
"Dan siapa yang akan menjadi pendamping hidup ku? siapa yang mau bersama wanita yang," Shinta menutup mulut Kaynara dengan telapak tangan nya.
"Sudah henti kan! jangan pernah beranggapan seperti itu. Percaya lah suatu saat nanti akan ada pria yang sangat mencintai mu dengan tulus, kau wanita yang sangat baik, Sayang."
"Apa kau tahu, dulu aku juga merasa sangat tidak berguna. Dokter me-vonis ku tidak bisa punya anak, pernikahan ku gagal. Tapi, lihat lah sekarang. Aku mempunyai keluarga yang sangat menyayangi ku,"
"Iya kak, tapi jalan kita berbeda. Mungkin, kau beruntung dalam hal ini tapi tidak dengan ku," Kaynara menetes kan air mata nya.
"Tante, kenapa menangis?" Syifa mendekat ke arah Kaynara dan Shinta. Syifa menghapus air mata Kaynara
"Jangan menangis, Tante." Kaynara pun mengangguk.
"Iya, Sayang. Tante tidak akan menangis,"
"Tante harus menangis!"
"Menangis?" tanya Shinta dan Kaynara bersamaan yang merasa bingung, sebelum nya Syifa menyuruh kaynara untuk tidak menangis, Namun sekarang malah menyuruh Kaynara untuk menangis.
"Iya Ma, Tante. Tante Kaynara harus menangis tetapi air mata kebahagiaan."
"Anak mama memang pintar, Ya." Shinta mengusap rambut Syifa. Rasanya, Shinta saat ini ingin meminum bandrek. Shinta berdiri dan ingin mencari suami nya.
"Mau kemana kak?"
"Iya, mama mau kemana?"
__ADS_1
"Mama mau mencari papa, Sayang."
"Rasa nya aku ingin sekali meminum bandrek, Kay."
"Bandrek? siang-siang begini, di mana mencari nya kak?"
"Entah lah, sebentar ya. Aku mau menemui Revan dulu,"
"Iya, kak. Sini Syifa main sama tante."
"Iya, Tante."
"Mama keluar dulu ya, Sayang."
"Sayang,"
"Hmm."
"Aku ingin minum bandrek,"
"Apa? di mana ada bandrek siang-siang begini, Sayang? "
"Sudah lah, jangan meminta yang aneh-aneh begini!"
"Hey, bukan aku yang mau! tapi anak mu yang di dalam perut ini, kenapa kau memarahi ku." Mendengar keributan Shinta dan Revan. Caca dan Arvan pun membawa baby Alana untuk mendekati Mama, Papa Alana yang sedang bertengkar.
__ADS_1
"Ada apa kalian berteriak-teriak seperti ini?"
"Lihat lah ini teman mu! permintaan nya ada-ada saja,"
"Apa apa?"
"Aku ingin meminum bandrek tapi dia malah memarahi ku!" kesal Shinta.
"Tapi, di mana ada yang jual bandrek siang begini?"
"Ya mana aku tahu! memang nya aku tukang jualan bandrek apa?!"
"Sudah lah Van, turutin saja. Ini juga pasti keinginan anak kalian yang ada di dalam perut,"
"Iya benar, kau harus memahami ibu hamil. Seperti aku yang selalu mengerti keinginan isteri tersayang ku,"
"Sudah diam lah! kalian ini bukan nya membela ku, malah mendukung nya." Revan membuang nafas dengan kasar. Dan mencoba untuk mengalah, ia memberikan baby Alan pada Shinta dan mencari bandrek sendirian walau ia tak yakin ada yang menjual nya di siang hari seperti ini.
*******
"Di mana aku harus mencari nya," Revan sudah mengelilingi kota dan ia tak menemukan pedagang yang berjualan bandrek.
"Dasar bodoh! sudah tahu tidak akan ada, mengapa masih saja aku mencari nya. Namun, jika aku pulang tidak membawa bandrek ia akan marah pada ku,"
"Ini semua gara-gara bandrek!" Revan tak putus asa dan tetap keliling untuk mencari bandrek.
__ADS_1