
Entah mengapa Revan yang awalnya lemah dan marah dengan keadaan tiba-tiba saja menghampiri Shinta dan memberikan kekuatan kepada istrinya.
Sebenarnya Revan masih sedih dan belum bisa menerima segalanya namun ia tersadar jika yang terluka saat ini bukan hanya dirinya. Namun juga shinta, istrinya dan jika ada yang harus di salahkan maka itu adalah dia. Karena bagaimana pun Revan adalah kepala keluarga, mengapa ia tidak pernah tegas dahulu jika ia pun merasa keberatan dengan adanya Khanza?
Keduanya masuk ke dalam ruangan, Syifa mendekati mama dan papanya "Ma, Pa. Apa yang terjadi dengan Alana?"
"Tidak ada sayang dokter mengatakan jika tidak ada yang berdampak buruk dengan organ dalam Alana!""
Syifa bernafas lega, begitu juga dengan Alana yang awalnya sempat takut.
Revan melihat putranya yang masih tertidur. "Alan masih tidur?"
"Iya pa, mungkin Alan lelah karena dia juga baru pulang berlibur sama mama dan papa."" Ujar Syifa. Perjalanan jauh keluarganya pasti sangat melelahkan apalagi Alana langsung di bawa ke rumah sakit tanpa ada persiapan apapun
"Sudah lah, sekarang Alana dan kakak tidur lagi. Ini sudah malam!"
Alana dan Syifa pun mengangguk
*******
Keesokan paginya, di rumah Caca ia menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya. Wajah ceria dan lemah lembut Caca sudah kembali seperti dahulu
"Sayang, mami memasak nasi goreng untuk kalian," ia pun sudah menata dengan baik di atas meja makan..
Arvan dengan antusias memakan masakan istrinya begitu juga dengan Khanza. Raisa makan tanpa mengatakan apapun "Sayang, kamu udah mikirin mau lanjut kuliah di mana? Atau mau satu kuliah sama kak Syifa?" Caca bertanya dengan anaknya. Raisa menghentikan aktivitasnya makannya "Satu kuliah sama kakak? Enggak deh mi!Mending Raisa lanjut kuliah di Malaysia aja. Atau di Amerika? Sherly juga pindah ke Amerika loh mi, dad!"
"Amerika? Tidak sayang! Itu terlalu jauh, kita enggak bisa pantau kamu! Di Malaysia aja mami dan Daddy enggak setuju..apalagi di sana! Sudah kamu kuliah di sini, kalau kamu enggak mau satu kampus dengan kakak mu. Cari lah kampus yang kamu suka!"
Raisa mengerucutkan bibirnya ke depan, mengapa kedua orang tuanya tidak setuju jika ia kuliah kembali di Malaysia, kenapa harus di Indonesia?
"Mami, Daddy. Kenapa kita enggak kembali aja ke Malaysia?"
"Enggak bisa sayang! Kakak dan adik kamu kan di sini! Enggak mungkin kita kembali ke sana, apalagi Khanza!"
"Khanza enggak mau ikut kalau kalian ke sana, Khanza mau di sini aja. Dekat dengan mama dan papa. Juga dengan kak Alana, kak Alan dan kak Syifa!"
"Kenapa sih mami dan Daddy enggak ngerti sama perasaan aku? Kalian hanya memikirkan Khanza dan kak Syifa!".
Raisa membanting sendoknya ke atas piring, hingga mengeluarkan bunyi
__ADS_1
"Sayang, kami selama ini selalu mengikuti ucapan kamu. Permintaan kamu, Daddy juga mau tanya sama kamu, kenapa kamu menutupi dan tidak memberitahu kami tentang kematian nenek Syafa juga kakek Gunawan?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Raisa gugup dan takut "Jawab Daddy nak!"
"Bukannya itu enggak penting? Mereka bukan keluarga kita, dan saat ini mami harus fokus dengan kesehatan Daddy."
