Ibu Sambung

Ibu Sambung
Lala Membuat Masalah


__ADS_3

Shinta menoleh ke arah suami, melotot dengan tatapan mematikan itu, Revan yang tak ingin kembali berdebat dengan isteri nya memilih untuk pergi, Shinta kembali mengurus baby sister nya itu.


"Nona, Saya tidak apa-apa. Nona tidak perlu repot-repot mengurus saya," ujar baby sister itu dengan tak enak hati.


"Tidak apa, saya nggak ngerasa di repot kan. Memang iya, saya begitu cemas dengan keadaan kamu. Bagaimana jika kedua orang tua mu tau? Mereka akan berfikir jika kami tidak akan memperlakukan anak nya dengan baik. Selain itu, kesehatan kamu juga begitu penting. Sudah, sebaik nya kamu tidur dan beristirahat saja. Saya akan mengurus mu."


"Tidak, Nona. Jangan lakukan itu, saya sungguh tidak enak hati jika nona memperlakukan saya baik begini. Saya akan sangat malu nona, seharusnya saya yang mengurus nona dan anak-anak nona. Bukan sebaliknya,"


"Jangan khawatir kan masalah itu, kamu tenang saja. Saya, menganggap kamu bukan hanya sebatas baby sister. Saya menganggap kamu seperti adik saya sendiri, dan seorang kakak. Tidak akan membiarkan adik nya sakit tidak berdaya begini bukan?"


"Ta-tapi, Non."


"Jangan tapi-tapi, kamu sudah mengurus anak-anak dengan sangat baik dan begitu sabar. Bahkan, kamu merahasiakan kenakalan mereka dari saya, bahkan ketika mereka merepotkan mu begitu banyak nya, tapi kamu tidak pernah mengeluh sama sekali,"


"Itu sudah tugas saya non, menjaga anak-anak dengan baik. Nona dan keluarga sudah terlalu banyak membantu saya dan ke dua orang tua saya. Jika, saya tidak baik memperlakukan anak-anak, saya akan menjadi manusia yang jahat."


"Ke dua orang tua mu mendidik mu dengan sangat baik, usia mu begitu sangat muda, di usia mu ini seharusnya kau memikirkan masa depan dan kebahagiaan mu. Tapi, tidak. Kau memilih bekerja untuk membantu ke dua orang tua mu, kau baik sekali."


"Saya, anak satu-satu nya non. Saya harus membantu keluarga saya, apalagi ayah saya sudah sakit-sakitan, jika saya melanjut kan sekolah. Siapa yang akan membantu keluarga saya."


"Saya mengerti apa yang kamu rasakan, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


"Boleh, Nona bisa bertanya sebanyak apa yang nona mau. Tidak perlu meminta izin terlebih dahulu, nona bebas melakukan apa saja."


"Itu yang saya tidak suka dari kamu, kamu terlalu menyerahkan hidup mu kepada kami. Satu hal yang harus kamu tahu, kepada siapapun. Mereka tidak berhak menguasai kehidupan mu. Walau suami mu sendiri, kau harus bisa mengambil keputusan untuk diri mu."


"I-iya, Nona."


"Apa kamu tidak niat untuk melanjut kan sekolah? Umur mu masih sembilan belas tahun. Kamu bisa sekolah, melanjutkan masa depan mu."


"Ti-tidak nona, lagipula biaya kuliah sangat besar. Saya, tidak akan mampu membiayai kuliah saya sendiri."


"Jika kamu ingin, kamu bisa kuliah di universitas yang kamu ingin kan. Masalah biaya, kamu nggak usah khawatir. Saya dan suami yang akan menanggung nya. Bagaimana?"


"Terimakasih nona atas tawaran anda, tapi saya rasa itu tidak perlu. Keluarga ini sudah banyak membantu saya, saya tidak ingin menjadi beban lagi."


