
"Tante mendengar sendiri kan ucapan mami? Mami selalu saja menyakiti hati aku Tante! Selalu mengatakan dia menyesal memiliki anak seperti aku!" Raisa mengatakan itu dengan terisak, namun Caca sudah tidak mempercayai air mata anaknya
"Semoga kau cepat sadar Raisa! Mami sudah lelah dengan semua tingkah laku kamu, mami menyerah, semua terserah kamu sekarang. Dan kamu Cia! Jika kamu mempercayai ucapan Raisa itu pilihan mu. Aku tidak bisa menolaknya! Semua itu ada di tangan kamu!"
Setelah mengatakan itu, Caca langsung pergi meninggalkan Raisa dan Cia.
"Dasar orang tua tidak tahu diri!" Raisa menggerutu, membuat Cia merasa kesal dengan keponakannya
"Cukup Raisa! Tante tidak menginginkan ini kepada kamu, bagaimana pun mami mu adalah ibu kandung mu. Ia yang sudah melahirkan mu!"
"Iya Tante, tapi mami juga yang sudah membuang aku ke panti asuhan. Apakah itu ibu yang baik?"
Cia terdiam, ia pun meminta keponakannya untuk masuk ke dalam kamar "Lebih baik kamu masuk ke dalam kamar aja! Tante enggak mau memikirkan hal ini lagi! Tante pusing sekarang,"
Raisa mendekati cia, memeluk tantenya dengan erat "Tante percaya kan sama Raisa? Sungguh Raisa enggak mungkin berbohong sama Tante!"
Cia tidak menjawab, walau ia ingin percaya namun hati kecilnya menolak untuk percaya. Mungkin saja karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Raisa begitu kurang ajar dengan Caca, adiknya!
Cia langsung melepaskan pelukan mereka, ia pun ingin ke kamar yang dahulu Caca tempati.
"Apa yang Caca katakan memang benar! Aku harus mencari tahu semua kebenarannya karena kesedihan ku kehilangan mama akhirnya aku marah dan menutup mata tentang semua kebenaran yang ada. Papa dahulu juga memberitahu aku semua kenyataannya namun aku memilih untuk tidak percaya. Dan sekarang, aku melihat ketulusan di mata Caca, dan rasa dendam dan penuh amarah di mata Raisa. Mengapa dia bisa seperti itu? Padahal aku melihat jelas rasa sayang Caca kepadanya."
Cia masuk ke dalam kamar adiknya, begitu banyak Poto masa kecil Caca.
Ia menatap wajah yang sangat mirip dengannya sewaktu kecil "Ini pasti Lee, saudara kembar ku?"
Terlihat Caca dan Lee begitu saling menyayangi, cia merasa iri karena ia tidak pernah mendapatkan kesempatan berkumpul dengan keluarga.
Walau mamanya selalu saja mengunjunginya, namun Cia selalu merasa kesepian.
"Mengapa mama menjauhkan aku dari Lee dan Caca? Apa yang sebenarnya mama ingin kan? Aku tahu mama menyayangi ku namun mengapa harus memisahkan kami?"
Cia terus saja memandangi dan melihat isi kamar caca, yang begitu banyak kenangan Caca dengan Lee.
"Mereka terlihat sangat bahagia semasa kecil."
Pandangan cia tertuju kepada satu perawat yang selalu ada di Poto "Mengapa selalu wanita ini? Mengapa tidak ada Poto Lee dan Caca saat bersama mama?" Cia semakin bingung, apakah mamanya selama ini tidak memiliki waktu kepada Caca dan Lee?
Cia membuka lemari Caca yang masih tertata rapih, bahkan ada poto Revan dengan Caca
"Ini pasti pernikahan pertama Caca dengan suaminya yang pertama, terlihat mereka sangat bahagia,"
"Benar aku katakan, jika wanita itu sudah merebut kebahagiaan adik ku. Tidak salah aku membunuh anaknya!"
Namun mata cia kembali tertuju pada diary Caca.
Mamanya juga memiliki diary itu namun tidak banyak, hanya menceritakan tentang kerinduannya kepada cia saja.
Cia penasaran dengan buku harian adiknya ia pun memutuskan untuk membaca diary itu dari awal hingga tuntas. Ternyata bukan hanya ada satu namun ada tiga.