"Berhenti membawa-bawa kesehatan Daddy nak!" Caca menegur anaknya, karena ia sudah bosan dengan alasan anaknya yang tidak masuk akal
"Mami, Daddy. Mereka itu bukan siapa-siapa kita, untuk apa kita kembali ke Indonesia hanya karena mereka? Memangnya kalau kita kembali mereka hidup lagi?"
Khanza yang tidak terima dengan ucapan kakaknya langsung melempar sendok hingga mengenai wajah kakaknya "Kalau ngomong itu di pikir dulu! Jangan asal keluar aja. Kakak mau wajah kakak aku hancurin dengan garpu ini?"
"Mami, Daddy lihat lah! Dia kurang ajar dengan aku!" Raisa memegang bibirnya yang sakit, terkena lemparan sendok itu dengan begitu kuat
"Nenek dan kakek itu sangat berharga. Kakak saja yang tidak tahu caranya menghargai orang, kalau kakak enggak bisa menghargai keluarga ku jangan harap aku bisa menghargai kakak!" Khanza yang sudah kehilangan selera makan langsung pergi meninggalkan mereka semua di meja makan.
Bibir Raisa berdarah, namun kedua orang tuanya tidak perduli dan asyik dengan makanan mereka.
"Mami dan Daddy diam aja?"
Caca menatap anaknya "Lalu apalagi yang harus kami katakan? Kamu sudah begitu keterlaluan. Dan adik kamu melakukan hal yang tepat! Sudah berapa kali mami katakan sama kamu untuk menjaga ucapan kamu! Tapi kamu tidak bisa menjaganya! Kamu tahu? Jika bukan karena nenek dan kakek. Mami tidak akan sekuat ini, mereka menyayangi mami dan Daddy seperti anaknya sendiri. Bahkan tidak pernah membedakan antara mami juga mama Shinta!"
Caca pun memarahi anaknya, Raisa terdiam. Namun ia masih memegang bibirnya yang berdarah "Tapi Khanza udah keterlaluan! Bibir aku berdarah dan kalian diam aja? Gimana sih kalian sebagai orang tua!"
Caca tidak tega dengan bibir Raisa yang berdarah. Ia setuju jika Raisa bersalah namun apakah benar dengan tindakan Khanza yang melempar kakaknya dengan sendok hingga membuat bibir Raisa berdarah?
"Mengapa Khanza sangat bar-bar sekali? Bahkan ia jauh lebih berbahaya daripada Syifa, lihatlah Khanza berani menyakiti kakaknya dengan santai di depan kita. Kita harus memberikan pengertian kepada Khanza sayang, aku khawatir jika kita terus diam. Maka Khanza bisa melakukan hal yang lebih nekat!"
Arvan mengangguk, keduanya pun bangkit menghampiri Khanza di dalam kamar.
*******
Di dalam kamar, Khanza terdiam dengan sorotan mata yang menakutkan. Ia sangat menyayangi kakek dan neneknya, karena mereka menyayangi dan memanjakan Khanza.
Caca dan Arvan masuk ke dalam kamar anaknya, Caca dan Arvan melihat anak mereka yang bungkam dengan wajah dan mata yang menakutkan.
"Sayang, boleh mami dan Daddy bicara?"
"Kalau mami dan Daddy ingin berbicara tentang perlakuan Khanza tadi kepadanya lebih baik kalian keluar! Saat ini Khanza sangat marah dan kesal sekarang!"
__ADS_1
Dengan tenang, Arvan mengusap rambut anaknya "Daddy mengerti kemarahan anak Daddy, tapi anak Daddy enggak boleh seperti itu nak. Kasihan kakak Raisa, bibirnya berdarah karena Khanza lempar dengan sendok."
"Lalu apa yang harus Khanza lakukan Daddy? Apakah Khanza harus diam saja saat kak Raisa mengatakan hal seperti itu? Mengapa kak Raisa tidak pernah menghargai orang lain? Selama ini Khanza selalu bersikap sabar. Namun sekarang, kak Raisa sudah keterlaluan!"
"Iya sayang, Daddy memahami semuanya dan Daddy juga tidak membenarkan tentang ucapan kak Raisa."