"Beban? Apa itu beban? Kita tidak pernah merasa kamu beban di sini, dan kamu bukan suatu beban untuk kami,"


"Tapi, Nona. Saya tidak ingin kuliah, saya berharap. Nona bisa menghargai keputusan saya."


"Baik lah, jika itu keputusan kamu. Tapi, saya berharap jika nanti kamu bisa berubah fikiran dan mau untuk melanjutkan pendidikan mu. Karena, bagaimana pun masa depan mu lebih penting dari segala nya. Kamu bisa bekerja paruh waktu," Shinta melihat raut wajah baby sister nya itu, ia pun tidak mau memaksa kan kehendak nya, setelah selesai mengompres Shinta pun menyuruh pengasuh anak nya itu untuk istirahat, setelah itu Shinta berlalu pergi ke luar kamar pengasuh anak nya.


*******


"Pelajaran tadi begitu lumayan sulit ya?" keluh Raisa kepada Syifa, Syifa bersikap tenang.


"Iya, lumayan tapi tidak begitu,"


"Bagaimana sih kak, lumayan tapi tidak begitu hmmm."

__ADS_1


"Kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh, pasti kita akan mampu melewati pelajaran yang di ajarkan oleh guru. Guru selalu menjelaskan itu berulang-ulang, jadi jika kita serius tidak terlalu sulit,"


"Iya kak, kau benar sekali. Tadi malam, aku terlalu lelah hingga langsung tertidur dan lupa belajar."


"Lain kali jangan di ulangin lagi ya? Pelajaran itu perlu, tadi malam aku menyempatkan diri untuk belajar sebelum tidur. Memang tidak selama biasa nya,"


Untuk pertama kali nya Raisa tidak pergi ke kantin, karena Syifa membawakan dua bekal. Satu untuk nya, dan satu nya lagi untuk Raisa. Syifa dan Raisa membuka dan menikmati bekal itu


"Enak sekali, kak. Pantas saja kakak tidak mau ke kantin untuk membeli jajanan."


"Hal sekecil apapun, jika di buat oleh cinta pasti akan begitu lezat. Benar kan kataku, setelah memakan bekal buatan mama Shinta, kau tak akan memiliki selera lagi untuk jajan di kantin." Raisa mengangguk, setuju dengan ucapan Syifa. Raisa menikmati bekal yang di bawakan oleh Syifa.


"Hai kak Syifa. " panggil seseorang yang tiba-tiba datang, Syifa menoleh ke arah suara itu, begitu juga dengan Raisa. Ternyata, itu adalah Lala yang mendekati kedua nya


"Kalian makan apa, wah bekal dari rumah. Ini pasti sangat lezat, aku cobain ya?" tanpa rasa malu, Lala mengambil sedikit makanan yang ada di hadapan Raisa. Memakan nya dengan begitu rakus.


"Enak sekali, aku mau lagi." Lala mengambil lagi bekal itu hingga habis tak bersisa.


"Itu bekal punya Raisa, seharusnya kamu minta izin dulu kepada Raisa," kesal Syifa kepada teman satu asrama Raisa. Raisa pun mencoba menenangkan Syifa.


"Nggak apa-apa kok kak, mungkin kak Lala juga ingin memakan makanan rumah, kita hanya lah anak asrama. Tidak pernah merasakan masakan dari seorang ibu. Maafin teman aku ya kak?" ucap Raisa yang tak enak hati kepada Syifa, melihat raut wajah sedih Raisa, Syifa pun tak enak hati. Ia memaafkan kesalahan Lala. Sedangkan Lala yang tak tahu malu tidak menyesali perbuatannya. Lala mengajak Syifa untuk main di kantin, atau di taman. Syifa dengan lembut menolak ajakan Lala, Syifa begitu tidak nyaman dengan sikap Lala yang selalu saja berlebihan, padahal diri nya juga tidak mengenal Lala.


"Kak Syifa tidak suka pergi ke kantin, kak." ujar Raisa memberitahu Lala, namun Lala marah kepada Raisa. Dan mengatakan hal yang tidak baik kepada Raisa.


