Ibu Sambung

Ibu Sambung
Ungkapan Hati Alana


__ADS_3

Shinta dan Revan pun menghampiri Alana, terlihat wajah sembab Alana yang habis menangis. Shinta pun mendekati anaknya "Untuk apa mama ke sini? Mau memarahi Alana lagi?"


"Tidak, sayang! Mama ke sini mau meminta maaf kepada anak mama,"


"Untuk apa?"


"Karena mama selama ini sudah mengabaikan kamu, tidak memahami perasaan kamu,"


Alana terdiam, dia muak dengan kata maaf mamanya. Selalu seperti itu, namun jika sudah Khanza ia akan terabaikan lagi


"Alana enggak keberatan kok kalau mama sayang sama Khanza, karena mama menganggapnya seperti Al. Tapi mama juga harus tahu, Khanza itu bukan siapa-siapa kita! Kak Syifa, memang bukan anak mama, namun ia anak papa. Sedangkan Khanza? Dia tidak ada ikatan antara mama atau papa. Mengapa mama selalu mengutamakannya? Alana juga sayang kok sama Khanza! Sayang banget malah, namun Alana juga enggak suka liat mama lebih sayang Khanza. Mama selalu mengatakan maaf, maaf dan maaf lalu mama jika ada Khanza. Selalu mengabaikan Alana, seakan Alana ini anak pungut!"


"Sayang, jangan mengatakan itu nak! Mama sangat menyayangi kamu. Mama sadar, mama bukan ibu sempurna untuk kamu. Mama banyak kurangnya, tapi mama selalu berusaha untuk membahagiakan kamu, Alan, kak Syifa dan juga Khanza!"


"Terserah mama, Alana enggak mau berdebat lagi. Alana capek, capek di salahin terus, capek di bilang egois padahal yang Alana katakan itu sebuah kebenaran!"


Revan hanya bungkam, ia mengerti dengan perasaan anaknya yang terluka. Apalagi melihat air mata tanpa suara anaknya. Begitu menyakitkan pasti "Alana sayang, sini nak sama papa!"

__ADS_1


Alana pun menghampiri papanya, dan memeluk papanya dengan erat, lalu ia mendongak kan kepalanya menatap Shinta "Semenjak kehadiran Khanza di rumah kita, apa pernah mama memeluk Alana seperti ini?"


Pertanyaan Alana sangat sakit bagi Shinta, memang ia yang bersalah. Ia selalu mengabaikan anaknya


"Bahkan, pelukan dari seorang ibu juga Alana enggak bisa rasain lagi. Ma-ma s-selalu men-menjadi ib-u ya-n-ng baik unt-tuk orang lain na-namun mama ti-tidak pernah menjadi ib-u yang utuh untukku!" Revan memeluk erat anaknya yang menangis senggugukan bahkan berbicara saja begitu berat bagi Alana.


"Pa, Alana merasa sangat kes-sepian hiks,"


Shinta menangis bukan main mendengar ucapan anaknya, seakan Alana mengungkapkan rasa sakitnya. Begitu juga dengan Revan yang merasa hancur dengan perkataan Alana.


Mungkin selama ini, Alana bersikap sangat keras kepala. Namun sebenarnya, hatinya begitu hancur dan terluka. Ia kehilangan sosok ibu yang seharusnya menjadi pelindung untuknya


"Alana selalu memaafkan mama, bahkan Alana selalu menyayangi mama. Namun mama, Alan dan kak Syifa tidak pernah mengerti apa yang Alana sampaikan. Ya, mungkin Alana selalu mengatakan dengan emosi yang meluap-luap. Karena Alana sangat sakit!"


Revan mengelus rambut anaknya, Alana menyembunyikan wajahnya di dada sang papa.


Alan yang mendengarkan percakapan itu dari luar pintu pun merasa kesedihan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Kemarahan dan egois Alana hanya untuk membuang semua rasa kecewa dan sakitnya namun mereka tidak ada yang dapat memahami


"Alana b-butuh mama! A-ala-na juga masih b-butuh perhatian dan kasih s-sayang mama! B-bukan hanya Khanza sa-saja!"


Tangisan Alana semakin memecah, ia mencurahkan semua isi hatinya. Shinta pun menangis bukan main mendengar isi hati anaknya. Ia merasa menjadi ibu yang sangat buruk untuk putrinya.


"Alana enggak keberatan ma, kalau mama menyayangi Khanza. Namun seperti Khanza, al-alana juga butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari mama!"


"Ap-apa Alana harus tiada atau sakit sekarat dulu di rumah sakit. Baru mama bisa melihat keberadaan Alana?"


Shinta menggeleng kan kepalanya dan terkejut dengan ucapan anaknya "Jangan katakan itu nak!"


"Sayang, tenang nak! Jangan mengatakan itu! Sudah ya nak?" Revan semakin hancur, bahkan air matanya ikut menetes


Apakah sebegitu terlukanya Alana selama ini? Mungkin, selama ini Shinta dan yang lainnya selalu menyepelekan perasaan Alana.


"Maafin papa nak, papa tidak bisa memahami perasaan kamu. Papa selalu sibuk dengan pekerjaan papa sehingga kamu merasa diabaikan. Papa sangat menyayangi kamu, sayang! Tolong jangan katakan itu ya nak? Papa sangat, sangat mencintai kamu, sayang!"

__ADS_1


Alana masih senggugukan, memeluk papanya dengan erat.


__ADS_2