*******
Shinta dan keluarganya sudah sampai di rumah, Shinta Mambawa anaknya untuk Masuk ke dalam kamar "Sayang, kamu istirahat saja di kamar. Mama akan menemani kamu,"
"Mama, Alana merasa bosan jika terus menerus di kamar mama, apakah tidak ada tempat lain mama?"
Alan menggelengkan kepalanya "Kamu mau kemana? Hotel?"
Menurut Alana itu ide yang cocok "Iya mama, Alana ingin ke hotel yang ada pemandangan pantai. Pasti sangat menyenangkan,"
Shinta terdiam bukannya ia tidak mau namun Shinta harus berbicara dengan suaminya dulu
"Sayang, nanti mama akan bicara dengan papa dulu ya? Jika papa oke, mama juga akan oke tapi kita juga tahu kalau papa saat ini pasti sangat lelah, dengan banyak pekerjaan dan juga beberapa peristiwa yang terjadi. Mama harap Alana paham ya nak?"
Alana pun terdiam, ia ingin sekali ke pantai "Mama, Alana sangat ingin ke pantai. Alana sangat bosan di rumah terus ma!"
Alana meminta dengan manja, ia ingin ke pantai dan itu pasti akan segera di laksanakan oleh Revan. Ia akan membawa anak, istri dan keluarganya ke pantai
"Iya sayang, kita pasti akan ke pantai. Namun mama enggak tahu kapan waktunya, nanti kita tanya sama papa ya?"
"Benar mama?"
__ADS_1
Shinta mengangguk "Iya sayang, benar!"
"Baik lah mama! Kita akan ke pantai!" Shinta memeluk mamanya dengan erat "Terimakasih banyak sayang! Kamu bisa memahami mama dan papa!"
"Alana yang berterimakasih banyak sama mama dan papa. Karena kalian selalu menuruti keinginan Alana,"
"Tidak Alana, namun kau yang selalu memaksanya! Membuat mama dan papa tidak ada pilihan!" Ketus Alan, Alan memang selalu berbicara apa adanya, ia tidak suka berpura-pura demi menjaga perasaan orang lain.
"Namun kak Syifa kan masih menjaga Daddy, masa kak Syifa harus di tinggal lagi? Kemarin kak Syifa udah enggak ikut, Sekarang juga tidak ikut?" Alan bertanya kepada mamanya
Karena memang benar, tanpa ada kakaknya semuanya sia-sia dan percuma saja!
"Jangan khawatir Alan! Kak Syifa dan Khanza akan ikut dengan kita," ujar Alana yang membuat Shinta kaget.
"Kamu mau ajak Khanza sayang?"
"Iya mama, Khanza juga adiknya Alana. Apa mama mengira jika Alana tidak menyayangi Khanza? Khanza sudah lama bersama kita, Alana menyayanginya namun hanya saja terkadang Alana merasa,"
Alana tidak melanjutkan ucapannya, dan Shinta juga tidak memaksa anaknya "Sudah sayang! Jangan memikirkan apapun! Mama enggak mau kamu kembali stres karena memikirkan sesuatu! Lebih baik kita fokus dengan kesembuhan kamu saja, bagaimana?"
Alana mengangguk, ia memeluk mamanya "Maafin Alana ya ma, Alana selalu saja membuat mama sedih karena tingkah laku Alana yang seperti anak kecil,"
"Memang anak kecil," sambung Alan. Membuat Alana merengek kepada mamanya "Mama lihatlah Alan! Dia selalu saja menganggu Alana! Apa kesalahan Alana kepadanya mama? Mengapa Alan selalu menyakiti hati Alana?"
Alan menggelengkan kepalanya, bagaimana ia tidak mengatakan jika kembarannya itu seperti anak kecil? Kelakuannya memang seperti anak kecil.
"Sayang, mengapa kamu mengganggu adik kamu terus nak? Lebih baik Alan sekarang mandi, bersihkan tubuh Alan. Lalu kita akan makan bersama!"
"Baik mama!"
Shinta pun menyiapkan pakaian anak-anakmya dengan baik layaknya seorang ibu yang memberikan dan mengurus anaknya dengan baik.