"Aku kan mengajak kak Syifa, aku bicara padanya bukan padamu. Jadi, sebaiknya kau tidak ikut campur!"


"Sikap nya begitu menyebalkan, siapa dia memang nya yang begitu seenak nya bersikap padamu."


"Sudah kak, jangan marah-marah begitu dong. Nanti, cantik nya kakak hilang lagi." Raisa dengan begitu tenang mencoba membuat amarah di dalam diri Syifa menghilang. Kini, Syifa pun melupakan amarah nya, Syifa memberikan bekal milik nya kepada Raisa.


"Tidak usah kak! Itukan punya kakak, makan aja. Aku udah kenyang kok,"


"Udah jangan berbohong, aku tahu kau masih lapar. Sini makan sama ku, kita bisa berbagi bekal ini." Raisa tersenyum, ke dua nya menikmati bekal itu dengan perasaan bahagia.


Lala yang mengintip dari luar kelas, begitu kesal melihat kedekatan ke dua nya.


"Sombong sekali gadis itu, memang nya siapa dia! Mentang-mentang orang kaya, dia seenak nya menghina ku!" ujar Lala yang begitu kesal.


Lala pun berlalu pergi masuk ke dalam kelas nya, teman Lala yang melihat diri nya begitu marah pun mendekati nya, dan bertanya apa yang terjadi. Lala pun menceritakan segala nya.


"Haha, kau terlalu berharap Lala! Lagipula, kau tahu bagaimana anak-anak orang kaya ini, mereka tidak akan mau berteman dengan kita yang hanya anak panti. Sudah lah, kau terlalu mengkhayal ketinggian. Lagipula, niat mu tidak baik jadi orang sebaik itu tidak akan ingin dekat dengan mu." ledek teman nya Lala. Lala semakin kesal.


"Sebaik nya kau diam saja! Aku percaya, jika suatu saat aku akan meluluhkan hati nya. Setelah aku berhasil dengan tujuan ku, akan ku balas diri nya."


"Sudah lah! Kau jangan terlalu percaya diri, lagipula jangan memaksa kan hal yang tidak harus nya menjadi milik mu. Aku tahu, kau, aku dan anak panti lain nya ingin menikmati kemewahan yang di miliki anak-anak beruntung itu. Tapi, jangan terlalu berharap lebih. Kita bisa sekolah di sekolah ternama ini sudah cukup bagus, apalagi yang kita inginkan? Jika kita ingin sukses, jangan mengharap orang lain. Belajar lah dengan baik, usaha kita sendiri. Kita sukses hasil dari kita, bukan dari orang lain." bukan nya mendengar nasihat teman nya, Lala justru marah dan memaki teman nya itu.


"Lebih baik kau diam! Pikiran mu begitu sampah dan sampai kapan pun akan menjadi sampah!" Lala yang semakin kesal berlalu meninggalkan teman nya.


********

__ADS_1


Setelah selesai makan, Raisa memikirkan teman nya Lala. Syifa bertanya ada apa, Raisa pun menggeleng kan kepala nya.


"Ayo, katakan. Ada apa?"


"Tidak kak, aku hanya memikirkan kak Lala saja, dia teman ku dari kami masih kecil, kami juga sekamar. Dia pasti akan sedih, dan berfikir jika aku mendapat kan teman baru dan melupakan diri nya."


"Kenapa? Kenapa kau bisa berkata seperti itu? Lagipula, kau melihat bagaimana sikap nya kepada mu. Sangat tidak baik, teman yang baik tidak akan bersikap tidak baik seperti itu."


"Lala memang begitu Kak, tapi sebenarnya dia anak yang sangat baik. Dia selalu ada di saat aku sedih, dia yang selalu membantu ku di saat aku dalam kesusahan."


