jika kita akan pelgi? Mana aku tahu, aku mengantuk ya tidul saja." jawab Alan lagi dengan enteng nya. Kini, Alana tidak bisa membenar kan diri. Diri nya memilih kembali ke kasur untuk tidur.
"Huhu, tidak jadi pelgi nya. Kan Alana udah cantik." gumam Alana yang begitu kesal karena tidak jadi pergi. Alana pun memonyongkan mulut nya ke depan. Rasanya, ia ingin kabur dari rumah untuk makan ice cream sendiri. Alana membuka matanya, dan tersenyum licik. Dia seakan menemukan sebuah ide. Alana berpura-pura untuk tidur.
*******
Setelah, melihat ke arah Alan yang sudah tidur dengan nyenyak. Alana dengan langkah perlahan keluar kamar. Ia memilih ke luar rumah dari pintu belakang menuju toko ice cream. Alana berjalan ke jalan besar, diri nya sedikit bingung ke arah mana ia harus melangkah. Begitu banyak kendaraan, bahkan diri nya hampir tertabrak oleh kendaraan di jalanan.
Alana begitu terkejut, ternyata dunia luar tidak sebaik yang ia bayangkan. Alana menangis, tidak sadar dia sudah semakin jauh dari rumah.
"Mama." kini Alana yang nakal pun menyesali perbuatannya. Alana ingin kembali ke rumah, namun ia tak tahu jalan pulang.
"Mama, Alana mau pulang hiks." Alana menangis di jalanan seorang diri, tak tahu harus kemana.
*******
Alan yang terbangun dari tidur nya pun mencari keberadaan saudara kembar nya. Alan ke luar dari kamar, mencari Alana. Keluarga yang sedang berkumpul di ruang keluarga pun bingung dengan Alan yang beteriak memanggil Alana. Revan dan Shinta segera bangkit mendekati Alan.
"Nak, kenapa kau berteriak?"
"Di mana Alana, Pa?"
"Alana? Bukan kah Alana bersama mu? Papa kan menyuruh mu untuk menjaga adik mu. Kenapa, kau bertanya kepada kami nak?" tanya Revan yang mulai khawatir. Shinta pun bertanya kepada Alan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Alan tidak tahu, tadi Alan tidul, Alana juga tidul. Waktu Alan telbangun, Alana tidak ada. Alan belpikil Alana ada di sini belsama mama dan papa. Awalnya kami memang sedikit beldebat. Tapi, Alan tidak tahu di mana Alana."