Alan mengambil handuk dan menuju kamar mandi "Lihat lah mama! Alan selalu mengatakan aku anak kecil, padahal dia juga seperti anak kecil! Semuanya mama yang mengurusnya, Alan tidak bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik!"
Shinta hanya menggelengkan kepalanya, tersenyum mendengar ucapan sang anak "Sudah sayang! Jangan membuat keributan lagi! Biarkan Alan mandi dengan baik, setelah Alan mandi, Alana juga mandi ya nak? Biar tubuh Alana menjadi segar oke?"
"Baik mama!"
"Sayang, maafin mama. Mama harus berbohong dengan kamu, bukannya mama tidak mau mengajak kamu liburan namun mama khawatir jika Cia melakukan hal yang jahat lagi kepada keluarga kita. Dia pasti akan mengincar kalian sayang, dan mama enggak sanggup harus kehilangan kalian lagi!" Batinnya
"Mama kenapa mama merasa sedih?" Alana mendongakkan kepalanya, melihat air mata mamanya yang terjatuh "Mama tolong jangan menangis! Alana memang salah karena sudah melakukan hal yang konyol, maafkan Alana mama. Tapi tolong jangan menangis Mama! Alana sangat menyayangi mama, mama adalah hidupnya Alana. Alana enggak bisa melihat air mata mama menetes, tolong jangan menangis Mama!"
Shinta menyeka air matanya, ia tersenyum kepada anaknya "Sayang, mama sayang banget sama kamu. Sama Alan, sama kak Syifa, mama sangat menyayangi kalian. Kalian adalah cintanya mama, kehidupannya mama. Mama bisa gila kalau anak mama kenapa-kenapa nak..tolong jangan lakukan hal itu lagi ya sayang?"
Alana mengangguk, ia juga meneteskan air matanya. Alana enggak menyangka jika perbuatannya yang bodoh akan melukai hati orang lain juga keluarganya
"Alana berjanji mama, Alana sangat menyayangi mama!"
Cekrek!
Pintu kamar mandi terbuka, Alan keluar dengan handuk di pinggangnya. Ia pun mengeringkan rambut ya yang sedikit itu di depan cermin. Membuat siapa saja yang melihatnya terpesona
"Anak mama tampan sekali jika sudah mandi,"
Shinta melihat diri suaminya ada di dalam tubuh Alan, walau umur Alan masih belasan tahun namun ketampanannya sudah terlihat.
Alana juga mengakui ketampanan saudara kembarnya itu "Alan ganteng banget kalau siap mandi. Jika saja dia bukan saudara kembar ku, akan ku pacari dia!"
Shinta menjewer kuping anak perempuannya "Aw sakit mama!"
Alana meringis dengan manja "Alana hanya bercanda mama! Enggak mungkin Alana pacaran saudara kembar Alana sendiri. Alana kan hanya menghargai usahanya dia saya yang sudah sok ganteng itu!"
"Haha, kau saja mengakui ketampanan aku!"
Alan mengatakan dengan ketus membuat Alana melototkan matanya!"
"Jangan sembarangan kalau ngomong ya!"
Alan kembali terkekeh melihat adiknya yang terlihat sangat kesal "Sudah kalian ini tiada hari tanpa bertengkar saja! Kepala mama terasa sangat pusing mendengar kalian bertengkar!"
"Maaf mama!"
__ADS_1
Keduanya pun meminta maaf, Shinta meminta Alana untuk cepat mandi agar anaknya kembali merasa segar kembali
"Alana sayang, kamu mandi nak! Biar Segar dan terlihat cantik!"
Huek!
Alan seakan tidak terima jika adiknya dikatakan cantik "Hey, aku emang cantik. Kau saja yang buta mata mu!"
"Cantikan Agatha lagi!" Ketusnya, Alana menoleh ke arah mamanya "Mama lihat lah Alan! Dia lebih memuji wanita lain daripada adiknya sendiri! Tidak adil dia mama!"
"Dimana tidak adilnya? Aku mengatakan yang sebenarnya dan kau harus menerimanya itu Alana!"
"Enggak! Cantikan aku daripada Agatha!"
"Terserah kau saja!"