"Sudah lah, jangan di pikirkan lagi! Jika dia teman yang baik, dia tidak akan berfikiran buruk tentang mu." Raisa pun mengangguk, mempercayai ucapan Syifa. Tama memandangi Syifa dari kejauhan, Syifa yang menyadari itu pun begitu sangat risih. Ia mengajak Raisa untuk ke luar kelas, pergi ke taman.


"Ayo, kita ke taman."


"Bukan kah kakak tidak suka keluar kelas?"


"Iya, tapi saat ini aku ingin ke taman."


"Baik kak, ayo." Raisa dan Syifa pun beranjak dari duduk nya, keluar kelas menuju taman. Ke dua nya duduk di taman dan bercanda gurau. Lala yang ada di taman melihat Syifa dan Raisa berada di taman.


"Kata Raisa tadi, anak itu tidak suka jika keluar kelas. Tapi, nyata nya mereka ke taman. Bilang saja jika kau tidak ingin aku berteman dengan nya. Kau ingin menikmati kebebasan dan kemewahan itu sendiri." gumam Lala di dalam hati, ia memikirkan hal yang buruk untuk Raisa saat malam nanti, Lala tersenyum licik, lalu berlalu pergi dari taman itu. Raisa melirik ke arah Lala, ia memanggil Lala namun Lala tak menggubris nya.


"Sebentar kak, Aku mau memanggil nya dulu." Raisa berlari mengejar Lala.


"Kak Lala." Raisa menghampiri Lala, memegang punggung Lala dari belakang. Lala menoleh dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Ada apa?"


"Ayo, bergabung lah dengan kami." ajak Raisa tersenyum ramah.


"Sudah, tidak usah bersikap sok baik! Aku tahu tujuan mu, jadi tidak usah berpura-pura lagi."


"Apa maksud kakak?"


"Jangan bersikap bodoh begitu, Raisa! Aku tahu, jika kau tidak ingin aku dekat dengan teman mu itu. Tadi, kau bilang jika teman mu tidak suka keluar kelas saat aku mengajak kalian, tapi nyata nya kalian ke taman setelah aku tidak ada!"


"Ti-tidak begitu kak, kau salah paham!"


"Salah paham katamu? Aku melihat nya dengan jelas, Raisa! Kau melupakan ku setelah kau mendapatkan teman baru, apalagi dia orang kaya. Kau melupakan aku, kau begitu berubah sekarang!"


"Tidak kak." Raisa menangis, Lala berlalu pergi meninggalkan Raisa sendirian, Raisa berdiri tak bergeming. Hati nya begitu terluka dengan ucapan Lala, ia tak pernah bermaksud untuk melupakan teman masa kecil nya itu. Raisa menangis sejadi-jadi nya di taman, Syifa menghampiri diri nya menenangkan Raisa.


"Ada apa? Mengapa kau menangis? Apa teman mu itu bersikap tidak baik lagi pada mu?" Syifa menghapus air mata Raisa, memeluk nya dengan sifat tenang nya Syifa.


"Ti-tidak kak, ak-aku hanya tersandung tadi." Syifa melepaskan pelukan mereka, mengecek kaki Raisa. Namun, tidak ada yang terluka dan baju Raisa juga tidak kotor. Syifa tahu, jika Raisa berbohong.


"Jangan berbohong, aku tidak suka dengan orang yang pembohong." tatapan Syifa begitu dingin, Raisa memeluk Syifa kembali, ia menceritakan apa yang di ucap kan oleh Lala Barusan. Syifa menenangkan Raisa.


"Sudah, jangan menangis. Kau kan tidak melakukan itu, mengapa kau menangis? Kan aku yang mengajak mu ke taman, kau tahu memang jika aku tidak suka ke luar kelas. Kau tidak salah, hanya saja tadi aku begitu bosan dan kepanasan di kelas. Makanya aku mengajak mu untuk ke taman mencari udara. Sudah jangan menangis." Syifa kembali menenangkan teman nya itu.

__ADS_1


__ADS_2