"Daddy, maafkan Khanza namun saat ini Khanza masih kesal. Dan Khanza tidak ingin bicara dengan siapapun, tolong lah Daddy dan mami mengerti!"
Arvan dan Caca pun tidak mau lagi memaksa anaknya, mereka langsung keluar dari kamar Khanza tidak lupa Caca menutup pintu kamar anaknya.
"Sayang, bagaimana bisa anak berumur sepuluh tahun menyakiti orang yang lebih dewasa tanpa merasa bersalah?" Caca bertanya kepada suaminya.
Arvan pun mengatakan jika darah tetap akan mengalir, "Sayang, tidak bisa kita pungkiri jika Khanza adalah cucu dari nyonya Elsa yang terkenal kejam, bisa menyakiti orang lain. Dan Khanza pun bisa seperti itu namun bedanya ia melakukan itu untuk membela orang yang ia sayangi."
Caca terdiam, ia masih kaget dan syok jika mengingat adegan di mana Khanza melempar sendok ke arah kakaknya dengan wajah yang tenang.
"Apakah anak kita psikopat?" Caca bertanya dengan suaminya, Arvan pun tidak tahu dan ia berharap jika itu tidak benar.
******
Raisa menghapus darah yang ada di bibirnya menggunakan tissue! "Dasar tidak waras! Mengapa dia menyakiti ku? Apa kesalahan aku?"
Risa menggerutu di depan cermin sambil membersihkan darahnya
"Mami dan Daddy juga santai saja. Apa mereka tidak bisa memberikan pengertian kepada Khanza? Mengapa jika aku yang membuat masalah mereka langsung memberikan ceramah panjang lebar kepada ku. Namun saat anak yang lain membuat kesalahan mereka santai!"
"Nak, apakah darahnya sudah hilang?" Caca yang masuk ke dalam kamar anaknya langsung bertanya. Ia tidak tahan untuk tidak melihat kondisi Raisa
"Sudah mi! Apakah mami datang ke sini untuk menasehati aku? Mami harusnya sadar di sini aku yang korban!"
"Tidak nak, mami tidak akan memberikan kamu nasehat lagi semuanya kamu yang menjalankan. Mami juga sudah lelah berulang kali memberikan kamu pengertian namun kamu tidak mau mendengar. Mami juga enggak tahu harus apa!"
"Sudah lah mami, percuma! Apa yang aku katakan memang selalu salah di mata mami,.di mata kak Syifa dan di mata Daddy,"
"Nak, ucapan kamu selalu saja menyakiti hati orang lain! Sadarlah nak! Mengapa kamu berubah tidak seperti Raisa yang lemah lembut seperti dulu?"
"Mami, sudah lah! Semuanya sudah berubah. Waktu sudah berubah, dan tidak bisa diputar lagi. Inilah aku yang sekarang, mami dan Daddy harus bisa menerimanya. Dan apa yang Raisa katakan itu semuanya kenyataan! Kenapa semua marah sama Raisa?"
Caca menggelengkan kepalanya "Suatu hari kamu akan mengerti apa yang mami maksud sayang!"
__ADS_1
"Mami yang tidak mengerti dengan apa yang aku maksud! Mami sadar dong, kita dan mama Shinta itu tidak ada ikatan apapun! Mami itu hanyalah mantan istrinya dari papa kandung kak Syifa enggak lebih! Mengapa kalian terlalu naif? Dan apa untungnya kalian menjadi dekat? Apa coba? Enggak ada! Dan itu hanya membuang-buang waktu selama ini! Mama Shinta juga mengkhianati mami, ia bersikap menolong mami namun nyatanya ia merebut Khanza dari mami! Lihat lah sikap Khanza yang bar-bar! Itu bukan sifat mami dan Daddy. Tapi itu sifat mama Shinta, dan Khanza menurun sifatnya dengan mama Shinta."
Caca terdiam, memikirkan ucapan anaknya yang ia rasa memang ada betulnya. Karena shinta, anaknya Khanza menjadi seperti itu. Khanza tidak mungkin melakukan itu jika tidak diberikan contoh yang buruk!