"Ya sudah! Aku akan mandi, lihat lah setelah aku selesai mandi. Bahkan kecantikan Agatha tidak ada apa-apanya!"
Shinta hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat anak-anaknya yang terus saja bertengkar
"Sudah anak-anak mama! Kalian jangan bertengkar, mama pusing nantinya!"
*********
Cia meneteskan air mata saat membaca diary adiknya. Begitu banyak rasa sakit yang dirasakan oleh sang adik, ternyata bukan karena Shinta atau Revan. Namun karena mama mereka sendiri, tangannya bergetar. Apakah ia salah sasaran?
Apakah mamanya memang sengaja menebarkan kebencian kepada cia
"Mama, kenapa mama melakukan itu kepada anak-anak mama?"
Terlihat Caca yang menumpahkan segala rasa sakit dan kesepiannya saat perginya Lee dari hidup dia.
Walau Caca hidup dengan berlinang harta namun dia tidak bahagia, mamanya selalu saja mengacaukan kehidupannya, bahkan cia akhirnya tahu sebab Caca harus meninggalkan Syifa.
"Caca selalu menderita, namun bukan karena Revan. Mama sendiri yang membuat anak-anaknya merasa menderita, bahkan mama tidak pernah ada untuk Caca?"
Cia meneteskan air matanya, tiba-tiba ia merasa bersalah atas perbuatannya dengan keluarga Shinta
"Benar yang Caca katakan jika keluarga Shinta orang yang sangat baik, namun mengapa Raisa membenci keluarga Shinta?"
Cia masih belum mendapatkan semua jawabannya, dan ia ingin mendapatkan jawaban itu dari mulut Caca sendiri
Segera cia menyimpan semua diary adiknya, ia pun akan menemui Caca. Namun sayang, mobil Caca sudah pergi
"Aku harus mengejarnya, walau aku sendiri tidak.tahu apakah dapat mengejarnya. Semoga saja aku bisa mengejar Caca!
Cia langsung berlari menuruni anak tangga, semua pelayan yang ada di rumah Elsa sudah baru semua. Dan tidak ada yang tahu tentang kisah kelam hidup adiknya di rumah ini yang seperti neraka
Cia menaiki sepeda motor, ia membawanya dengan kencang.
"Berhenti Caca!" Cia menekan klekson sepeda motornya berulangkali
Caca pun menghentikan mobilnya. Ia meminggirkan mobilnya lalu turun dari mobil
"Ada apa lagi Cia?"
Cia memeluk Caca. "Caca maafkan aku..tapi aku ingin mendengarkan semuanya, aku ingin tahu kenyataan masa lalu yang membuat mama membenci keluarga Shinta."
Satu hal yang membuat Caca tidak mengerti, apakah Cia hanya bersandiwara?
Caca melepaskan pelukan mereka satu sama lain "Lebih baik kita bicara di rumah sakit saja. Aku ingin kau mendengarnya bukan hanya dari mulut ku, namun dari mulut Arvan dan Syifa. Karena mereka saksi hidup semuanya!"
Cia mengangguk setuju, Caca langsung masuk ke dalam mobil dengan nada yang dingin. Cia kembali mengendarai sepeda motornya.
Keduanya pun sampai di rumah sakit, saat masuk kedalam ruangan rumah sakit. Syifa berteriak melihat wajah tantenya "Untuk apa kau ke sini? Mau menyakiti keluarga ku lagi."
"Syifa sayang, tolong tenang lah nak! Mami akan menjelaskan sesuatu kepada Tante kamu. Bukan hanya mami,.mami membutuhkan bantuan kamu dan Daddy agar dia mengerti dan paham. Jika mama Shinta tidak bersalah!"
"Iya Tante, mama Shinta tidak bersalah. Mama Shinta sangat menyayangi aku padahal aku bukan anaknya, dan menyayangi kakak Syifa dengan baik. Mama Shinta tidak pernah membedakan kami dengan kak Alan dan Alana. Mama selalu bersikap adil kepada kami berdua!"
"Khanza sayang makasih ya nak sudah membantu mami, kakak dan Daddy menjelaskan segalanya sama Tante kamu. Namun ada hal yang harus Tante kamu ketahui bukan hanya itu saja,"
__ADS_1
"Iya mami,"